Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Ungkapan Hati Qari


Sisa malam ini Alzam gunakan untuk berbincang-bincang dengan Cyra. Semua topik Cyra dan Alzam bahas. Sampai dengan dunia selebritis tidak luput dari pembahasan mereka, seolah tidak ada ujungnya pembahasan mereka.


Saking serungan mereka bercerita tidak terasa pagi sudah mulai menyapa. Tantri yang biasa bangun pagi pun kali ini ia sudah bangun. Tantri sangat senang ketika membuka matanya, mendengar sang kakak sudah mulai ceria dan Tantri melihat Abangnya tertawa disela-sela obrolanya dengan Cyra.


"Abang..." Tantri bangun tidur langsung memeluk Al. Setelah kemarin benar-benar hampir tidak ada semangat untuk hidup, hari ini Al sudah nampak ceria dan banyak berbicara. Semuanya karena Cyra yang memberika dorongan terus menerus pada Alzam, sehingga Alzam sangat beruntung dipertemukan dengan Cyra.


Alzam mengusap rambut adiknya yang hitam dan panjang, ia sangat tau adiknya tengah bahagia sama seperti dirinya yang bahagia karena tengah menemukan semangat baru. Terdengar isakan dari gadis kecil itu, yah pasti itu isakkan bahagia juga.


"Hai... gadis cantik dan baik nggak boleh nangis, cengeng nggak bagus," goda Alzam, agar Tantri tidak menangisinya.


"Ini tangis bahagia Abang, Tantri sangat senang akhirnya Abang bisa kembali kaya dulu lagi. Kemarin Tantri sedih karena Abang murung, Tantri sangat bingung dengan sikap Abang," ujar Tantri masih memeluk Abangnya, rasa itu yang ia takutkan semenjak kemarin, bagaimana kalo ternyata ia tidak bisa merasakan pelukan hangat itu lagi, pelukan di mana tempat ia mengadu. Namun sekarang Tantri sudah kembali menemukan sadaran, tempatnya mengadu dan berkeluh kesal.


Alzam dan Cyra pun tertawa. Cyra mengelus rambut Tantri bergantian dengan Alzam. Cyra pun merasakan bagai mana cemasnya Tantri kemarin.


Tantri bergantian menghambur pada pelukan Cyra. "Terima kasih Kaka, berkat Kaka kini Abang sudah kembali ceria. Tantri sangat berterima kasih dengan Kakak," ucap Tantri dengan sangat tulus.


"Sama-sama sayang. Itu semua karena memang Abang kamu itu hebat. Dia sangat kuat, katanya ada adik manisnya yang mendorong dia untuk tetap kuat. Kalian tetap saling menguatkan yah." Cyra menghibur Tantri agar terus bersemangat.


"Ah baik Ka, Tantri pasti selalu memberikan semangat pada Abang."


Setelah itu Tantri dan Cyra pun menjalankan kewajibanya sebgai seorang muslim. Sedangkan Naqi masih terbuai dengan mimpinya.


Cyra sengaja tidak membangunkanya karena kasihan pasti masih cape.


Di rumah keluarga Ralf...


Qari hari ini bangun lebih awal dan meminta para maid untuk memasak yang banyak karena ia akan membawakan sarapan untuk Naqi, kakak ipar dan juga Tantri. Ia tidak mau mereka kelaparan. Pagi hari setelah sarapan selesai Tantri langsung jalan dan lebih dulu ke kantor untuk membawa kerjaanya pada rumah sakit, selanjutnya melajukan kendaraanya ke rumah sakit 'Menuju Sehat' Qari hari ini sangat berbeda.


Kakek dan Mamih yang melihat Qari pun bingung. Apalagi tuh anak bisa bangun lebih pagi, suatu kemajuan yang sangat besar. Biasanya ajah orang lain sudah pada siap di meja makan, dia baru akan bangun, dan itu pun dibangunkan oleh maid di rumah ini.


"Pah, ada yang aneh nggak sih liat Qari?" Mamih sangat herat melihat Qari pagi ini.


"Papah pun lihatnya begitu, dia sangat aneh. Apa janggan-jangan dia itu menyukai Alzam?" Kakek tentu sama bingung dengan Mamih.


"Nah kalo Qari suka sama Alzam gimana tuh Pah?" Mamih ingin melihat reaksi Papah mertuanya.


"Kalo Papah mah wajar-wajar sajah tuh anak naksir Alzam. Itu semua memang karena Alzam juga baik dan pengertian. Tapi kembali lagi, harus dicari tahu sukanya Qari karena kasian atau memang karena ia benar-benar suka sungguhan." ucap Kakek dengan serius.


"Jadi, Papah kalo Qari benar-benar suka dengan Alzam, Papah akan setuju?" tanya Mamih dengan serius.


"Kenapa tidak Nita, kalo memang Alzam bisa merubah Qari itu lebih baik. Kamu tau kan anak kamu yang satu itu terlalu unik, tapi Papah liat semenjak kemarin ada perubahanya. Berati secara tidak sangsung Alzam bisa membuat Qari berubah. Jadi kita tidak harus susah-susah cari jodoh yang bisa ngertiin dia. Biar dia sendiri yang memeilih." Kakek lebih santai dengan jodoh Qari, berbeda dengan Naqi. Kakek lebih ikut campur soal jodoh dengan anak itu.


Qari berjalan dengan setengah berlari. Di tangan sebelah kananya membawa tas bekal makanan buat Naqi dan yang lainya, di tangan sebelah kiri membawa map laporan yang satu gunung tingginya.


Qari berusaha sekuat tenaga membuka pintu kamar Alzam.


"Astagah, Bang loe belum bangun enak banget si Kebo jam segini belum bangun," pekik Qari.


Qari melihat ke ranjang pasien di mana ia melihat Cyra, Tantri dan Alzam tengah bercengkrama dengan akrab. Terlihat juga kebahagiaan di diri Alzam. Senyum lebar tersungging di wajahnya membuat Qari panas. Kenapa Alzan bisa tertawa lebar dengan orang lain tapi dengan dirinya seolah ketakutan dan tidak pernah senyum walau pun samar, Qari bentar-bentar marah.


"Cuih... kalo sama gue ajah tuh wajah ditekuk terus kaya tumpukan pakeian dalam lemari. Sama orang lain mah ketawa ngakak," batin Qari dengan menatap tajam pada Cyra, Tanti dan Alzam. Mereka bahkan tidak menoleh pada Qari hal itu karena Cyra dan Alzam tengah bercerita hal yang seru. Cyra dan yang lainya tahu kalo Qari sudah datang, tetapi mereka menyangka kalo Qari tidak akan terganggu dengan obrolan mereka, sebab kalo mau diajak gabung juga pasti Qari menolak.


"Zam, Tantri aku mau bangunin Mas Naqi dulu yah dia harus bangun, kan harus kerja juga, mana Qari udah datang." Cyra beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Naqi yang masih tidur di atas sofa.


Qari memainkan bibirnya untuk mengikuti ucapan Cyra tetapi tidak menimbulkan bunyi yah ia memainkan bibirnya dengan fersi mengejek.


Qari bergantian duduk di kursi yang barusan ditempati oleh Cyra. Sementara Tantri membereskan makanan yang Qari bawa untuk sarapan. Itu memang Qari yang minta, agar ia bisa bergantian ngobrol dengan Alzam.


"Seneng banget yah kalo ngobrol sama Kaka Ipar," sindir Qari dengan melirik pada Cyra.


"Iya, abisan Cyra itu seru lucu dan banyak kasih motifasi sama aku." Alzam justru membela Cyra di depan Qari. Sontak sajah Qari langsung marah dan moodnya hilang seketika. Sedangkan Alzam yang tidak menau dengan maksud Qari, ia tetap cuek dan menganggap Qari adalah atasanya.


"Al..." Qari memanggil Alzam, tetapi bingung mau ngobrol apa!


"Iya Nona," jawab Alzam tidak meninggalkan panggilan formalnya.


"Jangan pangil Nona lagi!" balas Qari dengan wajah jutek. Alzam tidak langsung menyetujui permintaan Qari, melainkan justru menatap dengan bingung Qari.


"Kenapa natapnya kaya gitu? Apa kamu tidak mau kita memperbaiki hubungan kita?" tanya Qari dengan serius.


"Hubungan yang mana No... Qari?" tanya Alzam sangat heran dengan Qari.


"Hubungan kita, aku mau minta maaf sama kamu. Dan aku mau kamu nikahi aku!" Qari menggigit bibir bawahnya dengan kuat, entah lah bibirnya keseleo atau apa, kenapa dia bisa bicara seperti itu. Namun dalam batin Qari ia benar-benar pengin jadi pelindung buat Alzam. Mungkin kesanya lucu dan terbalik masa perempaun yang melindungi laki-laki, tetapi itu yang memang sejak kemarin ada dalam fikiranya. Hari ini ia bisa mengungkapkanya setidaknya Qari bisa lega.


...****************...


Hai... Othor mau rekomendasiin karya baru dari ka El putri, kalian wajib mampir yah, ceritanya pasti seru. Jangan lupa tekan Fav, like dan komen yah jangan lupa juga bawa bunga yang banyak....