Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Bangkit dan Harus Kuat


Sayang, Rania itu masa lalu Naqi. Mereka sudah tidak ada hubungan apapun. Bahkan Naqi sekarang sedang belajar mencintai kamu. Mamih harap kamu sabar dan menunggu cinta Naqi. Mamih yakin perjuanganmu nggak akan sia-sia." Mamih menjelaskan panjang lebar dan menguatkan Cyra agar tidak lemah, serta mengelus punggung menantunya dengan lembut.


"Iya Mih, Cyra tau kok, dan Cyra nggak marah dengan Mas Naqi. Cyra hanya cape ingin istirahat itu sajah," balas Cyra sesopan mungkin. Ngga munkin juga Cyra bilang yang sejujurnya bahwa pernikahan dirinya dan Naqi hanya pernikahan diatas kertas. Agar Naqi yang tidak kehilangan hak waris dari kakenya.


"Ya sudah kalo kamu ingin istirahat Mamih keluar dulu." Mamih meninggalkan menantunya seorang diri di dalam kamar, agar bisa beristirahat.


"Benar kata Mas Naqi aku harus kuat, aku harus berhasil agar aku bisa hidup dengan baik ketika aku benar-benar berpisah dari Mas Naqi. Aku harus kuat kehidupanku pasti kedepanya akan lebih indah kalo aku benar-benar menjadi orang yang sukses," batin Cyra menguatkan dirinya sendiri


Cyra lalu menghubungi Meta, ia menanyakan pekerjaan.


"Pagi menjelang siang cin," sapa Meta dari balik telefon dengan nada gemulainya.


"Pagi Met, gimana ada kerjaan lagi nggak Met, aku lagi butuh uang banyak. Butuh kerjaan Met," ucap Cyra secara langsung.


"Butu uang buat apa you, nanti yah kalo ada I'm hubungi you, pokoknya you jangan khawatir, pasti you bisa berhasil dimodel ini. Jadi you siap-siap sajah badan dan setamina yang bagus. Agar pas kerjaan banyak you nggak drop." Meta memberi nasihat pada Cyra agar Cyra menjaga stemina tubuhnya.


"Iya Met, saya akan menjaga tubuh saya biar tidak mudah sakit." Cyra dan Meta pun memutus sambungan teleponya, dan Cyra kembali menata hatinya, dia harus benar-benar membatasi hatinya dari Naqi agar tidak kecewa dikemudian hari. "Hubunganku sama Mas Naqi hanya kerja sama, ingat itu Cyra," Cyra selalu menyadarkan posisinya.


****


Di rungan Naqi...


"Hallo Sam, gimana hasilnya Rania sudah keluar," tanya Naqi, ketika menghubungi Sam lewat sambungan telepon.


"Udah, Qi. Barusan jam delapan, jawab Sam, ia disebrang telepon dilanda kegundahan antara membicarakan hasil pemeriksaan Rania dengan jujur atau mengikuti Kemauan Rania, kalo dia tidak mau Naqi dikasih tau dulu dengan hasil pemeriksaanya.


"Loh udah keluar dari tadi, ko loe belum kasih kabar sama gue. Kan gue tadi udah bilang kalo hasilnya sudah keluar kamu buru-buru kabarin gue." Naqi kecewa dengan Sam yang malah abai dengan pesannya.


"Iya sorry, tadinya gue mau ngabarin loe pas ketemu langsung taunya loe malah telpon." Sam beralasan agar Naqi tidak marah lagi.


"Ya, udah gimana hasilnya?" cecar Naqi sudah tidak sabar dengan hasil pemeriksaan Rania.


"Baiknya kita obrolkan nanti waktu ketemu sajah Qi, soalnya kita harus ada yang dibahas mengenai sakit Rania jadi tidak enak kalo dibicarakan lewat telepon," ujar Sam lirih takut Rani mendengar obrolanya dengan Naqi. Sekarang kondisi Rania sudah mulai setabil, dan sedikit sudah menerima penjelasan dari Sam, hanya Rania masih belum banyak berbicara. Syok dan kaget dengan hasil pemeriksaanya membuat ia menjadi murung.


Rania terlalu parno dan langsung berkecil hati serta terlalu horor ketika mendengan istilah tumor/kangker yang bersarang ditubuhnya.


"Loh, kok loe ngomongnya mencurigakan sekali Sam, memang apa hasil dari pemeriksaan Rania. Kenapa gue jadi berfirasat buruk dengan kesehatanya?" cecar Naqi dengan nada semakin bergetar.


"Nanti pulang kerja langsung mampir keruangan gue, ada yang ingin dibicarakan juga, tapi loe jangan bilang apa-apa dengan Rania. loe bersikap biasa sajah dengan dia." Sam memberikan arahan dengan Naqi agar ia keceplosan sama Rania.


"Baiklah nanti begitu gue pulang kerja gue akan menemui loe, rasanya gue tidak sabar berita apa yang ingin loe sampaikan dengan gue."


Naqi memutus sambungan teleponya dan kembali melanjutkan pekerjaanya. "Empat jam lagi menunjukan kepulanganya dari rutinitas kantornya. Namun, rasanya lama sekali ketika menunggu jam pulang kerja itu," gerutu Naqi. Kerja pun menjadi tidak semangat dan tidak bergairah rasanya ingin sekali buru-buru pulang dan menemui Sam.


Semua hasil foto dan iklan yang berbentuk vidio Naqi cek dengan sangat teliti. Biarpun fikianya tengah kacau dengan hasil pemeriksaan Rania, tetapi Naqi mencoba tetap fokus dengan semua pekerjaanya.



Naqi terpanah ketika melihat hasil foto terakhir yang sangat ia kenal. Yah, hasil foto Cyra.


"Kenapa ia kalo dipoles itu terlihat cantik sekali sih." Naqi terus menatap hasil foto Cyra. Entah kenapa semakin kesini ia suka dengan gaya Cyra, menurut penilaian Naqi Cyra makin terlihat aura bintangnya.


"Ah mudah-mudahan dia bisa sukses dengan jalan ini." Naqi berdoa terbaik untuk Cyra


Pukul empat Naqi bergegas pulang. "Zam, kamu urus kerjaan yang belum selesai yah, aku ada urusan," ucap Naqi sembari berlalu begitu sajah.


Alzam hanya menggeleng melihat kelakuan bosnya. Sementara Naqi langsung menancap gasnya menuju rumah sakit tempat Rania di rawat di mana rumah sakit itu pula tempat Sam bekerja.


Dengan langkah lebar Naqi menuju ruangan Sam. Tanpa mengetuk Naqi langsung sajah masuk kedalam ruangan dan kebetulan Sam juga sudah selesai praktik.


"Gimana hasilnya, gue sudah nggak sabar ingin mengetahui hasil dari permeriksaan Rania," Beo Naqi ketika baru masuk ruangan Sam, bahkan tidak duduk dulu.


"Tapi loe harus merahasiakan dulu dari Rania, sebab dia tidak mau loe mengetahui hasilnya lalu loe bersimpati dengan dia atau bahkan loe meninggalkan dia," ucap Sam menyampaikan kegamangan Rania.


"Mana pernah gue bisa ninggalin dia, gue itu sudah cinta sama Rania bahkan semua cara gue lakukan agar gue bisa bersama dengan dia. Masa gara-gara sakit gue ninggalin dia. Ini konyol," cicit Naqi.


"Itu cuma kecemasan Nia ajah Qi, makanya kamu harus nguatin dia." Sam menjelaskan agar Naqi tidak salah paham.


"Iya makanya buruan apa sakit Rania. Gue udah nggak sabar dengernya." Naqi makin kepancing kesabaranya karena Sam yang dikira kebanyakan ngomong .


"Rania kena tumor Rahim."


Naqi termenung mendengar jawaban Sam. Tentu Naqi tau resiko sakit yang Rania derita. Ini bukan sakit yang biasa.


"Kondisinya giman sekarang?" tanya Naqi dengan lesu.


"Belum terlalu buruk, sehingga apabila dilakukan oprasi masih ada kemungkinan untuk semua sembuh.


"Oprasi gimana bisa loe jelaskan dengan rinci," pinta Naqi tidak sabar dengan penjelasan dari Sam.


"Sam menarik nafas dalam, dan ia bersiap akan menjelaskan semua kemungkinan penanganan yang akan dokter lakukan untuk mengangkat sel tumor yang ada di ramih Rania."


Bersambung


...****************...