
Aku menyeringai dihadapan Bu Marni, ku lakukan segala cara supaya ia percaya dengan hasutanku. Bahkan aku mengatakan padanya, jika istri Pak Markum secara langsung meminta ku untuk mengatakan ini padanya.
"Bu Marni harus mengakui semua kejahatan yang ibu lakukan. Karena nanti istri Pak Markum juga bersedia bersaksi atas kejahatan yang ibu lakukan pada Bulan dan ibunya. Belum lagi kasusnya Purnama, yang kemarin ibu berikan padanya bukan obat penenang kan? tapi itu obat lain dengan dosis tinggi, yang sengaja ibu berikan untuk membuat Purnama semakin parah akal sehatnya!"
"Apa kau begitu percaya dengan ucapannya? aku juga bisa bersaksi kalau semua yang aku lakukan atas perintahnya. Jika aku dinyatakan bersalah, dia juga punya andil atas semua kesalahan yang ku lakukan. Aku tak terima ia lepas tangan begitu saja!"
"Baiklah, saya akan berusaha meringankan hukuman ibu Marni. Tapi sebelumnya, ibu harus memberi kesaksian jika istri Pak Markum terlibat dengan semua kejahatan yang ibu lakukan. Hanya dengan itu saya bisa mengancamnya supaya mengaku. Dan hukuman ibu tak akan terlalu berat, karena ada biang keladi dibalik kejahatan yang ibu lakukan!" kataku dengan suara tegas dan menatapnya dengan serius.
Bu Marni menganggukan kepala dengan cepat, ia langsung setuju dengan tawaranku. Seketika aku meletakan kamera di atas meja, dan merekam semua pengakuan nya atas kejahatan istri Pak Markum. Setelah semua ia katakan padaku dihadapan kamera yang sedang ku pegang, aku memintanya tetap berada di rumah, sampai kasus ini ditelusuri pihak yang berwajib. Sekarang aku memiliki dua bukti pengakuan kejahatannya. Satu di kamera ponsel dan yang lainnya di kamera DSLR.
"Tunggu! Apakah saya akan masuk penjara?"
"Tentu saja, karena ibu sudah menghilangkan nyawa seseorang. Dan tak hanya itu, ibu juga pasti dihantui arwah Cahaya Bulan kan?" tanyaku menyipitkan kedua mata.
Bu Marni membulatkan kedua matanya, ia menoleh ke sembarang arah lalu mengusap belakang tengkuknya.
"Da darimana kau tahu itu?" jawabnya gagap.
"Saya dapat melihatnya bu, ia masih gentayangan di sekitar sini. Tak hanya menghantui ibu sana, tapi juga istrinya Pak Markum. Tapi ia sangat cerdik dengan meminta bantuan dukun, ia terlalu takut di gentayangin hantu Bulan. Jadi setelah ibu mempertanggung jawabkan semuanya, arwah Bulan bisa beristirahat dengan tenang, dan ibu tak akan dihantui olehnya lagi!"
"Apakah itu benar? jadi benar istri Pak Markum pergi ke dukun untuk meminta perlindungan? pantas saja, ia selalu memberiku pegangan, dan aku tak boleh melepasnya jika ingin terbebas dari hantu Bulan."
"Ya sudah, sekarang saya akan pergi ke rumah Pak Markim untuk membuat istrinya mengakui semua kejahatannya. Dan apapun yang terjadi, ibu Marni jangan pergi kemana-mana ya. Karena arwah Bulan bisa kapan saja membalaskan dendamnya. Bukankah jimat yang ibu pegang sudah tidak ada lagi?" kataku dengan menaikan alis mata.
Bu Marni tercengang mendengar pertanyaan ki, ia meraba sesuatu di lehernya, dan tak menemukan apapun disana.
"Aku sudah mengalihkan perhatianmu, supaya Maa ojol dapat mengambil jimat yang menggantung di lehermu. Apapun yang terjadi Bulan berhak menuntut balas padamu, karena aku yakin ia tak alan sampai menghilangkan nyawamu." batinku di dalam hati dengan menghembuskan nafas panjang.
Aku bangkit berdiri lalu beranjak pergi dari sana. Tapi tiba-tiba Bu Marni menarik tanganku dengan wajah ketakutan, ia memintaku supaya tak meninggalkan nya seorang diri di rumah. Menurutnya hantu Bulan bisa datang kapan saja untuk mencelakai nya, dan ia tak mau mati sia-sia.
"InsyaAllah itu tidak akan terjadi, ibu minta maaf saja padanya. Percayalah semua akan baik-baik saja."
Bu Marni semakin ketakutan, ia benar-benar memegang tanganku dengan kencang. Hingga membuatku terpaksa mengancamnya lagi, jika aku tak segera pergi membongkar kejahatan istri Pak Markum,Polisi hanya akan memenjarakan dirinya saja. Hingga akhirnya ia terlihat terpaksa mengendurkan pegangan tangannya, ia langsung masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintunya rapat.
Sesampainya di rumah Pak Markum, nampak beberapa orang sedang sibuk mengeluarkan barang-barang dari dalam rumahnya. Aku langsung menggaruk kepala yang tak gatal, merasa curiga dengan pemandangan yang ada di depan mataku. Aku mempercepat langkah kaki dan bertanya pada bapak-bapak yang mengangkut satu persatu perabot rumah tangga ke dalam sebuah mobil pick up. Mereka menjelaskan padaku, jika mereka hanya ditugaskan untuk memindahkan barang-barang yang ada di rumah ke mobil pick up yang mereka sewakanm
"Apakah pemilik rumah itu ada di dalam Pak?" tanyaku dengan nafas tak beraturan.
"Iya Neng si Bapak ada di dalam, lagi bantu-bantu beberes. Sok atuh masuk aja ke dalam rumah." jawab salah satu lelaki yang ada di depanku.
Seketika aku langsung berlari masuk ke dalam rumah, aku mengucapkan salam beberapa kali, tapi tak ada jawaban dari sang pemilik rumah.
"Waalaikumsalam. Maaf saya tadi di belakang ga kedengaran dek, ada apa lagi ya datang kesini?" ucap Pak Markum seraya mengusap peluh di keningnya.
"Loh Pak Markum mau kemana ini? Kenapa semua perabotan dipindahkan ke mobil itu?"
"Ehm iya itu, saya mau pindah ke rumah anak yang ada di kampung. Sekarang kan si Aya udah ada yang ngurus, jadi saya dan istri bisa tenang ninggalin tempat ini. Kami sekarang udah tua, mau tinggal bareng sama anak cucu saja di kampung. Karena saya udah gak punya tanggung jawab lagi buat ngurusin Aya." jelas Pak Markum dengan santainya.
Aku menggelengkan kepala seraya memijat pangkal hidung, tanoa basa-basi lagi aku mengatakan semua yang ku ketahui mengenai jati dirinya yang sebenarnya.
"Bukankah Pak Markum adalah Paman nya Purnama? Bagaimana mungkin Pak Markum bisa pergi meninggalkan nya begitu saja? Apa gak ada rasa belas kasihan sedikitpun padanya? Purnama jadi seperti ini juga ada hubungannya dengan istri Bapak kan?"
Terlihat Pak Markum tercengang dengan membulatkan kedua matanya, ia tak menyangkal tuduhanku, tapi ia juga tak membenarkan ucapanku.
"Begini ya dek, mengenai jati diri saya adalah Paman nya Purnama, itu memang benar. Tapi mengenai istri saya, tak mungkin ia berniat jahat pada Purnama. Bukankah dek Rania lihat sendiri, kalau istri saya bersama Marni yang selama ini mengurus Purnama. Bagaimana mungkin dek Rania menuduh istri saya begitu?"
"Saya gak asal menuduh Pak, Bu Marni sudah mengatakan segalanya. Yang saya ingin tahu sekarang, dimana istri Pak Markum berada? Saya ingin ia mengakui segalanya di hadapan Bapak!"
"Sebenarnya apa yang dek Rania maksud? Saya benar-benar tidak paham, bisa tolong dijelaskan dulu dek? Karena saat ini istri saya tidak ada disini, dia sedang pergi mengurus berkas-berkas di kantor kecamatan."
Aku tercekat mendengar penjelasan Pak Markum, jika saat ini istrinya sedang mengurus berkas-berkas sebelum kepergiannya. Mungkinkah ia sedang mengalihkan namanya sebagai pemilik beberapa aset peninggalan orang tua Purnama. Tak ku sangka perempuan tua itu benar-benar licik, aku langsung mengeluarkan kamera di dalam tas ranselku, dan berniat menunjukan video pengakuan Bu Marni tadi.
...Hai maaf ya kemarin ga update, othor lagi sakit akibat perubahan cuaca yang ekstrim, dan butuh istirahat sejenak. Yuk bantu othor biar cepat sembuh dan semangat lagi, berikan Gift atau Vote nya ya, biar ada sedikit semangat nulis lagi. Makasih ya udah selalu dukung karyaku, sayang kalian semua pembaca tersayang 🤗😘...
...Bersambung. ...