
Sesampainya di depan rumah, beberapa warga Desa menyambut kedatangan kami dengan ramah. Mereka memelukku dan menanyakan kabarku. Inilah yang ku rindukan dari lingkungan Desa, keharmonisan dan keramahan orang-orang nya. Setelah saling menegur sapa, kami beranjak masuk ke dalam rumah. Bayangan-bayangan masa lalu kembali teringat, disaat Simbah duduk di kursi goyangnya, dan beberapa kebiasaan nya yang lain. Aah semua kenangan Simbah masih saja melekatbdi ingatan ku, meskipun begitu disaat genting ternyata mendiang Simbah akan kembali ke alam manusia untuk melindungiku.
"Eh ngapain nangis Ran?" tanya Mbak Ayu seraya menaikan dagunya.
"Gak apa-apa Mbak, gue lagi kangen Simbah aja."
"Rania Rania. Simbah kan gak kemana-mana, beliau selalu ada di hati kita." sahut Wati meletakan tangannya di dada.
Terdengar Bude Walimah memanggil, ia meminta kami untuk membantunya menyiapkan makan malam. Kami bersama-sama menyiapkan makan malam, tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu rumah. Aku bergegas membukakan pintu, ternyata Pak Jarwo yang datang. Segera ku kecup punggung tangan nya, dan ia hanya menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa kamu kembali ke Desa Rania? bukankah kau baru saja sembuh? sebaiknya kau tetap berada disana bersama gadis itu." kata Pak Jarwo dengan suara tegasnya.
Aku mengaitkan kedua alis mata, mencerna perkataan Pak Jarwo.
"Apa Mbak Ayu yang dimaksud Pak Jarwo ya?" batinku didalam hati.
Ku katakan pada Pak Jarwo, jika Mbak Ayu berada di rumah ini. Ia merasa tak aman bersama keluarganya di rumah. Pak Jarwo hanya menganggukan kepalanya, wajahnya nampak serius dengan memijat pangkal hidungnya.
"Ya sudahlah Nduk, kalau memang begitu adanya. Kita harus bersiap mengadakan ritual pemagaran di sekitar Desa. Berjaga-jaga supaya hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Apalagi jiwa Mbah Karto belum kembali ke raganya. Sepertinya ada yang menahan beliau untuk kembali ke raganya. Tapi aku tak dapat menyusulnya ke alam itu, jika aku pergi kesana siapa yang akan menjaga semua orang disini. Karena ketika aku pergi nanti, pasti akan ada perbedaan waktu selama perjalanan ku. Dan sesuatu yang buruk bisa saja terjadi, lantas siapa yang akan menjaga semua orang nantinya. Melihat kondisi Mbah Karto, raganya tak mungkin dapat bertahan lebih lama lagi. Kasihan Mbah Darmi, beliau terus menangis setiap malam. Berdoa demi keselamatan suaminya." jelas Pak Jarwo dengan wajah sendu.
"Kalau Rania yang pergi ke alam itu bagaimana Pak? Rania ingin membalaskan budi pada Mbah Karto, Rania ingin membawa jiwa Mbah Karto kembali pulang huhuhu." aku terisak tak dapat menahan perasaan sedih.
"Loh, Pak Jarwo datang to. Kok gak di ajak masuk to Nduk. Mari Pak kita makan sama-sama, kebetulan kami baru selesai masak. Besok rencananya kami baru akan menjenguk Mbah Karto. Tadi baru sampai langsung bersih-bersih rumah dulu." ucap Bude Walimah seraya berjalan menghampiri kami.
Aku langsung menyeka air mata yang membasahi pipi, tapi Bude menyadari itu. Ia bertanya kenapa aku menangis, lalu Pak Jarwo menceritakan segalanya. Bude Walimah tak kalah terkejutnya, ia juga cemas mendengar kondisi Mbah Karto yang sedemikian rupa.
"Apa tidak ada cara lain Pak supaya Mbah Karto dapat kembali lagi?"
"Sebenarnya ada yang belum ku sampaikan pada kalian. Ini yang paling penting mengenai kondisi Mbah Karto nantinya."
Belum sempat melanjutkan ceritanya, Wati dan Mbak Ayu datang. Mereka mengajak kami semua makan malam. Sebenarnya aku sudah tak memiliki selera makan, apalagi mengetahui jiwa Mbah Karto dalam bahaya. Rasanya menelan air pun terasa berat, tapi apa boleh buat Bude terus memaksa ku menyantap hidangan malam itu.
"Pak Jarwo nanti tidur disini seperti biasanya saja, Wati sudah membersihkan kamarnya."
"Tidak usah Wal, aku harus melakukan ritual pemagaran di Desa. Mungkin bisa sampai subuh selesainya, jadi aku langsung kembali ke rumah Mbah Karto saja setelah shalat subuh di masjid nanti."
"Sepertinya ada bahaya yang akan datang ke Desa ini." ucap demit perempuan yang berwujud nenek-nenek bungkuk.
Tak ku hiraukan mereka, satu sama lain saling bersahutan. Mereka berkata, jika akulah yang membawa malapetaka ke Desa itu. Dan angkara murka akan menyusul kesana.
"Kalian bisa diam gak! gak usah sok tahu!" bentakku dengan berkacak pinggang.
"Eh Rania. Lu ngomong sama siapa tengah malam begini?" Mbak Ayu tiba-tiba masuk ke kamarku, ia memergoki ku sedang memaki para demit itu.
"Biasalah Mbak, ada yang ganggu gue tadi. Lu kenapa belum tidur Mbak? gak biasa ya sama suasana pedesaan yang sunyi?"
"Bukan itu Ran, barusan Tante Ajeng ngirim pesan minta gue balik ke rumah. Katanya kemanapun gue pergi, gak akan menyelesaikan masalah. Yang ada hanya akan menambah masalah buat orang-orang di sekitar gue. Jangan-jangan Tante Ajeng punya firasat yang sama kayak lu Ran. Apa gue balik ke Jakarta aja ya? jujur gue jadi tenang nih, kalau menurut lu Tante Ajeng ngomong gini ke gue maksudnya dan tujuannya apa Ran?"
"Duh gue juga gak tahu mau jawab apa Mbak. Sebenarnya baik Tante Ajeng ataupun Om Dewa menyembunyikan sesuatu yang gak bisa gue tebak. Kalau lu aja yang dari kecil mengenal mereka gak bisa nebak keduanya, apalagi gue Mbak yang gak begitu lama kenal keduanya."
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang menggelegar. Kilauan cahaya memantul di atas langit, nampak kilatan menyambar seakan mengejar sesuatu di atas sana.
Whuuss whuuus whuuus.
Angin kencang diluar sana terdengar di telinga, sosok Malik tiba-tiba datang memberitahu jika ada sekumpulan burung gagak sedang mengganggu ritual Pak Jarwo.
"Itu adalah pertanda peringatan, supaya Pak Jarwo tak ikut campur lagi dengan urusan mereka. Mereka menginginkan gadis ini kembali, supaya mereka dapat menjadikan nya pemangku ritual. Jika dalam dua hari mereka tak mendapatkan apa yang mereka inginkan, bisa jadi pemimpin mereka akan datang. Leak yang paling kuat di antara yang terkuat, dia adalah Calon Arang." jelas Malik berdiri mengambang dengan wajah cemas.
Aku hanya bisa menelan saliva, jika sampai Calon Arang itu datang. Aku yakin Pak Jarwo tak akan bisa melawan nya seorang diri. Apalagi tanpa Mbah Karto, kekuatan Pak Jarwo tak sempurna. Karena yang mereka lawan bukanlah demit pada umumnya. Mereka adalah manusia setengah siluman. Membacakan ayat-ayat suci Allah tak akan berguna, karena jiwa mereka masih pada raganya. Aku kembali memikirkan jalan keluar, tak mungkin ku serahkan Mbak Ayu begitu saja. Ya Allah apa yang harus ku lakukan sekarang? mempertahankan Mbak Ayu di Desa ini apakah akan menimbulkan bencana untuk warga Desa lainnya?.
...Bantu kasih solusi buat Rania yuk teman", menyerahkan Mbak Ayu memang akan menyelesaikan masalah. Tapi itu artinya Rania gak menepati pesan terakhir Bu Wayan. Lalu bagaimana jalan keluarnya? ...
...Bersambung. ...
Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.