
Begitu mendengar ucapan Meta, Cyra pun kembali merebahkan tubuhnya dan menutup tubuh polosnya dengan selimut tebal, karena tentu Cyra juga takut kalo ada syetan lewat dan membuat Meta khilaf.
"Siapa yang lakuin ini semua cin?" Meta mengulang pertanyaanya.
"Naqi Met..." Cyra akan menceritakan kronologi ia ditinggalkan oleh Naqi tetapi tenggorokanya seolah tercekik.
"What Naqi? Naqi itu kan laki you cin. Bukanya dia selalu romantis sama you. I'm saja baper loh liat tuh Bos besar selalu memperlakukan you dengan romantis. Kenapa you malah nangis di unboxing sama laki you. Harusnya bahagia cin, ingat surga jaminanya kalo you melayani laki you dengan ikhlas." Meta berusaha menasihati Cyra, ia kira Cyra menangis karena Naqi telah mengambil kegadisa Cyra pasti, makanya dengerin dulu kelanjutanya Met...
"Hihihi... dengar dulu Met, aku menangis bukan karena Naqi sudah unboxing aku, tapi karena Naqi justru nggak jadi melakukan itu hihihi..." Cyra kembali menangis.
"You ngomong apa sih cin, aku pusing jadinya, kenapa dia nggak jadi unboxing you, tapi kenapa you nangis, harusnya seneng apa sedih sih kalo kaya gitu cin?" Meta ikut pusing dengan penuturan Cyra.
"Naqi pergi ninggalin aku, buat nemuin kekasihnya, Met, ketika kita mau hihihi..."Cyra kembali sedih.
"Astagah tuh Bos besar kelakuan nggak ada berubah-berubahnya udah punya bini juga. Masih juga ngamperin cem-cemanya heran I'm mah. Lagian tuh cewek kegatelan banget ngejar laki orang mulu. Emang nggak ada laki lain lagi apa? Laki orang dia embat juga, nggak takut karma apah?" Meta mengumpat Naqi dan Rania, sembari berdiri mondar mandir, bak setrikaan.
Cyra hanya termenung, entah dia setelah ini harus bagaimana lagi. Apakah harus ia menutupi kelakuan suaminya, atau memberi tahukan saja pada Kakek. Pasalnya Cyra kali ini sudah menyerah. Dulu ketika ia disiksa fisiknya oleh Papahnya tidak sesakit ini, tetapi sekarang justru ketika dipermainkan oleh Naqi hatinya benar-benar sakit, Mungkin andai bisa berkata. Hatiya telah menyerah dan tidak mau lagi mengenal cinta.
"Udah cin, you nggak usah nangisin tuh laki lagi. You tetap fokus kerja ajah, biar bikin tuh laki nyesel udah nyia-nyiain you. Enak ajah dia bentar sama tuh nenek sihir, bentar sama you. Mau main cerita poligami. No... no... no...I'm nggak setuju anak I'm dia mainin." Meta akan pasang badan apabila Naqi kembali pada Cyra, baginya Cyra sudah ia anggap sebagai anak kesayanganya. Bukan karena kehadiran Cyra yang membawakan rezeki yang berlimpah untuk dia, sehingga keinginanya sedikit-sedikit terpenuhi, tetapi juga karena memang Cyra anaknya yang humble, asik dan selalu ceria. Membuat Meta akan melindungi Cyra, di barisan paling depan.
"Terima kasih yah Met, untung ada kamu kalo tidak aku masih nangis kaya orang gila. Ternyata sakit banget Met, ketika kita mencintai orang, tapi orang itu justru memilih orang lain. Lebih sakitnya dia meminta kita mencintainya, tapi dia yang melepas kita. Rasanya seluruh tubuh dikuliti secara bersamaan. Perih, pegal, dan semua rasa ada.
"Iya, I'm tau apa yang you rasain. Lebih baik you pakai tuh baju, udah kayak bayi ajah main buka-bukaan. Pake baju terus tidur biar sebentar yang penting ada waktu istirahatnya. Jangan sampe gara-gara tuh laki you sakit." Meta memang sudah sangat mirip seperti emaknya Cyra bawel tapi semuanya ia lakuin karena sayang.
Cyra pun mengangguk ia menggulung tubuhnya dengan selimut dan memunguti pakaianya lalu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk kembali mengenakan bajunya.
Selanjutnya Cyra merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya untuk istirahat satu atau dua jam agar badanya tidak sakit, sedangkan Meta pun kembali ikut tidur, tapi ia memilih tidur di sofa. Meta memang sangat ngehargai wanita, sehingga ia akan marah apabila ada yang mempermainkan wanita.
Suara bising alarm membangunkan Meta dan Cyra.
"Cin you mau pulang dulu atau langsung kerja?" tanya Meta, apabila pengin pulang dulu dia akan mengantarkanya.
"Langsung kerja ajah Met, Cyra malas ketemu sama Naqi. Takutnya dia juga pulang Cyra belum siap buat bertemu dia." Cyra akhir akan ikut Meta pulang ke rumahnya dan dilanjutkan ke tempat kerja. Biar nanti kalo ada masalah apapun itu, Cyra akan meminta Naqi yang menjelaskanya. Bahkan andai mereka akan berpisah Cyra akan mencoba untuk ikhlas.
****
Rania mulai bangun, ia melihat Naqi tengah memandang keluar jendela.
Auh... Rania meringis menahan perutnya, rasanya untuk bergerak saja perutnya sangat nyeri.
Naqi yang mendengar ringisan Rania pun langsung menghampirinya.
"Kalo sakit jangan dipaksa duduk. Istirahat saja, rebahan," ucap Naqi dengan suara serak. Bukan karena bangun tidur, tapi karena ia tadi tengah membayangkan Cyra sehinga menahan tangis suara jadi serak. Naqi bahkan belum tidur sama sekali. Ia bingung harus mengambil keputusan apa.
"Rebahan terus bosen," lirih Rania, akhirnya Naqi membantu Rania untuk duduk dan bersandar dengan tumpukan bantal yang ia bikin menjulang tinggi seperti Cyra dulu melakukanya pada dia ketika ia tengah sakit.
"Kamu sudah lama dengan kondisi yang memburuk seperti ini?" tanya Naqi, bahkan Naqi merasa canggung hendak memulai dengan obrolan apa.
Rania menggeleng.
"Lalu selama ini udah sembuh berati sakit kamu?" Naqi terus mengorek kondisi kesehatan Rania.
"Aku sudah merasa sehat, tapi aku pengin disisa hidupku aku kembali ke kampung halamanku, aku sangat rindu dengan almarhum ibuku, aku ingin menghabiskan sisa hidupku di sana," racau Rania. Entahlah dia benar-benar sudah menyerah.
"Kamu ngomong apa sih Rania. Kamu itu harus tetap semangat tau, nggak boleh kamu nyerah, kamu harus tunjukin bahwa kamu itu kuat, dan harus sembuh." Naqi meninggi nada bicaranya ia tidak suka Rania menyerah begitu saja.
"Aku rasa sakit aku semakin hari semakin memburuk sayang, aku cuma ingin sama kamu dan kita tinggal di kampung halaman aku saja, tidak apa-apa kita tinggal dalam kesederhanaan asalkan kamu selalu ada buat aku." Rania seolah mengemis agar Naqi mengikuti keinginanya.
Naqi tidak langsung menjawab ia termenung cukup lama. Harapanya untuk tetap membina rumah tangga dengan Cyra sudah benar-benar kandas.
"Aku akan turuti kemauan kamu, tapi dengan satu syarat. Kamu harus sembuh dan harus mau kembali menjalani pengobatan. Aku nggak mau dengar penolakan." Naqi sudah mengambial memutuskan, dan inilah keputusanya. Ia sudah pasrah apabila akan dicoret dari ahli waris keluarganya.
"Terserah kamu saja sayang, tapi aku nggak mau berobat di sini, aku mau berobat di kampung Ibuku," rengek Rania.
"Ya udah, kapan kira-kira kita akan pergi ke kampung Ibu kamu? Biar aku bisa persiapkan semuanya," tanya Naqi ia akan mengikuti gimana kata Rania saja.
"Begitu perut aku sudah tidak sakit kita melakukan perjalanan itu," ucap Rania dengan sangat yakin.
Naqi pun menyetujui usulan Rania. Selanjutnya ia akan menemani Rani sampai benar-benar bisa ditinggal, apabila sudah mendingan Naqi akan pulang untuk mengambil keperluanya selama tinggal dengan Rania, tentu akan menyelesaikan urusanyan dengan semuanya. Naqi sudah siap apabila akan kehilangan semuanya.