
"Pak, mohon maaf apa Anda keluarga dari pasien atas nama Rania?" tanya salah satu perawat yang menghampiri Naqi, yang justru masih asik melamun.vbv
"Ah iya Sus, Rania sudah siuman? Di mana dia sekarang," jawab Naqi terkejut, kaget dan salah tingkah. Pasalnya ia tengah asik melamun tapi malah suster mengagetkanya.
"Udah Pak, Anda di cari Bu Rania. Mari ikut saya tunjukan ruangan rawat Bu Rania," ucap suster tersebut, segera berjalan menuju ruangan Rania, dan Naqi buru-buru mengekor di belakang suster tersebut.
"Apa aku terlalu lama melamun sampai-sampai aku ketinggalan informasi Rania sudah di pindahkan ke ruang rawat," batin Naqi. Namun ia tetap mengekor di belakang suster.
Setelah melewati lorong rumah sakit yang tidak terlalu ramai Naqi sampai di ruang rawat Rania. Di mana ruangan itu juga tidak terlalu luas hanya kelas dua yang bisa Naqi pilih. Itu karena uang mereka yang tidak terlalu banyak seperti dulu sehingga ia harus pandai-pandai menghemat.
Begitu Naqi masuk dia melihat sosok wanita yang tengah duduk melamun menatap jendela, wanita yangaselama dia anggap kekasihnya tetapi justru ia adalah kakak satu bapak. Rania menoleh ke arah pintu begitu Naqi masuk. Seulas senyum tersungging dari bibir pucat Rania.
"Sial kenapa aku baru sadar, ternyata senyumnya Rania juga sangat mirip dengan Luson." Naqi keingat kembali pada papihnya, dan senyum mereka juga ternyata sangat mirip, dan parahnya Naqi baru menyadarinya.
Naqi berjalan ke arah Rania. Dengan tidak bersemangat, bukan tidak perduli lagi dengan Rania, tetapi setiap berdekatan dengan Rania, justru Naqi selalu teringat wajah sedih dari Cyra, yang ia tinggalkan di malam itu.
"Sayang, kamu dari mana saja? Aku pikir kamu marah dengan aku dan meninggalkan aku di sini seorang diri," ujar Rania dengan suara lirih dan tetap mencoba tersenyum.
Naqi menarik kursi dari plastik, ia meletakan bokongnya dengan perlahan. Berbeda dengan Rania yang selalu mencoba tersenyum dan baik-baik saja. Naqi justru tetap datar. Naqi sebelum menjawab pertanyaan Rania, ia menarik nafasnya dalam dan membuangnya dengan perlahan. Ia mencoba menetralkan perasaan, kecewa dan marah yang menjadi satu, karena ulah Luson.
Naqi tahu ini juga bukan kesalahan Rania, tidak sepatutnya ia marah dengan kakaknya. Yang harus ia marahi adalah Luson. Naqi berusaha menekan kemarahanya dan akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Supaya Rania juga tidak berharap terlalu lebih dengan dirinya.
"Nia, kamu jangan panggil aku sayang lagi. Mulai saat ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Selain saudara." Naqi melihat perubahan wajah Rania yang awalnya tersenyum, kini berubah menjadi sedih bahkan air mata dari kedua sudut matanya sudah mulai turun.
"Apa ini semua karena Cyra? Kalian akan balikan dan kamu tinggalkan aku seorang diri. Kamu merubah keputusanmu demi wanita itu?" tanya Rania sembari terisak bahkan sesekali Rania mengeratkan gigi-giginya menandakan ia sangat marah dan kecewa. Entah pada Naqi atau pada Cyra.
"Cukup-Cukup! Sekarang juga kamu pergi! Pergi dari sini! Kamu adalah orang paling jahat yang sudah pernah aku kenal. Kamu tega memberikan harapan yang sangat indah buat aku, tapi apa? Kamu malah tega meninggalkan aku ketika aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kenapa tidak kamu tinggalkan aku sejak awal. Kalau di tengah jalan kamu nyerah dan kembali sama wanita sok polos itu." Rania langsung memotong penjelasan Naqi padahal Naqi belum selesai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Rania justru sudah menarik kesempulan sendiri.
Naqi tidak pergi dia mencoba mengerti apa yang Rania fikirkan. Naqi mencoba tetap sabar dan tidak terpancing emosinya.
"Kenapa kamu masih di sini? Kenapa kamu tidak segera pergi? Kan aku sudah bilang kamu pergi! Jangan peduliin aku yang sakit-sakitan ini." Rania masih terus mencoba mengusir Naqi. Padahal ia juga bingung nanti kalo Naqi pergi ia bagaimana, tetapi Rania juga kesal dengan Naqi yang dengan jujur mengatakan kalo akan meninggalkanya dan kembali pada Cyra.
"Aku akan kembali dengan Cyra, tapi aku juga tetap merawat kamu, aku tidak akan meninggalkan kamu," jawab Naqi dengan enteng, hal itu berhasil membuat Rania semakin kesal.
"Gila memang kamu itu, kamu pikir aku nggak punya perasaan. Harus hidup dengan menyaksikan kemesraan kalian. Mentang-mentang aku sakit dan tidak berdaya lalu kamu bisa mamperlakukan aku seenak kalian. Lebih baik aku bunuh diri dari pada harus liat kalian bermesraan di depan aku. Atau kamu juga kalo mau bunuh aku silahkan. Bunuh saja aku Naqi!" teriak Rania dengan air mata yaang sudah banjir kemana-mana.
"Bisa nggak kamu nggak usah berfikiran parno dulu, dengarkan aku ngomong sampe selesai baru kamu boleh berkomentar panjang kali lebar." Naqi kali ini berbicara dengan suara lebih keras dari pertama-tama berbicar.
Rania yang tahu Naqi emosinya tengah tidak baik-baik saja pun mencoba diam dan akan mendengarkan apa yaang Naqi katakan. Hanya isakan yang masih terdengar dari bibir Rania.
"Aku tidak bisa bersama dengan kamu sampai kapan pun, sebagai pasangan kekasih maupun suami istri., karena kamu adalah kakak satu Ayah dengan aku." Naqi akhirnya bisa mengatakan dengan jujur,.
"Hahahaha... lelucon apa lagi ini Naqi? Sebegini kerasnya kamu mencoba mencari cara agar kamu bisa kembali dengan Cyra dengan mengaku-ngaku kalo kita sodara satu Ayah. Kenapa tidak kamu katakan saja bahwa kita sodara satu Ayah dan satu Ibu. Biar aku lebih bahagia lagi ternyata aku masih memiliki orang tua yang masih hidup dan lengkap." Rania tidak percaya dengan apa yang Naqi katakan. Terlalu terlihat mengada-ngada mencari alasan agar ia tetap bisa bersama dengan Cyra dengan membuat alasan bahwa ia adalah sodara satu ayah.
"Tapi gimana kerasnya kamu menolak, dan mengelak tetap saja fakta mengatakan kalo kamu adalah kakak aku, Papah kamu adalah Luson dan papih aku juga Luson. Memang aku belum bisa membawakan bukti yang sesuai dan itu semua karena Luson juga nggak tau ada di mana, dan seperti yang kamu ketahui nomornya pun tidak aktif. Tapi tenang sajah aku sedang meminta seseorang untuk mencari tahu di mana Luson berada. Nanti apabila aku sudah menemukan laki-laki itu aku akan seret dia untuk menemui kamu, kalo perlu silahkan kalian cek DNA agar kamu tidak mengira aku membohongi kamu demi kepentingan aku dan Cyra." Naqi dengan suara bergetar menahan emosi bercerita dengan Rania.
Rania pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tidak tahu apa yang di katakan Naqi. Kenapa setelah tahu papahnya siapa, hatinya justru sakit. Tidak ada kebahagiaan di hatinya. Kenapa ia malah justru sedih, sakit sekali hatinya mengetahui fakta sebenarnya. Harapanya agar bisa bertemu dengan papahnya saat itu juga sirnah. "Kenapa kamu kabulkan doaku, tetapi dengan memberikan sakit yah lain Tuhan." Rania menjerit dalam hatinya. Ia benar-benar kehilangan semangat untuk hidup.