Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Saling Membantu


Sudah satu minggu Cyra mulai mencoba belajar mengolah perusahaan yang kakek berikan. Seminggu juga hubungan Cyra dan Fifah tidak ada komunikasi. Yah, Cyra memang yang menghindari Fifah. Sudah jelas alasanya adalah, Cyra ingin meminta mata Tuan Kifayat, tetapi Fifah dan mamah Daima belum memberika keputusan.


Cyra memutuskan menghindar dari Fifah sebab ia tidak mau berdebat atau mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat orang lain sakit hati. Cyra akui dia ketika tengah marah, biasanya berkata yang langsung menyakiti hati lawanya, baik sadar maupun tidak. Maka dari itu Cyra lebih memilih menghindar dari pada menambah masalah baru, dengan kakanya Fifah. Khusus untuk Fifah, Cyra masih menganggap sebagai kakanya.


Setiap ada Fifah, maka Cyra akan pergi. Selalu begitu, bahkan untuk tidur puh Cyra memilih di kamar bawah, tidur dengan Qila walaupun lebih sempit yang terpenting tidak dengan Fifah.


"Met, kamu tau kan hubungan aku dan Cyra tengah tidak baik-baik saja. Menurut kamu aku harus bagai mana?" tanya Fifah yang memang mereka tengah berdua.


Meta yang tiba-tiba diberi pertanyaan seperti itu pun kaget. "Aku tidak tahu Fah, keputusan ada ditangan kamu. Kalo sikap Cyra seperti itu aku sih wajar saja, karena kita nggak ada di posisi dia sehingga tidak tahu bagaimana sulitnya dia mengobati traumanya. Mungkin salah satu syarat di pikiranya untuk mengobati trauma itu dengan Papah kamu memberikan matanya. Cyra itu orang yang baik setahu aku. Jadi ketika ia melakukan hal seperti ini bukan karena ia jahat, tetapi karena ia juga manusia yang memiliki batas kesabaran dan mungkin yang di lakukan Papah kamu pasti sudah di luar kesabaranya." Wawan memang sudah tahu semua permasalahan Cyra, bahkan Wawan pun akhirnya mau membantu mengolah perusahaan Cyra, selama Cyra nanti pergi.


Fifah diam ia mencerna setiap apa yang di omongkan oleh Meta. Hubungan Meta dan Fifah memang semakin dekat. Bahkan anak Fifah justru dekat dengan Meta. Mungkin jabang bayi itu mengira kalo meta adalah Papahnya. Sehingga ibunya bawaanya pengin dekatan terus dengan Mas Meta.


Semenjak Cyra mengabarkan akan pergi, dan Cyra diberikan tanggung jawab perusahaan dan di minta mengurus perusahaan oleh Tuan Latif


Mereka bahu membahu membuat team yang saling jujur dan pekerja keras. Buktinya mereka kerja kadang sampai jam dua belas malam. Demi bisa mengerti sitem kerja sebuah perusahaan. Tentu semuanya tidak lepas dari bantuan orang kepercayaan kakek Om Jaktion atau di panggilnya Om Ion. Alzam dan juga Qari adalah team yang selalu siap membantu kapan pun Cyra memerlukan bantuanya.


Tidak ketingalan Dokter Sam juga ternyata ikut membantu menjadi team sukses Cyra. Padahal Sam tidak di mintai bantuan, karena Cyra fikir seorang dokter tidak tahu dengan mekanisme sebuah perusahaan, tetapi Cyra salah. Sam menawarkan diri karena dia ternyata juga padai soal begituan. Dan juga Sam banyak memberikan tips-tips agar bisa segera mendapatkan keuntungan dari prodak-prodak yang Cyra buat.


Seperi malam ini sepulang syuting Cyra langsung pulang kerumahnya tentunya bersama sopir pribadinya Mas Meta.


Cyar juga sudah beberapa hari yang lalu menempati rumah barunya, tentu bersama dengan Qila. Sedangkan Fifah masih di rumah Meta, hal itu karena anak yang ada di kandungan Fifah. Terlebih mamah Mia tidak mengizinkan karena ditakutkan ada apa-apa dengan Fifah terlebih Fifah masih sering mabok dan biasanya akan sembuh kalo Meta yang memijatnya. Bahkan Fifah sangat suka dengan wangi tubuh Meta.


"Aduh cin gini amat yah udah kerja. Pulang kerja mesti kerja lagi," oceh Meta yang setelah sampai di rumah Cyra ia langsung merebahkan tubuhnya di sofa yang empuk.


"Hehehe cape yah Met, maaf yah karena urusan aku kalian pada sibuk semua begini. Bahkan Qila aku paksa buat bisa belajar semua laporan perusahaan yang sebelumnya Qila tidak pernah tahu apa itu laporan. Tidak hanya Qila bahkan Cyra pun tidak tahu apa itu laporan dan yang lainya. Bak di minta berperang tapi tidak tahu medannya itulah mereka. Kalo Meta setidaknya ia pernah mengenyam pendidikan sampai kuliah D3 jadi sedikit-sedikit mengerti bagaimana alurnya perusahaan bergerak. Terlebih Om Ion yang dengan sabar selalu ada buat mereka. Alzam dan Qari juga tidak lupa menjadi pahlawan untuk mereka karena tanpa mereka, Cyra tidak bisa menjalankan tantangan dari Tuan Latif yang menurut dia paling sulit.


Cyra dan Kakek pun sudah mengambil keputusan apabila memang Kifayat tidak mau mendonorkan matanya matanya, alternatif lain adalah tetap mencari dari orang luar yang mau dengan suka rela mendonorkan matanya. Atau biasanya bisa diambil dari korban-korban kecelakaan yang keluargnya tidak keberatan anggota tubuh sang mayid diambil untuk keperluan donor, kemanusiaan.


"Ra, kamu yakin mau pergi dari sini? Lalu perusahaan ini? Lalu dengan kita semua?" tanya Qila dengan wajah sedih karena sahabat yang sangat baik darinya justru akan meninggalkan negri ini. Kembali meninggalkanya sedirian, meskipun Qila sudah banyak menemukan sahabat baru. Seperti Fifah yang dulu untuk menegor Qila saja tidak pernah, tetapi semenjak Papahnya bangkrut Fifah menjadi wanita yang ramah. Qari, cewek bar-bar tapi berhati sensitif, Alzam, si ramah yang pendiam tetapi otaknya encer sehingga masalah apapun akan selesai di tangan Alzam. Dokter Sam, laki-laki dewasa yang selalu melindungi Qila, dan Meta wanita gemulai yang sangat penyayang tidak pernah marah terutama pada wanita. Tidak ketinggalan Mamah Mia. Mamah angkat terbaik sepanjang sejarah karena Mamah Mia selain lucu, beliau juga selalu memperhatikan makanan yang masuk kedalam perut anak-anaknya. Mamah dengan telaten selalu mengirikan makanan untuk anak-anaknya. Yah, mereka semua sudah di anggap anak oleh Mamah Mia.


Tidak hanya itu Fifah juga apabila nggak ada kerjaan di waktu siang hari sering datang kekantor untuk membantu Qila mengerjakan laporanya. Terlebih Meta sekarang sudah menjabat sebagai wakil direktur yang mana direktur seharusnya di pegang Cyra, tetapi Cyra tidak mau dan lagi-lagi jabatan itu di kalungkan keleher Meta.


Meta pun tidak lagi berpakaian wanita, seperti dulu dengan make up tebal dan bibir menor, serta bulu mata anti badainya. Meta si wanita gemulai sudah berubah penampilanya menjadi cowok yang maco. Setelan jas dan rambut pendek yang selalu tertata dengan rapih. Badan yang wangi banyak yang tidak tahu di balik penampilan yang banyak di sukai wanita-wanita itu. Dulunya adalah mantan Ben-cong.


Cyra yang mendapat pertanyaan itu opu hanya tersenyum. Apapun yang terjadi dia akan tertap pada pendirianya dia akan tetap mengunjungi Mommynya dan akan meninggalkan negara ini. Cyra ingin tahu bagaimana rasanya merawat ibu yang melahirkanya, dan juga bercerita dan tidur di samping sang ibu.


"Sesuai rencana awal sayang, aku akan tetap memilih mengurus Mommy. Tenang saja kan sekarang ada ponsel kita semua bisa gibah dalam satu wadah. Enggak usah melow-melow wong aku ajah santai ko," kekeh Cyra dengan sangat santai terlihat di wajahnya.


Padahal sama saja Cyra juga sedih harus meninggalkan sahabatnya, yang selalu ada di saat susah. Mereka bukan hanya sahabat tetapi juga keluarga.


Di saat Qila dan Cyra tengah asik bekerja sambil asik mengobrol. Tiba-tiba Fifah datang. Cyra pun heran. Padahal sudah lama mereka tidak saling sapa dan saling bertatap muka, karena memang tempat tinggal mereka yang berbeda.


"Ra, kakak mau ngobrol boleh kakak meminta waktunya?" tanya Fifah dengan sopan.


Cyra dan Qila saling bertatapan seolah saling bertanya. Qila pun mengangguk sebagai tanda bahwa sebaiknya Cyra berbicara dengan Fifah. Tidak baik juga kan bermusuhan terus.


"Ya sudah di kantin saja yah?" ucap Cyra sembari meminta agar Fifah berjalan lebih dulu.