
Pagi itu, aku berangkat ke kantor di antar Mas ojol langganan ku. Mas ojol yang tempo hari membantuku mengungkap kejahatan istri Pak Markum dan juga Bu Marni. Ia bercerita, jika Bu Welas mengatakan sesuatu padanya mengenai bayi yang dikandung Purnama.
"Katanya sih kak, si Aya itu melahirkan dan meninggalkan anaknya begitu saja. Ya, mungkin karena saat itu dia dalam tekanan. Secara kan dia hamil diluar nikah, mungkin karena itu si Aya jadi depresi, dan diperparah dengan pemberian obat dosis tinggi, makanya si Aya tambah parah."
Aku langsung teringat dengan penglihatan yang diberikan Bulan, saat Purnama menemui Bos besar di kantor. Saat itu terakhir kalinya, aku melihat Purnama dalam keadaan hamil besar. Mungkinkah terjadi sesuatu di kantor, hingga membuatnya kontraksi dan melahirkan. Aku langsung menjentikan jari, terpikirkan sebuah ide di kepalaku.
Jika aku harus menunggu Purnama sembuh total, mungkin akan membutuhkan waktu yang lama. Dan jiwa Bulan akan semakin lama berada di alam manusia. Belum lagi masalah yang lainnya, akan semakin bertumpuk.
"Mas udah saya bayar pakai aplikasi ya, makasih." kataku seraya berjalan masuk ke kantor.
Kali ini aku sengaja melewati tangga darurat, aku berhenti tepat di lantai tiga, dan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk tak kasat mata yang ada disana. Ku panggil mereka satu persatu, untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku bertanya pada mereka, apakah salah satu dari demit itu ada yang melihat Purnama di sekitar tempat ini pada beberapa tahun yang lalu. Dan dua di antara demit yang tinggal disana langsung mengatakan, jika perempuan yang ada di selembar foto yang ku pegang, adalah perempuan yang meninggalkan satu-satunya demit kecil yang tinggal disana. Sontak saja aku membulatkan kedua mata, tak ku sangka jika selama ini Aurora lah yang sedang ku cari.
"Astaghfirullah, ternyata bayi Purnama sudah meninggal dunia. Mungkinkah ia keguguran, atau memang sengaja meninggalkan Aurora disini?" batinku didalam hati bertanya-tanya.
Untuk memastikan kebenarannya, aku mencoba berkomunikasi dengan demit lainnya, meski banyak di antara mereka yang berkata tak tahu apa-apa. Salah satu dari mereka, mengaku melihat kejadian di malam itu. Tapi salah satu hantu itu memberikan syarat padaku, untuk mendapatkan informasi darinya. Aah, dasar demit banyak mau nya. Sudah meninggal, tapi masih ada aja maunya. Demit yang satu ini, dulunya adalah seorang atlet lari jarak jauh. Sebelum ia sempat mencapai garis finis, mendadak ia terkena serangan jantung. Dan membuatnya tiada saat itu juga, karena itulah ia mati penasaran. Karena belum sempat berlari sampai garis finis, dan ia memberikan persyaratan yang konyol padaku. Demit ini memintaku membuatnya menjadi juara lari jarak jauh.
"Gimana caranya aku membuatnya menjadi juara lari, masa iya aku harus mengadakan lomba lari jarak jauh untuk makhluk tak kasat mata." batinku didalam hati dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
Akhirnya, aku menemukan sebuah cara. Aku memberitahu demit itu untuk menunggu ku di taman kota belakang kantor. Aku harus menyiapkan sesuatu untuk mewujudkan keinginan demit itu. Selain aku bisa mendapatkan informasi mengenai Purnama, aku juga akan membuat demit itu kembali ke alam keabadian. Karena dengan mewujudkan keinginan nya, demit itu tak akan mati penasaran lagi. Dengan cara ia berlari mencapai garis finish, akan mengantarkannya kembali ke tempat nya yang seharusnya.
"Mbak, tolong gue dong. Ikut gue sebentar aja!" seruku dengan nafas tersengal-sengal.
Mbak Rika masih sibuk di depan monitor komputer, dan aku langsung menarik tangannya keluar ruangan. Ia menghentikan langkahnya dengan berkacak pinggang, menatapku tajam.
"Sebenarnya lu mau apa sih Ran? Masih pagi udah bikin heboh di kantor aja!" kata Mbak Rika mengaitkan kedua alis matanya.
"Oh, jadi ini berhubungan dengan perempuan yang dicari Pak Bos itu? ngomong dong dari tadi! yuk gue bantuin, emang lu mau gue bantu apa Ran?"
"Udah, ikut gue aja!" kataku seraya menarik tangan Mbak Rika ke gudang kantor.
Aku sibuk mencari sesuatu yang dapat membantu demit itu tak penasaran lagi. Terpikirkan olehku, hanya cukup membuatnya berlari mencapai garis finish saja, dapat membuat demit itu senang, dan tercapai keinginan terakhirnya.
"Buat apa lu ngambil peluit sama tali Ran?"
"Buat lomba lari Mbak, yuk ke taman belakang sekarang."
Nampak raut wajah Mbak Rika keheranan, ia tak banyak bertanya, tapi dari wajahnya saja, aku dapat melihat jika Mbak Rika sebenarnya penasaran dengan apa yang ingin ku lakukan.
Sesampainya di taman belakang kantor, aku segera memanggil demit atlet pelari itu. Ia dengan cepat melesat ke arahku, mengenakan sepatu favoritnya, yang tadi tak ku lihat sama sekali. Sepertinya ia sengaja memakainya untuk menuju ke garis finish terakhirnya. Harapanku hanya satu, setelah membantunya mewujudkan impian nya. Demit itu akan tenang kembali ke alamnya, dan aku bisa mendapatkan informasi penting darinya.
Ku jenjangkan tali memanjang, Mbak Rika memegang tali di sisi kiri, dan aku di sisi kanan. Dari kejauhan, nampak demit itu sudah bersiap dari sudut depan taman. Lalu aku berteriak menghitung sampai hitungan ke tiga, dan ku tiup peluit menandakan perlombaan siap dimulai. Sesuai aba-aba dariku, demit itu langsung berlari dengan kaki yang mengambang. Ia terus berlari menuju ke arah tali yang ku pegang dengan Mbak Rika, untuk membuatnya bersemangat seperti dalam arena perlombaan. Aku berteriak memberikan dukungan pada demit itu. Terlihat ia akan mencapai garis finish yang ku buat.
Wuuush.
Demit pelari itu berhasil berlari melewati tali yang kami pegang. Ia bersorak gembira, dan aku ikut larut dalam kebahagiaan nya. Tanpa sadar aku berjingkrak merasakan kebahagiaan demit itu, sementara Mbak Rika melihatku dengan heran. Ia menggaruk kepala yang tak gatal, dan bertanya padaku, kenapa aku melompat kegirangan.
"Kita udah berhasil menolong makhluk lain untuk kembali ke alamnya Mbak. Makasih ya, udah bantu gue!" kataku seraya merangkul Mbak Rika.
Tak lama setelah itu, demit pelari itu menghampiri ku, lalu memberikan penglihatan gaib padaku. Malam disaat Purnama pergi dari kantor menuruni anak tangga, ia tersandung lalu terjatuh. Terjadi kontraksi pada perutnya, hingga ia melahirkan disana. Semua makhluk tak kasat mata yang ada disana menjadi saksi mati, saat Purnama berjuang melahirkan bayi yang ia kandung. Setelah Purnama berhasil melahirkan bayi yang ia kandung, ia sempat tak sadarkan diri untuk beberapa saat. Dan saat Purnama kembali sadar, ia terkejut melihat seluruh kakinya berlumuran darah. Ia terlihat panik dan berusaha bangkit berdiri dengan susah payah. Ia berjalan perlahan dengan menahan rasa sakit yang luar biasa di bagian pribadinya. Entah Purnama sadar atau tidak, ia telah meninggalkan bayi yang baru saja ia lahirkan di tangga darurat kantor itu. Bayi yang masih terlilit dengan tali pusarnya itu, masih tergeletak di anak tangga berlumuran darah. Para sosok tak kasat mata dengan aura jahat, mulai mengerumuni tubuh bayi tak berdosa itu. Bahkan salah satu kuntilanak bergaun merah memakan ari-ari bayi nya. Perlahan semut-semut berdatangan mengerumuni tubuh mungil bayi itu, semut-semut kecil mulai menggigit tubuh bayi kecil itu. Membuatnya menangis sampai ia terlihat lemas, dan tak terdengar lagi suara tangisnya.