Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 175 FIRASAT JANGGAL?


Heni terlihat bergidik lalu menempelkan tubuhnya padaku. Ia berkata jika mendengar suara tangisan seorang perempuan.


"Mbak lihat nih gue merinding tauk!" Ucapnya seraya menunjukkan bulu halusnya yang meremang.


"Perasaan lu aja kali, gue gak denger apa-apa kok. Mending lu masuk kamar aja sono, katanya lagi belajar kelompok."


"Udah kelar kok Mbak, mereka lagi pada beres-beres. Gue jadi takut nih tidur sendirian, masak gak ada yang nangis tapi gue denger suaranya."


"Gak usah parno deh Hen, udah sana masuk aja. Gue lagi capek banget nih pengen rebahan!"


"Gue tidur di kamar lu ya Mbak?"


"Big no! Kamar gue masih berantakan banget, jadi kita tidur di kamar masing-masing. Oke?"


Aku meninggalkan Heni di teras seorang diri, tak lama ia berlari masuk ke kamarnya. Aku heran, bagaimana mungkin Heni bisa mendengar suara tangisan Mbak Lia. Atau karena sosok Mbak Lia ini masih setengah manusia ya. Sudahlah, aku ingin istirahat saja. Kepala ku rasanya sangat berat, dan enggan bangkit dari tempat tidur. Tak ku hiraukan lagi sosok Mbak Lia, ia masih sesegukan di sudut ruang tamu.


Sayup-sayup aku melihat sinar matahari memasuki celah-celah. Aku meregangkan otot-otot di tubuh, dan mendongakkan kepala ke atas. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh tiga puluh. Rasanya aku baru saja memejamkan mata, tapi waktu berlalu dengan cepat. Ku lihat sosok Mbak Lia masih ada di tempat yang sama. Entah apa lagi yang ia pikirkan, aku memintanya untuk berkeliling keluar rumah sebelum aku membersihkan diri.


Setelah bersiap, aku berniat pergi ke Kedai kopi bersama jiwa Mbak Lia. Tapi panggilan telepon dari Mbak Rika menghentikan ku. Astaga, ini sudah satu minggu dari waktu ijin cuti, dan aku belum memberikan kabar ke Mbak Rika. Begitu ku sentuh tombol terima panggilan, terdengar suara cempreng Mbak Rika yang mengomel.


"Lu kemana aja sih Ran, di telepon gak bisa-bisa. Urusan di Desa udah kelar kan? Jadi kapan lu bisa masuk kerja? Pak Bos udah nanyain lu terus tuh!"


"Udah kelar sih Mbak. Tapi gue belum bisa ke kantor sekarang, mungkin lusa baru berangkat. Sampaikan saja ke Pak Bos, kalau gue dapat informasi yang menarik tentang Ibu tiri nya."


"Ya udah gue matiin telepon nya, jangan lupa besok lusa berangkat!" Ucapnya sebelum mengakhiri panggilan telepon.


Setelah itu aku memesan taksi online, supaya jiwa tanpa raga Mbak Lia tak kesusahan mengikuti langkah ku. Ia terlihat sangat gusar, dan mengaku takut berhadapan dengan arwah Fendi. Padahal setahuku sosok Fendi itu tak menakutkan sama sekali. Meski wujudnya memang mengerikan, karena setengah kepalanya terbelah.


"Apa kau yakin Fendi tak akan marah melihatku?" Tanya Mbak Lia yang duduk di samping ku.


Aku hanya bisa berkomunikasi dengannya melalui batin. Karena jika sopir taksi online itu melihat ku berbicara sendiri, pasti ia akan mengira aku kehilangan akal. Taksi online berhenti di lampu merah yang daerahnya lumayan sepi. Mbak Lia menolehkan kepala ke sisi kanan jendela. Ketika aku melihat ke arah yang sama, aku melihat sosok hantu lelaki yang tak asing di mata ku.


"STOP PAK!"


"Tapi kita belum sampai di lokasi tujuan Mbak."


"Gak apa-apa Pak, saya bayar full kok. Terima kasih!" Ucapku seraya turun dari mobil.


Kebetulan sekali sosok hantu itu sedang berada di tempat sepi. Ia berjongkok melihat gambaran dirinya yang dibentuk polisi dengan pilok warna putih. Aku dan Mbak Lia berhenti tepat di depan sosok Fendi. Awalnya dia acuh dengan kedatangan ku, tapi begitu ia melihat sosok Mbak Lia. Nampak Fendi langsung melesat mendekati kami. Ia menatap wajah Mbak Lia dengan mata berkaca-kaca. Mungkin ia pikir, Mbak Lia tak bisa melihatnya. Karena itulah sosok Fendi menatapnya lebih dekat lagi. Sampai akhirnya Mbak Lia menjerit, ia menangis sesegukan dengan menyatukan kedua tangan di depan sosok Fendi.


"Aku tahu, kalau aku bersalah udah tutup mulut atas kematian mu. Tapi tolong jangan dendam padaku Fen, aku bersumpah bukan aku yang menabrak mu!" Jerit Mbak Lia terisak.


"Apa maksudnya ini Li? Kenapa kau ada disini dan bisa melihatku? Aku tak pernah marah atau menaruh dendam padamu. Aku tahu bukan kau yang mengemudikan mobil dan menabrak ku. Kalau kau menceritakan yang sebenarnya, maka polisi akan meminta keterangan darimu. Aku gak mau kau berurusan dengan polisi. Aku hanya ingin melihatmu bahagia, maaf selama ini aku hanya diam tak mengungkapkan perasaan."


Aku hanya diam mendengar kedua jiwa tanpa raga itu berbicara. Mbak Lia tak mengingat apa yang telah terjadi padanya, yang ia ingat jika ia sudah sampai di Desa. Dan melakukan aktivitas seperti manusia pada umumnya.


"Maaf menyela pembicaraan kalian, menurut ku, Mbak Lia memang perlu mengungkapkan kejadian yang sebenarnya. Menurut ku ia hanya akan menjadi saksi, dan yang menabrak mu lah yang akan jadi tersangka. Dengan begitu mungkin jiwa Mbak Lia akan terlepas dari rasa bersalah dan bisa kembali ke dalam raganya."


"Dia benar Fen, apapun yang akan terjadi kedepannya, aku harus menanggung semuanya. Supaya kau dapat beristirahat dengan tenang di alam keabadian." Ucap Mbak Lia dengan menundukkan kepala.


Sosok Fendi tak mengatakan apapun, ia terus menggenggam tangan Mbak Lia dengan mata berkaca-kaca.


"Aku sangat bersyukur jika kau bisa hidup bahagia di dunia ini. Semoga kau mendapatkan pasangan yang lebih baik!"


Tak ada jawaban dari Mbak Lia, ia malah berlinang air mata melihat Fendi penuh kesedihan.


"Bagaimana kalau kita ke Kedai kopi aja, siapa tahu ada kabar tentangmu disana Mbak."


"Mana mungkin, aku sudah ijin cuti lima hari. Pasti saat ini raga ku masih ada di Desa."


"Dia benar Li, siapa tahu supervisor memiliki kontak keluarga mu. Kita bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu disana."


Akhirnya kami semua pergi ke Kedai kopi, disana sangat ramai dan para pegawai keteteran melayani customer. Aku berlagak mengenal Mbak Lia, dan menanyakan dimana dia saat ini. Seorang pegawai lelaki menjelaskan jika saat ini Mbak Lia sedang pulang kampung. Dan seharusnya sudah kembali bekerja hari ini. Tapi ia tak memberi kabar sama sekali. Tak jauh dari sana, ada seorang lelaki muda dengan penampilan stylish. Ia menghampiri ku, dan bertanya apa aku mengetahui kost Mbak Lia yang ada di Jakarta. Aku menjelaskan jika tak tahu dimana ia tinggal, dan menyarankan nya untuk menghubungi ponsel Mbak Lia saja.


"Sudah kami hubungi tapi gak aktif."


Kemudian jiwa Mbak Lia berbisik padaku, ia memintaku mengatakan pada Supervisor nya, jika di buku catatan karyawan ada kontak darurat para pegawai. Disana tertulis nomor hape orang tua Mbak Lia, dan meminta Supervisor itu untuk mencari kontaknya. Ku jelaskan apa yang Mbak Lia minta, dan Supervisor itu menghembuskan nafas lega.


"Ah kau benar juga, terima kasih."


Lelaki itu mencari kontak darurat di buku pegawai, dan berhasil mendapatkan nomor hape orang tua Mbak Lia. Dan ketika ia menelepon, nampak wajah lelaki itu sangat terkejut. Ia mendapat kabar jika Mbak Lia sedang dirawat di Rumah Sakit. Sontak saja aku mengaitkan kedua alis mata. Bagaimana mungkin Mbak Lia tak mengingat apa yang telah terjadi padanya.


"Wah bagaimana ini, besok ada reservasi tempat untuk acara kopi darat. Dan kita kekurangan pegawai!" Ucap Supervisor itu seraya mengacak rambutnya.


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada Mbak Lia?" Tanyaku penasaran.


"Lia jatuh di kebun, kepalanya terbentur batu. Ia sedang dirawat di ICU, entah kapan dia akan sadar. Semoga kondisinya baik-baik saja."


Seketika aku menatap jiwa tanpa raga Mbak Lia. Ia terlihat lebih terkejut daripada aku, bahkan sosok Fendi sampai menopang tubuh hampa nya. Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya, karena aku memiliki firasat janggal memgenai kejadian yang menimpanya di kebun.