
Niko dan Afifah memasuki rumah yang telah Niko sediakan untuk istri keduanya. Rumah yang lumayan besar sama seperti rumah Zoya, karena Niko tidak ingin dicap sebagai suami yang tidak adil. Sehingga ia mencoba adil mulai dari harta, Niko tidak mau salah satu diantara dua istrinya menjadi iri.
"Kamu masuk lah, istirahat. Aku masih ada kerjaan jadi tidak bisa menemani kamu dulu. Nanti ketika kerjaan aku sudah selesai baru aku pulang dan menemani kamu." Begitu kata Niko, ketika baru membuka kunci rumahnya.
"Loh ko Mas kerja sih, ini kan hari pernikahan kita apa Mas nggak ambil cuti?" tanya Fifah, pasalnya ia juga takut kalo harus di rumah sendirian, mana rumahnya gede lagi.
"Iya aku ada beberapa proyek yang membutuhkan tanda tangan dariku, jadi aku harus datang ke kantor." Niko mencoba menjelaskan, padahal ia tengah mencari cara agar bisa ke rumah istri tuanya.
"Tapi Fifah takut Mas, rumah ini terlalu besar untuk ditinggali seorang diri. Fifah ikut Mas ke kantor ajah gimana? Nggak apa-apa Fifah akan nunggu, sampai kerjaan Mas selesai. Dari pada harus nunggu sendirian di rumah, Fifah takut Mas," balas Afifah dengan suara manjanya.
"Aduh kenapa malah Fifah pengin ikut sih!" runtuk Niko dalam hatinya, padahal dia bilang akan kerja itu cuma akal-akalan sajah kenyataanya dia ingin menemuai istri pertamanya.
"Gini ajah deh Fah, Nanti ada asisiten rumah tangga yang akan menemani kamu, dan kamu di rumah sajah. Bukan Mas nggak mau diikutin kamu. Tapi Mas kasian kalo kamu harus ikut Mas kerja. Lebih baik kamu di rumah ini istirahat, pasti kamu dari kemarin juga cape kan nungguin Papah kamu di rumah sakit, kurang tidur, fikiran juga tidak tenang. Jadi sekarang gunakan waktu itu untuk istirahat." Niko kembali berusaha merayu Fifah agar mau ditinggal, pasalnya kalo Fifah ikut yang ada dia tidak bisa menemui Zoya.
"Baiklah kalo Mas Niko maunya begitu. Tapi kasih Fifah satu orang Maid untuk menemani Fifah di rumah ini!" akhirnya Fifah pun menyetujui saran dari Niko, sebab yang Niko maksud ada benernya juga, ia dari kemarin tidak bisa tidur nyenyak dan sekarang waktunya ia beristirahat, kalo ikut Niko malah nggak bisa istirahat nantinya.
"Iya Fah, nih Mas akan Minta Maid di rumah orang tua Mas Niko untuk kesini sekarang juga. Sekarang kamu bersih-bersih kih, dan baju kamu sudah disediakan oleh Mas, semoga kamu suka yah." Niko pun meminta Fifah mandi sedangkan dia akan menunggu ARTnya datang dari rumah orang tuanya.
"Ya udah Fifah mandi dulu yah Mas, nanti kalo Maid udah datang Mas Niko boleh langsung pergi, dan ingat pulangnya jangan malam-malam istri barunya jangan dianggurin," ucap Fifah sembari menggoda Niko. Memainkan jari telunjuknya di dada bidang suami barunya.
Deg.... seketika jantung Niko seolah berhenti dan menikmati permianan jari Fifah. Niko pun memejamkan matanya berusaha tidak tergoda oleh perbuatan Nakal istri barunya. Sedangkan senjatanya seolah bertolak belakang dengan usahanya. Mr. Elang sudah berdiri meminta jatahnya. Namun, Niko masih berusaha menahanya dan sebisa mungkin tidak tergoda oleh Fifah.
Sedangkan Fifah terkekeh di dalam hatinya, ketika melihat Niko memejamkan matanya dan ia tau betul bahwa Niko tengah menahan sesuantu yang menuntut untuk dimanjakan.
Fifah meninggalkan Niko yang tengah menegang, dia akan pergi ke kamarnya untuk mandi dan akan istirahat. Sementara Niko duduk di sofa untuk menunggu ART yang tengah diperjalanan kesini. Setelah Bibi datang, Niko pun langsung meninggalkan rumah Fifah dan menuju rumah Zoya. Pastinya setelah memberikan pesan agar Bibi melayani Fifah dengan baik.
****
Niko membuka pintu rumah Zoya, sebelumnya memang Niko sengaja tidak memberitahukan Zoya bahwa ia akan datang. Namun karena ia yang kangen dan pengin meminta suntikan energi dari istri pertamanya.
"Siang sayang."Niko langsung memeluk Zoya dari belakang dan Zoya pun terlonjak kaget.
"Aku datang kesini pengin minta jatah, malam tadi kamu melewatkan kewajibanmu dan sekarang aku akan menagihnya," ucap Niko sembari menunjuk ke arah Burung Elang'nya yang sudah mengeras di balik sangkarnya.
"Maaf yah Mas, bukanya Zoya melewatkan kewajiban Zoya, tapi memang Zoya sedang kedatangan tamu, jadi nggak bisa melayani Mas Niko, tapi bukanya sekarang Mas udah ada istri lain. Mas bisa pakei Fifah buat nyembuhin sakit kepala Mas," sarah Zoya dengan mendekat kearah Niko dan tangan Niko diminta mengecek ke bagian sensitifnya. Mengganjal itu menandakan ada roti tawar yang memang selalu di gunakan oleh wanita ketika datang bulan.
"Percayakan," kekeh Zoya, ketika melihat tampang lesu Niko.
"Terus ini gimana?" tanya Niko dengan wajah ditekuk, sembari tanganya menunjuk ke arah bawahnya, yang Zoya liat itu sudah sangat keras.
"Ini lah keuntunganya ketika memiliki istri dua, ketika yang satu sedang berhalangan untuk menunaikan kewajibanya. Masih ada istri satu lagi yang siap melayani. Mas minta ke Fifah sajah yah! Lagian hari ini adalah hari kalian, sebaiknya Mas gunakan dengan sangat baik. Agar buru-buru bibit Mas tumbuh den membuahkan hasil." Zoya mencoba menasihati Niko dengan sangat lembut.
Niko menghirup nafas dalam dan membuangnya kasar. "Ya udah malam ini Mas akan tidur di rumah Fifah, tapi kalo ada apa-apa denga kamu bilang yah!" Akhirnya Niko pun mengikuti saran dari Zoya. Mungkin memang sudah jadi jalanya agar ia segera menggarap ladang yang lain. Supaya tujuanya cepat selesai dan bibitnya segera tumbuh di ladang Fifah.
Zoya mengangguk dengan senyum manisnya. Setelah memberikan kecupan mesranya Niko kembali melangkahkan kakinya ke rumah istri mudahnya dengan lesu.
Di tengah jalan Niko memberhentikan mobilnya ia mencoba, menenangkan fikiranya, dan mencoba menerima Fifah. Rasanya aneh ketika ia membayangka tubuh wanita lain yang harus melayaninya. "Apa aku bisa memberikan kewajibanku dengan baik, seperti aku memberikannya pada Zoya," batin Niko. Hampir satu jam Niko memeberhentikan mobilnya untuk menenangkan pikiranya. "Ah lebih baik aku coba dulu. Toh udah halal juga sayang kalo dianggurin." Niko pun kembali melajukan mobilnya dan hanya butuh waktu beberapa menit sudah sampai di rumah istri mudanya.
"Bi, Fifah ada?" tanya Niko sama Bibi, yah walaupun hanya berbasa basi.
"Ada Tuan, kayaknya lagi istirahat," jawab Bibi dengan sopan.
Niko pun melangkahkan kakinya menyusuri anak tangga, tepat di depan kamar Fifah, Niko kembali mencoba meyakinkan bahwa ia bisa melakukan semua kewajibanya dengan sebaik mungkin, ia ingat kembali tujuanya menikahi Fifah adalah demi sebuah keturunan. Maka dia harus buru-buru menaburkan benihnya agar segera tumbuh.
Niko membuka pintu kamarnya dan...
Dia menelan salivanya manakala melihat tubuh Fifah, yang tengah tidur meringkuk dengan lengeri yang sangat seksi dan tersibak bagian bawahnya...
#Hayoh loh Niko masa bisa nolak kalo udah dikasih yang mulus gitu. Tubuh bisa nolak tapi burungmu minta jatah tuh...hahaha pusing-pusing kamu.