
Begitu sambungan telepon terputus, Naqi langsung menyambar kunci mobil, serta ponselnya. Ia mengendarai mobilnya menuju rumah sakit, MENUJU SEHAT. Di mana di rumah sakit itu, Qari tadi berkata bahwa Alzam tengah menjalani operasi.
Begitu sampai di tempat palkir rumah sakit, Naqi segera melangkahkan kaki panjangnya memasuki bagian dalam rumah sakit itu. Setelah bertanya pada petugas ruangan operasi. Dengan rasa penasaran dan cemas, Naqi kembali melangkah dengar lebar. Naqi justru berharap bahwa Qari kali ini berbohong. Ia belum siap mengetahui kebenarannya. Di mana Alzam sakit. Namun andai Qari bercanda dan berbohong, kenapa ia harus membawa-bawa Alzam sakit. Rasanya terlalu mustahil Qari tega berbohong sampai sejauh ini.
Dari kejauhan Naqi sudah melihat sosok Qari yang tengah duduk di lantai tengah bersandar di dinding dengan lesu. Hati Naqi sudah tidak menentu, tubuhnya bergetar. Ia berjalan semakin kencang.
"Qari!!" panggil Naqi begitu jarak sudah dekat.
Qari menoleh ke arah Naqi dengan wajah sayu. "Abang... Alzam Bang... ternyata selama ini dia sakit. Dia bahkan berbohong sama kita, demi menutupi sakitnya,"lirih Qari.
Naqi mencerna ucapan Qari ia pun duduk di samping Tantri yang sejak tadi diam dengan bibir komat kamit, tengah merapalkan doa-doa yang ia bisa untuk Abang nya. Naqi memeluk Tantri, yang ia tahu memang Tantri dan Alzam adalah adik dan kakak. Naqi juga tahu silsilah keluarga Alzam. Sehingga tahu betul bahwa Tantri pasti tengah ketakutan saat ini. Tantri yang saat itu mendapat perlakuan hangat dari Naqi pun tangis nya kembali pecah. Tantri menangis dalam kebisuan. Tidak ada sepatah kata pun terucap dari bibir nya. Hanya doa yang terus menghiasi bibir mungil nya itu.
"Kenapa Al nggak bilang bahwa ia tengah sakit?" tanya Naqi dengan mengusap-usap surai indah Tantri.
"Abang bilang tidak mau merepotkan siapa pun, dan kata Abang, dia pasti sembuh tidak usah terlalu mencemaskan nya. Namun Tantri takut. Dokter bilang kangker Sarcoma itu jenis kangker yang penyebarannya cepat dan juga untuk tahap awal sulit terdektesi. Tantri takut kalo sel kangker Abang sudah menyebar ke organ lain. Sehingga pengobatan yang Aabng jalani sia-sia." Tantri terus meracau, mengeluarkan semua unek-uneknya. Rasanya ia tidak kuat kalau harus menanggung semua ini seorang diri.
Yah, Naqi baru mengetahuinya bahwa sakit yang di derita Alzam adalah kangker Sacoma. Naqi belum begitu paham dengan sakit Alzam. Ketika mereka masih di penuhi dengan kebisuan. Lampu indikator ruang operasi mati tandanya operasi Alzam sudah selesai.
"Alhamdulillah ya Allah, semoga operasinya berhasil, dan Abang sembuh untuk selamanya." Doa Tantri yang di balas 'Amin' serentak oleh Qari dan Naqi. Qari pun memeluk Tantri dengan hangat menandakan bahwa di hatinya sudah lega.
Tantri di panggil oleh team dokter, tetapi kini Naqi juga ikut menemani Tantri untuk menerima penjelasan dari Dokter, Hanya Qari yang tinggal menunggu di depan ruang operasi.
Setengah jam berlalu Tantri dan Naqi sudah kembali, dan Tantri tampak menggendong bungkusan putih di tangan kanan nya seolah ia tengah menggendong seorang bayi. Sementara Naqi berjalan mengekor dibelakang Tantri, dengan lesu. Naqi setelah mendengar penjelasan dokter, sangat merasa bersalah tidak mengetahui sakit Alzam yang cukup berbahaya.
"Kaka, Tantri titip Abang dulu yah! Tantri akan pulang dulu buat menguburkan kaki Abang Al." Tantri berpamitan pada Naqi dan Qari.
"Loh, kamu pulang sama siapa?" tanya Qari cemas.
"Sendiri Ka, nanti naik ojek dari depan," jawab Tantri polos.
"Jangan-jangan, kamu masih terlalu kecil untuk kemana-mana seorang diri. Terlalu bahaya. Biar kakak antar saja." Qari pun memutuskan akan mengantar Tantri.
"Bang, gue pinjem mobil loe buat antar Tantri pulang dulu, kasian dia kalo harus pulang seorang diri, mana naik ojek, terlalu beresiko." Qari menjulurkan tangan kananya meminta konci mobil pada Naqi.
"Udah, loe ajah yang nunggu Alzam sampai sadar dan di pindahkan ke ruang rawatnya. Urusan Tantri biar Abang yang bantu. Lagian bukanya dia mau makamin kaki Alzam. Emangnya kamu bisa kalau harus memakamkanya?" tanya Naqi pada Qari.
Qari pun menggelengkan kepalanya dengan lemah, sebagai tanda ia tidak bisa melakukan semua itu. Pada akhirnya Tantri pulang diantar dengan Naqi.
"E... di dekat makam orang tua dan kakak Tantri sajah Kak. Tantri pengin mereka menjaga kaki Abang dan membiarkan Abang tetap bersama Tantri." Isak tangis terdengar dari Tantri. Dia memang berusaha terus tegar, tetapi semuanya tidak semudah dengan niatanya. Mencoba tegar itu sangat sulit, berpura-pura baik-baik sajah itu sangat sulit dan menyakitkan di dadanya.
"Baik lah kalo gitu nanti kamu tunjukan jalanya yah!" Naqi kembali mengikuti kemauan Tantri.
Setelah menelusuri jalan yang sempit akhirnya Tantri dan Naqi sampai di pemakaman umum, di mana di tempat itu mamah, bapak, dan kakaknya di makamkan.
Naqi meminta salah satu penjaga makam untuk menggali tanah untuk menguburkan potongan kaki Alzam, Naqi dan Tantri dengan khusu mengikuti proses pemakaman yang lakukan oleh penjaga makam, Setelah terkubur dengan sempurna Tantri pun berjongkok di samping makam orang tuanya.
"Bapak, Mamah,dan Kakak, Ade titip kaki Abang yah. Tolong doakan Abang untuk sembuh agar bisa menemani Tantri. Jangan kalian ajak Abang berkumpul di sini. Tantri tidak bisa hidup seorang diri. Tantri butuh Abang Al untuk menemani hari-hari Tantri. Tantri janji akan jadi anak yang baik dan tidak membuat Abang susah. Tantri janji akan menjaga Abang dengan kasih sayang. Tidak akan membuat Abang marah. Tantri janji!!" Lagi, air matanya jatuh, cukup lama Tantri mencurahkan isi hatinya di makam keluarganya.
Naqi pun ikut menyeka butiran bening yang mencoba keluar dari sudut matanya, manakala mendengar curhatan Tantri. Sebelum mereka benar-benar meninggalkan makam, tidak lupa mereka memanjatkan doa untuk keluarga Tantri. Tantri dan Naqi berjalan beriringan menuju mobil, selanjutnya mereka akan kembali ke rumah sakit. Bahkan Naqi lupa pekerjaanya yang kacau balau. Dia lebih menghawatirkan Alzam, bagi Naqi Alzam bukan sekedar assisten biasa, Alzam sudah sangat berjasa bagi dirinya. Dari Naqi yang belum bisa apa-apa Alzam dengan sangat telaten mengajarinya. Serta kerjaan apapun itu dan sesulit, sekacau apapun apabila sudah ditangan Alzam akan beres semua.
Alzam tidak pernah perhitungan dengan waktu, kalo kerjaan belum selesai tanpa Naqi minta untuk lembur maka Alzam akan mengerjakanya sampai selesai. Walaupun akan pulang larut malam. Namun sosok yang tegar, terlihat sehat tanpa ada izin atau pun keluhan tiba-tiba dikabarkan terbaring di ruang operasi. Membuat Naqi syok tidak mempercayainya, tetapi itu kenyataan.
Kini mereka pun sudah tiba kembali di rumah sakit, mereka langsung menuju rawat inap Alzam, sebab petugas sudah mengatakan bahwa Alzam sudah di pindahkan ke ruang rawat.
****
Di rumah sakit...
Perawat mengabarkan pada Qari yang menemani Alzam, bahwa Alzam sudah sadar dan kondisinya sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat di kelas tiga. Qari pun menyusul Alzam.
Alzam ketika melihat Qari kaget. "Nona Qari kenapa Anda ada di sini?" tanya Alzam lirih. Kepalanya masih pusing efek anestesi dan yang lainya. Terlebih bekas potongan kakinya yang di tutupi selimut sekarang sangat terasa sakit, perih dan pegal.
"Kenapa kamu kaget gitu? Apa kamu tidak mau aku ada di sini?" tanya Qari, yang entah sadar atau tidak ia merubah gaya berbicaranya dari gue dan loe menjadi aku dan kamu.
"Bukan gitu Nona Qari hanya saja saya tidak mau merepotkan yang lainnya. Sedangkan pekerjaan kalian saja sudah banyak dan tidak mungkin saya menambah dengan urusan ini. Lalu kerjaan Anda gimana Nona. Nanti Tuan Naqi marah-marah dan saya tidak mau ada masalah nantinya." Alzam justru nampak cemas ketika Qari ada di sini menemaninya.
"Bisa tidak kamu fokus dengan kesembuhanmu dulu, jangan memikirkan pekerjaan terus." Naqi yang baru masuk dan mendengar pembicaraan Alzam dan Qari pun gemas dan langsung menyela obrolan mereka.
"Tuan... Anda juga ada di sini?" tanya Alzam dengan heran.
"Ini apa-apan kenapa kamu pilih kamar sumpek seperti ini, apa kamu tidak ada uang untuk memilih kamar dengan kelas terbaik?" tanya Naqi dengan nada marah. "Qari, Tantri kalian siap-siap berkemas kita pindah kamar. Bahkan mau duduk saja tidak ada tempatnya. Gimana mau sembuh dengan kamar pengap seperti itu." gerutu Naqi ia pergi keresepsionis tanpa menunggu jawaban dari Alzam, Naqi meminta pada petugas supaya Alzam dipindahkan ke kamar VIP. Naqi melunasi semua biaya tagihan rumah sakit. Dia mau pelayanan terbaik untuk Alzam.