
Cyra terus bercerita dengah hubunganya bersama Naqi. Mulai Naqi yang sering meminta dirinya ikut membohongi kakek dan mamihnya, agar Naqi bisa menemani kekasihnya yang tengah terbaring di rumah sakit, tentu sebelumnya Cyra juga menceritakan kondisi Rania dan sakit yang menderitnya.
Sampai Cyra yang merasa kebohonganya akan menambah masalah baru dan mulai enggan mengikuti kemauan Naqi. Meta yang mendengar pun ikut kesal dengan sikap bos besarnya itu.
Bagi Meta sikap Naqi memang sudah kelewatan. Kenapa nggak melepas dulu salah satu, misalkan memutuskan Rania dan fokus pada pernikahan Cyra agar tidak rancau seperti ini. Yang ada apabila ketahuan ia akan kehilangan semuanya. Kalo kata orang Naqi itu kemaruk, pengin semuanya langsung didapatkan.
"Terus rencana you apa cin?" tanya Meta dengan sangat perhatian.
"Aku pengin cari uang yang banyak Met, biar nanti kalo waktu itu sudah tiba aku bisa menata hidupku yang baru," ucap Cyra, hanya itu tujuanya saat ini. Sebab Cyra juga tidak tau rencana Tuhan akan seperti apa. Andai rahasianya terbongkar cepat atau lambat ia sudah mempersiapkan semuanya akan lebih mudah untuk meninggalkan kemewahan yang sesaat itu.
"Kalo gitu ayok kita kerja keras mulai sekarang! Kalo perlu kita bisnis atau membuka usaha kayak selebriti yang lain, agar makin banyak cuan yang kita dapat," balas Meta justru ialah yang lebih semangat dari pada Cyra.
Melihat semangatnya Meta, Cyra jadi lebih semangat pula untuk melanjutkan cita-citanya.
Setelah mengobrol panjang lebar, dan cacing di perut pun semakin berdemo. Akhirnya Cyra memutuskan memesan makanan dari aplikasi online yang memang disediakan untuk memesan berbagai menu makanan.
Tidak sampai lama menunggu kini makanan sudah datang, mereka pun menikmati makan bersama, tentunya bersama mamah Mia juga yang kini sudah dianggap sebagai mamahnya juga oleh Cyra.
"Ngomong-ngomong, Mas Wawan udah punya calon belum Mah?" tanya Cyra mencairakan suasana, terlebih mama Mia juga orangnya baik banget.
"Mas-Mas, panggil yang biasa ajah cin, jangan panggil Mas nggak pantes!" protes Meta sembari menoel pundak Cyra yang kebetulan duduk di sampingnya.
Cyra pun terkekekh dengan Meta yang protes ketika dipanggil Mas.
"Belum tau Ra. Lagian Wawan itu kalo di rumah nggak pernah keluar mana mau cepat-cepat dapat jodoh orang di dalam rumah terus," ucap Mamah Mia sembari melirik pada anaknya.
"Sabar Mah, ini lagi peoses nyari, nanti kalo udah ada yang cocok juga dikenalin sama Mamah," balas Meta, ketika selalu di minta membawa calon istri pasti alasanya begitu.
"Coba Nak Cyra ada kenalan kali yang bisa dikenalkan pada Wawan biar dia tidak dikira menyimpang sama tetangga," ujar Mamah Mia. Yah, menjadi kepribadian ganda seperti Meta pasti memiliki guncingan yang tidak mengenakan dari pada tetangganya. tetapi hebatnya, Meta dan mamahnya cuek dan tetap pada pendirianya bahwa Meta melakukanga hanya sebatas profesi untuk mencari nafkah.
"Hehe... Cyra juga tidak punya teman Mah, nanti kalo ada teman Cyra coba kenalin sama Meta siapa tau cocok," kekeh Cyra, sementara Meta tetap fokus dengan makananya tidak tergangu sama sekali denga obrolan mamahnya dan juga Cyra.
Setelah makan dan perutnya sudah aman Cyra pun pamit dengan Meta dan Mamah Mia.
"You kalo butuh ngobrol telpon I'm ajah cin, kalo nggak you bisa mampir kerumah I'm buat ngerupi sama Mpok Mia," ucap Meta sembari melirik ke Mamahnya.
"Mpok...Mpok... Nyak!! Dasar dia mah gitu Nyaknya ajah diakunya Mpok," protes Mamah Mia.
Cyra pun tertawa dengan kelakuan Meta yang terlihat sangat akrab dengan Mamahnya.
"Iya Mah, Met, nanti Cyra sering-sering mampir kesini. Abis rumahnya adem bikin betah ajah," puji Cyra yang memang kenyataanya demikian.
Setelah Cipika-Cipiki dan berpelukan dengan mesra Cyra pun melanjutkan perjalananya untuk pulang. Cyra takut kalo nanti malah dicari-cari kesalahanya oleh Naqi dan Kakek
****
Di dalam kamar rawat Rania...
"Nia, sekarang aku pulang dulu yah badanku sepertinya tidak enak, evek sakit perut semalam masih sangat terasa," ucap Naqi, ia sudah ingin buru-buru pulang dan yang memang merasa badanya tiba-tiba meriang.
"Hemzzz... nggak enak badan, atau pengin buru-buru ketemu sama istri kamu itu," jawab Rania dengan jutek.
"Astagah, Nia kenapa kamu ngomongnya gitu sih, selalu membawa Cyra dalam masalah kita. Padahal aku benar-benar nggak enak badan. Dari semalam aku udah tersiksa dengan badan ini dan sekarang masih belum sembuh total. Kamu malah ngomong gitu." Naqi pun justru tersulut dengan ucapan Rania.
"Abisan kamu itu kalo nemanin aku selalu ingin cepat-cepat pulang! Kayaknya nggak betah banget kalo berlama-lama dengan aku," balas Rania, semakin jutek.
Naqi tentu tidak menyangka bahwa Rania akan berkata demikian. "Harusnya kamu tau posisi aku dong Nia, aku bahkan masih menyempatkan menjenguk kamu ditengah-tengah padatnya pekerjaan aku. Dan harus kamu ketahui aku rela membohongi Kakek dan Mamih agar bisa keluar dan menjenguk kamu, Cyra bahkan sering berkorban untuk hubungan kita. Tapi apa balasan kamu? Kamu terus sajah menyalahkan dia, dan sekarang kamu menuduh aku yang engga-enggak padahal aku beneran tidak enak badan." Naqi tersulut emosinya dan berkata dengan suara meninggi.
Rania yang tidak biasa dibentak pun langsung menunduk dan terisak.
Naqi semakin kesal dengan sikap Rania, tetapi dia juga tidak tega dengan Rania yang semakin terisak dalam kesedihanya. Bisa sajah kalo moodnya buruk malah sakitnya akan lama penyembuhanya.
Naqi mencoba mengontrol emosinya dan menurunkan egonya. Ia mendekat ke Rania dan memeluknya memberikan rasa nyaman.
"Maafkan aku! Tidak seharusnya aku berucap begitu. Tapi aku juga bener-benar sedang tidak enak badan. Jadi cepat terpancing emosinya," lirih Naqi mencoba mengembalikan hubungan mereka agar tidak memanas.
"Tapi, kamu sekarang berubah sayang, semenjak kamu menikah. Kamu sering marah-marah nggak jelas sama aku. Belum kamu juga sering membela cewek itu dibanding aku. Padahal dia hanya istri pura-pura kamu, tapi kamu memperlakukan dia lebih istimewa dari pada aku. Aku cemburu sayang!" cicit Rania menumpahkan semua kekecewaanya.
"Iya maaf, aku yang salah. Mulai sekarang aku akan mengutakamakan kamu, bagi aku kamu itu segalanya. Aku melakukan itu juga agar, hubungan kita tetap aman tanpa ketahuan orang tuaku dan kakek. Kamu ngerti yah," rayu Naqi agar Rania tidak marah, dan mengizinkan Naqi pulang. Karena rasanya kepalanya sudah ingin meledak, menahan pusing.
Akhirnya Rania pun mencoba mengerti posisi kekasihnya, setelah Naqi mencoba menasihatinya, panjang lebar. Walaupun harus dengan melewati drama perdebatan yang alot.
Sebelum benar-benar pamit Naqi terlebih dulu memberikan semangat untuk kesembuhan kekasihnya dan juga salam hangatnya tidak ketinggalan peluk dan cium kening.
Adam di luar masih setia menjadi penonton dan pendengar yang baik menyaksiakan drama pasangan kekasih itu.
Begitu Naqi membuka pintu, dan menutup kembali ia hendak berjalan meninggalkan kamar rawat Rania.
Prok....
Prok...
Prok...
(Suara tepuk tangan dari Adam...)
Naqi seketika menghentikan langkahnya dan menoleh kesumber suara...
#Wah kira-kira apa yang akan terjadi lagi antar Adam dan Ayang Naqi. Othor harus sediain ring tinju nggak kira-kira yah...
Bersambung