
Sore hari begitu pulang kerja Alzam langsung membersihkan diri dan istirahat sejenak. Setelah itu Alzam dan Tantri langsung membawa semua keperluanya nanti selama di rumah sakit menuju rumah sakit di mana Alzam sudah mendaftar dan mengurus semua keperluan oprasinya.
Di rumah sakit yang tidak termasuk Elite tetapi semua fasilitas lengkap, yaitu rumah sakit Menuju Sehat.
Alzam yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri pun langsung diarahkan ke ruang rawat di mana nanti ia akan melewati berbagai macam check up lalu dilanjutkan ke ruang oprasi.
Setelah melewati beberapa rangkaian check up, Tantri sejak tadi selalu menemani Abangnya cek berpindah pindah ruangan. Setelah hasil pemeriksaan bagus Alzam pun besok langsung menjalani oprasi.
Tantri menggenggam tangan Alzam, di mana tangan keduanya sama-sama dingin dan sejak tadi diantara mereka tidak ada obrolan. Keduanya larut dalam fikiran masing-masing.
"Kenapa? Apa Ade takut terjadi sesuatu sama Abang? Kenapa tangan Ade dingin sekali?" Alzam mencoba mencairkan suasana yang tegang.
Tantri hanya mengangguk, bibir bawahnya ia gigit di tahan. Alzam tau betul ketika seperti itu tandanya adiknya tengah mencoba menahan tangisnya agar tidak pecah.
Alzam hanya mengelus-elus punggung tangan Tantri. Sementara Tantri ditenggorokanya sudah sangat tercekak oleh kesedihan.
Ruangan kamar rawat kelas tiga di mana banyak berjajar bed-bed pasien tetapi hanya terisi oleh Alzam dan satu pasien lain yang ada dipojok sebrang. Setiap penyekat hanya dipisahkan oleh gorden-gorden berwarna putih.
Tantri tidak sedikit pun melepasakan genggaman tangannya dari tangan Abangnya. Ia pun tidak merasakan mengatuk atau yang lainya.
Di fikiranya sangat takut, bagai mana kalo hari ini adalah hari terakhir dia melihat Abangnya. Bagaimana kalo ternyata sel kangker Sacoma yang Alzam derita sudah menyebar ke organ lain dan Abangnya tidak bisa bertahan.
Dua insan yang berbeda generasi itu larut dalam fikiran masing-masing.
"De kamu tidur yah ini udah malam loh!" Alzam mengagetkan lamunan Tantri.
"Ah... iya Bang, belum ngantuk," elak Tantri. Padahal kenyataanya ia terlalu takut apabila tidur, Abangnya akan kenapa-napa.
"Abang tau kamu itu udah ngantuk. Bobo sini deket Abang. Kamu nggak usah takut akan terjadi sesuatu dengan Abang. Abang janji deh akan terus baik-baik sajah, dan akan menemani adik Abang sampe besar bahkan sampe nanti nikah. Abang yang akan menikahkan Ade nanti dengan calon suamimu." Alzam mencoba menenangkan Tantri.
"Abang... jangan ngomong gitu, bahkan Tantri ajah masih sembilan tahun kenapa tidak Abang dulu ajah yang menikah, dan nanti Tantri yang akan menuntun Abang menuju pelaminan." Tantri terisak mana kala membayangkan hal itu terjadi.
Alzam hanya mendengus pelan, dalam pikiranya tidak terlintas sedikit pun untuk membayangkan sebuah momen pernikahan. Justru dirinya ingin tetap sendiri menjaga orang-orang yang dicintainya. Terutama Tantri ia akan menjadi sayap pelindung untuk adik kecilnya.
"Setelah Tantri merebahkan tubuhnya di samping Alzam, tidak menunggu lama ia pun terlelap. Alzam menginggat masa-masa empat tahun silam di mana pertama kali ibunya meninggalkan mereka. Tantri setiap malam mencari sosok ibunya, tetapi ia kan tenang ketika Alzam peluk dan sampai saat ini pelukan hangat dari Abangnya mampu membuat Tantri lebih tenang.
Kakak beradik itu pun terlelap dalam tidurnya. Pagi hari menyapa. Tantri bangun lebih dulu dan menjalankan ibadah sholat Subuh.
"Abang mau sholat dulu?" Tantri membangunkan Alzam.
"Iya De, biar nanti kalo menjalani oprasi lancar." Alzam pun berajak dari ranjang dan menuju kamar mandi dia menjalankan sholat subuh. Di mana nanti jam sepuluh Alzam akan menjalani oprasi pemotongan kakinya.
Menit demi menit berlalu dan kini tinggal menunggu detik-detik terakhir Alzam akan memasuki ruangan oprasi.
"Bapak Alzam, gimana semalam tidurnya nyengak?" tanya suster yang akan membawa Alzam ke ruang oprasi.
"Alhamdulillah Sus, lumayan," jawab Alzam sekenanya.
"Alhamdulillah, udah siap kan buat menjalani tahapan selanjutnya?" Suster memastikan.
"Siap Sus," balas Alzam di mana jemari tanganya saling bergenggaman dengan Tantri.
Tantri pun mengikuti kemana Abangnya dipindahkan. Sampailah di depan ruang Oprasi, Tantri diminta menunggu di depan ruang operasi. Tangan Tantri telepas dari genggaman Abangnya. Tubuhnya seketika melemah. Ia menyender di dinding dan menjatuhkan bokongnya di lantai rumah sakit. Tidak ada sanak keluarga mau pun teman yang menguatkan Tantri. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Hanya ia seorang. Bahkan kerepotan mengurus pendaftara dan adminitrasi rumah sakit Tantri dan Alzam yang melakukanya. Mereka benar-benar melakukan semuanya hanya ber dua.
****
Di kantor Ralf Grup...
Qari nampak uring-uringan ketika dirinya tidak ada Alzam yang membantu sedangkan kerjaan menumpuk.
"Gila ini si cupu, dia enak-enakan cuti sedangkan gue kerja rodi kaya gini. Awas ajah yah cupu. Loe harus bantuin gue mengerjakan laporan ini semua," omel Qari pagi-pagi. Ia mengeluarkan Handphone kentangnya. Selanjutnya menekan nomor Alzam...
Satu kali panggilan tidak diangkat...
Dua kali masih tidak diangkat....
Tiga dan Empat kali, bahkan masih sama tidak ada respon....
Akhirnya Qari mengirimkan pesan.
[Cupu, loe angkat telpon gue sekarang!! Kalo tidak gue hajar loe!!]
Di rumah sakit, Tantri yang tengah menunggu Abangnya menjalani oprasi sebenarnya dengar kalo ponsel Abangnya berbunyi, tetapi karena pesan Alzam agar Tantri jangan mengangkat pangilan apa pun dari kantor. Akhirnya Tantri abaikan pangilan dari Qari.
Krontrang... bunyi pesan masuk. Tantri mencoba membuka pesan itu.
"Siapa dia? Kenapa dia panggil Abang Al dengan pangilan Cupu?" batin Tantri sedih manakala Abang tercintanya dipanggil Cupu.
Qari yang melihat pesanya di baca pun buru-buru melakukan panggilan ulang.
Sementara Tantri yang penasaran dengan sosok yang memanggil Abang tercintanya dengan panggilan cupu pun akhirnya menekan tombol berwarna hijau itu.
[Heh... cupu loe kemana ajah sih? Kenapa loe enak-enak bersantai ria, sedangkan gue di sini setres memikirkan laporan kamu!] Qari langsung memberondong ocehan pada Alzam.
[Kaka... Abang... Abang Al tidak sedang enak-enak dan bersantai... Abang sedang berjuang untuk sembuh... tolong jangan marah-marah sama Abang. Abang Al orang baik... Abang tidak salah!" Qari terisak ia ingin membela Abangnya, tetapi yang keluar dari mulutnya entah kata-kata apa.
"Halloh ini siap? Kenapa kamu menangis? Cupu kemana? Terus yang kamu maksud Abang Al berjuang untuk sembuh apa maksudnya?" Qari langsung panik, suaranya seketika melembut, ketika mendengar isakan anak-anak dari balik telepon Alzam.
"Kaka... Tantri takut....(Isakan tangis dari Tantri semakin terdengar)Tantri takut disini sendirian." Tantri semakin tidak bisa membendung tangis dan rasa ketakutanya. Ia masih terlalu kecil menghadapi ini semua seorang diri.
"Hai adik kecil kamu di mana? Biar Kaka kesana sekarang juga. Kamu sebutkan di mana kamu sekarang berada." Qari cemas dengan apa yang terjadi dengan gadis kecil yang ada dibalik teleponya.
Qari pun menyebutkan alamat rumah sakit di mana Alzam mejalani perawatan dan tak lupa Tantri menyebutkan ruang operasi, di mana dirinya menunggu seorang diri.
Qari tanpa pikir panjang langsung menyambar tasnya dan berlari dengan tergesa menuju halaman kantor dan ia langsung mencari ojek yang bisa membawanya dengan secepat kilat ke rumah sakit yang Tantri sebutkan. Tidak sampai tiga puluh menit, Qari sudah sampai di rumah sakit, Menuju Sehat. Qari tergopoh menghampiri petugas yang berjaga dan bertanya pada petugas itu di mana letak ruang oprasi.
Tanti berjalan setengah berlari menuju ruangan oprasi. Ia mencari-cari sosok adik yang tadi bertelepon denganya.
Qari melihat anak kecil yang tengah duduk dengan lesu seorang diri dengan menyembunyikan wajahnya di balik lipatan kakinya.
"Hai adik kecil apa tadi adek yang telpon dengan ponsel Alzam?" tanya Qari dengan ragu.
"Kaka..." Tantri langsung menghambur ke dalam pelukan Qari. Tangisnya semakin pecah. Qari pun bingung, tetapi ia justru ikut meneteskan air matanya, tanpa tau ia tengah menangis karena apa.Yang pasti Qari melihat adik kecil ini tengah ketakutan.