
Semua orang terlihat memutari altar persembahan. Tak lama seseorang berjubah hitam dengan kalung perak yang melingkar di lehernya datang. Disusul dengan empat orang yang menyeret seseorang dibelakangnya. Begitu orang yang diseretnya tadi di lemparkan ke sembarang tempat. Aku dan Mas Adit sama-sama terkejut, karena kami melihat Om Dewa dengan keadaan tangan terikat. Mulutnya disumpal sehingga ia kesulitan berbicara. Hanya kaki nya saja yang di rantai, hingga membuatnya kesusahan berjalan.
"Loh Ran. Itu kan Om Dewa, ngapain dia disana? Bukannya dia yang jadi pemimpin semua orang berjubah hitam itu?"
"Jadi sekarang Om Dewa adalah calon persembahan mereka. Dia akan dijadikan tumbal Mas. Jadi bener apa kata Om Dewa, jika saat itu dia dalam pengaruh ilmu hitam. Pasti seseorang yang mengenakan kalung perak itu adalah Tante Ajeng!"
"Lu tahu darimana Ran? Kita kan belum lihat wajahnya."
"Sebelum Om Dewa hilang, dia udah cerita semua ke gue. Mungkin memang ada yang sengaja menculiknya, dan ingin menumbalkan nyawa nya untuk mendapatkan apa yang diinginkan nya. Dan gue yakin orang yang paling ingin melihat Om Dewa menderita adalah Tante Ajeng."
Kami masih menatap layar laptop, mereka sudah memulai ritual dengan pembacaan mantra. Om Dewa diseret paksa, dan dipaksa terlentang di atas dipan kayu. Kedua kaki dan tangannya diikat sama seperti Dinar waktu itu. Sang pembaca mantra berjalan ke depanln altar dengan membawa buku besar. Dengan perintah dari sang pembaca mantra, pemimpin merekalah yang melakukan eksekusi pada Om Dewa. Ia berjalan dengan membawa sebilah pisau di tangan kanan nya. Sebelum pembacaan mantra selesai, aku harus segera menyelamatkan nyawa Om Dewa. Jika kami sampai terlambat datang, ia pasti akan terluka di tangan para sekte sesat itu.
"Mas sebentar lagi mereka akan segera mencelakai Om Dewa. Kita harus cepat kesana!" Kataku dengan wajah panik.
Mas Adit memerintahkan beberapa petugas untuk masuk ke dalam gedung. Dan melakukan penggrebekan. Sementara yang lainnya ditugaskan untuk berjaga diluar gedung, supaya tak ada yang kabur dari TKP. Aku sudah bersiap dengan kamera di tanganku, meski aku bukan jurnalis lapangan, setidaknya aku akan membawakan berita terbaru yang bagus untuk menaikan rating acara.
Sesampainya di depan gedung itu, terdengar suara gaduh seperti orang berlarian. Tak lama ku lihat Mbak Ayu baru saja turun dari motor yang ditumpangi nya.
"Ada apa Ran?" Tanya Mbak Ayu dengan wajah penasaran.
"Gue gak tahu ada apa Mbak."
Penggrebekan langsung dilakukan, karena petugas sudah melihat beberapa orang berjubah hitam berlarian keluar gedung. Mas Adit menduga, jika rencana kami terbongkar. Dan semua orang yang ada di dalam berusaha melarikan diri. Mbak Ayu langsung berlari ke dalam diikuti Mas Adit. Sementara aku mulai mengambil gambar dengan kamera di tangan ku. Entah ada apa sebenarnya, kenapa tiba-tiba mereka melarikan diri. Atau jangan-jangan Heni yang melakukannya. Karena tadi aku lihat Mbak Ayu tiba-tiba datang kesini, padahal aku memintanya menjaga Heni. Aku terus masuk ke bagian dalam gedung itu, nampak Om Dewa sudah tergeletak di atas dipan persembahan dengan kedua tangan yang sudah tersayat. Kesadarannya sudah hampir hilang karena darahnya mengalir dengan deras. Mas Adit segera meminta petugas untuk mengevakuasi Om Dewa ke Rumah Sakit. Semoga saja nyawanya dapat tertolong, karena tak ada lagi yang bisa dilakukan, jika ia sampai tewas disini. Di depan sana, terlihat Mbak Ayu sedang menghadang seseorang yang mengenakan jubah hitam dengan kalung perak di lehernya.
"Mbak dia itu pemimpin sekte nya. Kita harus membuka kedoknya. Tapi ngapain lu datang kesini? Gue kan minta lu jaga Heni tadi!"
"Ceritanya panjang, nanti gue jelasin! Yang penting saat ini kita harus menangkapnya." Sahut Mbak Ayu menghadang langkah seseorang yang kami duga adalah Tante Ajeng.
Mbak Ayu sepertinya akan menggunakan kekuatan nya, dan aku tak mungkin mengambil gambarnya. Segera ku masukan kamera ke dalam tas ransel. Dan benar saja. Mbak Ayu membaca mantra-mantra, dan tak lama suar cahaya putih keluar dari ujung tangannya. Cahaya itu melesat memantul ke tanah, rupanya kekuatan Mban Ayu tak bisa menembus tubuh orang itu.
Terdengar suara yang terjatuh dari samping kami. Sontak saja aku menoleh ke arahnya. Seseorang itu melarikan diri, dan berusaha kabur dariku. Semua petugas pun sedang sibuk menangkap semua anggota sekte, dan orang itu berusaha melarikan diri. Aku memutuskan untuk mengejarnya, tapi tiba-tiba ia menghilang setelah memasuki sebuah ruangan. Ruangan yang kosong tanpa benda apapun di dalamnya, bahkan tak ada celah lubang untuk kabur dari sana. Tapi kemana orang itu pergi. Aku kebingungan, dan berusaha terus mencari keberadaan nya. Tak ada siapapun disana, tapi aku dapat merasakan kehadiran orang lain di dekat ku. Atau jangan-jangan dia memiliki ilmu menghilang atau semacamnya. Ah mana mungkin bisa, sedangkan sang pemimpin saja sudah terpojok dan tak dapat menggunakan ilmu menghilang.
"Rania ngapain kau disini? Keluarlah, pemimpin sekte itu sudah kami ringkus. Beruntung nya Mbak Ayu belum melakukan apa-apa, bukankah kau bilang dia memiliki kesaktian?"
Whuuusd.
Angin dingin menerpa belakang leherku, sepertinya baru saja ada yang melesat di belakangku.
"Mas kau merasa ada sesuatu yang lewat gak?"
"Iya sih, kayak angin dingin gitu."
Ekor mataku menangkap sekilas bayangan, rupanya ia merubah bentuk menjadj seekor burung gagak hitam. Ia hinggap di atas lubang besar yang ada di atas tembok. Sorot mata nya tajam menatapku. Batinku sangat yakin, jika burung gagak itu adalah jelmaan salah satu dari orang berjubah hitam itu. Terdengar suara langkah kaki yang berlari ke arah ku. Mbak Ayu datang dengan nafas tersengal-sengal. Ia kesulitan bicara karena sibuk mengatur nafasnya.
"Di diaa." Kata Mbak Ayu tak melanjutkan ucapannya. Ia membulatkan kedua matanya menatap burung gagal yang sedari tadi ku lihat.
"Mbak ada yang mau gue sampaiin, lu lihat burung gagak itu kan. Kok gue ngerasa itu bukan burung biasa!"
Mas Adit kelimpungan mencari burung gagak yang aku maksud. Tapi menurutnya, ia tak melihat apapun di atas lubang tembok. Kok aneh sih, hanya aku dan Mbak Ayu yang bisa melihatnya.
"Lu bener Ran, ternyata itu bukan burung gagak biasa. Dia adalah jelmaan manusia, dan gak sembarang orang yang bisa merubah wujud nya begitu. Gue curiga, dia bukan anggota sekte biasa." Sahut Mbak Ayu seraya memejamkan kedua matanya.
Tapi burung gagak itu terlanjur terbang meninggalkan gedung ini. Seketika Mbak Ayu sangat kesal, karena ia belum bisa mengetahui wujud asli dari burung gagak itu. Mas Adit langsung menenangkan Mbak Ayu, dan mengatakan jika pemimpin kelompok yang kami duga adalah Tante Ajeng sudah tertangkap.
"Tapi Mbak, kita udah salah menilai Om Dewa. Sekarang dia dalam kondisi kritis, karena kehilangan banyak darah. Kalau dia adalah salah satu dari sekte itu, gak mungkin dong dia akan menjadi tumbal selanjutnya." Jelas Mas Adit dengan wajah cemas.
Tak ada yang bisa kami lakukan, kali ini Mbak Ayu benar-benar kehabisan kesabaran. Tangan nya mengepal serata berjalan keluar, ia mencari seseorang yang mengenakan kalung perak di lehernya. Aku dan Mas Adit berusaha mengejarnya, kami ingin menghentikan Mbak Ayu karena tak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi. Karena di dalam kemarahan, Mbak Ayu bisa melakukan apa saja diluar batas.