
Setelah berkeliling mencari tempat nongkrong, akhirnya Naqi memalkirkan mobilnya di sebuah lapang yang tidak terlalu rame tetapi di sana tengah diadakan pertandingan bola buat anak-anak.
"Kita nongkrong di sini ajah yah, sekalian liat anak-anak main bola," ucap Naqi sembari menunjuk anak yang tengah asik main bolak sepak.
"Boleh Mas, Cyra mah di mana ajah yang penting banyak tukang jajananya." Cyra pun mengamati sekeliling lapang, dan benar sajah di sana banyak grobak-gerobak makanan yang menjajakan daganganya.
Mereka pun mencari tempat duduk setelah sebelumnya membeli pop ice, telor gulung dan cilok. Mereka menonton bola dengan duduk ngampar diatas rerumputan lapangan, menyaksikan permainan bola yang dimainkan anak-anak usia SD, sehingga permainan mereka lebih dominan lucunya dari pada tegang. Bahkan Naqi dan Cyra beberapa kali tertawa lepas manakala anak-anak itu berebut bola. Bahkan wasitnya sampai bingung dengan permainan mereka.
Permainan pun selesai anak-anak itu berebut minuman dan roti yang disediakan oleh panitia. Cyra yang melihat pun iba. "Pasti anak-anak itu kelaparan," batin Cyra, sembari matanya memperhatikan mereka satu persatu.
"Mas, kamu punya uang lebih nggak?" tanya Cyra dengan berbisik.
"Buat apa? Kamu masih lapar?" tanya balik Naqi pasalnya yang ia tau istri bocilnya makanya selalu banyak.
"Ish... su'uzon ajah kerjaanya. Bukan soal itu kalo kamu ada uang, aku pinjam. Liat deh anak-anak yang main bola tadi mereka berebut minum dan roti buat ganjal peru mereka. Pasti mereka kelaparan. Aku pengin telaktir mereka, tapi aku....
"Belum gajihan," kekeh Naqi langsung memotong ucapan Cyra.
"Hehehe iya." Cyra terkekeh....
"Ya udah kamu mau telaktir apa pilih ajah tukang dagangnya nanti tinggal Mas yang bayar." Naqi pun mengikuti kemauan Cyra, sebab ia juga iba melihat anak-anak itu.
"Ini seriuz Mas?" Cyra kembali bertanya, takutnya Naqi hanya mengerjainya.
"Iya Cyra, bocil, udah buruan kesanah. Nanti anak-anak itu keburu bubar lagi."
"Bener yah Mas yang bayar!" Cyra mengacungkan jari tengah sebelum pergi.
"Kalo nggak buruan pergi kesana, Mas nggak jadi bayar nih," ancam Naqi.
"Iya... iya kesana." Cyra langsung lari, menemui panitia dan menawarkan makanan geratis, dengan alasan Naqi ulang tahun sehingga ingin mentelaktir semua pemain bola beseta panitia dan team lain.
Mereka pun bersorak gembira. Cyra memberi jatah setiap anak boleh makan 50rb dan ternyata banyaknya mereka ada 40orang sehingga Cyra memberika uang 2 juta rupiah pada panitia untuk dibagi-bagi kesemua anak dan mereka boleh jajan apa sajah. Mereka pun mulai menyerbu jajanan yang mereka inginkan, ada yang membeli cilok, baso, somay, batagor dan lain sebagainya, seketika para pedagang dibuat kewalahan oleh para pembeli. Cyra pun meminta buat para pemain yang sudah dapat jajanan agar menghampiri Naqi untuk mengucapkan selamat ulang tahu.
Bener sajah Naqi yang awalnya tengah asik melihat tukang dagang yang kerepotan dengan pembeli yang semuanya pengin didahulukan. Kini Naqi heran ketika satu persatu anak mengucapkan selamat ulang tahun.
"Om selamat ulang tahun yah, dan terima kasih buat telaktiranya, semoga Alloh ganti rezeki om lebih banyak lagi,"Begitu kira-kira ucapan dari anak-anak itu dan mereka berjabat tangan dengan Naqi bak tengah berkondangan, dan bersalaman dengan manten.
Sementara Cyra merekam diam-diam ekpresi Naqi yang kebingungan. Cyra terkekeh dan juga puas karena telah ngerjain Naqi.
Setelah semua anak-anak pulang kini Cyra pun menghampiri Naqi masih tertawa geli.
"Ini pasti kerjaan kamu kan?" tuding Naqi.
" Entar dulu, itu jajan anak-anak belum dibayar." Naqi mengeluarkan dompetnya akan mengambil uang untuk bayar jajanan anak-anak tadi...
"Udah nggak usah, orang udah dibayar sama Cyra. Tadi itu Cyra cuma ngetes Mas Naqi." Cyra terkekeh manakala melihat Naqi bengong.
"Tunggu... tunggu ngetes apa ini?" tanya Naqi yang masih bingung.
"Ngetes Mas Naqi pelit atau enggak?" Cyra tertawa renyah dan lari kearah mobil, seketika itu juga Naqi mengejarnya dan menggelitik perut Cyra.
"Enak ajah kalo ngomong, emang selama ini Mas pelit, heh....?" ucap Naqi, sembari tanganya terus menggelitik Cyra.
"Iya Mas ampun... hahahaha... ampun... udah... udah... malu itu diliat orang-orang," rancau Cyra yang memang nggak tahan apabila ada yang menggelitik.
"Ehem... ehem... Bu Cyra bahagia bener," ucap salah satu Guru pendamping anak-anak yang barusan bermain bola. "Eh... ngomong-ngomong terima kasih Pak telaktirannya anak-anak pada seneng, dan selamat ulang tahun, semoga rezekinya makin lancar, diberi kesehatan terus, dan kalian langgeng dan bahagia selalu." Pak Guru pun menyalami Naqi dan Naqi pun hanya mencawab Amin dan terbengong. Begitu pun Cyra menjawab Amin lirih.
Cyra dan Naqi kembali ke dalam mobil...
"Nih buat ganti uang kamu yang buat telaktir anak-anak, tadi habis berapa? Segini kurang nggak?" Naqi menyodorkan uang lima juta.
"Apaan sih Mas, itu tadi memang Cyra niat berbagi. Sebenarnya Cyra udah gajihan dan itu Cyra niat sedekah agar rezeki Cyra makin lancar. Jadi nggak usah diganti, nanti malah pahala Cyra pindah ke Mas Naqi kalo diganti." Cyra mendorong uang yang Naqi beri agar dimasukan lagi kedalam tasnya sajah.
"Enggak apa-apa ini buat berbagi lagi juga terserah yang penting kamu ambil." Naqi menyodorkan lagi uang itu, agar Cyra mau mengambilnya.
"Beneran ini kalo dibagi-bagiin boleh? Apa ini nggak kebanyakan kalo Cyra sedekahin? Mas iklas? Takutnya kalo nggak iklas malah nggak jadi pahala." Cyra bertanya kembali pada Naqi sebelum mengambil uang yang dibelikan buat Naqi...
"Iklas... iklas banget bocil, udah ambil, terus kamu bagiin buat siapa ajah terserah. Kalo Mas nggak tau soalnya mau bagi-baginya kesiapa sajah." Naqi menyodorkan uang semakin dekat dengan Cyra.
"Baik lah Cyra hanya sebagai perantar yah, nanti kita pulang sambil lihat-lihat ajah Mas biasanya ada pemulung atau pun orang yang susah mencari nafkah dipinggir jalan.
"Jadi kita keliling sembari pulang?" tanya Naqi, dan Cyra pun menjawab dengan anggukan.
Naqi pun mengemudi mobilnya dengan pelan, sementara Cyra melihat ke arah luar jendela, mencari kira-kira ada tidak orang yang akan mereka tolong.
"Setop... setop!!" pekik Cyra sementara Naqi langsung menginjak pedal remnya seketika.
"Tuh liat Mas ada orang yang bawa gerobak, biasanya mereka hidupnya pas-pasan dan kadang ada yang tidak punya rumah, boleh nggak yang itu kita bantu?" Cyra bertanya pada Naqi sebab uang itu milik Naqi.
"Boleh, kamu yang lebih tau kondisi mereka jadi kamu yang lebih tau layak atau tidaknya di bantu. Sanah buruan di bantu biar cepat." Naqi memerintah Cyra agar buru-buru.
"Loh ayo dong Mas ikut turun! Kan ini uang Mas, nggak sopan kalo yang ngasih malah duduk ajah di dalam mobil. Apa jangan-jangan Mas nggak mau turun, karena takut kotor kalo mendekat kesanah?" ejek Cyra, agar Naqi mengikuti turun, dan berinteraksi langsung dengan mereka penerima sumbangan dari dirinya.
Huhu... Naqi mendengus kesal.