Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 126 KAFAN BERNODA DARAH.


Aku sampai lebih dulu di kostan. Nampak Heni baru saja datang dari luar. Ia menyapaku, dan mengeluh sering kesepian di kost sejak tak ada Leni disana.


"Mbak. Apa kamar yang di ujung sana ga di sewain? Senior ku ada yang mau cari kost, tapi di tempat lain harga nya mahal-mahal." Jelas Heni dengan menentes bungkusan di tangannya.


"Wah gue gak tahu Hen. Ntar tanya ke Mbak Ayu aja deh, soalnya yang punya rumah ini gak jelas ada dimana."


"Eh ngapain nyebut-nyebut nama gue?" Tanya Mbak Ayu seraya turun dari motor.


Aku tinggalkan keduanya mengobrol, dan aku langsung masuk ke kamar. Aku merebahkan tubuh di atas ranjang empuk yang membuatku terpejam. Aku tertidur dengan melihat gambaran masa lalu pocong yang merasuki Vita. Ternyata ia ingin melanjutkan penglihatan nya, dan langsung melakukan nya ketika aku memejamkan mata ku.


Sesaat setelah Dinar tak sadarkan diri. Ari membawanya ke sebuah kamar, merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Dinar. Bangunlah!" Ari menepuk-nepuk pipi Dinar untuk menyadarkan nya.


Perlahan Dinar membuka kedua matanya. Ia melihat Ari ada di hadapannya. Dan ada seorang Nenek di belakang tubuh Ari, yang membuat Dinar sangat terkejut, dan refleks memeluk Ari dengan erat.


"Selamat datang di rumah Nenek, perkenalkan nama saya Dijah. Maaf kalau Nenek membuat mu kaget sampai pingsan." Ucap Nek Dijah seraya mengulurkan tangan.


"Perkenalkan, saya Dinar Nek. Saya yang minta maaf, karena lancang masuk ke dalam rumah."


Setelah ia Ari membantu Dinar berdiri, dan Dinar baru sadar. Jika mereka berada di tengah ruangan yang tadinya ramai orang berjubah hitam.


Dinar memberanikan diri menanyakan keberadaan orang-orang berjubah hitam itu. Dan Nek Dijah mengatakan jika mereka ada di depan. Dan Nenek itu berjalan keluar meninggalkan Dinar dan Ari berdua.


"Mas, ini beneran rumah Nenekmu?" Tanya Dinar berbisik di telinga Ari.


Ari tak menjawab pertanyaan Dinar. Ia memberikan isyarat pada Dinar untuk diam. Ia meletakan jari telunjuk di bibirnya. Terdengar suara derit pintu yang memecah kesunyian. Begitu pintu terbuaka, bias cahaya dari lampu petromaks menembus masuk ke dalam ruangan itu. Nampak pintu besar di sisi kanan rumah, dan banyak orang sedang duduk disana.


Melihat semua yang ditunjukkan sosok pocong ini, aku jadi semakin bingung. Kenapa ia tak langsung menceritakan detail kematiannya. Apa ada cerita lain yang membuatnya mati penasaran, sehingga ia menunjukan semuanya sedetail mungkin.


Penglihatanku berlanjut ketika pintu besar itu terbuka, dan terlihat beberapa lilin besar yang menyala. Mangkuk-mangkuk berisi bunga tujuh rupa. Ari mengajak Dinar masuk ke dalam, dan ia terkejut melihat kepala sapi yang di gantung di atas meja. Suasana terasa mencekam, ketika beberapa orang berjubah hitam masuk ke dalam. Mereka duduk di depan meja altar. Satu orang membawa buku tebal dan membacakan sesuatu, yang lebih mirip dengan mantra. Dinar ketakutan berusaha mengajak Ari pergi dari sana. Tapi Ari meyakinkan Dinar, jika mereka harus tetap berada disana. Kalau Dinar ingin hubungan mereka mendapat restu dari orang tuanya yang ada di desa. Terpaksa Dinar menuruti ucapan Ari, karena ia memang menginginkan orang tuanya setuju dengan hubungan yang ia jalani bersama Ari.


"Bersujudlah!" Perintah orang berjubah hitam itu.


Ari menganggukan kepala, lalu bersujud. Ia juga menarik Dinar supaya mengikutinya. Dinar terpaksa mengikuti Ari, karena tubuhnya sudah bergetar ketakutan. Dalam keadaan bersujud, Dinar masih bisa melihat orang-orang berjubah hitam itu berjalan menuju altar dengan membawa pisau. Mereka membaca mantra-mantra dengan memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba orang yang membaca mantra tadi menengok ke arah Dinar. Dengan cepat Dinar menundukan kepalanya ke lantai. Tak lama orang itu mendarangi Ari dan memintanya berdiri.


Raut wajah Dinar semakin ketakutan, ketika ia mendengar kata persembahan.


"Ayo ikut aku!" Kata Ari seraya menggandeng tangan Dinar.


"Kita mau kemana Mas?" Tanya Dinar dengan peluh yang membasahi keningnya.


"Kau percaya padaku kan? Ayo ikut saja sayang. Ritual ini kita lakukan supaya kedua orang tua mu menyetujui hubungan kita." Jawab Ari menggenggam tangan Dinar.


Keduanya berjala ke depan altar, dan bersujud di hadapan seseorang yang tak terlihat wajahnya. Semua orang berjubah hitam itu mengucapkan bahasa yang tak ku mengerti. Salah satu di antara mereka mendatangi Ari dan Dinar. Lalu meletakan sebilah pisau tepat di hadapan keduanya.


"Yang Mulia ingin persembahan dari tetesan darahmu. Cepat berikan, dan taruh di atas mangkuk itu!" Pungkasnya menghadap ke arah Dinar.


Dinar mengarahkan pandangan nya pada Ari, ia menaikan dagu nya menanyakan pendapat lelaki yang dicintainya. Ari hanya membalas dengan anggukan kepala.


Dengan tangan bergetar, Dinar mengambil sebilah pisau yang ada di depannya. Ari meminta perempuan itu melukai telapak tangannya. Darah yang menetes dari telapak tangannya begitu deras. Terdengar suara auman yang menggema, dan membuat Dinar ketakutan. Wajahnya meringis menahan sakit, karena bekas sayatan pisau. Tapi tiba-tiba seseorang membekap mulutnya, Dinar mencoba berontak. Tapi tenaga orang itu sangat besar, dan Dinar tak mampu melawannya. Tak lama ia pun kehilangan kesadarannya.


Aku terkejut, begitu melihat pemimpin kelompok itu bangkit dari duduknya. Ternyata sekelompok berjubah hitam yang melakukan ritual itu sama dengan kelompok penganut ilmu hitam yang ada di gedung tua. Jadi ini yang Pak Gun maksud. Meski pemimpin mereka tertangkap polisi, masih ada pemimpin dan kelompok lain yang bebas berkeliaran.


Bruugh.


Tubuh Dinar dilemparkan begitu saja. Ia diletakan di atas meja altar, dengan mengenakan gaun putih bersih. Dua orang sibuk mengikat kedua kaki dan tangan Dinar. Tak lama setelah itu Dinar sadar dengan kondisi lemas. Ia kebingungan ketika menyadari jika ia sedang tidur terlentang. Ia berteriak lantang, meminta tolong pada orang-orang di sekelilingnya.


"Mas Ari! Tolooong aku Mas huhuhu!" Teriak Dinar berharap Ari mendengar nya.


Dan betapa terkejutnya Dinar. Ketika ia melihat Ari berjalan dari belakang kerumunan orang yang sedang mengelilingi nya. Ari mengenakan jubah hitam yang sama dengan mereka. Tak hanya penampilan Ari yang berubah, tapi juga raut wajah nya tak lagi sama. Wajah bengis dengan senyum menyeringai nampak puas melihat penderitaan nya.


"Mas Ari, tolooong aku Mas, lepaskan ikatannya huhuhu!" Jerit Dinar menangis meronta-ronta.


Bukannya bantuan yang Dinar dapat, melainkan sebuah kepalan tangan yang mendarat tepat di wajahnya. Darah segar keluar dari bibirnya, Dinar terbelalak menyaksikan Ari baru saja memukulnya. Ia menangis histeris menyadari jika sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.


Di tengah mimpi ku, bahkan aku bisa merasakan sakit di sekitar bibirku. Dan seketika aku terbangun dari tidur dengan nafas tersengal-sengal. Nampak sosok pocong itu berdiri mengambang di sudut kamarku. Bahkan kini ia sedang menangis, dengan air mata darah yang membasahi wajahnya. Wajah setengah rusak itu kini berlumuran darah, membuatku bergidik ngeri karena merinding melihat wujudnya yang menyeramkan.