Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Lembah penyesalan


Deon dan Qari hanyut dalam cium'an panas, yang membuat sekujur tubuh menjadi semakin menegang. Kesadaran Qari sepenuhnya sudah hilang dan kini dia sudah tidak bisa mengontrol tubuhnya. Bahkan mungkin kini bisa dibilang Qari seperti wanita pemu'as yang haus akan belaian dan kepuasan dari dosa yang banyak orang cari, dan bahkan tidak jarang banyak juga yang rela membelinya dengan harga mahal, hanya untuk mendapakan pencapaian yang bisa membuat fikiran merasa  terlepas dari penatnya dunia.


"Deon... ah.." renge-kan menjijihkan, tetapi kali ini rengekkan itu terdengar merdu di telinga Qari. Di dalam fikiranya hanya ada satu, yaitu Deon segera menghukumnya.


"Tidak disini, nanti kamu bisa masuk angin," ucap Deon sembari menggit telinga Qari dan wanita yang tidak sadar dengan apa yang dia lakukan pun menjerit dengan lirih dan seolah dia memang meminta Deon melakukan hal yang lebih. Laki-laki itu meringis dan tersenyum devil, ketika semakin melihat tubuh Qari yang terus menggeliat seolah dia tengah mencari apa yang bisa membuat tubuhnya merasakan nikmat itu.


"Kamu tidak ada bedanya Qari, dengan wanita-wanita yang selama ini mendekati aku hanya karena lembaran materi," lirih Deon dengan mengelus wajah Qari dan ia lalu membungkus tubuh telanjang Qari yang terus di gesek-gesekan ketubuhnya, dengan handuk dan menggendong ala bridal style hendak dibawa keatas tempat tidur. Qari yang di bawah pengaruh obat laknat itu justru kembali mengalungkan tanganya di leher Deon dan melu-mat bibir Deon, lidah gadis yang masih dalam gendongan laki-laki itu pun menjelajah rongga mulut Deon. Lidah mereka saling membelit dan saling bertukar saliva. Deon melempar tubuh Qari yang handuknya sudah tersibak seolah tubuh wanita itu adalah sekarung beras.


Bruuukk... tubuh yang  tadi terbungkus handuk kini sudah kembali telanjang, sebab penutup tubuh itu Qari sendiri yang buang.


"Deon ayo bantu aku menghilangkan rasa yang aneh ini," rengek Qari, seperti bocah yang tengah merengek meminta mainan pada orang tuanya.


Seperti predator yang tengah menunggu mangsanya, Deon pun tersenyum kemenangan, dia merangkak di atas tempat tidur menuju tempat Qari tengah menggodanya dengan tubuh mulusnya. Aset yang selama ini di tutup di balik pakaianya yang rapih, kini sudah menonjol dan mengeras seolah sudah siap untuk menerima sentuhan. Deon tidak meminum obat haram itu, tetapi kesadaranya pun seolah hilang sama seperti Qari. Setiap senti tubuh mulus itu kini sudah berhasil Deon taklukkan, tanda merah, sebagai tanda kepemilikan Deon tinggalkan bahkan di leher dan bukit kem-bar yang indah milik Qari.


Sesuai dengan yang Deon duga bahwa wanita yang kini menjadi tawananya memang masih perawan, buktinya Deon harus bekerja dengan sangqt keras untuk bisa membuat pertahanan gadis itu menyerah dan membukankan pintu masuk. Ringisan dan air mata Qari sebagai tanda bahwa Deon sudah berhasil menerobos benteng pertahanan, anak dari musuhnya itu.


"Ini adalah awal dari kehancuran kamu Qari, kesedihan kakakku akan kamu rasakan. Air matamu adalah balasan yang setimpal dari air mata almarhum kakak ku," lirih Deon di balik telinga Qari, tetapi Deon yakin bahwa wanita yang sedang menerima hukuman darinya tidak akan mendengar dan memahami apa yang Deon katakan. Yang ada hanyalah rasa nik-mat yang membuat ia seolah di terbangkan ke angkasa luas.


Luka dari cengkraman kuku Qari di pundak Deon dan gigitan di kedua lengan Deon menandakan bahwa permaianan itu memang sangat hebat. Era-ngan dan ringisan serta jeritan yang keluar dari bibir mungil Qari  adalah bukti gimana perka-sanya Deon. Laki-laki itu terus memberikan hukuman di bawah sana, tanpa ampun di mana Qari seolah dari tatapanya memohon ampun agar Deon memberikan jeda untuknya, tetapi Deon bukan hanya dendam tetapi juga menikmati tubuh Qari dengan baik, sehingga ia tidak mau meliepaskanya barang sejenak.


Mereka bahkan seolah terlihat seperti pasangan yang saling mengasihi, dan memberi dengan tulus. Bukan pasangan yang di jebak untuk melayani pasanganya, karena sebuah dendam yang menggebu. Tidak ada kata yang teruacap dari bibir Qari ataupun Deon. Qari yang tubuhnya masih di kuasai oleh obat laknat itu, kembali ******* bibir tebal Deon ketika kulit mereka saling bersentuhan, dia seolah tidak ada capenya, padahal Deon yang melihat kalau Qari masih terenggah-enggah akibat sisa bercintanya. Namuan karena wanita itu yang menginginkanya sehinga Deon pun membiarkan Qari menjamah tubuhnya. Dia justru menikmati sentuhan demi sentuhan yang Qari lakukan di tubuh kekarnya.


Tubuh telanjang dan dibiarkan terlentang dengan kedua tangan di lipat di bawah kepala sebagai bantalan kepala predator itu dan ia menikmati service dari Qari. Wanita itu memang peniru yang handal sehingga sekali ia melihat dan menangkap di otaknya dan sekarang Qari mempratekan apa yang barusan Deon lakukan. Tubuhnya memang melakukan hal yang menjijihkan itu, tetapi mata Qari terus mengeluarkan air mata seolah di bawah alam sadarnya dia tahu apa yang dia lakukan itu, tetapi tentu dia tidak bisa menghindar dari ini semua.


Deon yang merasakan kenik-matan karena permainan ke dua benar-benar hampir seratus persen Qari yang dominan aktif. Matanya terpejam menikmati bonus dari balas dendamnya.


lengkuhan panjang ke dua kalinya terdengan dari Qari dan juga Deon. Tubuh polos wanita itu  pun ambruk di atas tubuh polos Deon dan Deon langsung mendekapnya dan mencium keningnya lawan mainya. Seolah Deon sudah tidak menyimpan dendam lagi.


Tangis Qari pecah di atas tubuh deon bahkan calon benih dari deon sedang berlomba-lomba mencari indung telur yang siap di buahi, untuk menghukum dua anak manusia yang sedang berlumur dosa itu.


"Jangan menangis," lirih Deon, ketika melihat Qari terus menangis tergugu entah apa yang ada dalam pikiran Qari apa dia tahu dengan apa yang terjadi denganya barusan, ia seperti wanita hina, yang menjajakan tubuhnya di atas tubuh laki-laki demi setumpuk materi. Deon mengangkat wajah Qari sembari merapihkan anak rambut yang menutupi wajah Qari yang sempat di benamkan di atas dada bidan Deon. Wajah Qari yang masih terisak itu Deon angkat lebih tinggi lagi hingga terlihat wajah yang lelah, sedih serta keringat dan mata yang merah. Deon menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Qari.


"Kamu cantik," ucap Deon dengan tersenyum kemenangan.


#Bismilah, ga di amuk readers. Mak othor mau semedi dulu biar suasana adem...😂