Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 226 KISAH ARFI.


Pak Roni masih memandangi kami dengan raut wajah kebingungan. Mbak Ayu yang lebih mengenalnya, langsung bertanya mengenai Arfi dan teman-temannya.


"Maaf Pak, saya mau tanya. Apakah Pak Roni tau kalau sebelumnya Arfi ada masalah dengan teman-temannya?"


"Hmm saya kurang tau Bu, memangnya anak-anak cerita apa?"


"Justru karena mereka gak cerita apa-apa, makanya saya tanya kali aja Bapak tau sesuatu."


Tak lama kedua siswi perempuan berjalan melewati kami. Mbak Ayu melambaikan tangan memanggilnya, dan bertanya langsung apakah Arfi mempunyai masalah dengan mereka. Tapi keduanya malah gelagapan, dan saling pandang. Sementara fokus ku teralihkan dengan sosok Arfi yang menangis di samping seorang perempuan paruh baya. Aku memutuskan untuk berkomunikasi dengannya melalui batin. Sosok Arfi nampak terkejut ketika ia mendengar suara ku. Tanpa basa-basi aku langsung bertanya kenapa ia selalu menangis dan terkadang menunjukkan ekspresi marah. Apa mungkin ia masih memiliki masalah yang mengganjal, dan ku minta ia untuk bercerita padaku.


"Kalau kau tak bisa menerima kematianmu, kau akan menjadi arwah gentayangan. Jadi ku minta kau untuk menceritakan apa yang mengganjal di dalam hatimu. Supaya kau dapat kembali ke alam keabadian."


Tak ada jawaban dari Arfi, ia hanya menundukkan kepala dengan berlinang air mata. Entah kenapa ia terus menunduk tak mengatakan apa-apa. Jika sampai proses pemakaman selesai ia tak mengatakan apapun, sudah bisa dipastikan jika ia akan menjadi gentayangan tak tenang.


"Gimana Ran, lu dapetin informasi gak?" Tanya Mbak Ayu menghampiri ku.


"Dia gak mau gue ajak komunikasi Mbak. Dia malah diem aja dari tadi, kayaknya harus lu sendiri yang ngomong dari hati ke hati sama dia." Jawabku menatap sosok Arfi yang terus mengikuti seorang perempuan paruh baya.


"Duh gimana dong, masak gue harus terang-terangan komunikasi sama dia di tempat umum kayak gini?"


"Kita gak ada pilihan Mbak, itu juga gak menjamin kalau dia gak akan gentayangan setelah cerita ke lu."


Nampak dari kejauhan Pak Roni seakan mengawasi gerak-gerik kami. Aku jadi semakin curiga, jika ia mengetahui sesuatu.


Whuuuuss.


"Tolooong saya buu..."


Sontak saja aku dan Mbak Ayu langsung membalikkan badan. Dan melihat sosok Arfi sudah berdiri mengambang tepat di belakang punggung kami. Ku minta Mbak Ayu untuk langsung berkomunikasi dengan nya, karena sepertinya Arfi hanya mau berbicara dengan Mbak Ayu. Mungkin karena ia merasa lebih nyaman berkomunikasi dengan gurunya sendiri. Dan tanpa memperdulikan sekitar, Mbak Ayu langsung bertanya padanya kenapa ia terlihat tak tenang dan tertekan.


Arfi menggelengkan kepala lalu menyentuh perutnya. Aku dan Mbak Ayu langsung mengaitkan kedua alis mata. Dan tak lama setelah itu ia menunjuk ke arah Pak Roni berdiri. Seketika aku tercekat, lidahku kelu seakan tak bisa berucap. Jangan-jangan gadis ini sedang hamil benih dari gurunya sendiri. Ah tidak! Aku harus memastikan kebenarannya terlebih dulu, karena Arfi belum mengatakan apa-apa sampai saat ini.


"Maksudnya gimana Arfi? Kenapa kau menunjuk Pak Roni seperti itu?"


"Pak Roni menghamili saya Bu huhuhu." Ucapnya terisak pilu seraya memegangi perutnya.


"Kurang ajar! Gue perlu bikin perhitungan ke lelaki jahat itu! Tega-tega nya dia berbuat gak senonoh ke anak muridnya sendiri!" Ucap Mbak Ayu dengan mengepalkan kedua tangan.


"Tunggu Mbak, sabar dulu! Kita dengarin penjelasan Arfi dulu!" Ku tarik tangan Mbak Ayu supaya ia tak langsung mendatangi rekan kerjanya itu.


Aku mengambil alih komunikasi dengan Arfi, dan ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia langsung menyentuh tanganku, dan seketika aku dapat melihat gambaran masa lalunya.


Flashback on.


Setelah selesai belajar kelompok, Arfi dan teman-temannya selalu berkumpul di sebuah cafe kecil yang tak jauh dari sekolah mereka. Beberapa kali Pak Roni datang ke cafe yang sama, dan mentraktir para muridnya itu. Satu persatu di antara dua murid itu pergi meninggalkan cafe. Hanya ada Arfi dan Pak Roni disana, Pak Roni menawarkan diri untuk mengantarkan Arfi pulang ke rumah. Tapi di tengah perjalanan, Pak Roni menghentikan laju motornya dan bersikap tak sopan pada Arfi. Ia mengakui perasaan nya, dan mengutarakan cinta pada Arfi. Anak remaja seusianya belum paham betul arti cinta. Pak Roni mengimingi ponsel baru yang akan ia berikan pada Arfi, jika ia mau menerima ajakannya untuk pergi ke kost nya. Disana mereka melakukan hubungan layaknya suami istri. Dan tak hanya sekali saja hubungan itu terjadi. Beberapa kali mereka melakukan nya, setiap kali mereka pulang dari sekolah. Tak ada yang tau hubungan mereka, sampai akhirnya Arfi terlambat datang bulan. Dan muncul tanda-tanda kehamilan, lalu ia meminta tanggung jawab dari Pak Roni karena telah menghamilinya. Tapi Pak Roni kurang yakin, dan memintanya untuk membeli alat test kehamilan. Tapi saat Arfi membeli alat tes kehamilan, ia ketahuan oleh kedua teman-temannya dan ia ketakutan karena dicecar pertanyaan oleh mereka. Akhirnya Arfi terpaksa menceritakan apa yang sebenarnya pada mereka. Dan kedua teman nya itu diminta untuk merahasiakan apa yang sebenarnya. Tapi keduanya justru marah, dan ingin menemui Pak Roni di sekolahan supaya ia mempertanggung jawabkan perbuatannya. Terjadi aksi kejar-kejaran, karena Arfi berusaha menghentikan kedua teman nya. Sampai akhirnya kecelakaan tak dapat dihindari, dari seberang jalan ada mobil yang melaju kencang dan menabrak Arfi sampai ia terpental jauh dan kepalanya membentur beton jalan. Kedua teman nya terkejut karena melihat Arfi sudah tergeletak di pinggir jalan, dengan kepala yang mengeluarkan darah segar. Arfi menghembuskan nafas terakhirnya, ia telah tiada bersama calon bayi nya. Rahasia itu tersimpan sampai sekarang, dan kedua teman nya ragu untuk menceritakan segalanya.


Flashback off.


Astaghfirullah miris sekali kisah hidupnya, ia adalah anak yatim yang ditinggalkan ibu nya merantau sejak kecil. Tapi ia terperdaya cinta gurunya sendiri, dan takdir berkata lain karena ia tiada bersama janin yang ada di dalam rahimnya. Ku lihat Mbak Ayu juga ada di samping ku, sepertinya ia ikut melihat gambaran yang Arfi tunjukkan padaku.


"Ran terus kita harus gimana nih? Tanpa kedua murid gue yang menceritakan sebenarnya, kita gak mungkin bisa langsung nuduh Pak Roni gitu aja. Takutnya dia gak ngaku, malah kita yang kena masalah." Ucap Mbak Ayu dengan menghembuskan nafas panjang.


Aku juga tak tau harud bagaimana, karena hanya kedua murid itu saja yang tau sebenarnya. Dan posisinya Arfi hanya memiliki seorang Nenek yang sudah tua. Kami takut menyakiti perasaan nya, jika ka mengetahui kebenaran mengenai cucunya. Tapi Mbak Ayu mengambil keputusan dengan berkata tegas pada kedua murid nya. Ia meminta mereka untuk berbicara dengan Pak Roni, dan memintanya mengakui yang sebenarnya jika Arfi sedang mengandung darah daging nya. Meski sempat ragu dan takut, akhirnya keduanya pun mau melakukan perintah Mbak Ayu. Disaat semua pelayat bersiap mengantarkan jenazah Arfi ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kedua murid itu berbicara dengan Pak Roni, mereka terlihat berbicara serius. Aku dan Mbak Ayu memperhatikan mereka dari kejauhan, kami hawatir jika lelaki itu berbuat kasar pada mereka. Entah apa yang sedang dibicarakan, karena yang terlihat hanya ketegangan di antara mereka.