
Naqi melepaskan pelukanya, ketika tahun bahwa Cyra tidak merespon ucapanya dan pelukanya.
Naqi tahu bahwa Cyra pasti kecewa, Cyra pasti sangat membencinya, tapi Naqi tidak bisa berbuat banyak, ia juga sakit dengan situasi seperti ini. Bukan hanya Cyra ia juga sakit, dan lebih ia harus menerima kenyataan lebih pahit lagi, bahwa ia dicoret dari hak waris dan juga dibenci keluarganya.
"Aku pamit Ra. Aku mencintamu, aku serahkan jodoh pada Tuhan kalo memang kita berjodoh semoga dipertemukan kembali dengan jalan yang Allah atuh, tanpa campur tangan manusia tentunya. Aku juga berharap andai kita berjodoh kembali semoga masalah ini adalah penguat diantara hubungan kita. Jaga diri baik-baik. Tetap kuat, karena aku tahu kamu adalah wanita yang kuat." Naqi tidak pandai merangakai kata perpisahan, yang ia ucapkan adalah ucapa dan doa darinya untuk ia dan Cyra.
Sungguh tidak memungkiri dalam hati terdalamnya ia sangat menginginkan Cyra sebagai istri satu-satunya, tetapi ia dibikin lemah dengan kondisi Rania. Dia tidak mau menyesal di kemudian hari karena mengabaikan Rania. Bukankah manusia harus saling tolong menolong. Itu yang ada di fikiran Naqi saat ini. Ia ingin menolong Rania, meskipun caranya salah.
Cyra tidak bisa menjawab apa pun, padahal dalam hatinya ia ingin mengungkapkan perasaan sakit hatinya. Namun bibir dan sekujur tubuhnya kaku, sangat kaku sehingga ia tidak bisa melakukan itu semua.
Naqi pun pergi meninggalkan Cyra, meninggalkan semuanya dan akan mejalani hidup yang baru. Hidup dengan Rania, wanita yang telah ia pilih. Naqi berharap ia tidak salah mengambil keputusan.
Nih penampakan pelaku yang meninggalkan istrinya demi cewek lain. Ini dia lagi berposen di depan rumah kakek. Sepertinya buat kenang-kenangan, atau buat di post di Ignya.
Naqi masuk ke dalam mobilnya dan perlahan meninggalkan kediaman rumah Tuan Latif.
Sementara Cyra masih mematung, mamih yang tahu bahwa Cyra tengah mematung dengan tatapan kosong pun menghampirinya. Beliau sebagai wanita yang bernasib hampir sama dengan Cyra pun langsung memeluk menantunya.
Begitupun dengan Qari, ia juga tidak tega dengan kaka iparnya yang bernasib sangat menyedikan. Mamih memapah Cyra agar masuk dan duduk di atas sofa. Qari segera mengambilakan air minum untuk kaka iparnya.
"Kamu baik-baik saja kan sayang. Kamu pasti kuat menghadapi ujian ini. Mamih yakin bahwa kamu adalah anak yang istimewa." Mamih mencoba mengajak ngobrol Cyra yang masih nampak syok.
Cyra menoleh ke arah mamih, ia sadar tidak harus berlarut menangisi suaminya. Sebagai mana kerasnya Cyra menangis, Naqi tidak akan kembali. Justru ia yang semakin sakit, karena hanya memupuk kesedihan.
"Mamih tidak usah khawatir, Cyra baik-baik saja ko Mih. Cyra pasti kuat melewati ini semua. Benar kata Mas Naqi, bahwa Cyra kuat," ucap Cyra sembari mencoba menahan air matanya. Walaupun dalam hatinya tidak sama dengan ucapanya. Lain di mulut lain dihati. Dimulut Cyra bisa berkata baik-baik saja, dihatinya ia berkata aku hancur sangat hancur.
"Kuat sih kuat kaka ipar, tapi Qari tahu untuk bertahan tidak mudah. Qari yakin suatu saat Abang pasti akan menyesal sudah memilih nenek lampir itu dari pada kaka ipar. Di saat Abang nyesel dan melou di situ saatnya Qari pergi Party," balas Qari dengan bersungut, tetapi dengan ciri khas gaya sengaknya.
Cyra hanya tersenyum getir, "Rasanya semua itu tidak akan pernah perjadi Qari," batin Cyra. Ia akhirnya berpamitan untuk masuk kedalam kamarnya. Ia ingin mengistirahatkan badanya yang sangat lelah seharian ini melakukan aktifitas. Namun tenyata yang bikin semakin lelah karena fikiranya yang sedang kacau.
Sementara di tempat lain Meta yang tengah menunggui Fifah, masih terjaga. Padahal Fifah sendiri sudah tertidur dengan pulas. Namun Meta belum bisa memejamkan mata, ia terlalu takut terjadi apa-apa dengan Fifah. Padahal Sam sudah berkata bahwa Fifah tidak apa-apa, tetapi udah kaya calon Papih yang siaga, Meta tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan dengan Fifah dan calon buah hatinya.
Meta terlonjak kaget ketika ada suara ponselnya berbunyi.
"****... bikin jantungan saja, siapa sih yang telpon tengah malam gini." Meta mengumpat tanpa melihat dulu siapa yang meneleponya tengah malam begini dan juga ada perlu apa gerangan menelepon, tanpa melihat waktu.
"Cyra." Meta heran tumben sekali kenapa Cyra menelepon dirinya sudah larut malam begini. Apa ada sesuatu yang terjadi dengan anak angkatnya? Tanpa pikir panjang Meta langsung mengangkat telpon dari Cyra.
[Hallo Cin, you kenapa?] tanya Meta tidak mau berbasa basi.
"Met...] entah mengapa ketika dengan Meta dia kembali melou, padahal dari tadi tuh air mata tidak menunjukan tanda-tanda akan kembali keluar. Namun berbeda ketika Meta yang menanyakanya, Cyra kembali sedih, dan tanpa aba-aba ia kembali terisak.
"Hey... you kenapa? Siapa yang membuat you sedih kaya gini? You di mana? Apa harus I'm datang ke sana sekarang buat mengecek kondisi you." Meta tidak bisa terima ketika Cyra dibikin nangis oleh orang lain. Ia langsung panik.
"Met, aku pengin ke rumah kamu. Aku nggak mau lagi tinggal di rumah ini. Aku bagai orang asing sekarang disini...hikhikhik..." Cyra sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
"Baiklah, I'm sekarang jemput you. You masih di rumah Bos besar kan? Sekarang I'm Otw." Meta tanpa menunggu jawaban dari Cyra langsung memutuskan sambungan telponya. Ia tau banget bahwa Cyra pasti kembali disakiti lagi oleh Bos besarnya.
Tanpa menunggu lama Meta menyambar jaket dan konci mobilnya. Kali ini ia tidak mengenakan sarung, tapi ia memakai setelan tidur dengan motif fulkadot warna pink. Itu karena permintaan bumil, dari pada bumil ngidam tidak keturutan dan bisa-bisa anaknya ileran kan bahaya, jadi Meta pasrah saja. Warna apa saja bagi Meta tidak masalah, yang jadi masalah bajunya sudah sedikit kekecilan sehingga Meta seolah pakai baju bocah, dan sangat tidak nyaman tentunya, tapi kalo dilepas bumil jadi ngambek. Baiklah calon Papih melakukan apa pun yang penting bumil Happy.
Setelah berpamitan dengan Mpok Mia dan menitipkan Fifah sama Mpok Mia, akhirnya Meta pun langsung menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Kebetulan jalanan di tengah malam begini sepi, sehingga tidak butuh waktu lama Meta sudah berada di depan rumah Tuan Latif.
Cyra pun ternyata telah menunggunya. Ia bersembunyi di balik pohon palem yang berada di depan rumah kakek.
Begitu Meta sampai Cyra langsung menampakan dirinya dan masuk kedalam mobil Meta.
"You baik-baik saja kan?" tanya Meta ketika Cyra baru saja masuk ke dalam mobilnya.
"Baik, yang tidak baik hati aku, hati aku ancur Met. Naqi lebih memilih kekasihnya dari pada aku. Lalu aku harus bagaimana Met? Setelah ini aku harus apa? Aku bahkan sangat putus asa dan ingin lari bersembunyi ke ujung dunia. Tidak ingin lagi bertemu dengan Naqi. Kamu bisa kan bantu aku untuk pergi dari sini?" tanya Cyra, dengan tatapan memohon.