Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Bikin Adonan Mochi


Pagi hari di kediaman Naqi...


Cyra yang biasanya bangun lebih pagi dan langsung membersihkan tubuhnya, kini sinar matahari mulain merangkak naik masuk melewati sela-sela jendela kamar, akan tetapi Cyra dan Naqi masih terbuai dengan tidur lelapnya. Mungkin karena semalam mereka sempat terbangun dan justru asik mengobrol sehingga pagi ini mereka masih enggan untuk membuka matanya.


"Ini ko tumben, pengantin baru jam segini belum ada tanda-tanda sudah bangun dan sarapan. Biasanya Cyra paling awal bangun dan sudah sibuk dengan aktifitas paginya," oceh mamih.


"Mungkin mereka kecapean dan belum bangun," balas Kakek dengan terkekeh ringan. "Kalo gitu biarkan sajah mereka menikmati kesenanganya, tok tidak setiap hari kan mereka bangun siang begini," imbuh kakek, agar mamih tidak mengganggu tidur mereka.


"Baiklah Pah, lagian kasian juga Naqi semenjak menikah belum ada cuti juga," balas mamih. Sarapan kali ini pun hanya mamih dan kakek, berdua saja.


"Ngomong-ngomong gimana kabarnya Luson?" tanya kakeh, menanyakan kabar putranya pada menantunya.


"Entah lah Pah, aku sendiri juga nggak tau kabar dari papihnya anak-anak. Semenjak pergi keluar kota tidak pernah memberikan kabar," balas mamih apa adanya.


"Entah sampai kapan kelakuanya akan berubah. Aku pun heran dengan anak itu semakin tua bukanya semakin bertobat malah justru semakin menjadi. Apa harus sakit-sakitan dulu baru dia kembali sama keluarga. Kalo sehat gini yang dicari dosa terus," murka Tuan Latif, kake dari Naqi.


Mamih hanya menunduk, karena setiap mengingat suaminya, ada rongga kepedihan yang dalam dalam hatinya. Rongga kekecewaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Semenjak kelahiran putri mereka Qari yang kini tengah kuliah di luar negri, kelakuan suaminya, Luson berubah. Selalu bermain dengan wanita-wanita penggoda dan berselingkuh dibelakang istrinya. Sampai sekarang rumah tangga mereka hambar, bersama tetapi hidup dengan urusan masing-masing.


****


Di dalam kamar, Cyra yang terbiasa bangun pagi, merasakan gerah ditubuhnya ketika sinar matahari masuk lewat celah jendela dan mengenai sebagia tubuhnya. Cyra mengedarkan padangannya, dan mulai menetralkan ingatanya.


"Astagah," pekik Cyra ketika sudah mulai sadar bahwa ia kesiangan, Cyra melirik kesamping, dan ternyata Naqi pun masih terlelap dalam mimpinya. "Ya ampun jam berapa ini, mana Mas Naqi juga belum bangun lagi, aku bangunin atau engga yah?" Cyra nampak bimbang sendiri. Ia melirik jam di dinding, sudah menunjukan pukul sembilan. "Ini udah jam sembilan, Mas Naqi tidak kerja? Sengaja atau memang sama sepertiku yang kesiangan bangun?" Tidak henti-hentinya semua pertanyaan dia lontarkan, tetapi dia juga tidak berani untuk membangunkan suaminya itu. Setelah cukup lama Cyra berperang dengan pikiranya akhirnya dengan segala keberanianya dia mencoba membangunkan Naqi.


"Mas, Mas bangun Mas, sudah jam sembilan. Mas Naqi tidak berkerja?" tanya Cyra sembari mengoyangkan pundaknya.


"Hemz...." gumam Naqi, ia masih memejamkan matanya.


"Mas Naqi hari ini libur atau Masuk?" tanya Cyra lagi.


"Masuk," jawab Naqi asal padahal matanya masih merekat kuat satu sama lain.


"Kalo masuk, sekarang sudah jam sembilan, bangun yuk! Ini udah telat kerja loh." Cyra masih berusaha membangunkan Naqi.


"Hah... jam sembilan." Naqi terlonjak kaget ketika ia mulai sadar dari tidurnya.


Cyra mengangguk dengan kuat.


"Kenapa baru bangunin?" tanya Naqi sembari bangun tergesa menuju kamar mandi.


"Cyra juga kesiangan, baru bangun," jawab Cyra sembari setengah berteriak, karena Naqi sudah lebih dulu masuk kedalam kamar mandi. "Huh marah nggak yah?" batin Cyra takut juga kalo Naqi nanti memarahinya. "Gara-gara mimpi semalam kami terbangun, malah jadi kesiangan gini." gerutu Cyra.


Naqi keluar dengan hanya menggunakan handuk sebatas pinggul kebawah sementara anggota tubuh bagia atas ia biarkan terbuka, dan menampakan perut yang sixpack kotak-kotak seperti roti sobek.


"Engga, aku nggak bilang marah, tadi aku kaget jadi sepontan bicara gitu." balas Naqi dengan santai. "Kamu mau mandi atau gimana?" tanya Naqi yang melihat Cyra masih duduk bersandar di ranjang yang empuk.


"Nanti dilap ajah Mas, kemarin dokter Sam bilang kalo untuk sementara tidak boleh kena air dulu lukanya." Cyra mengingatkan lagi perkataan dokter Sam.


"Ya udah aku bantu yah, buat ngelap punggung kamu," ucap Naqi dengan santai.


"Jangan Mas, biar nanti Cyra bisa sendiri ko melakukanya. Lagian udah bias juga Cyra ngelakuinya sendiri," tolak Cyra.


"Mamang kenapa kalo dibantu, lagian kamu itu udah Mas anggap seperti adik sendiri. Kamu itu mungkin seumuran dengan adik Mas, Qira namanya, dia sekarang sedang kuliah diluar negri," jelas Naqi.


"Mas Naqi punya adik perempuan?" tanya Cyra, kepo.


"Iya punya dia sepertinya seumuran dengan kamu. Ngomong-ngomong umur kamu sendiri berapa?" tanya Naqi, biarpun Cyra telah beberapa kali memberitahuakan umurnya, tetapi lagi-lagi Naqi lupa.


"Umur aku jalan sembilan belas Mas," jawab Cyra jujur.


"Astagah, bahkan kamu dan adikku, lebih tua adikku. Jadi aku pasti menganggap mu bocil." kekeh Naqi.


Sementara Cyra hanya mendengus kesar, dia dengan perlahan berjalan kekamar mandi guna membersihkan badanya.


Naqi sendiri turun kebawah ia akan menyiapkan sarapan untuk Cyra dan dirinya.


Di meja makan masih ada mamih dan kakek yang baru sajah menyelesaikan sarapanya.


"Duh penganten baru, kesiangan bangun nih," goda mamih ketika Naqi turun dari kamarnya denga rambut yang masih basah.


Tentu Naqi yang biasanya tidak pernah mengeringkan rambutnya dan tidak pernah digoda dan diledek, kali ini diledek seperti itu tentu wajahnya jadi memerah. Sudah pasti Naqi paham arah ledekan mamihnya, terlebih mamih dan kakenya tampak tertawa jahil.


"Apaan sih Mih, jangan kotor deh fikiranya, kami kebangun karena semalam Cyra ada accident dan aku terpaksa menjaganya makanya pas pagi aku kesiangan." Naqi dengan santai meluruskan perkiraan mamihnya. Dia juga dengan santai menyiapkan makanan buat Cyra, dan buat dirinya. Ia juga akan menemani Cyra makan dikamar.


"Emang Cyra kenapa?" tanya mamih yang jadi cemas dengan kondisi menantunya itu.


"Terus itu makanan mau dibawa kemana?" tanya kakek yang tak kalah kepo.


"Cyra jatuh, punggungnya luka lagi. Tapi sekarang udah diobati ko sama Sam semalam, dan kalo makanan aku mau makan di kamar bareng Cyra. Dia masih belum boleh terlalu cape naik turun tangga karena luka dipunggungnya sekarang parah lagi," balas Naqi dengan tetap fokus menyiapkan saranpanya.


"Berati semalam Sam kesini, ko kami nggak tau?" tanya mamih masih kepo dengan kejadian semalam "Lagian kalian lagi apa-apaan sih bisa Cyra jatuh gitu?" cecar mamih, super penasaran.


"Iya Sam datang kesini. Mamih sama Kakek sudah pada tidur, ketika Sam datang. Kalo masalah Cyra jatuh. Ya kita awalnya mau praktek buat bikin adonan mochi taunya saking semangatnya malah Cyra terpental, jadi gagal deh bikin Mochi," kekeh Naqi, dengan sengaja mengarang cerita. Yang bikin mamih dan kakeknya bengong seketika. Dan pada saat itu juga Naqi meninggalkan mereka menuju kamarnya untuk sarapan.


"Kena deh, aku kerjain. Maaf Mih, Kek, Naqi berbohong. Biar Mamih sama Kakek percaya bahwa nikah kita nikah benaran," batin Naqi, merasa bersalah dengan kelakuanya yang mengerjai orang tua, tetapi ia juga tertawa jahil ketika mengingat keisenganya.