Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 178 DEMIT BUCIN.


Setelah Heni sadar dari pingsannya, ia bangkit berdiri dan berlari keluar kamar. Nampak nya ia sangat shock dan berusaha pergi entah kemana. Aku dan Ce Edoh berusaha mengejar nya, setelah aku berhasil menghentikan langkah nya. Heni hanya berdiri diam dengan tatapan mata kosong, dan nafasnya terengah-engah. Terlihat sosok Fendi dan Mbak Lia mengikuti kami, keduanya melesat ke samping Heni.


"Heni sadar Hen. Lu kenapa?" Tanya ku dengan memegang kedua pundaknya.


Sepertinya Heni masih sangat terguncang, ia tak langsung menjawab pertanyaan ku. Justru ia menangis sesegukan dan memanggil nama Fendi berulang kali. Aku memapahnya kembali ke dalam kamar, mendudukkan nya ke ranjang lalu memberikan segelas air minum padanya. Ce Edoh pun memijat tubuh Heni supaya ia sedikit rileks.


"Temangin diri lu dulu, setelah tenang baru kita bucarain lagi. Oke?"


Heni menyeka air matanya, dan mengatakan jika ia baik-baik saja. Ia ingin segera memberikan kabar duka itu pada kedua orang tuanya.


"Tapi gue gak tega Mbak ngomong nya huhuhu."


"Ya udah biar gue aja yang sampaikan berita itu ke orang tua lu."


"Gak usah Mbak, biar gue aja. Tolong beri gue waktu sendiri. Biar gue bisa ngomong dengan tenang ke orang tua gue."


Aku dan Ce Edoh menunggu di luar kamarnya, aku paham jika menyampaikan kabar duka seperti itu akan lebih susah untuk nya. Tapi ia harus tetap melakukan nya. Tak lama kemudian, sosok Mbak Lia keluar mengikuti ku. Sepertinya sosok Fendi sedang menemani adiknya, entah bagaimana cara Heni menyampaikan kabar duka ke orang tua nya.


Triing.


Terlihat pesan masuk dari Mas Adit, ia memberitahu jika ia sudah mengkonfirmasi ke pihak rumah sakit. Jika keluarga dari korban kecelakaan sudah ditemukan. Dan besok jenazahnya akan segera dibawa pihak keluarga.


Aah syukurlah satu persatu masalah selesai, lebih baik aku mencari informasi dari Fendi mengenai Heni dan juga Leni. Tapi kenapa dia gak keluar juga dari kamar Heni. Akhirnya aku memutuskan berkomunikasi dengan Fendi melalui batin, ku katakan padanya untuk segera menemuiku. Karena ada hal penting yang harus ku tanyakan padanya. Tapi beberapa saat kemudian, yang datang tak hanya Fendi, melainkan Heni juga ikut keluar dari dalam kamarnya.


"Mbak Rania bisa gak gue lihat jenazah Bang Fendi duluan? Orang tua gue nyuruh gue ke rumah sakit duluan, supaya jasad Abang segera di identi. Gue gak kebayang gimana reaksi Ibu sama Bapak. Pasti mereka lebih hancur dari gue huhuhu." Ucap Heni dengan tertunduk berlinang air mata.


"Bentar ya Hen, gue hubungi Mas Adit dulu. Lu siap-siap dulu sana, ntar gue panggil kalau udah ada balasan dari Mas Adit."


Ce Edoh menemani Heni ke kamarnya, aku dan kedua sosok jiwa tanpa raga itu mengikuti ku masuk ke dalam kamar. Aku duduk di ruang tamu, dan bertanya langsung pada Fendi. Mengenai adiknya Heni dan juga Leni, karena setelah jasadnya dibawa keluarga dan dikuburkan, aku tak akan bisa berkomunikasi lagi dengannya.


"Apa yang ingin kau tanyakan mengenai mereka? Bukankah kau ingin menyelesaikan masalah ku dulu?" Ucap Fendi dengan wajah cemas.


"Masalahnya, setelah jasadmu dikuburkan ada kemungkinan kau akan pergi ke alam keabadian. Dan aku tak bisa bertanya apapun padamu. Karena tak ada waktu lagi, makanya aku memutuskan untuk bertanya sekarang."


"Maksud mu aku tak bisa berada disini lagi? Aku masih ingin mendampingi Lia sampai masalah nya selesai." Pungkas Fendi dengan menundukkan kepalanya.


"Entahlah, aku juga tak tahu pasti. Karena beberapa dari makhluk tak kasat mata seperti mu, ada yang langsung pergi ke alam berikutnya setelah dikebumikan. Dan beberapa ada yang masih gentayangan, karena urusannya di dunia ini belum selesai. Dan untuk kasus mu, aku tak tahu bagaimana."


Sosok Fendi menggenggam tangan Mbak Lia, ia mengatakan jika ia akan tetap mendampingi nya sampai masalah yang mengandung Mbak Lia berakhir.


"Tapi Fen, besok orang tua mu pasti akan menguburkan jasadmu. Untuk apa kau bertahan di alam fana ini, bukankah aku juga jahat padamu. Lebih baik kau pergi ke alam keabadian supaya aku tak terus dihantui rasa bersalah" Sahut sosok Mbak Lia matanya nampak berkaca-kaca menahan air mata.


"Kau tak bersalah padaku Li, justru aku tak akan bisa tenang sebelum memastikan kau baik-baik saja. Ingatlah pesanku ketika kau kembali ke dalam ragamu, hiduplah bahagia dengan seseorang yang mencintaimu. Jangan cari orang yang kau cintai, karena seseorang yang mencintaimu pasti tak akan pernah membiarkan mu terluka. Dan kelak kau pasti bisa mencintainya juga."


Kedua sosok itu saling menggenggam tangan, aku bagaikan penonton yang sedang menonton drama televisi ikan terbang. Aku berdeham, supaya mereka ingat aku disini. Seketika keduanya canggung dan melepaskan tangan.


"Oke. Kalau begitu jelaskan dulu padaku, apa Heni dan Leni pernah melakukan sesuatu yang aneh selama ini?" Kataku memulai pembicaraan.


"Sesuatu yang aneh bagaimana? Contohnya seperti apa?" Tanya Fendi.


"Jadi gini, aku curiga dengan Leni kalau dia mengikuti ajaran sekte sesat yang mengorbankan nyawa manusia. Nah karena Heni berteman dengan Leni, mungkin gak sih kalau dia bergabung dengan kelompok yang sama seperti Leni. Karena kelompok sekte itu udah pernah numbalin nyawa seorang perempuan. Dan perempuan itu sempat gentayangan sebelum aku membantunya kembali ke alam keabadian. Jadi apa kau pernah lihat kalau adikmu itu melakukan kegiatan yang tidak biasanya?"


Fendi nampak memikirkan sesuatu, ia tak langsung menjawab pertanyaan ku. Menurutnya adiknya bukan tipe orang yang seperti itu. Meski beberapa kali ia pernah melihat Heni pergi tengah malam bersama Leni. Dan mereka pergi sembunyi-sembunyi tanpa berpamitan.


"Hanya itu aja yang aku tahu, tapi aku tak tahu sama sekali apa yang mereka lakukan selama ini. Dan entah kemana mereka pergi saat itu, tapi setelah Ibu dan Bapak menegur Heni. Dan mengatakan tak akan memberikan ijin untuk kuliah di Kota, Heni tak pernah lagi bepergian tengah malam bersama Leni. Makanya sekarang dia bisa kuliah di Kota. Jadi apakah sejak tinggal disini Heni masih sering bepergian tengah malam?"


"Entahlah Fen, aku juga tak bisa mengatakan apa-apa. Mungkin lebih baik aku menyelidikinya sendiri. Aku hanya tak mau Heni terjebak seperti Leni. Karena Leni udah terbukti bersekutu dengan kelompok sekte sesat itu. Sementara Heni, aku belum bisa memastikan apa-apa."


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu menghentikan obrolan kami. Aku bangkit berdiri membuka pintu, nampak Heni sudah memakai jaket tebal dan membawa tas besar. Ia mengatakan malam ini akan bermalam di rumah sakit, sekalian menunggu kedatangan orang tua nya. Jadi ia sudah membawa beberapa pakaian ganti juga.


"Mbak tolong temenin gue di rumah sakit ya. Gue takut sendirian disana, apalagi gue harus mastiin jenazah Bang Fendi. Gue takut gak kuat mental Mbak huhuhu."


"Pasti Hen, lu gak usah minta pun gue temenin kok. Ya udah yuk berangkat, Mas Adit juga masih di rumah sakit kok."


Ternyata Heni sudah memesan taksi online ke Rumah Sakit Polri. Kedua jiwa tanpa raga itu masih saja mengikuti kami. Ku katakan pada Heni, jika nanti aku tak bisa menemani nya mengantar jenazah kembali ke Desa. Karena aku harus menyelesaikan pekerjaan ku.


"Gak apa-apa kok Mbak, gue udah makasih banget ditemenin malam ini. Kalau bukan karena Mbak Rania, pasti jenazah Bang Fendi masih belum diidentifikasi. Kasihan Abang, dia pasti tak tenang karena keluarga nya gak ada yang tahu kondisinya. Tapi apa yang menyebabkan Bang Fendi sampai mengalami kecelakaan fatal kayak gitu Mbak? Setahu gue, Bang Fendi gak pernah kebut-kebutan kalau bawa motor. Apa ada hal lain yang belum gue tahu Mbak?" Tanya Heni dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Hmm soal itu gue gak bisa cerita apa-apa Hen. Nanti biar pihak yang berwenang aja ya jelasin detailnya. Yang penting sekarang, kita doain aja supaya jiwa Abang lu bisa tenang dan menerima takdirnya!" Jawabku seraya menghembuskan nafas panjang.


"Maksudnya gimana Mbak? Apa Abang jadi gentayangan dan lu bisa lihat dia ya?" Celetuk Heni menoleh ke kiri dan kanan.


Astaga. Kenapa aku harus mengatakan hal semacam itu sih. Memang si Heni ini agak sensitif mengenai hal-hal yang mistis, misalnya suara tangisan Mbak Lia kemarin malam. Dan sekarang aku malah membahas tentang Abangnya, yang harus menerima takdirnya. Mungkin aku harus berpura-pura tak tahu apa-apa, supaya Heni tak panik dan bisa tenang tanpa rasa takut.