Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Meta Biang Kerok


Naqi melangkahkan kakinya dengan tegas, meninggalkan Luson yang masih meringis karena perbuatanya. Lagian luka yang Naqi tinggalkan masih tergolong sangat ringan, tidak akan menyebabkan laki-laki itu sampai mati. Itu yang Naqi fikir, kalau pun luka bukankah masih bisa pergi ke rumah sakit dan mengobatinya, atau meminta bantuan Rania, bukankah itu anak kesayanganya. Perlakuanya yang terlalu mencolok membuat siapa saja tahu bahwa Rania memang anak kesayangan luson.


Untung kamar di setiap rumah itu kedap suara, sehingga tidak mendengar apa yang terjadi di ruangan keluarga. Paling para pembantu di rumah itu yang tahu, tetapi tanpa diminta mereka akan tutup mulut dengan apa yang terjadi di keluarganya.


Mobil mewah membelah jalanan ibu kota yang mulai sepi. "Kira-kira kemana Qari yah?" batin Naqi. Mobilnya sudah ia palkirkan di jalan yang cukup sepi, ia mencoba menghubungi nomer milik Qari meskipun ia tahu bahwa nomor itu masih belum aktif.


"Aduh Qari... Kamu itu kebiasaan banget sih, kalo ngambek ponsel di matiin," desis Naqi sembari memukul setir mobilnya.


*****


Cyra yang tengah tertidur mendengar ponselnya berdering. Dengan mata setengah terpejam Cyra mengangkat telponya.


"Ra, maaf aku ganggu tengah malam begini. Aku cuma mau tanya kamu ada dihubungi Qari atau malah anak nakal itu ada di rumah kamu?" tanya Naqi dengan suara pelan, ia bingung mau mencari kemana lagi, sementara menurut penilaian Naqi, Qari dekat dengan Cyra, sehingga ada kemungkinan adiknya pergi ke rumah Cyra. Maka dari itu Naqi memberanikan diri menghubungi Cyra.


"Hah... Qari? Dia tidak ada hubungi aku dan kayaknya dia juga tidak ada kesini, tapi nanti coba aku cek ke kamar Qila. Mungkin saja dia datang dan tidur di kamar Qila," ucap Cyra, rasa ngantuknya langsung lenyap.


Cyra berjalan menuju kamar Qila dan di sana nampak sahabatnya tengah tidur pulas tanpa ada Qari di sampingnya.


"Mas, Qari enggak ada di sini. Emang ada masalah apa? Dan Sekarang Mas di mana?" tanya Cyra dengan berondongan pertanyaan. Dia juga jadi kefikiran dengan Qari.


"Aku lagi di jalan deket rumah kamu, entah aku mau cari Qari kemana lagi, nomernya enggak aktif dan ini udah larut aku takut terjadi apa-apa sama anak itu," ucap Naqi, dan memang benar Naqi sedang berada di dekat rumah Cyra dan tengah mencari Qari mungkin saja mobilnya ada teronggok di pinggir jalan dengan pengemudinya tengah menangis tersedu-sedu.


"Kalo gitu Cyra ikut cari Qari boleh enggak?" tanya Cyra ragu, takutnya Naqi menolak.


"Apa malah nanti tidak merepotkan kamu Ra?" tanya Naqi, merasa bersalah sih, karena takut merepotkan Cyra, tetapi dalam hatinya ia berbunga-bunga karena bisa sekalian PD kate, alias kencan tipis-tipis.


"Enggak atuh Mas, lagian Qari sudah Cyra anggap adik sendiri kok," jawab Cyra sebelum menutup sambungan teleponya, dan ia mulai bersiap berganti pakaian dan ikut mencari Qari bersama mantan suaminya.


Naqi berjingkrak gembira. "Qari kamu memang adik terhebatku setidaknya ada hikmah di balik kejadian ini, hikmanya aku dekat lagi dengan my baby Cyra," oceh Naqi di dalam mobilnya. Lalu ia pun melajukan kembali mobilnya menuju rumah sang pujaan hati. Berhubung Naqi berada tidak jauh dari rumah Cyra, sehingga ia pun hanya membutuhkan waktu lima belas menit sudah sampai di rumah asri itu.


Cyra sebelumnya sudah izin dengan momy yang memang mereka selalu tidur bersama, Cyra yang meminta kalo mereka tidur bersama setiap malam, untuk mengobati kangennya tidur di bawah pelukan ibunya, sembilan belas tahu perpisahan mereka.


Cyra menuruni anak tangga dengan mengendap-endap. "Ehem... Ehem... Meta yang memang malam-malam begini baru menyelesaikan tugasnya dan kehausan pun langsung menuju ke dapur guna mengambil minum, tetapi justru melihat Cyra yang tengah mengenendap-endap seperti seorang maling.


"Ketahuan... Mau ngapain sama N 4 QI?" tanya Meta. Kepo, ingin Cyra menarik handuk yang menutupi bagian bawahnya, kebiasaan banget tiap hari selalu handukan terus sampe Cyra penasaran apa Meta enggak pernah memberi kakanya libur barang sehari saja. Padahal tanpa Cyra tahu bahwa Fifah lah yang selalu minta untuk di lemburin.


"Cari Qari, dia kabur," jawab Cyra seadanya, biar Meta enggak kepo lagi.


"Kabur kemana?" tanya Meta, justru dia semakin kepo dengan urusan Cyra.


"Kalo tahu kabur kemana, itu mah tidak perlu di cari Aa Wawan, tinggal di jemput ajah udah aman," jawab Cyra makin gemas dengan Meta kepo tapi PA.


"Tunggu-tunggu aku ikut cari Qari," ucap Meta, dia pun segera berlari ke kamarnya sembari berlari memegangi handuknya agar tidak terlepas. Bahaya kalo lepas nanti Cyra tahu ukuran burung kesayangan Fifah. Hahaha canda burung....


"Loh, Met jangan lama-lama nanti Qari keburu terbang," ucap Cyra agar Meta tidak lama-lama.


Tidak lama pun Meta keluar dengan kaos yang masih berusaha ia pake. "Lagian segala pake baju. Udah ajah kaya tadi pake handuk kan keren," ucap Cyra sembari terkekeh, membayangkan Meta kemana-mana pake handuk di lilit di pinggangnya.


"Otaknya di kondisikan Non, me-sum ajah," sungut Meta, terlebih ketika Cyra tertawa terbahak-bahak dan itu tandanya Cyra fikiranya sedang kotor.


"Bukan mesum Met, tapi lucu ajah kalo kamu pake handuk gitu, malah lebih lucu dari Mesy," bela Cyra, enak ajah di bilang mesum bahkan dia hampir satu tahun nikah sama Naqi masih bisa menahan diri. Eh... kelewat, pernah dalam tahap pencobaan tetapi gagal gara-gara Rania si pelakor menelepon dan gagal deh semuanga. Jadi kalo ukuran-ukuran udah bisa membandingkan lah yah Ra.


Naqi yang awalnya senang akan jalan dengan Cyra pun terkejut ketika ia malah melihat Cyra berjalan bersama Meta. "Aduh, kenapa Meta ikut, alamat gagal kencan tipis-tipis ini mah," rutuk Naqi dalam hatinya. Mana si Meta sekarang songongnya tingkat istana negara, pokoknya tidak ada tandinganya.


Naqi menelan ludah kasar ketika Meta dan Cyra semakin mendekat. "Kenapa naik satu mobil lagi, bukanya Meta ada mobil? Kenapa enggak pake mobil masing-masing ajah sih," Naqi lagi-lagi mengumpat Meta, semakin menyebalkan memang si Meta, kaya enggak pernah jatuh cinta aja, segala ganggu-ganggu orang mau kencan tipis-tipis ini.


"Eh... Eh... Tidak-tidak! You di belakang (gaya gemulai keluar lagi) I'm yang di depan jaga you sama nih predator," ucap Meta sembari jari telunjukanya menunjuk-nunjuk ke Naqi, dengan gemulai.


Cyra yang awalnya mau duduk di depan pun jadi pindah ke kursi penumpang di belakang.


Sementara Naqi tidak henti-hentinya mengumpat Meta di dalam hatinya. "Bener-bener ini Mak tiri, awas ajah nanti kalo gue udah bener-bener nikah sama Cyra lagi. Gue bales loe berkali-kali lipat," umpat Naqi dalam hatinya dengan bergondok di lehernya. "Apa-apaan coba mau kencan malah Cyra jadi obat nyamuk di belakang, memang emak satu ini ngajak perang," imbuh Naqi, terus mengumpat Meta yang tidak ada perikebucinannya


#Hiburan dulu bestie, lemesin biar enggak erosi...