
Naqi melepaskan pelukannya dengan Rania. Setelah ngobrol ringan, dan menguatkan Rania, akhirnya Naqi memutuskan untuk pulang dan akan meminta bantuan Cyra untuk kembali menggunakan alasan yang sama, agar mereka bisa diperbolehkan keluar rumah oleh kakek. Kedepanya Naqi akan mencari alasan untuk bisa kembali lagi tinggal di rumahnya, agar ia bisa kapan sajah menemani kekasihnya tanpa harus susah-susah meminta izin dengan kakek, dan mamihnya.
Naqi memasuki rumahnya dengan lesu, dia langsung naik ke kamarnya. Kebetulah kakek yang biasanya bersantai di ruang keluarga, hari ini tidak terlihat. Mungkin tengah bekerja di ruangan kerjanya.
Cyra dan mamih tengah berada di dapur menyiapkan makan malam, sedangkan Naqi di kamar mencari keberadaan Cyra.
"Kemana anak itu?" batin Naqi yang tidak melihat Cyra di kamarnya. Naqi kembali lagi ke bawah guna mencari istri kecilnya.
"Ra... Ra...," panggil Naqi dari tangga, yang sudah tau ternyata istrinya tengah di dapur bersama mamihnya.
"Sayang, itu kamu dipanggil sama suamimu. Udah sana layani dulu, pasti dia pengin, buruan kamu samperin dia!" Mamih langsung heboh ketika Naqi memanggil Cyra.
Cyra pun bingung maksud dari perkataan mamih. Namun, ia juga tidak bisa menolak perintah mertuanya itu, dan Cyra pun bergegas menemui Naqi.
"Kenapa sih Mas?" tanya Cyra dengan heran, biasanya sajah kalo pulang ya udah, nggak pernah teriak-teriak.
"Masuk dulu aku mau ngomong!" Naqi menarik tangan Cyra agar mengikutinya masuk ke dalam kamar.
Sedangkan mamih di dapur tengah heboh karena mamih mengintip perlakuan Naqi, dan mengira bakal ada adegan mengadona mochi di kamar anaknya. "Yes," pekik mamih dengan girang. "Naqi memang bisa diandalkan, baru pulang kerja ajah langsung kejar setoran," gumam mamih diselingi dengan tawa renyahnya.
Bibi yang tengah ada di dapur pun ikut heran dengan kelakuan Nyonyahnya.
Sementara di dalam kamar, yang mamih kira akan ada adonan mochi..
"Kenapa sih Mas, demen banget bikin Mamih salah paham terus," perotes Cyra, begitu pintu ditutup.
Naqi mengernyitkan dahinya, bingung dengan ucapan Cyra. "Maksudnya apa kenapa bisa bawa-bawa Mamih. Kan aku panggilnya kamu."
"Iya lah, salah paham. Gara-gara Mas teriak-teriak Mamih ngira kamu itu mau ngajak aku bikin dede," dengus Cyra sembari duduk dengan kasar di pinggir ranjang.
"Hu... Hahahhahahaha......." Naqi tertawa renyah, dengan kelakuan mamih.
"Lagian aku itu heran sama Mamih dan Kakek mereka itu heboh banget dan seneng banget salah paham. Pikiranya itu mes'um banget, dikit-dikit larinya ke bikin anak," ucap Naqi sembari masih terus terkekeh.
"Ya itu karena Mas yang mulai. Coba Masnya diam ajah nggak mancing-mancing pasti mereka nggak heboh kaya ini," sungut Cyra, kesal dengan kelakuan lakinya yang nyari gara-gara giliran ada masalah lempar ke Cyra.
"Tapi, nggak apa-apa lah, malahan bagus biar mereka berimajinasi sendiri dengan otak mesum mereka," kekeh Naqi.
Cyra hanya mendengus kesal dengan kelakuan Naqi. "Ngomong-ngomong Mas panggil Cyra ada perlu apa?"
Naqi yang masih terkekeh pun segera tersadar dengan niatan awalnya memanggil Cyra. "Oh iya, aku manggil kamu karena mau minta bantuan...(Belum selesai bicara, tetapi sudah dipotong oleh Cyra)
"Mba Rania lagi?" tebak Cyra dengan datar.
"Ko kamu tau," balas Naqi dengan rasa bersalah.
"Ya kan memang aku dibayar untuk memuluskan hubungan kalian," jawab Cyra dengan datar.
"Iya, aku mau minta bantuan kamu agar Kakek dan Mamih mengizinkan kita keluar rumah lagi. Ya alasanya sama dengan semalam biar mereka nggak banyak tanya-tanya dan mengizinkan," ucap Naqi dengan wajah serius.
"Terserah Mas saja, tapi kalo suatu saat kita ketahuan bohong, lalu Kakek dan Mamih marah dan nggak percaya lagi sama kita, Cyra nggak bisa berbuat apa-apa. Karena ini semua ide dan cara Mas," jawab Cyra dengan malas.
"Iya, makanya kamu harus kompak dengan aku, biar mereka nggak curiga dan rahasia kita aman." Naqi memastikan agar Cyra kompak dengan dia.
Cyra hanya mengangguk malas, dia sudah pasrah. Ngikut ajah apa mau Naqi, walaupun ia sebenarnya malas dengan rencana Naqi yang kedepanya bisa sajah menimbulkan masalah baru. Bukan Cyra nggak ada hati dengan Rania yang tengah sakit, tetapi cara Naqi yang rela berbohong demi memuluskan rencananya, disitu Cyra malas sebenarnya untuk ikut terlibat terlalu jauh.
Cyra langsung beranjak dari duduknya dan hendak mandi.
"Apa lagi Mas, bukanya udah ngomongnya. Cyra harus ikuti rencana Mas kan? Dan Cyra mau mandi. Kenapa? Mau ikut?" ujar Cyra dengan malas.
"Ya udah sana mandi, dasar bau," runtuk Naqi.
"Bau'an juga Mas, nggak nyadar sajah asem kecium satu kampung," balas Cyra tak kalah jutek.
Cyra masuk kamar mandi dan menutup pintunya sedangkan Naqi mengomel nggak jelas. "Enak sajah dia bilang bau-bau. Nggak tau sajah deodoran gue sama parfum gue harganya bisa buat beli satu unit motor," dengus Naqi tidak terima dikatai bau oleh istrinya.
"Ra kamu nanti dan-dan yang cantik agar Kakek dan Mamih percaya kalo kita akan kencan," pesan Naqi sebelum masuk ke kamar mandi.
Cyra hanya mendengus malas, "Bohong ajah terus sampe Malaikat sajah bingung mau catet dosan yang mana lagi dan mau dicatat dimana soalnya bukunya udah penuh dengan catatan dosa," gerutu Cyra.
Jam makan malam tiba Naqi dan Cyra siap makan berasama.
"Ko sudah rapih mau kemana?" tanya mamih kepo.
"Mamih jangan pura-pura nggak tau deh. Cari suasana baru dan aman," kekeh Naqi memainkan sandiwaranya. Sementara Cyra hanya menyimak, kebohongan demi kebohongan yang suaminya karang, demi bisa menemani kekasihnya di rumah sakit.
"Loh, memang kalo di rumah ini nggak aman?" Kakek ikut nimbrung dengan obrolan orang dewasa itu.
"Jauh banget, kalo di rumah banyak mata dan banyak telinga yang ingin kepo," cicit Naqi dengan melirik kakek.
"Oh, jadi kamu kira kakek akan kepo dengan kegiatan kalian di dalam kamar," balas kakek.
"Bisa sajah, makanya cari yang aman. Biar nggak ada yang ganggu," timpal Naqi dengan santai.
"Ok, baiklah-baiklah, Kakek paham dengan semua itu. Memang dasar anak mudah sekarang gairan ber'cintanya makin aneh-aneh sajah. Segala ingin di hotel, biar nggak ada yang ganggu," gerutu kakek...
"Bi.... Bibi..." Kakek memanggil asisten rumah tangganya.
"Iya Tuan." Dengan tergopoh sang asisten rumah tangga berlari menghampiri sang majikan.
"Jamu yang tadi saya suruh masak sudah jadi?" tanya kakek dengan berbisik.
"Sudah Tuan. Masih ada di dapur," jawab Bibi, sembari menunjuk ke dapur.
"Tolong bawa kesini yah!" titah kakek dengan sopan.
Bibi kembali ke dapur, bergegas mengambil pesanan majikanya.
Cyra kaget ketika liat Bibi bawa jamu yang tadi pagi dia minum. Cyra menelan ludahnya takut kalo-kalo diminta meminumnya lagi. "Rasa pahit yang tadi pagi sajah masih berasa, masa harus meminumnya lagi," batin Cyra dengan perasaan was-was.
Sementara Naqi yang tidak tau apa yang Bibi bawa, tetap fokus dengan makan malamnya. Berbeda dengan Cyra yang sudah tidak berselera makan.
"Ini buat siapa Tuan?" Tanya Bibi dengan sopan.
"Kasih buat Naqi, biar setamina dia kuat nanti kalo lembur malam ini," jawab kakek dengan santai.
Naqi yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh, belum begitu paham dengan omongan kakek.
Sementara Cyra terkekeh lega, campur bahagia akhirnya Naqi merasakan juga gimana nikmatnya jamu itu. "Hahaha akhirnya doaku terkabur. Kakek emang juara mendengar doaku," gumam Cyra sembari terkekeh.
Bersambung...