Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Nada Dering Hantu


kelopak mata Naqi tiba-tiba panas ketika mendengar penuturan dari sang produser. Rasanya seperti sebuah anak panah yang menusuk tepat di ulu hatinya. Sesak dan menyakitkan. Dibiarkan menancap tetap sakit, dicabut pun akan meninggalkan luka yang semakin parah. Dia tidak tahu sama sekali apa yang sudah terjadi dengan Cyra, selama ia meninggalkan istrinya itu. Andai dia diberikan satu kali kesempatan untuk mengulang semuanya, pasti Naqi tidak akan meninggalkan Cyra. Dia tidak akan membiarkan istrinya menjalani kesusahnya seorang diri.


Setelah mendapat jawaban dari produser Naqi pun pamit undur diri. Perasaanya semakin tidak menentu ketika tahu bahwa Cyra dikabarkan sakit. Dalam fikiranya semakin buruk dia takut akan terjadi apa-apa dengan Cyra.


Naqi masuk kedalam mobilnya tetapi tidak langsung melajukan kendaran mewahnya, melainkan ia melamun rasanya ia terlalu syok dengan info yang baru ia dapat. "Ya Tuhan maafkan aku, aku lalai meninggalkan Cyra yang aku fikir dia bisa kuat dalam melewati semua ujian ini, tetapi justru Cyra juga sakit," ucap Naqi dengan menatap kepintu gedung di mana Cyra ketika sore tiba ia biasa keluar dengan senyum cerianya dan ketika pagi hari masuk dengan langkah percaya dirinya. Namun kali ini Naqi mendengar kabar bahwa Cyra mengajukan pengunduran diri dari modeling di mana itu adalah profesi impianya, lebih membuat hatinya sakit Cyra mengundurkan diri karena sakit. Pasti yang Cyra derita bukan sakit biasa. Begitu kira-kira yang ada di otak Naqi.


Naqi mencoba mencari idenya. Dia mencoba mencari info kemana lagi. Cukup lama Naqi berfikir.


"Meta... yah Meta bukanya dia teman setia Cyra pasti Meta tahu di mana Cyra berada, atau dirawat aku ingin menemaninya di masa-masa sulitnya," batin Naqi. Ia lalu mengambil ponselnya dan membuka kontak penyimpanan dan mencari nama Meta. Yah Meta, kali ini menjadi target selanjutnya setelah lokasi tempat Cyra syuting, bahkan sang produser pun tidak tahu alasan Cyra berhenti dari profesi yang membesarkan namanya, bahkan sampai ia terkenal ke pelosok desa.


Sementara Meta yang tengah fokus menatap deretan angka yang berbaris dengan rapih dengan setelan kemeja panjang, dasi dan dilengkapi dengan jas mahalnya. Kini Meta sudah sangat mirip dengan CEO kaya raya yang sering ada di novel-novel. Bahkan karena penampilanya yang terlihat semakin tampan dan bijaksana sampai-sampai sudah ada beberapa wanita yang dengan terang-terangan pengin dinikahi oleh Meta.


Sontak saja pawangnya yang kali ini perutnya sudah sedikit membuncit langsung panas dan bahkan sudah beberapa hari ini Fifah selalu ikut Meta kekantor, yah memang Fifah juga sekalian kerja, karena dia yang merengek terus ingin kerja, padahal itu triknya Fifah untuk mengamankan calon suaminya dari godaan wanita-wanita pengincar harta, biar bisa numpang hidup enak. Karena Fifah terus merengek akhirnya Meta yang memang tidak tega menolak keinginan bumil pun mengizinkan kerja tetapi hanya sekedar main-maian. Hah... kok bisa kerja main-main? Iya bisa apa sih yang nggak Meta bisa lakukan di mana dia sekarang sudah menempati posisi Cyra, sehingga semua yang dia bilang pasti terjadi. Seperti Fifah yang kalo mau libur dan istirahat kapan pun tidak ada yang melarang.


Meta masih terus menatap nominal uang yang ada di laporan yang tengah ia pegang. Meta tidak mau ada satu enol pun yang lari kemana tidak jelas sehingga ia apabila tengah membaca laporan ia akan benar-benar berhati-hati agar tidak ada yang nilep uang perusahaan. Bisa-bisa kalo ketahuan ada yang nilep bos besar marah dan memecatnya saat itu juga. Itu yang selalu bos besar katakan, yah bos besar mereka memang sangat kejam, sehingga harus berhati-hati dalam mengerjakan tugas-tugasnya.


"Met, awas yah kalo ada yang nilap uang perusahaan langsung kalungin lehernya pake gergaji, jangan kasih ampun dan jangan kasih bebas, Termasuk kamu dan yang lainya kalo berani macam-macam. Langsung aku yang turun tangan," ucap bos besar yang selalu Meta ingat sehingga ia tidak mau mengecewakan bos besarnya itu.


Berkat Cyra yang mereka sebut bos besar itu kini kehidupan Meta jauh dari kata cukup di mana dia dulu sebelum kenal Cyra untuk makan saja ia benar-benar harus banting tulang, bahkan kaki di kepala kepala di kaki, tetapi hasil yang ia dapat tidak juga cukup buat kebutuhanya, ia juga harus pintar-pintar mencari sampingan lain misalkan menjual alat make up dengan cara keredit, dan nanti untungnya dua kali lipat dari harga kontan, semua Meta lakukan agar ia dan mamah Mia tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari hari.


Bukan hanya Meta tentunya yang berubah ekonominya setelah bertemu Cyra, Qila pun juga sama ia bahkan sekarang bisa mengirim uang kekeluarganya di kampung dua kali lipat dari dulu ia kerja di rumah Tuan Kifayat, udah gitu kerja dengan Cyra itu tidak pernah di bentak-bentak atau pun di marahi. Cyra adalah contoh pemimpin yang sangat baik. Sehingga Qila kerja pun Happy dan itu yang lebih penting pasalnya ketika ia di rumah Kifayat dia selalu di marahin begitu melakukan kesalahan dan kerja dia selalu dihantui rasa ketakutan terus.


"Kunti, jurig, gundurwo..." pekik Meta ketika ia mendengar nada dering suara hantu yang identik memakai baju putih panjang dan rambut hitam panjang dan biasa nangkring di atas pohon dengan ketawa yang nyaring.


"Fifah..." pekik Meta, yah dia tahu siapa biang di balik ini semua pasti Fifah yang sudah mengganti nada deringnya menjadi suara yang sangat menyeramkan.


Meta yang dari tadi kaget dengan suara nada dering hantu dari ponselnya pun tidak langsung mengangkat pangilan itu tetapi ia mengintip siapa yang ada di balik sana yang ingin berbicara denganya.


"Naqi, kenapa mantan bos besar telepon gue? Apa dia mau cari di mana keberadaan Cyra?" batin Meta bertanya seorang diri. 'Kalo begitu aku harus berhati-hati jawabnya jangan sampai aku salah omong," bati Meta lagi. Yah, kalian ingat pasti bahwa Meta adalah teman Cyra satu-satunya yang tahu hubungan antara dirinya dan Naqi. Bahkan Meta tahu cerita Rania, karena itu Meta sudah tidak kaget ketika Naqi menelepon dirinya. Pasti ada hubunganya dengan bos besarnya yang sungguhan.


Sebelum mengangkat ponsel pun Meta membaca segala jenis doa dan surat pendek. Tidak lupa Meta pun membaca ayat kursi agar ia tidak ketempelan setan, dan sejenisnya sehingga ia bisa-bisa salah jawab.


[Halloh Met, kenapa loe angkatnya lama banget sih?] omel Naqi begitu Meta mengangkat teleponya.


Meta pun membuang nafas kasarnya, mencoba sabar dan tidak terpancing dengan mantan bos besarnya itu. Meskipun di lehernya dia udah gondok dan ingin balas omelanya itu.


[Iya, maaf bos saya tadi habis dari kamar mandi dan tidak membawa ponsel,] jawab Mera berbohong, lebih baik berbohong dari pada berbicara jujur nantri malah dia ngak akan percaya.


[Lain kali kalo mau kemana-mana kamu bawa ponselnya, biar kalo ada yang telpon nggak nunggu lama kaya tadi. Bikin BT ajah,] balas Naqi, masih dengan nada yang ketus.


[Ah, iya Bos, maaf sudah membuat Anda BT], jawab Meta dengan sangat jengah. Bahkan bibirnya sudah komat kamit mengumpat semua jenis sumpah serapah buat Naqi.


[Ya udah, gue cuma mau tanya kamu tahu di mana Cyra nggak?] tanya Naqi kali ini dengan nada yang halus dan terkesan memelas.


Dalam hati Meta pun tertawa dengan lantang, tebakanya benar bahwa Naqi menelepon dirinya karena ingin mencari Cyra di mana berada. Untung saja Meta dan Cyra sudah sempat merundingkan apa jawaban masuk akal, kalo memang Naqi mencari keberadaan Cyra. Sebab kalo Meta bilang nggak tahu juga Naqi tidak akan percaya, Naqi akan tetap tahu bahwa Meta berbohong. Dan malah Naqi nanti curiga dengan semuanya dan berhasil menemukan Cyra. Sehingga Cyra dan Meta menyiapkan jawaban lain yang masuk akal dan berharap jawabanya membuat Naqi tidak mencarinya lagi.