Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Janji Cyra


"Dokter apa  menurutmu aku ini perusah hubungan orang?"  tanya Cyra, iya sangat merasa bersalah karena telah hadir ditengah-tengah hubungan Naqi dan Rania, biarpun itu semua tanpa sepengetahuan Cyra, tetapi tetap sajah rasa bersalah selalu menghantui perasaanya.


"Setau aku hubungan Naqi dan Rania memang tidak mendapatkan restu dari mamih dan kakeknya. Terutama kakek Naqi yang sangat menentang hubungan mereka, sehingga mereka berpacaran itu sembunyi-sembunyi. Yah, meskipun Naqi sudah  sering memperkenalkan Rania ke keluarganya tetapi nampaknya kakek belum ada perubahan. Kakek masih menolak merestui hubungan mereka. Sampai kakek menjodohkan kalian berdua. Karena kakek tau Naqi akan menolak makanya kakek mengancam Naqi tidak akan memberikan warisan apabila ia menolak perjodohan ini." Sam menjelaskan apa yang dia tau, agar Cyra juga tidak merasa bersalah terus. Semuanya semata-mata bukan salah Cyra maupun Naqi. Semuanya sudah menjadi takdir, dan sekarang tinggal menjalanin tadir itu dengan baik dan mencegah agar tidak ada hati yang tersakiti.


Meskipun Sam menjelaskan seperti itu tetapi belum sepenuhnya membuat hati Cyra tenang. Perasaan bersalahnya tetap ada, ia tidak ingin berada disituasi ini sehingga membuat wanita lain menangis karenanya.


"Sayang aku mohon kamu jangan nangis lagi, nanti Mamih sama Kakek tau bagaimana? Tolong jangan bikin situasi aku jadi makin sulit." mohon Naqi pada Rania. Tentu Naqi takut apabila tangisan Rania terdengar sampai ke kamar mamih dan kakeknya bisa-bisa mereka marah besar.


"Rania pun berusaha agar berhenti menangis dan tidak membuat kegaduhan di rumah Naqi.


Sam yang sudah selesai mengobati luka Cyra menghampiri Rania dan Naqi agar berbicara di dalam kamar.


"Na, Ki, kedalam ajah yu, kita ngobrol,. Jangan diluar." Sam tidak ingin membuat masalah apabila mamih dan kakek Naqi mengetahui ada Rania dan dirinya, ia malas menambah masalah baru yang justru akan makin menambah kebohongan lagi. Naqi mengikuti Sam masuk kedalam kamarnya, begitupun Rania dengan enggan mengikuti mereka masuk kedalam kamar. Sementara di dalam kamar Cyra sudah berpindah ke sova.


"Gimana kondisi kamu udah baikan?" tanya Naqi dengan suara yang sangat lembut.


"Sudah aku kasih obat pereda nyeri dan obat luka, jadi tinggal perawatanya ajah yang menentukan cepat atau lamanya proses penyembuhanya. Kalo dia banyak istirahat dan tidak banyak bergerak tentu lukanya cepat sembuh, tetapi kalo dia bekerja terus tentu lukanya nggak akan sembuh-sembuh." Sam yang mewakilkan menjawab pertanyaanNaqi.


Mereka duduk di sova cukup lama mereka diam bingung dengan topik obrolan apa yang akan mereka bahas.


"Mba Rania, aku minta maaf yah, sudah masuk kehubungan kalian. Aku berjanji apabila Mas Naqi sudah mendaptkan warisan dari kakek, aku yang akan mundur dari pernikahan ini. Mba Rania jangan takut, sebelumnya Mas Naqi sudah membertahukan tujuanya menerima pernikahan ini. Aku pun tidak keberatan apabila harus berpisah dari Mas Naqi." Cyra memulai obrolan dengan menunduk tidak berani menatap kelawan bicara ataupun lain arah.


Naqi, Sam dan Rania tentu kaget ketika Cyra tiba-tiba memulai obrolan itu, di hati Naqi ada perasaan bersalah dalam kasus ini ia yang paling merasa paling bertanggung jawab dengan kerumitan hubungan ini. Andai saat itu ia berani menolak dan tidak serakah tentu semua masalah tidak jadi begini. Rania tidak bersedih karenanya dan juga Cyra tidak merasa bersalah karena telah masuk kedalam hubunganya dengan Rania.


Sam yang saat itu duduk paling dekat dengan Cyra hanya bisa mengelus pundak Cyra, ia pun bingung mau memberika dukungan yang seperti apa agar Cyra tidak lagi bersedih, dan murung.


"Apa kata-katamu bisa aku pertanggung jawabkan? Lalu bagaimana kalo ternyata kalian malah saling jatuh cinta? Apa aku masih bisa meminta kalian untuk pisah?" cecar Rania dengan nada sinis. Bahkan untuk menatap Cyra pun Rania merasa jijik.


"Saya berjanji Mba, dihadapan Mas Naqi, dokter Sam, Dan Anda sendiri. Saya berjanji akan meninggalkan Mas Naqi apabila hari itu sudah tiba." Cyra dengan yakin mengucapkan janji itu, ia pun tidak tau kedepanya seperti apa, tetapi yang jelas dirinya tidak mau membuat wanita lain menangis karena perbuatanya.


"Kalo begitu aku pegang janjimu. Aku yang akan menagih janjimu apabila waktu itu telah tiba. Aku paling benci orang yang tidak bisa menepati janji, aku harap kamu tau diri sehingga kamu tidak akan berhianat," ucap Rania dengan nada ancaman.


"Rania jaga bicaramu, jangan sampai kamu membuat hati orang lain sakit karena ucapanmu," lirih Naqi, tetapi justru hal itu membuat Rania geram.


"Hehehe... belum apa-apa ajah kamu sudah takut kalo hati istri kamu sakit, tanpa kamu tanya hati aku sakit nggak dengan membayangkan kebersamaan kalian," cicit Rania, tidak terima ketika Naqi seolah-olah membela Cyra. Padahal Naqi memang dalam keseharianya pun selalu berkata halus ia sadar, kadang dari ucapan bisa salah paham dan menimbulkan permusuhan.


"Kamu jangan kaya gitu Na, Naqi bukan membela Cyra. Memang yang Naqi bilang ada benarya ko. Tidak hanya dengan Cyra, dengan siapa pun kamu harus menjaga bicaramu agar tidak menimbulkan sakit hati," imbuh Sam dengan nada lebih sopan.


"Kalian memang sudah kena pelet wanita ini, sehingga selalu menyudutkan ku," sungut Rania. Ia memilih keluar lebih dulu dan akan pulang tanpa Sam, sifat Rania yang keras selalu susah apabila ada orang lain yang berusaha menasehatinya.


"Ran ... Ran ...," Naqi berusaha mencegah agar Rania jangan pergi, tetapi hal itu dicegah oleh Sam.


"Biar Rania gue yang kejar, nanti kalo ada kegaduhan malah makin repot." Sam melarang Naqi untuk mengejar Rania, dengan setengah berlari Sam menuruni anak tangga. Kebetulan rumah sudah sepi sehingga tidak ada yang melihat Rania dan Sam yang main kejar-kejaran.


"Maafin Cyra yah Mas, gara-gara Cyra semua jadi kacau." Cyra bingung dengan semua ini.


"Kamu nggak salah Cyra, memang sikap Rania begitu kadang seperti anak kecil, aku pun kadang bingung dengan sifatnya. Namun aku juga terlalu mencintainya sehingga aku selalu mengalah dengan sifat dia." Naqi berusaha tidak membuat Cyra bersalah dengan kondisi ini. "Kamu lebih baik sekarang istirahat ajah, Sam barusan bilang untuk beberapa hari ini kamu harus istirahat total biar lekas sembuh."


Cyra berusaha bangun dari duduknya dan akan akan pindah ke tempat tidur, Naqi yang melihat Cyra meringis bergegas bangun dan akan membantu Cyra...


"Nggak usah Mas, biar Cyra sendiri saja," tolak Cyra dengan halus agar Naqi tidak tersinggung.


"Kamu masih sakit, nanti malah tambah parah lukanya," paksa Naqi dengan nada lebih tinggi "Cukup Rania yang keras kepala, kamu nggak usah ikut-ikut keras kepala. Bisa-bisa setres aku kalau kamu ikutan keras kepala." Naqi meraih tubuh Cyra dan membopongnya.


Cyra diam dan nurut sajah ketika Naqi melakukan itu semua. Dadanya sudah bergemuruh, terlebih wajah mereka sangat berdekatan, membuat jantung Cyra berdisko ria.


"Ya Tuhan kalo perlakuan Mas Naqi begini terus apa aku bisa menepati janji ku pada Mba Rania. Cobaanmu untuk tetap memegang janji itu memang sangat berat ya Tuhan," batin Cyra dengan memegang dadanya yang bergemuruh.


                                                                           ********************


Terima kasih buat teman-teman yang sudah berkenan mampir di novelku, jangan lupa tinggalkan jejak tekan fav, like dan komen......