
"Tuh kan cin, apa kata I'm, habis acara ini, yang pengin pake jasa you antri," ucap Meta dengan girang sembari tanganya terus menari dengan gemulai.
"Iya, Alhamdulillah Met." Cyra tentu sangat bersyukur setidaknya kalo job'nya banyak ia dengan cepat akan mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk memberli hunian sendiri. Setidaknya meskipun sederhana, tetapi ada kebahagiaan yang ia impikan selama ini.
"Yuk, kita cari tempat lain! Bukanya you pengin curcol iyah kan?" ajah Meta antusias.
"Ayuk!! gimana kalo ke rumah kamu ajah Met, kalo di tempag umum aku takut ada yang mendengarnya nanti," ucap Cyra dengan hati-hati agar Meta tersinggung.
"Penting banget yah?" tanya Meta.
"Banget!" jawab Cyra mengangguk kan kepalanya. "Makanya kita cari tempat yang aman buat curhat," imbuh Cyra.
"Ya udah yuk ke rumah I'm, tapi rumah I'm bahkan tidak sebagus rumah you, nggak masalah kan." ucap Meta sembari menarik Cyra untuk berjalan mengikuti langkahnya.
"Aku malah lebih suka rumah sederhana, tetapi nyaman karena orangnya yang sangat perhatian dan peduli. Dari pada rumah besar tapi di dalamnya tidak pernah ada rasa sayang, sehingga bagai terpenjara disangkar emas." Cyra membalas ucapan Meta, dengan kisah kehidupanya yang selama ini terlahir dari keluarga kaya raya dan menikah dengan orang kaya raya pula, tetapi sampai sekarang hidupnya masih limbung, tak tau kemana tujuanya. Hambar, tawanya hanya tawa bohongan. Tertawa tapi setelahnya menangis karena luka lain.
"Cin, I'm perhatikan you memang banyak sekali beban. Mulai sekarang you bagi beban you bareng sama Mommy, agar you bisa tertawa dengan lepas," ujar Meta, sepanjang perjalananya mereka bercerita-cerita kecil dan dari sanah Cyra sudah mulai tertawa lepas dengan kelucuan yang Meta buat.
"Met, kamu itu lucu banget sih, masak bisa kerna razia gitu," kekeh Cyra yang tertawa terbahak-bahak karena Meta bercerita ketika dia dulu pernah terkena rasia satpol pp karena di jam malam ia masih berjalan di trotoar. Mereka mengira Meta adalah para ben'cong yang dengan sengaja mencari pelanggan yang mau menggunakan jasanya. Padahal waktu itu ojek yang ditumpanginya kepes jam yang sudah larut untuk mencari ojek pengganti lumayan sulit, karena lokasi yang sepi dan kondisi udah malam. Dari penampilan dan gayanya yang seperti bem'cong, terlebih bahasanya juga sangat identik dengan wanita setengah pria yang sering mangkal di lokasi itu. Satpol PP langsung menariknya, dibawa kerumah singgah untuk dikasih wejangan dan yang lainya. Walaupun Meta berkata bahwa ia bukan ben'cong yang mencari pelanggan, tetapi mereka tidak percaya sehingga mengira Meta hanya melakukan pembelaan sajah.
"Terus kelanjutanya gimana?" tanya Cyra antusias dan dia tertawa dengan lepas.
"You, kayaknya suka I'm teraniyaya yah cin, I'm cerita sedih malah you ketawa heboh," cicit Meta dengan bersungut khasnya apabila merajuk, tetapi tidak marah sungguhan hanya membuat Cyra makin terkekeh.
"Abisan kamu lucu banget Met, aku ngebayangin gimana hebohnya kamu saat itu," kelakar Cyra semakin ia membayangkan kehebohan Meta semakin ketawa geli.
Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu mewah tetapi nampak asri dan rapih.
"Yeh... akhirnya sampai juga, yuk buruan turun," ajak meta dengan ramah.
"Wah ini rumah kamu Met, kelihatanya rapih dan adem banget, banyak tanamanya lagi," puji Cyra sembari memegangi beberapa bunga yang tersusun dengan rapih.
"Iya Mamah yang suka tanaman dan dia memang orangnya sangat rapih," jawab Meta
"Kamu tinggal dengan Mamahmu?" tanya Cyra kagat, Cyra mengira bahwa Meta tinggal sendirian.
"Iya, I'm tinggal dengan Mamah I'm kenapa? Ko kelihatanya kaget banget," tanya Meta mengintrogasi Cyra.
"Hahaha cin, you itu lucu. Santai sajah nggak usah tegang, kayak mau ketemu calon mertua ajah segala bawa buah tangan," kelakar Meta merasa lucu dengan kelakuan Cyra.
"Ya aku nggak enak lah Met," balas Cyra dengan wajah ditekuk, bak anak kecil hendak mewek....
"Mamah I'm itu baik, baik banget malah jadi you santai ajah. Yuk buruan masuk nanti I'm kenalin sama beliau, pasti beliau suka I'm mengajak teman main kesini." Meta dengan tidak sabar menarik Cyra layaknya emak-emak menenteng tas.
"Assalamualaikum," ucap Meta sebelum ia masuk ke dalam rumahnya.
"Walaikumsallam, balas wanita yang bisa dibilang sudah lumayan berumur, dia adalah ibu dari Meta. Meta langsung memeluk dan mencium tangan Mamahnya dengan sangat sayang. Begitu pun Cyra, ikut bersalaman dan mencium punggung tanganya dengan Takzim
"Sore Tan," sapa Cyra sebagai salam perkenalan.
"Sore sayang, panggil Mamah sajah, biar sama kaya Wawan, Mamah Mia!" ujar Tante Mia yang lebih suka dipanggil Mamah.
"Wawan?" lirih Cyra dengan bingung.
"Iya nama gue kalo di rumah Wawan, nama Meta hanya nama panggung sajah, bagaimana pun kodrat gue laki, jadi jadi ban'ci cuma buat kerjaan ajah," jelas Meta alias Wawan yang suara dan logat bicaranya berubah jadi laki-laki.
Cyra sempat kaget dengan perubahan Meta, tetapi bukanya memang banyak diluaran sana yang mereka rela menjadi kepribadian lain atau ganda demi mendapatkan pekerjaan, seperti Meta ini. Dia bekerja dengan kepribadian Meta yang gemulai, cantik menyerupai wanita. Namun apabila sudah sampai rumahnya ia akan kembali dikodrat aslinya yaitu laki-laki.
"Ya udah yuk ke kamar, kita curcol-curcol," ajah Meta dengan suara lakinya.
"Enggak apa-apa emang Met, aku masuk kamar kamu, kamu kan cowok?" tanya Cyra mengetes.
"Santai ajah cin, I'm anggap you adik sendiri. Jadi nggak mungkin I'm garap," ledek Meta, dan kini Cyra sudah berada di kamar Meta. Kamar dengan warna abu dan terkesan sangat cocok barang-barang dan penataanya pun sangat identik dengan kamar laki-laki. Berbeda jauh dengan penampilanya yang gerli.
Terlihat dari kamar dan penataanya, Meta memang orang yang sangat rapih dan juga disiplin.
"Tunggu yah cin. I'm ganti baju dulu, hapus make up, gerah! You santai-santai ajah, tidur, jungkir balik terserah. Anggap sajah kamar sendiri," ucap Meta sebelum dirinya ditelan kamar mandi, dan terdengar kucuran air dari shower menandakan Meta tengah mandi basah.
"Aduh aku jadi pengi ikut mandi juga," gumam Cyra lirih. Cyra pun mengikuti saran Meta ia rebahan dan guling-guling di atas kasur yang empuk. "Rasanya betah di kamar Meta, apa aku nginep ajah yah?" batin Cyra. Namun setelahnya ia termenung. "Kalo aku nginep pasti akan jadi masalah besar," gerutu Cyra mengingat lagi kehebohan apa yang akan terjadi dikeluarga Ralf nantinya apabila ia tidak pulang.
"Huh... Semoga sajah sandiwara ini segera berlalu," batin Cyra, ingin segera bebas dari perjanjian dengan Naqi.