
Alzam saat ini tengah mengecek laporan yang Qari buat, dan ternyata hasilnya lebih baik dari kemari.
"Nona Qari, laporan Anda sudah lebih baik dan kesalahan pun sudah tidak saya temukan lagi. Hanya saja, Anda harus lebih baik lagi mengatur waktu pengerjaan laporanya, karena Anda mengerjakan laporanya terlalu lama.
"Ish... sudah gue bilang kan otak gue cerdas jadi sangat mungkin sekali untuk mengerjakan pekerjaan ini semua, kalo soal waktu ngapain sih segala buru2 kan nggak mau kemana-mana kenapa harus buru-buru segala," sungut Qari yang memang tidak suka kerjanya itu diatur-atur, dan dikejar-kejar.
"Ya memang begitu Nona, nanti kalo Anda kerja seorang diri harus bisa mengatur waktu sebaik mungkin, agar laporan bisa selesai tepat waktu. Soalnya semua devisi kerja berdasarkan laporan yang kita kerjakan, kalo kerjaan lama semua pekerja yang lain juga lama untuk melanjutkan ke proses selanjutnya. Jadi kita harus bisa bagi semuanya dengan baik." Alzam dengan sabar menasihati Qari agar kerjanya tidak seenak sendiri.
"Iya nanti gue ikutin kata-kata loe, tapi kalo gue mau yah. Kalo gue malas ya gue kerja semau gue, kan ini juga perusahaan Kakek gue. Jadi gue punya hak untuk kerja suka-suka gue." Qari dengan congkaknya menjawab omongan Alzam.
"Nona Qari, tolong dong Anda ja...
"Iya-iya... gue belajar kerja cepet, Bawel banget sih si cupu ini." Qari memotong omongan Alzam.."Ini udah selesai kan kerjaan gue? Gue mau pulang mau manjain badan pegel semua. Ini semua gara-gara loe cupu, gue kerja di kantor Kakek gue, tapi berasa kerja paksa. Enggak ada berhentinya bahkan istirahat sajah satu jam doang. Mana bisa hilang capenya," oceh Qari sembari merapihkan meja kerjanya. Lah si Qari istirahat penginya tiga jam kali ah...
Alzam hanya mengangguk pasrah. Pasalnya Qari memang begitu watakanya nyerocos terus. Kuat-kuat yah Alzam dapat partner kerja macam itu.
Qari langsung menyelonong keluar lebih dulu, dengan kaki dihentak-hentakan bak bocah yang tidak dibelikan permen. Sementara Alzam masih membereskan sisa kekacauan Qari dan langsung meletakan laporan yang sudah selesai di meja Naqi, agar besok pagi langsung Naqi tanda tangani.
Setelah pekerjaanya selesai ia buru-buru pulang ke rumahnya. Alzam sudah memutuskan dengan bulat akan memberi tahu pada Tantri tentang rencana amputasi kakinya itu.
"Assalamuallaikum." Alzam mengucamkan salam ketika memasuki rumahnya.
Dari dapur Tantri yang mendengar Abangnya pulang langsung menghampirinya. Walaikumsallam, Abang tumben sudah pulang?" Tantri langsung mencium tangan Alzam dengan takzim dan membantu membawakan tas Alzam dan merapihkanya di kamar Abangnya. Tantri sudah biasa melakukan kebiasaan itu. Bahkan setiap sudut rumah yang selalu bersih dan rapih itu semua karena Tantri adalah anak yang sangat resik dan rapih.
Begitu selesai meletakan tas Abangnya Tantri segera mengambilkan air minum untuk Alzam dan meletakanya di meja.
"De, duduk dulu Abang mau ngomong sesuatu." Alzam menahan Tantri yang hendak pergi ke dapur.
Tantri pun menatap Alzam dengan tatapan menelisik, seolah ia mencari tahu jawaban dari pertanyaanya. "Abang mau ngomong apa?"
"Soal sakit Abang."
Wajah Tantri langsung pias seketika. "Ada apa dengan sakit Abang?" tanya Tantri dengan lirih, dan Tantri langsung menarik kursi untuk ia duduk di hadapan Abangnya
Apa pun yang Abang putuskan nanti tolong Tantri tidak sedih dan berkecil hati yah. Tantri harus tahu bahwa Abang melakukan ini demi kesembuhan Abang. Sakit ini membuat Abang tersiksa dan bahkan badan Abang sampai kurus tidak ada dagingnya lagi. Bahkan untuk berjalan serasa lemas. Alzam menarik nafas dalam, dan membuangnya dengan pelan.
Tantri masih setia menjadi pendengar yang baik, walaupun dalam dadanya sudah bergemuruh ingin segera tahu apa yang akan Abangnya sampaikan.
"Abang sudah menganbil keputusan bahwa Abang akan menjalani oprasi untuk amputasi kaki Abang," lirih Alzam ia juga sama sakit ketika meyampaikan kabar tersebut.
Tantri terdiam sejenak, "Apa alasa Abang mengambil jalan ini?" tanya Tantri dengan tegas.
"Rasa sakit yang setiap malam Abang rasakan semakin sering dan semakin menyiksa. Kalo Abang diamkan takut akan makin parah dan...(Alzam tidak kuat untuk melanjutkannya, ia menunduk menahan sesak)
"Terima kasih De, karena kamu sudah jadi sumber kekuatan buat Abang." Alzam dengan sangat bersyukur sudah memiliki adik seperti Tantri.
Tantri berdiri dan memeluk Alzam. "Sama-sama Bang, karena hanya Abang yang Tantri punya dan kekuatan Abang adalah kekuatan Tantri juga. Kalo Abang kuat Tantri juga harus kuat. Kita harus relalu bersama-sama yah." Tantri menggenggam tangan Alzam. Begitupun Alzam melakukan hal yang sama saling menggenggam untuk menguatkan.
*****
Di rumah keluarga Ralf...
Naqi yang masih kesal karena ulah fans Cyra yang berlebihan masih menggerutu.
Cyra mengambilan air mineral dan memberikanya pada Naqi. "Minum dulu Mas, biar Adem. Emang kenapa marah-marah terus Cyra yang kena cakar juga biasa ajah," ucap Cyra dengan santai sembari ambil duduk di samping Naqi.
"Kesel ajah, mereka itu bar-bar. Jadi gagal kan belanjanya, dengus Naqi, lalu ia menyambar satu gelas air yang sejuk dan meminumnya hingga tandas.
Cyra yang melihat sampai ikut menelan salivanya. "Enggak apa-apa lagi Mas kalo gagal justru kita bisa gunakan waktu kita untuk bikin kue ajah yuk. Kemarin kan pisangnya mau dibikin brownis kita bikin brownis bareng ajah gimana? Biar lebih seru gitu." Cyra menaik turunkan alisnya dengan sangat bersemangat agar Naqi mau mengikuti idenya.
"Boleh lah, lagian pengin tau juga cara bikin kue, nanti kalo seru aku mau jadi tukang kue ajah deh," kelakar Naqi, padahal dia belum tahu gimana ribetnya bikin kue.
Mereka pun langsung menuju dapur dan Cyra lngsung mempersiapkan alat-alat dan bahan-bahan untuk membuat kue pisang yang sangat lezat.
"Aku tugasnya ngapain nih?" tanya Naqi sembari menggosok-gosokan kedua telapak tanganya, seolah tidak sabar dengan tugasnya.
"Mas pake ini dulu biar bajunya tidak kotor nanti kalo mulai bikin adonanya!" Cyra memberikan sebuah celemek untuk Naqi pakai.
"Pakaikan sajalah aku nggak tau cara pakenya." Naqi kembali menyodokan pada Cyra. Modus banget kamu Naqi....
Hissss.... Cyra mendengus kesal. Namun mengambil celemek di tangan Naqi, dan mengalungkanya dileher sampe wajah mereka saling berdekatan. Dada Naqi pun bergemuruh begitu pun dengan Cyra, tetapi Cyra segera mengalihkan, ia memutar badan Naqi agar memunggunginya. Lalu Cyra mengikat dengan keras tali celemek di punggung bagian bawah Naqi.
"Udah selesai Tuan Naqi, sekarang Anda timbang bahan-bahan ini. Terigu, mentega, coklat blok, gula." Cyra menyebutkan tanpa menunjuk bahan-bahanya. Hal itu membuat Naqi bingung. Bahan yang Cyra sebut yang mana sajah.
"Terigu yang mana Ra?" tanya Naqi kelewat polos.
"Mas Naqi nggak tau terigu?" tanya balik Cyra dengan pupil mata dibiarkan membesar
"Tau lah, yang kaya bedak, putih gitu kan, tapi disini ini yang mana?" sungut Naqi, tidak mau Cyra menertawakanya.
"Itu namanya sama ajah tidak tau," balas Cyra sembari menunjuk tepung terigu, dan menahan tawanya.
"His... sombong banget baru juga tau terigu doang. Lagian kan wajar bertanya jenis tepung itu banyak," gumam Naqi, membela dirinya.
#Iya Bambang tepung emang banyak tepung, beras, tepung beras ketan itam, ketan putih, maizena, sagu, tepung panir dan tepung terigu. Bambang Naqi nggak pernah salah pokoknya....