Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Durensawit


Pagi ini pun di rumah Tuan Latif terjadi perdebatan dan tumpahan air mata, pagi yang awalnya biasa saja, dan justru cenderung damai dengan suasana hangat menikmati sarapan yang lezat, tiba-tiba menjadi pagi yang menegangkan. Terutama Qari yang memang selama hampir sebulan ini tahu bagaimana perjuangan Cyra untuk menyelesaikan tantangan dari kakeknya demi bisa pergi menenangkan fikiranya dan tentu melepaskan kenangan pahit yang Abangnya buat.


Cyra memang tidak menceritakan dengan detail bagaimana sakitnya dia ditinggalkan Naqi demi wanita yang baru ia ketahui ternyata wanita itu adalah kakak tirinya.


Namun Qari tahu gimana hancurnya Cyra, terlebih ketika Qari pulang melihat bagaimana kacaunya mamihnya, karena memikirkan kelakuan Naqi, tambah-tambah lah emosi Qari, dia memang tetap ceria dan seolah cuek dengan lingkungan sekitar tetapi bukan berarti Qari tidak sedih dengan apa yang terjadi dalam keluarganya. Bukan berati Qari tidak peduli dengan mamih yang berubah jadi pendiam. Bahkan tidak jarang mamihnya makan di kamar karena sedih dengan keluarganya yang perlahan hancur.


Lalu sekarang ketika keluarganya sudah sedikit menyelesaikan masalahnya, dan dia sudah bisa menyesuaikan kerjaan kantor yang lumayan bikin otak mendidih, dan Cyra kakak Iparnya juga sudah pergi dan memilih jalanya, yang hampir setiap malam Qari dan Cyra bertukar kabar bahkan Cyra selalu mengirimkan opa-opa korea yang membuat Qari cemburu karena di Indonesia dia tidak menemukan pemandangan yang indah seperti Cyra.


Tiba-tiba masalah datang lagi Abang, dan Papihnya yang ia kira sudah lupa keluarga, karena pergi dengan meninggalkan segudang kekacauan, datang lagi ketika kekacauan itu sudah mereda. Datang membawa kekacuan baru. Ibarat bom waktu mungkin itu gambaran untuk Qari yang sejak kemarin ingin marah, tetapi ia bingung marah kesiapa? Sehingga ia selalu memilih untuk menahannya sehingga ketika kesempatan itu datang ia tidak menyia-nyiakanya lagi.


Cukup lama terjadi kebisuan di meja makan, karena Qari tetap bersikeras tidak mau Rania ada di rumah ini, buat apa dia di sini yang ada akan menyakiti mamihnya. Menambah kerjaan mamihnya yang harus mengawasi orang sakit-sakitan, tetapi baik Naqi dan Luson tetap mau Rania di sini, karena hanya ini keluarganya, Rania tidak memiliki keluarga lagi. Mungkin lagi-lagi Qari harus mengalah, dan membiarkan kakak tirinya tinggal di rumah ini, dan menjadi pemandangan yang kurang menyenangkan untuk Qari.


"Pah, apa papah tega membiarkan Rania hidup sendiri di luaran sanah, toh Rania nanti juga akan di rawat di rumah sakit, dan kalo memang sudah pulih baru Rania pulang. Luson janji akan memberikan Rania perawat sendiri agar tidak merepotkan orang di rumah ini." Luson terus mencoba bernego siasi dengan papahnya yang memang Luson tahu Tuan Latif tipe orang yang memiliki belas kasihnya tinggi pasti tidak akan tega ia membiarkan Rania, yang masih ada hubungan darah denganya hidup sendirian.


"Apa ucapanmu bisa di pertanggung jawabkan, apa kamu bisa menjamin kalo yang kamu katakan itu bisa kamu jalanin dengan sesuai pemikiran kamu, karena disini sudah terlalu cape dengan masalah kamu dan Naqi. Kenyataanya yang selalu datang membawa masalah adalah kamu dan Naqi." Tuan Latif hanya ingin mengetes bagai mana tanggung jawab Luson sebagai orang tua dari Rania, karena tanpa Luson, Rania akan merasa tidak memiliki siapa siapa lagi.


"Aku berjanji Pah, aku akan bekerja dengan benar dan semua biaya Rania aku yang tanggung," ucap Luson entah benar atau tidak tetapi andai tidak benar pasti yang lain bergerak.


"Catat yah, awas saja kalo kamu lari dari tanggung jawab, aku tarik jakun kamu, Pih," ucap Naqi biar Luson tidak asal berjanji pada kenyataanya kalo punya uang wanita-wanita penghibur yang jadi target utama untuk menghabiskan uangnya.


"Papih janji Nak, papih juga tidak ingin di benci anak-anak papih," bela Luson yang membuat Qari ingin muntah dengarnya bagai mana anak-anaknya tidak benci dengan laki-laki itu, kalo kelakuanya hanya mencoreng keluarga.


Ok, pembahasan Rania selesai walaupun memakan waktu yang panjang dan cukup menegangkan dan menguras emosi.


"Kek dari tadi Naqi tidak melihat Cyra apa dia sudah berangkat syuting?" tanya Naqi dengan polos yang membuat Qari tertawa dengan renyah.


"Dari kemarin-kemari kemana ajah Bang? Sibuk sama selingkuhan yang kamu bilang cinta mati itu, sampe-sampe bini di buang begitu sajah. Buat apa sekarang tanyain kakak Ipar?" ucap Qari dengan sinis, hanya Qari yang berani bilang seperti itu.


"Loh wajar dong Abang tanya istri Abang," jawab Naqi dengan santai menanggapi ucapan Qari.


"Istri? tanya deh sama kakek apa kakak ipar masih jadi istri Abang, setahu Qari sih kamu udah di buang sama kaka Ipar dan kalo Qari lihat pantas juga sih kamu dapat itu semua, malahan kalo aku jadi Cyra aku kirim sate campur sianida kalian semua. Untung ajah istri kamu masih kaya Cyra tidak membalas sakit hatinya, tetapi lebih fokus menata masa depanya. Aku jadi berasa pengin tukar Abang saja, punya Abang sama punya Papih isinya cuma bikin makan hati," ucap Qari pokoknya apapun yang dia bisa lakukan untuk membuat dua laki-laki itu sadar Qari akan lakukan.


"Maksud kamu apa dek?" tanya Naqi dengan bingung tidak mengerti maksud dari Qari.


"Udah ah gue mau kerja cari uang biar bisa liburan, dan puang kerja gue mau party merayakan penyesalan loe." Qari pun pergi meninggalkan meja makan di mana di sana hanya ada mamih dan Tuan Latif, dan tentunya dua laki-laki tidak tahu diri itu.


"Kek, Mih maksud dari omongan Qari apa?" apa yang terjadi antara Naqi dan Cyra, Terus Cyra kemana, kenapa dia tidak terlihat? Udah kerja atau dia di mana?" tanya Naqi dengan wajah memohon dan memelas.


Mamih yang mendengar pertanyaan Naqi tiba-tiba kepalanya berdenyu. "Pah, Nita ke kamar dulu, tiba-tiba kepala Nita sakit dan ingin istirahat," ucap mamih sembari terus memegangi kepalanya yang berdenyut dan membuatnya tidak ingin berlama-lama di tempat itu, yang ada malah membuat kesehatanya makin menurun.


Naqi heran kenapa mamih juga terkesan menghindar dengan pertanyaanya, Naqi menatap mamih yag berjalan terseok menuju kamarnya dengan tangan terus memegangi kepalanya.


"Kek ini kenapa sih, kok Naqi merasa semua seoalah menutupi di mana Cyra, apa yang terjadi dengan Cyra?" tanya Nqqi dengan bola mata yang sudah berkaca-kaca.


"Cyra sudah bahagia, dia sudah pergi, dan kalian sudah bukan suami istri lagi," jawab kakek dengan suara lemah. Cepat atau lambat Naqi juga akan tahu setatusnya yang sudah duda, lalu buat apa dirahasiakan lagi.


Brraaakkk... kali ini Naqi yang menggebrag meja makan. "Ini tidak mungki, gimana bisa aku dan Cyra cerai, sedangkan aku sajah tidak menyetujui semua perceraian itu. Ini semua pasti akal-akalan kalian buat menghukum aku kan. Padahal aku dan Cyra masih sah suami istri, sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan dia." bentak Naqi dengan penuh emosi.