Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Chef Naqi


"Mas sebenarnya bisa nggak sih nimbang terigu? Kenapa berantakan kemana-mana," pekik Cyra ketika melihat Naqi menimbang terigu tetapi justru benda bubuk itu berserakan jatuh ke atas meja dan tempat lainya.


"Bisa lah, masa cuma melakukan hal gampang kaya gini saja tidak bisa. Lagian kalo jatuh kan bisa dibersihkan, susah banget," dengus Naqi tidak mau disalahkan.


"Kalo kaya gitu namanya nambah-nambah pekerjaan Mas. Kalo kerja apa-apa itu yang rapih, biar sekalian rapih jadi tidak menambah kerjaan lain setelahnya." Cyra mengambil alih kerjaan Naqi dan mencontohkanya. Sementara Naqi melihat kerjaan Cyra yang rapih dan bersih. Tidak berantakan seperti dirinya. Yang meninggalkan bekas dimana-mana.


"Mas mau bantu mikser terlur nggak?" tanya Cyra dengan menyodorkan sebuah mikser dengan telur yang sudah terpecah di dalamnya.


"Nanti berantakan lagi nggak?" balas Naqi, takut kalo malah nanti nambah kerjaan lagi.


"Enggak, kalo ngerjainya pelan-pelan kan semuanya ada triknya biar tidak berantakan." ucap Cyra dengan lembut agar Naqi tidak mudah nyerah.


Akhirnya Naqi mau mencoba menggunakan mikser, alat yang baru ia pegang seumur hidupnya. Setelah Cyra mengajarkan step demi stepnya, akhirnya kerjaan Naqi tidak berantakan dan adonan yang terdiri dari telor, gula dan emulsifier yang awalnya encer kini telah berubah menjadi putih.


Cyra menurun kan speed dan mulai memasukan pisang yang sebelumnya sudah dihalukan Cyra aduk menggunakan sepatula dan Naqi nampak fokus memperhatikan keluwesan Cyra mengaduk adonan, bergantian Cyra memasukan terigu dan mentega yang sudah dicairkan bersama drak coklat. tidak lupa Cyra juga menambahkan coklat bubur agar rasa coklatnya lebih berasa. Setelah adonan tercampur rata Cyra menuangkan adonan pada loyang yang sebelumnya telah diolesi dengan margarin dan kertas alas roti.


Sebelumnya Cyra sudah menyetel oven dengan suhu yang sudah ditentukan.


Selanjutnya Cyra dan Naqi kembali memulai menyiapkan adonan lagi, kali ini akan membuat bolu jadul dengan rasa tetap sama yaitu pisang. Kali ini tema olahanya adalah pisang.


Setelah berjuang dengan segala keruwetanya membuat cake pisang kini aroma harum sudah mulai tercium dari balik oven.


Dua loyang brownis pisang coklat dan juga dua bolu pisang tengah bersauna di dalam oven. Sembari menunggu cake buatan chef Cyra dan chef Naqi mateng. Cyra gunakan waktu menunggu untuk beres-beres dapur, Yang penampakanya sekarang sudah sangat kacau balau.


Sementara Naqi duduk di lantai dapur dengan menyender pada kichen set, dan memijat-mijat kakinya, yang terasa sangat pegal bolak-balik membantu sang nyonyah Cyra mengambil semua keperluan membuat kue. Yah jabatan Naqi tadi adalah asisten Chef Cyra.


"Mas jangan duduk disitu dong, ngalangin orang jalan ajah. Nanti kalo keinjek gimana?" omel Cyra yang merasa kesulitan untuk bergerak karena Naqi menghalangi jalan dengan kaki panjangnya.


"Kamu nggak ngerasain kaki aku pegel, dari tadi bolak balik terus bantun kamu bikin kue. Kalo tau bahal menderita begini aku mah mending lembur di kantor," dengus Naqi.


"Ya ampun Mas kamu bahkan cuma berdiri sebagai penonton habis itu ngeluh pegel. Cemen banget kamu," balas Cyra dengan nada bicara mengejek.


"Apa kamu bilang cuma menonton! Kamu yang terus-terusan meminta tolong aku untuk ambil ini ambil itu! Kamu nggak sadar," balas Naqi tidak terima dibilang hanya sebagai penonton. Di saat perdebatan terjadi tiba-tiba mamih datang.


"Wah ini aroma wangi apa yah, ko rasanya sangat menggoda sekali." Mamih mengendus-endus asal aroma wangi yang memenuhi rumah.


"Jelas Mih, ini Cyra bikin kue kesukaan Mamih loh." Cyra dengan sombong mengatakan kue itu hanya bikinanya, tentu Naqi tidak terima.


"Enak sajah bikinan kamu. Itu semua bikinan aku juga kali, kan aku yang lebih cape disini," ucap Naqi tidak mau kalah.


"Mih ini wangi apa? Aduh Qari jadi lapar." Qari tiba-tiba masuk menambah keramaian di dapur.


"Ko kamu udah pulang emang kerjaan sudah selesai?" tanya Naqi dengan sinis. Ia mengira bahwa Qari pasti kabur.


"Udah dong bang kan kerjaan sudah selesai, aku sekarang sudah bisa mengerjakan laporan sendiri. Otak cerdasku sudah bisa diandalkan sekarang." Qari menyombongkan dirinya yang sudah bisa mengerjakan laporan.


"Cuih otak cerdas dari Hongkong. Padahal seharusnya kamu sebagai mantan mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan di luar negri bisa mengerjakan lebih dari itu. Tapi kamu kalah jauh otaknya sama Alzam. Dia bahkan bisa menyumbangkan ide-ide brilianya. Sedangkan kamu mengerjakan laporan saja masih bergantung sama Alzam," ejek Naqi, yang sama sajah kalo begitu ia mengajak adiknya untuk berantem. Pasalnya Qari tentu tidak mau disamakan dengan Alzam.


Bagi Qari ia dengan otak minimnya sudah paling pandai.


Di tengah perdebatanya Naqi dan Qari yang di mana Mamih hadir ditengah-tengah mereka sebagai wasit.


"Tarah." Cyra membawa Satu loyang bronis dengan taburan keju diatasnya serta satu loyang bolu jadul rasa pisang dengan taburan cokalt parut diatasnya.


Cyra sudah memotong dengan bagian yang sama rata.


"Kakek mana Mih?" tanya Cyra yang hendak membagi-bagi potongan cake, tetapi tidak melihat kakek ikut bergabung dengan mereka.


"Kakek di ruang kerjanya. Akhir-akhir ini beliau seperti tengah menangani kasusus besar. Sampai-sampai tidak mau diganggu kalo sudah di dalam ruangan.


"Apa Cyra bawakan cake ini yah. Kira-kira Kakek marah nggak yah nanti." Cyra masih takut kalo nanti kakeh marah padanya.


"Kamu coba sajah. Kayaknya kalo kamu yang membawakanya tidak akan marah sih. Sebab pasti kakek suka denga cake buata kamu secara kuenya enak jadi bisa meredakan setres karena kerjaan." Mamih memberikan usulnya.


Naqi, Qari dan Mamih, menikmati kue yang Cyra bikin memang setiap bikinan Cyra selalu lezat dan membuat yang memakanya tidak ingin berhenti. Seperti Qari saat ini ia kembali mengambil potongan kue untuk ketiga kalinya. Kayaknya mengerjakan laporan sudah membuat tubuhnya kehilangan banyak energi.


Cyra meninggalkan yang lainya yang masih menikmati nikmatnya cake buatan Cyra. Sedangkan Cyra membawa satu piring cake buatanya denga dua varian rasa dan secangkir kopi sesuai dengan kesukaan kakek.


****


"Masuk!!" Terdengar sahutan dari dalam, ketika Cyra baru sajah mengetuk pintu ruangan kerja kakek.


Cyra membuka pintu dengan perlahan agar nampan yang ia bawa tidak goyang apalagi sampai jatuh.


"Maaf Kek, Cyra mengganggu Kakek. Cyra membawa kue buatan Cyra dan Mas Naqi untuk Kakek cicipi." Cyra dengan berhati-hati membawa nampan ke meja kakek.


Kakek nampak mengernyitkan dahinya. "Naqi membuat kue?" tanya Kakek dengan aneh.


"Iya Kek, ini hasilnya. Cobain deh rasanya tidak kalah enak dengan hasil buatan toko kue terkenal," puji Cyra dengan meletakan sepiring cake dan secangkir kopi dihadapan Kakek.


"Itu siapa Kek?" tanya Cyra yang melihat seorang perempuan yang nampak seperti dirinya, namun sudah jelas itu bukan dirinya, pasalnya di foto itu nampak sekali bahwa wanita itu sudah lebih berumur dari pada Cyra.