
Lagi-lagi apartemen mewah, adalah tempat Deon tinggal. Bahkan kalo di tafsir harganya bisa berkali-kali lipat dari mobil yang sekarang Qari taiki. Gadis bar-bar itu sedang pur-pura tidur, tetapi ia sempat membuka matanya untuk mengintip kemana gerangan Deon membawanya. Pura-pura tidur adalah jalan satu-satunya Qari agar darahnya tidak terus-terusan naik sampai ke ujung kepala, gara-gara harus berdebat terus dengan Deon. Entah Qari yang memiliki kelainan dalam mengolah emosi entah memang Deon yang memiliki kemampuan untuk mengaduk-aduk emosi Qari.
Dari yang Qari rasakan, mobil yang ia taiki sudah berhenti, tetapi lagi-lagi akal Qari seolah hilang, gimana ia akan mulai bangun? Apa langsung bangun begitu saja ataukan harus tetap tidur dan nanti Deon yang membangunkanya atau... 'Ah, sial aku harus gimana ini,' batin Qari merutuki dirinya sendiri yang di buat serbasalah dengan caranya berpura-pura tidur.
Aaahhh... Pekik Qari begitu buka mata wajah Deon yang ada dihadapanya. Saking kagetnya bahkan Qari menipuk wajah Deon dengan tas mahalnya.
"Aduuhh, gila loe yah, muka gue loe timpuk sama benda kaya gini, sakit dodol," bentak Deon di depan wajah Qari tanganya memegangi wajahnya yang masih sakit, karena pukulan Qari ternyata cukup kuat mungkin dia kira wajah Deon itu samsak tinju sehingga bisa dengan mudahnya menjadi pelampiasan kemarahanya.
"Lagian ngapain muka jelek loe ada di hadapan gue, Kayak enggak ada kerjaan ajah liatin orang tidur?" sungut Qari tetapi dia malah cuek dengan wajah merah Deon karena hasil dari perbuatanya.
"Ralat!! Bukan tidur, tapi pura-pura tidur. Tidak ada orang tidur di dunia ini matanya gerak-gerak dan kedip-kedip," ucap Deon, mungkin Qari tidak tahu kalo sejak tadi Deon memperhatikan dia yang pura-pura tidur itu.
"Apaan sok tahu banget sih. Lagian ada kok yang tidur matanya gerak-gerak, bahkan tidur sambil jalan juga ada," bela Qari tidak mau kalah dengan Deon.
"Terserah, mau ikut turun enggak?" tanya Deon yang langsung meninggalkan Qari dengan keterkejutanya, tidak lama Qari pun berjalan mengekor Deon di belangnya.
"Deon!" panggil Qari.
"Hemz..." jawab Deon dengan dehemanya.
"Loe nanti enggak bakal perkosa gue kan? Atau malah membunuh gue di dalam sana?" tanya Qari dengan polosnya, memastikan kalo memanh Deon tidak akan macam-macam.
Ruangan mewah dan luas terpampang jelas begitu Qari masuk ke apartemen Deon itu, bahkan sepertinya ia tidak percaya bahwa yang dia datangi adalah apartemen, dan dari perabotan yang di pajang di ruangan itu sudah jelas bukan perabotan asal-asalan, dan itu semua pasti lagi-lagi harganya tidak sedikit. Qari masuk mengekor dibelakang Deon sampai lah di depan pintu berwarna putih, dan yang membuat Qari heran ruangan seluas ini rata-rata warna yang di gunakan hanya putih dan hitam apa tidak ada warna lainnya?" batin Qari, sepanjang masuk ke dalam apartemen Deon, Qari tidak henti- hentinya memindai ke segala penjuru. Mungkin saja menemukan bongkahan berlian.
"Ini kamar gue, loe istirahat lah, gue mau kerja. Kalo laper ada makanan di dapur, dan nanti juga ada asisten rumah tangga yang jaga loe, jadi jangan macam-macam loe apalagi buat kabur sudah pasti loe enggak bisa buat keluar dari ruangan ini sejengkal pun," ucap Deon menjelaskan panjang kali lebar. Sedangkan Qari boro-boro kefikiran kabur. Kamarnya nyaman banget buat manjaain badan jadi tidak ada alasan buat kabur-kaburan, mending juga buat tidur akan terasa lebih enak.
Qari pun langsung melemparkan tubuhnya, begitu Deon keluar ruangan, bahkan tanganya sudah tidak sakit lagi. Kasur empuk dan juga luas membuat Qari nyaman dan saling berguling-guling untuk menikmati fasilitas yang nyaman itu. Tanpa sadar Qari langsung tertidur dengan pulas, padahal dia berada di kasur itu belum sampai sepuluh menit, tetapi nafas yang teratur dan setengah mendekur menandakan bahwa Qari sudah berada di alam mimpi.
Di saat Deon di landa ke bimbangan, ketika mangsa sudah masuk perangkap, justru seolah dia tidak tega untuk menikmati tubuh Qari. Bahkan Deon yakin bahwa Qari itu masih perawan. Deon tidak pergi bekerja seperti yang ia katakan pada Qari, melainkan ia ada janji, Deon bahkan berada di apartemen sebelah yang saat ini di tempati oleh Qari. Yah orang yang Deon untuk memata-matai siapa Alzam ingin bertemu dan ingin memberikan laporan yang sudah merereka dapatan dengan cara mengikuti Alzam. Semua data diri Alzam sudah mereka dapatkan, itu sebabnya mereka meminta bertemu untuk memberikan laporan dan tentunya untuk mendapatkan imbalan dari kerja keras mereka.
Deon membuka lembar-demi lembar hasil laporan yang orang suruhanya berika. Deon membaca dengan detail siapa itua Alzam laki-laki yang berhasil membuat Qari menangis.
Namun Deon justru menyipitkan kedua matanya dan memijit kepalanya ketika selesai membaca laporan yang mereka berikan. Deon tidak menyangka kalo Alzam memiliki riwayat sakit yang berbahaya. Lalu kenapa Qari kekeh ingin menikah dengan Alzam. Tidak hanya laporan terltulis yang mereka berikan tetapi juga ada laporan berbentuk Vidio dan photo.
Ada rasa bahagaia karena melihat Qari yqng ditolak di tempat umum, tetapi Qari juga tidak mau menyerah, dia percaya pasti jodohnya bisa dengan Alzam.
Deon tertawa renyah ketika di laporan itu mengatakan kalau Qari pernah beberapa melamar Alzam, dan naasnya sampai saat ini dia tidak juga diterima oleh Alzam. Namun masih saja Qari menangisi Alzam laki-laki yang bahkan kakinya saja tidak sempurnya. Deon terus memutar vidio yang orang suruhanya berikan.
"Heran sama anak itu, definisin ganteng menurut Qari itu seperti apa? Perasaan yang namanya Alzam itu tidak ganteng-ganteng amat. Bahkan fisiknya juga tidak sempurna, dan lagi Alzam bukan orang mampu. Keluarganya saja hanya tinggal adiknya yang baru berusia sebelas tahun. Rumah yang di tempati saja hanya rumah kumuh yang sangat sempit. Lalu masa depan seperti apa yang ingin Qari wujudkan dengan di nikahi oleh laki-laki seperti Alzam?" batin Deon, bingung dengan pikiran Qari.
Entah apa sebenarnya yang terjadi dengan Deon kenapa seolah ia tidak rela kalo Qari menikah dengan Alzam.