Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Telepon dari Nomor Asing


Di sebuah kamar hotel, Rania tengah menahan sakit di bagian perutnya.


Ahhh... keringat sebesar biji jagung pun mulai bercucuran.


Ia benar-benar merasakan bahwa hidupnya sudah diambang kematian. Untuk bernafas saja sudah sangat sesak. "Apa karena aku terlalu setres yah jadi perut aku sakit lagi, tapi kenapa kali ini lebih sakit." Rania bergumam dalam hatinya sembari mengatur nafas yang dia rasa agak sesak.


Rania mencoba mencari obat yang masih rutin ia minum selama ini. Setelah minum obat ia mencoba menenangkan fikiranya, walaupun sangat sulit. "Ya Tuhan apa umurku sudah tidak panjang lagi. Aku ingin ke kampung halaman, aku ingin mengunjungi makam ibu." Rania terisak seorang diri. "Kenapa hidupku selalu tidak jelas ya Tuhan, di mana kebagian untuk aku. Apa karena aku anak haram sehingga aku tidak pantas untuk merasakan bahagia." Rania kembali menginggat kata-kata Abinya Adam. Meskipun mereka tidak mengatakan secara langsung dirinya anak haram, tetapi Rania bisa mengartikan arah pembicaraan mereka menuju ke sana.


Niat hati menenankan fikiran, tetapi malah justru semakin runyam fikiranya.


****


Di sebuah kamar yang berbeda kina kelopak bunga yang awalnya indah rapih membentuk simbol love dan hiasan pendukung lainya kini sudah acak-acakan. Itu semua karena ulah Naqi menghancurkanya. Padahal Cyra hendak mengabadikan di ponselnya, tetap justru ia dengan iseng mengacak-acak.


"Mas... kenapa diacak-acak. Cyra bahkan belum sempat mengambil gambarnya," protes Cyra ketika baru saja membuka aplikasi photo, tetapi si jail Naqi sudah beraksi.


Hahaha... Naqi justru tertawa renyah.


"Dari pada foto-foto mending sini buruan udah malam nanti waktunya terbatas belum puas udah pagi ajah." Naqi sepertinya sangat senang menggoda istrinya.


Cyra malah sengaja tidak bergeming dari berdirinya, sehingga Naqi terpaksa mengeluarkan jurusnya...


Brukkk.... "Auw.... sakit," pekik Cyra, ketika Naqi menarik tubuhnya dengan kasar, dan membuatnya jatuh ke atas pelukanya.


Auwwww....Naqi sendiri meringis juga, karena perutnya sakit kena sikut tangan Cyra, yang berusaha menahan bobot tubuhnya.


"Ya Allah Mas, maaf. Tuh kan Mas Naqi sih iseng banget, sakit yah?" Cyra langsung panik dan mencoba mengelus perut Naqi yang sakit.


"Iya, tapi yang sakit bukan itu," oceh Naqi sembari tetap berekting kesakitan.


"Terus yang mana? Bukanya yang kena siku ini?" tanya Cyra heran kenapa bisa sakitnya pindah.


"Yang ini."Naqi menunjuk burung Elang yang sudah berontak ingin merasakan nikmatnya surga dunia.


Bush... seketika udara di dalam kamar itu langsung panas. Wajah putih Cyra berubah menjadi merah merona.


Naqi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, baginya wajah Cyra ketika memerah menambah kadar kecantikanya.


Naqi perlahan membaringkan tubuh mungil Cyra, dan Cyra pun sudah pasrah mungkin sekarang sudah saatnya ia menyrahkan semuanya. Memenuhi kewajibanya sebagai istri. Selama lebih dari tujuh bulan mereka menjalani pernikahan Naqi banyak berubah. Terlebih di lima bulan terakhir Naqi benar-benar menunjukan keseriusanya untuk mencoba mengganti nama Rania dengan dirinya.


Cyra pun menikmati setiap sentuhan yang Naqi berikan, mulai dari bibir yang saling berta'ut, belaian yang lembut membuat Cyra tidak sadar bahwa pakaianya kini telah di lucuti oleh tangan nakal Naqi.


Keduanya saling memberikan sentuhan yang lembut, ruangan yang awalnya sejuk, kini seolah mereka tengah berada di ruangan sauna. Masih di tahap pemanasan, namun sudah membuat tubuh kedua basah, basah oleh kringat. Namun itu tidak membuat mereka menyerah dan berhenti sampai disitu. Justru Naqi semakin menuntut untuk melakukan hal yang lebih. Tidak ada suara lain selain de'sahan yang tertahan dari Cyra maupun Naqi.


Aset Cyra yang selama ini Naqi ejek karena kecil pun, sudah Naqi kuasai. Walaupun kecil tetapi mampu membankitkan tegangan yang tinggi.


Di tengah has'rat yang sudah m*mu'cah dan ingin saling di pu'as'kan tiba-tiba ponsel Naqi berbunyi. Awalnya baik Naqi maupun Cyra tidak memperdulikan suara bising yang mengganggu di tengah-tengah kegiatan yang tinggal satu langkah lagi menuju puncak.


"Mas coba angkat dulu, mungkin penting." Cyra akhirnya menghentikan pemanasanya.


Naqi pun dengan malas bin enggan beranjak dari punjak bukit milik Cyra dan mengambil ponselnya. Naqi mengernyitkan dahinya karena yang meneleponya adalah nomor baru. Naqi memutuskan me'reject nomor itu, tetapi sedetik kemudian masuk pesan dari nomor asing tersebut.


[Sayang, tolong aku. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku bingung mau minta bantuan dengan siapa? Perut aku sakit sekali. Rania]


sedetik lagi Lokasi terkirim dari nomor itu.


"Rania!" Naqi bergumam, tetapi tentu Cyra bisa mendengarnya pasalnya Cyra tengah memeluk tubuh suaminya yang kini bak bayi baru lahir, polos tanpa sehelai benang pun menempel di kulit putihnya.


Sontak hal itu membuat jantung Cyra seolah berhenti saat itu juga. Tubuhnya seolah dipukul dengan bongkahan kayu jati sehingga sakitnya sampai terasa ke dadanya.


Naqi tampak sibuk memencet-mencet tombol dipolselnya. Ia ingin memastikan kondisi Rania. Di sambungan pertama langsung tersabung dengan Rania dan terdengar dengan jelas Rania yang tengah meringis kesakitan.


Tanpa pikir panjang Naqi langsung memunguti pakaian yang berceran di lantai tanpa menoleh ke Cyra sedikit pun.


Kedua mata Cyra yang menyaksikan kepanikan Naqi langsung memanas dan butira bening jatuh tidak bisa ia bendung lagi, membasahi pipi mulusnya.


Naqi tanpa sepatah kata pun meninggalkan Cyra dengan kebingunganya.


Begitu Naqi hilang di balik pintu Cyar tidak bisa lagi menangis dalam kebisuan.


Cyra menangis bak anak kecil yang tengah tantrum. Cyra melempar bantal yang berada di sampingnya ia memukul dadanya berkali-kali berharap sesak di dadanya bisa keluar. Menjerit dan meluapkan sakit yang bersarang di dadanya.


Cyra bingung marah dengan siapa? Menangis karena apa? Siapa yang salah diantara mereka. Kini mimpi terburuk yang ia takuti justru menjadi kenyataan.


"Sakit, sakit ya Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali, lebih sakit dari cambukan yang pernah Papah lakukan pada ku," ringis Cyra. Tubuh polosnya yang banyak bekas tanda cinta dari Naqi ia tutup dengan selimut. Ia meringkuk menahan sakitnya seorang diri.


"Kenapa kamu tega, perlakukan aku seperti ini Mas. Bahkan kamu tidak mengucapkan sepatah kata pun padaku, tidak memandang ku walau sekilas, begitu kamu tahu siapa yang meneleponmu. Apa sebegitu berartinya Rania bagi kamu? Aku pikir aku akan jadi ratu di hatimu, tetapi kenyataanya aku hanya singgahan sementara buat kamu." Malam yang awal indah seketika berubah menjadi malam yang paling buruk.


Malam Ini Cyra menangis, tanpa bisa memejamkan matanya sedetik pun. Entah lah rupanya seperti apa ia kini, yang jelas tidak baik-baik saja.


#Maaf kalo tidak sesuai ekspektasi...