Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 192 TAMU TAK DI UNDANG!


Sosok yang memakai baju tradisional dengan udeng di kepala nya tengah berlenggak lenggok seraya membalikkan tubuhnya. Nampak wajah Om Dewa dengan wajah sendu dan air mata darah yang membasahi pipinya. Seketika Ce Edoh menjerit histeris karena melihat penampakan itu.


"Astaghfirullahalazim. Aku tau ini bukanlah Om Dewa, tapi ulah jin kafir yang menyerupai nya. Enyahlah kau, kalau tidak aku akan membacakan ayat-ayat suci Allah."


Tapi belum sempat aku membacakan ayat-ayat suci, sosok itu berteriak kepanasan begitu melihat liontin pemberian pangeran jin muslim yang melingkar di leher ku. Allhamdulillah ternyata benar itu hanya makhluk gaib yang menyerupai Om Dewa. Terlihat Ce Edoh masih berdiri terpaku di ujung tangga, sepertinya ia sangat shock sehingga seluruh tubuhnya bergetar.


"Gak apa-apa Ce, tadi itu hanya makhluk gaib yang menyamar jadi Om Dewa. Gak usah takut lagi ya, mari kita ke bawah. Pasti banyak tamu yang datang, sementara itu Ce Edoh minta bantuan orang lain buat bersihin ruang keluarga ya. Pokoknya hari ini juga udah harus bersih, supaya penampakan kayak tadi gak terulang lagi!"


"Ta tapi Mbak... Ce Edoh takut kalau lihat penampakan lagi gimana?"


"InsyaAllah gak akan Ce, tadi bukan Om Dewa beneran kok. Hanya demit iseng yang berusaha nakutin kita."


Aku terus meyakinkan Ce Edoh, supaya ia tak takut lagi. Lalu mengajaknya menemui para pelayat yang baru saja datang. Ternyata Mbak Rika bersama Beny datang melayat, mereka juga mengajak Denis. Aku mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu, dan mereka juga mengucapkan bela sungkawa.


"Rania, kalau kau sibuk biar saya urus masalah Dila sama Beny dan Mbak Rika aja. Biar hari ini juga release." Ucap Denis tampak sungkan.


"Sebenarnya saya bisa aja bantu Den, soalnya kan gak terlalu ribet ngurus pemakaman. Karena jenazahnya juga gak ada disini. Tapi kalau kau mau segera ungkap yang sebenarnya gak apa-apa, mereka bisa bantu kok. Bener gak gaes?" Tanya ku pada Mbak Rika dan Beny.


Keduanya menganggukkan kepala, setuju untuk memuat berita mengenai kecelakaan kerja yang menewaskan Dila. Karena tak mau berlama-lama, aku meminta mereka segera kembali ke kantor saja.


"Makasih kalian semua udah sempetin waktu buat melayat kesini. Besok pasti aku berangkat kerja lagi kok, biar aku aja yang komunikasi sama arwah Dila."


"Ran, lu gak apa-apa sendirian gak ada kita?" Tanya Mbak Rika seraya merangkul ku.


"Gak apa-apa kok Mbak, lumayan hari ini gue bisa agak santai juga."


"Enak bener lu Ran, baru juga kerja sehari udah libur lagi aja!" Sungut Beny dengan menggelengkan kepala.


"Ya kali gue mau kerabat gue meninggal Ben! Udah sono balik kantor, ntar kalau ada apa-apa hubungi gue aja. Kalau udah gak gitu ramai pelayat, InsyaAllah gue bisa datang ke kantor."


"Meski aku bukan dari golongan muslim, setidaknya aku takut pada Allah. Dan aku tak suka ada makhluk gaib lain yang datang ke wilayah ku, dan membuat ritual keagamaan lain selain menyembah pada Allah." Pungkas Mbah Jambrong yang berdiri menjulang tinggi hingga menembus atap rumah.


Astaga, ternyata Mbah Jambrong tak sebegitu menyeramkan seperti wujudnya. Ia masih takut pada Allah, dan tak suka melihat makhluk lain yang memasuki wilayah nya karena perbedaan energi dan keyakinan. Dari sini aku mendapatkan pelajaran, jika tak semua makhluk gaib itu murtad. Nyatanya sosok gaib yang menyerupai genderuwo ini masih memiliki rasa takut pada Allah SWT.


"Terima kasih Mbah Jambrong, kami akan segera membersihkan ruangan ini. Dan InsyaAllah tak akan dipergunakan untuk ritual lainnya lagi." Kataku seraya memejamkan mata, karena aku hanya bisa berkomunikasi dengan nya melalui batin.


Terdengar suara Ce Edoh yang bertanya, apakah mereka sudah bisa membersihkan tempat itu atau belum. Aku hanya menyunggingkan senyum seraya menganggukkan kepala. Lalu aku membantu mereka mengeluarkan beberapa barang yang biasa dipakai ritual sembahyang.


Tapi tiba-tiba Pak RT berlari mendatangi ku, ia mengatakan sesuatu yang tak hanya membuatku terkejut. Aku membulatkan kedua mata begitu mendengar penjelasan Pak RT. Kemudian aku berlari ke rumah utama, dan meilhat dengan mata kepala ku sendiri. Kalau Tante Ajeng datang bersama Leni. Gila berani-berani nya mereka datang menampakkan dirinya di rumah ini. Entah darimana mereka tahu kabar meninggal nya Om Dewa. Nampak Tante Ajeng tersenyum melalui sudut bibirnya. Ia meminta Leni untuk duduk di teras rumah, sementara ia masuk ke dalam ruang tamu dan berdiri tepat di hadapanku.


"Kenapa Tante berani sekali datang ke rumah ini? Ini bukanlah rumah Tante lagi, dan setelah apa yang Tante lakukan bersama Leni. Kalian masih berani datang kesini bersikap tanpa dosa sama sekali!"


"Pelankan suara mu Rania! Jangan sampai semua orang menyadari keretakan hubungan kita. Bagaimanapun Dewa adalah suamiku, tentu saja aku harus datang. Setelah kau dan Dahayu melenyapkan suamiku, kenapa aku tak boleh datang melayat hah? Sebenarnya bukan aku yang jahat pada Om Dewa kalian. Tapi kalian berdua lah yang jahat menyerahkan dia ke tangan Calon Arang. Dengan kalian membawanya ke Bali, sama saja kalian menyerahkan nyawa nya ke tangan para pengikut Leak itu. Aku sengaja tak menyusul nya kesana, karena aku tau jika aku datang mencarinya kesana. Aku juga akan menjadi sasaran pengikut Leak dan Calon Arang. Jadi sebenarnya yang melenyapkan suamiku adalah kau dan juga Dahayu. Kalian berdua yang jahat!" Pungkas Tante Ajeng setengah berbisik di telinga ku.


Aku terkejut mendengar penjelasan Tante Ajeng, kenapa aku tak pernah berpikiran seperti itu sebelum nya. Seketika mataku berkaca-kaca, menyadari betapa bodohnya keputusan ku dan Mbak Ayu. Membawa Om Dewa ke Bali tanpa mencari tahu keamanan nya disana terlebih dulu.


"Tante yang jahat tau gak! Kalau Tante gak bersekutu dengan setan, semua ini gak akan terjadi. Kenapa Tante mempraktikkan ilmu hitam dan berusaha menumbalkan Om Dewa hah? Kalau Tante gak melakukan itu, semua ini gak akan terjadi!"


"Ssssts jangan keras-keras Rania." Ucapnya seraya menyunggingkan senyum dan mengusap rambutku.


Seketika aku menepis tangan nya, dan berjalan menjauhi nya. Tante Ajeng menyeringai dengan wajah licik. Ia mengatakan jika aku terlalu ikut campur dengan urusannya. Dan mulai sekarang, ia meminta ku untuk tak ikut campur dengan urusannya. Karena ia masih harus membalas dendam pada Mbak Ayu.


"Kalau kau menjauh dari Dahayu, dan tak menghentikan nya untuk melawan ku. Aku akan mengampuni mu, dan tak akan mengusik mu atau siapapun yang ada di dekat mu. Bagaimanapun kau adalah anak yang baik Rania, tak seharusnya kau berada di sekitar Dahayu."


"Dulu Tante juga orang yang baik, kenapa Tante gak ingat semua perbuatan Tante di masa lalu. Kenapa Tante harus mempelajari ilmu hitam itu? Sekarang anak Tante jadi yatim karena kehilangan figur seorang Ayah. Apa yang akan Tante katakan padanya? Tante juga bersalah, karena secara gak langsung udah misahin seorang anak dari Ayahnya!" Seru ku dengan membulatkan kedua mata.


Nampaknya ucapanku terlalu keras, sehingga para pelayat yang ada di dalam rumah menoleh ke arah kami berdiri. Ternyata aku sudah tak bisa menahan kesabaran, dan tanpa sadar mengatakan sesuatu yang membuat semua orang bertanya-tanya. Tak lama setelah itu, Tante Ajeng berlagak sedih karena aku mengatainya seperti itu, dan beberapa orang melerai perdebatan kami.