
Adam dan Naqi pun menghentikan segera perkelahian mereka meskipun sebenarnya baik Adam maupun Naqi masih sama-sama terbakar kemaran. Terlebih Naqi yang merasa Adam itu dari dulu ikut campur mengurusi rumah tangganya. Belum sekarang dia menyerang menggunakan Rania. Makin jadi lah Naqi emosi sama Adam.
Naqi duduk menjauh dari Adam dirinya menemui Sam saja tidak ada kejelasan. Sekarang Adam membuat masalah lagi.
"Ada yang penting Dam kesini?" tanya Sam mengabaikan Naqi yang masih memburu emosinya.
"Tadinya mau ngobrol masalah pasien aku yang udah cukup lama nggak priksa dan ketika datang kesini sakitnya makin parah menurut loe ambil penangananya gimana, secara loe tau dengan pasien itu," ujar Adam tetapi pandanganya tetap ke Naqi. Adam ingin tahu reaksi Naqi bagai mana kalo tahu pasien itu Rania. Apa dia masih peduli atau udah masa bodo dengan kesehatan Rania. Yang Adam kira Rania sudah memiliki kekasih baru dan meninggalkan Naqi demi kekasih barunya yang lebih tua.
"Ada rekam medisnya?" tanya Sam dengan mengulur tanganya meminta map yang Adam bawa, dan sedetik kemudian Adam mengulurkan map yang ia bawa itu. Dengan serius Sam membaca rekam medis pasien yang Adam maksud.
"Qi sini deh!" Sam meminta agar Naqi mendekat kearah dia.
Dengan malas Naqi mendekat kearah Sam, "Kenapa sih, nggak tau pipi gue lagi pegel, gara-gara baji-ngan ini," ucap Naqi sembari melirik ke arah Adam ketika melewatinya.
"Baca!" Sam menyodorkan rekam medis Rania.
Naqi mengikuti apa yang Sam katakan dia membaca perintah Sam. Membaca rekam medis yang ada di map, tetapi yang ia paham hanya nama Rania. "Apaan sih, mana gue tau yang beginian. Kalo laporan keuangan biar bertriliun gue tau kalo kaya gini mana gue ngerti, PA. Mana tulisan bagus banget kaya cakar ayam. Malahan bagusan cakar ayam," oceh Naqi meminta Sam menjelaskan apa yang di maksud dari map itu.
"Kondisi Rania semakin parah, jalan satu-satunya oprasi dan paling aman oprasi pengangkatan rahim. Soalnya kalo hanya pengangkatan tumornya sepertinya akan tubuh lagi," ucap Sam menjelaskan dari laporan yang ia baca.
"Sebenarnya angkat tumor ajah masih aman Sam, asalkan Rania mau mengikuti saran dari gue kalo dia lanjutkan dengan kemoterapi. Kemarin sebenarnya dia waktu ngikutin saran dari gue sudah jauh baik perkembanganya, tapi gara-gara nih laki nggak bisa ngurusnya Rania jadi kambuh lagi dan sekarang makin parah. Setelah parah dia tinggal begitu sajah dengan pacar barunya," sela Adam yang masih emosi dengan Naqi. Andai semuanya nggak saling egois mungkin Rania kondisinya masih sehat dan setidaknya tidak seburuk saat ini.
"Terus ajah Dam loe salahin gue. Asal loe tau ketika Rania telpon gue malam-malam itu kondisinya udah buruk, dan asal loe tau siangnya loe dan dia pergi ketemu keluarga loe kan? dan keluarga loe nolak dia dan mengatai dia dengan kata-kata yang melukai dia. Dari kejadian itu dia sakit sakitan dan loe nggak ada disamping dia. Gue emang salah Dam pergi dengan dia, tetapi gue cuma kasiam dengan dia yang saat itu nggak ada siapa-siapa dan keluarga loe juga nambah beban fikiran Rania." Naqi langsung memberikan pembelaan, enak saja Adam menilai dia tidak bisa merawat Rania. Sedangkan dia saja membujuk dengan susah payah agar Rania mau berobat. Agar Rania mau semangat menjalani pengobatanya. Tidak mudah bagi Naqi membujuk Rania agar mau betobat, karena semangat hidupnya yang sudah tidak ada.
Adam mendengar omongan Naqi diam saja. Memang saat itu Rania pergi ketika dirinya coba meyakinkan orang tuanya. Sehingga Adam tidak tahu ucapan orang tuanga yang bagian mana yang melukai Rania.
"Udah jangan di bahas lagi kenapa, udah kalian damai toh semuanya sudah berlalu. Kamu Naqi jangan cari gara-gara lagi, dan kamu Dam jangan nyalahi Naqi nggak bisa ngerawat Rania. Memang kenyataanya Rania sebelum pergi dengan Naqi kondisinya udah lumayan parah ditambah Rania tidak mau berobat dengan kamu, karena masalah orang tua kamu. Jadi kalo bisa kita fokus kepenyembuhan Rania tanpa saling menjatuhkan, dan menyalahkan. Karena Rania juga butuh dukungan. Terutama dari kamu Qi, selaku adiknya. Pasti dia merasa bersalah karena hubungan rumah tangga kalian hancur karena dia. Tetap malah kenyataanya kalian saudara, itu pasti menambah beban fikiran dia banget sih." Sam mencoba bersikap bijak, dia paling nggak suka yang melihat saling merasa bahwa dirinya paling benar dan berakhir di perkelahian.
Adam nampak kaget dengar kabar yang di sampaikan Sam, bahwa Naqi dan Rania sodara. "Apa maksud kamu Sam, kenapa kamu bilang Naqi dan Rania sodara?" tanya Adam dengan bingung.
*****
Di ruang rawat Rania...
Dari pertama Rania menempati kembali kamar yang dulu pernah ia tinggalkan dengan perasaan bahagia karena sudah sembuh, tetapi kali ini Rania balik lagi dengan kondisi yang lebih parah. Cukup lama Rania dan Luson tidak terlibat obrolan apapun. Rania benar-benar menjadi pendiam tidak lagi menyalahkan siap pun, dia lebih banyak dia dan tidak mengeluh.
"Nia menurut kamu keputusan papih bagaimana? Papih takut salah mengambil keputusan," tanya Luson memecah kesunyian diantara dirinya dan putri sulungnya.
Rania menoleh kearah Luson setelah lama ia memunggunginya dan Rania lebih memilih menatap jendela kamar. Menatap burung-burung yang saling berterbangan.
"Apa yang di putuskan oleh Papih sudah benar. Papih tidak usah merasa takut dengan semua keputusan itu karena papih tidak salah," jawab Rania dengan senyum samar di wajahnya.
"Syukur lah papih hanya takut kamu akan marah, karena papih tidak berdiskusi dulu dengan keputusan papih. Papih tidak mau meninggalkan kamu lagi. Sudah cukup papih kehilangan ibu kamu, sekarang papih ingin memperbaiki hubungan kita. Hubungan ayah dan anak yang telah terputus karena kesalahan papih, tapi papih janji papih tidak akan meninggalkan kamu lagi, apapun kondisi kamu. Papih akan selalu ada di samping kamu." Luson berkata dengan menatap Rania dengan dalam.
"Terima kasih Pih, tapi papih jangan terlalu memperdulikan Nia. Ingat anak Papih bukan hanya Nia, ada Qari dan Naqi. Mereka juga membutuhkan kasih sayang Papih jangan sampai mereka merasa kalo papih itu pilih kasih. Papih tidak bisa menjadi papih yang baik buat mereka dan nantinya mereka iri dengan Nia. Aku nggak mau nambah fikiran lagi pih. Aku ingin tenang tidak ada lagi masalah yang aku sebabkan. Aku lelah Pih setiap yang aku perbuat selalu menjadi biang masalah," lirih Rania sembari mengusap sudut matanya yang sudah mulai basah.
"Tidak Nia, kamu tidak salah, hanya takdir yang membuat kamu berada di posisi ini. Kamu jangan berfikir seperti itu, kamu harus berfikir positif fokus kesembuhanmu, kamu harus kuat menjalani ujian ini semua. Kamu pasti bisa." Luson merasa perih ketika putrinya berkata seperti itu, menyalahkan dirinya dari setiap kejadian.
"Nia akan berusaha semampu Nia, Nia sudah pasrah dengan semua keputusan yang papih ambil karena semua yang di jalani ujungnya juga akan bermuara pada kematian, sehingga Nia rasa tidak perlu mempertimbangkan apapun itu, cukup ikuti kata dokter, itu sudah pilihan paling tepat," rancau Rania yang benar-benar sudah pasrah dengan dirinya.
"Nia kamu ngomong apa sih kenapa kamu berkata begitu, kamu harus semangat untuk sembuh. Papih tidak mau tahu, kamu harus sembuh, dan kamu nggak boleh berputus asa seperti itu." Luson berkata dengan nada bicara yang lebih tinggi.
Sementara Rania hanya membalas dengan senyum samar.
...****************...