Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Siapa Rania?


Ketika Cyra tengah berbahagia, di mana ia akan segera menemui mommynya, dan akan memulai hidup yang baru dengan orang yang telah melahirkanya. Masih di negara yang sama, hanya di bedakan kota dan provinsi yang berbeda. Naqi dan Rania kini sudah bisa bersosialisasi dengan warga sekitar. Sudah hampir tiga pekan mereka tinggal di kampung Rania, Naqi pun belum bekerja karena memang kondisi Rania yang belum bisa di tinggal dan masih harus berobat rutin. Untung uang mereka masih cukup untuk tetap bertahan hidup meskipun tidak bekerja.


Rania memang sebelum memutuskan pindah ke kampung halamanya dia sudah mempersiapkan semuanya. Barang-barang berharga miliknya dan juga aset properti miliknya yang dulu Naqi berikan untuk dirinya dari rumah sampai butik ia juga jual. Uang yang ia kumpulkan dari hasil jual barang-barang dan lain sebagainya ia gunakan untuk kebutuhan hidup di kampung halamanya.


"Na, gimana ada kabar dari nomor papah kamu?" tanya Naqi, pasalnya ini sudah hampir satu bulan masa orang itu tidak mengaktifkan nomor yang dia tinggalkan, seharusnya kalo memang beliau berniat mencari anaknya nomor itu dia selalu cek, itu pemikiran Naqi. Sebenarnya tidak ada pengaruhnya sih dengan Naqi, hanya saja Naqi ingin melihat Rania semangat untuk sembuh apabila melihat ada orang tua kandungnya yang menyemangati dirinya, pasti rasanya akan berbeda.


"Belum sayang, padaahal hampir setiap hari cek ponsel aku hanya untuk ngecek kalo nomor Papah sudah aktif, tapi kenapa malah sampai sekarang tidak ada kepastian. Apa memang aku tidak ditakdirkan untuk bertemu Papah kandungku yah sayang? Aku harus bagaimana lagi buat usaha cari tahu siapa Papahku," ucap Rania dengan berputus asa. Hal yang selalu membuat Naqi tidak suka adalah keputus asa'an Rania dalam hal apa pun bahkan untuk kesembuhanya dan berobat Naqi harus ekstra untuk membujuknya.


Naqi benar-bemnar di buat pusing dengan sifat Rania yang sangat berbeda jauh dengan Cyra. Apabila Cyra akan semangat dengan sendirinya, agar dia bisa membuktikan bahwa ia layak untuk tampil sama atau sejajar dengan yang lainya, walaupun ia memiliki kekurangan, dan perbedaan dengan yang lain, tetapi tidak sedikit pun Cyra berkecil hati. Dia selalu tersenyum di depan umum, meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja Cyra bisa menutupinya, dan dia akan mencoba membangun kembali semangatnya. Cyra tidak ingin orang lain melihatnya lemah.


Sedangkan Rania, dia selalu berpasrah dan tidak mau berjuang untuk kesembuhanya. Padahal dari sekian dokter baik di Jakarta maupun di kampung halaman Rania, semuanya mengatakan sembilan puluh persen Rania akan sembuh. Asalkan yang bersangkutan bersemangat untuk menjalani pengobatan dan bergaya hidup sehat dan menjaga pola pikirnya agar tetap optimis bahwa ia akan sembuh.


Namun sifat Rania itu gampang sekali berubah pagi ini ia bersemangat untuk berobat atau menjalani terapi, tetapi siang atau sore harinya moodnya akan berubah seratus delapan puluh derajat, berbanding terbalik dengan perinsif dia tadi pagi.


Terlebih apabila dia mengalami hari yang buruk ia akan mudah sekali untuk menyerah.


Naqi kadang bingung harus gimana lagi agar Rania memiliki semangat untuk sembuh. Jalan satu-satunya yaitu dengan cara menemukan Papahnya, tetapi bagai mana caranya? Sedangkan nomornya saja tidak aktif.


"Sayang, coba aku liat nomor ponsel Papah kamu, biar aku cek lagi siapa tahu, dari ponsel aku bisa nyambung. Yah, walaupun itu sangat mustahil sih. Sangat-sangat tidak masuk akal juga kan, tapi apa salahnya kan mencoba," ucap Naqi.


Rania pun langsung mengambil ponselnya dan memberika nomor ponsel Papahnya yang ia dapaat dari ketua RT tempatnya tinggal dulu.


Naqi mengambil ponsel Rania, dan dia langsung memindahan nomor ponsel orang yang mengaku papahnya Rania ke dalam ponselnya.


Naqi sedikit heran kenapa nomor ponselnya sepertinya dia kenal.


Naqi lalu mengembalikan ponsel Rania, dan dirinya langsung menekan nomor tersebut. Betapa kagetnya Naqi, ternyata nomor itu adalah nomor orang yang ia kenah. Bahkan sangat ia kenal.


"PAPAH," lirih Naqi, ketika mengetahui bahwa nomor yang barusan ia minta dari Rania adalah nomor Papahnya. Dengan mata berkaca-kaca Naqi menatap Rania dengan tajam.


Rania yang melihat perubahan wajah Naqi dan mata merah menahan tangis serta nafas yang memburu pun heran. "Sayang ini ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba berubah begini? Apa aku ada salah dengan kamu?" tanya Rania dengan panik dan mencoba mendekat dengan Naqi dan akan menyentuh Naqi, tetapi...


"Stop!! Jangan dekat-dekat dengan aku! Jangan sentuh aku!!" pekik Naqi ia bingung ingin marah tetapi marah dengan siapa? Apa ketakutan yang tiba-tiba menyerang dirinya akan benar-benar terjadi?


Naqi menarik rambutnya menggunakan kedua tanganya, dengan sangat keras, tetapi sedikit pun ia tidak merasakan rasa sakit. Isi kepalanya benar-benar sangat kacau, sehingga ia tidak tahu lagi apa yang ia akan lakukan.


"Sayang kamu kenapa? Kamu jangan begini aku benar-benar takut, katakan apa salah aku pasti aku perbaiki, tapi tolong jangan bikin aku ketakutan seperti ini," isak Rania ia ingin menyentuh Naqi, tetapi lagi-lagi Naqi menggeser duduknya. Naqi benar-benar tidak ingin di sentuh oleh Rania, tetapi ia juga tidak bisa mengatakan apa yang ada dalam otaknya.


Bukan karena Naqi tidak mau mengatakanya tetapi karena Naqi memang tidak bisa mengatakanya, karena lidahnya kaku, Naqi terlalu syok dengan apa yang ia liat. Walaupun dalam fikiranya ia masih bergharap bahwa apa yang ia takutkan tidak terjadi.


Rania yang melihat perlakuan Naqi justru ikut menangis. Rania juga bingung dengan kelakuan Naqi, terlebih Naqi yang tiba-tiba tidak ingin di sentuh. Naqi yang berubah dengan dratis membuat Rania ketakutan.


Naqi yang melihat Rania nangis biasanya akan segera menenangkanya, tetapi kali ini Naqi justru tetap diam, dan cenderung acuh. Bahkan seolah telinganya tidak mendengar ada tangisan dari orang yang berada di sebelahnya. Orang yang lebih ia pilih, dan ia justru tega menghancurkan pernikahanya, demi Rania.


Hatinya Naqi sendiri saja tengah menangis, tengah marah tetapi tidak tahu mau marah dengan siapa. Yang Naqi ingin saat ini juga menyeret Papahnya untuk menceritakan apa maksud dari semua ini? Siapa Rania? Kenapa laki-laki itu mencari Rania, dan meninggalkan nomor ponselnya di rumah Pak RT?" Naqi yang sudah sangat pusing, emosi dan tidak tau mau berbuat apa dia bangkit dari duduknya dan meninju kaca yang ada di hadapanya sehingga tanganya mengeluarkan banyak darah.


"Aaaaahhhhrrr... Pyarrrr... suara pecahan kaca terdengar sangat nyaring.


Rania yang mendengarnya pun semakin dibuat ketakutan, tangis Rania semakin kencang, dan kini dia dilanda ketakutan yang teramat. Baru kali ini Rania melihat kemaran Naqi yang membuatnya bergidik ngeri.


Di saat dirinya ketakutan yang teramat tiba-tiba sekujur tubuhnya terasa dingin, perut bagian bawah terasa sakit, dan tiba-tiba sajah dadanya terasa sesak.


BRUKKKK....


Rania pinsan dan Naqi yang awalnya akan pergi mencari papahnya pun langsung lari dan menghampiri Rania, yang wajahnya sudah pucat, dan badanya dingin.


Naqi langsung membopong tubuh ringkih Rania ke dalam mobilnya, dan Naqi langsung melajukaan mobilnya menuju rumah sakit tempat biasa Rania menjalani berobat jalan.