Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Mendiamkan...


Kalian berbohong!! Ngaku sudah malam pertama tapi kenyataanya belum?" tanya kakek dengan nada kecewa.


Cyra menunduk, memainkan jari-jarinya ia memikirkan jawaban apa yang bisa meredam kemarahan kakek.


"Jawab Cyra, Naqi!! Kalian bikin Kakek kecewa!!" bentak Kakek dengan muka merah padam. Semua yang ada di hadapan kakek pun terlonjak kaget mendengar kemarahan kakek.


"E... anu Kek, sebelumnya Cyra minta maaf. Ini semua kesalahan Cyra. Kemarin begitu sampai di hotel ternyata Cyra datang bulan. Semalaman Cyra sakit perut dan punggung juga panas, sehingga Cyra tidak bisa melayani Mas Naqi," lirih Cyra entah dari mana munculnya ide itu. Ide konyol itu muncul begitu sajah. Cyra hanya berfikir yang terpenting kakek tidak marah dulu. Urusan lain nanti Cyra bakal selesaikan satu persatu.


Naqi pun ketika mendengar jawaban Cyra, bisa bernafas dengan lega. "Ternyata Cyra bisa diandalkan juga," batin Naqi, kini ia bisa mengangkat wajahnya menatap kakek.


"Benar apa yang dikatakan Cyra Naqi?" tanya Kakek, sementara Cyra masih menunduk, ada rasa bersalah karena lagi-lagi membohongi orang tua yang sudah sangat baik terhadapnya.


"Iya Kek, makanya Naqi tidak bisa meminta hak Naqi, karena istri Naqi sedang berhalangan, terlebih Cyra juga meringis-ringis kesakitan." Naqi memainkan perananya dengan sebaik mungkin, agar tidak lagi ada kesalahan.


"Ya udah kali ini kalian masuk dan bebersih hari ini ada peluncuran prodak baru di perusahaan kita. Jangan sampai kita tidak hadir," ucap Kakek membubarkan keributan pagi ini.


Cyra dan Naqi menapaki tangga satu per satu menuju kamarnya. Sesampanya di kamar...


Yes!!!


Naqi memekik dengan gembira, karena rahasianya tidak jadi terungkap. Berbeda dengan Naqi justru Cyra tengah lesu, karena merasa sangat bersalah telah melakukan kebohongan besar.


"Ra makasih banyak yah, udah nyelamatin aku tadi. Hampir sajah kebohongan kita terbongkar," ucap Naqi dengan girang sembari memegangi tangan Cyra lanyaknya orang bersalaman.


"Kebohongan kita? Kayaknya lebih tepatnya kebohongan Mas Naqi sendiri deh," protes Cyra dengan jengah, sebenarnya Cyra sudah malas berbicara dengan Naqi yang selalu sajah susah untuk bekerja sama.


"Iya terserah deh apa itu kamu bilang. Intinya Mas makasih buat bantuanya," ujar Naqi masih dengan senyum kebahagiaan.


"Lagian Cyra melakukan itu, bukan semata-mata mau menyelamatkan Mas Naqi dan melancarkan kebohongan Mas yah. Cyra ngelakuin ini hanya karena kita akan pergi ke acara penting. Kalo kita asik berdebat lagi. Kapan kita bersiap berangkat ke acara penting itu. Iya kalo Mas Naqi telat juga bos, siapa yang akan memarahinya. Kalo yang telat Cyra pasti yang ada kena black list, dari dunia model" jawab Cyra dengan santai dan terkesan cuek dengan Naqi.


"Ya udah ia Mas minta maaf," jawab Naqi.


"Jangan hanya minta maaf, habis itu ngelakuin lagi kebohongan yang lain. Ujung-ujungnya yang kena marah kita berdua. Tolong lah Mas, hidup Cyra sebelum sama Mas memang sudah menderita, tapi jangan tbah lagi dengan tumpukan penderitaan yang lain," balas Cyra dengan nada lesu. Cyra langsung meninggalkan Naqi dengan segala kekesalanya.


Akhirnya mereka bersiap. Sejak kejadian tadi Cyra jadi lebih pendiam dan murung. Seperti sekarang di meja makan ia hanya diam sajah. Bahkan ketika mengambilkan makanan untuk Naqi Cyra tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Kakek dan mamih memduga semua itu karena Cyra yang tengah PMS sehingga lebih sensitif. Padahal tanpa mereka ketahui Cyra seperti itu karena kesel dengan suaminya, yang selalu ngeyel manakala dinasihatinya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Mamih dengan sangat perhatian.


"Nggak apa-apa Mih, hanya pengin diam sajah," jawab Cyra dengan santai, tidak mau ambil pusing.


Cyra sarapan dengan lebih cepat. Karena waktunya sudah mempet dengan waktu yang dijanjikan Meta.


"Mih, Kek, Cyra berangkat duluan yah, sudah ditungguin oleh Meta soalnya." Cyra berpamitan lebih dulu.


"Kita bareng ajah Ra," tawar Naqi yang saat itu masih menyelesaikan sarapanya.


"Nggak usah Mas, nanti malah merepotin. Pak Kusno udah siap ko. Cyra duluan ajah, Mas Naqi selesakan sarapanya ajah," tolak Cyra dengan nada datar, setelahnya langsung bergegas menghampiri Pak Kusno, dan langsung menuju tempat janjian dengan Meta.


Naqi menatap punggung Cyra dengan heran ia merasa Cyra seperti menghindar.


"Apa Cyra marah gara-gara pagi tadi," gumama Naqi bertanya tanya dengan sikap Cyra.


"Kamu lagi ada masalah dengan Cyra?" tanya Kakek dengan nada diring.


Naqi mengangka bahunya, "Entah lah Kek, dari semalam dia kaya ngindari Naqi," jawab Naqi jujur.


"Mungkin itu pengaruh PMS, biasanya memang cewek yang lagi datang bulan lebih sensitif, ya seperti Cyra itu," sela Mamih agar Naqi tidak bertanya-tanya lagi.


"Bisa jadi Mih," balas Naqi sembari melanjutkan sarapanya yang tertunda.


"Tapi kamu nggak lagi marahan sama dia kan Qi? Atau hubungan kalian lagi kurang sehat?" tanya kakek menyelidik.


"Perasaan kita biasa-biasa sajah, hanya sikap Cyra yang tiba-tiba berubah," ujar Naqi yang di dalam hatinya ada rasa bersalah dan tidak ingin lagi menambah masalah dalah hidup Cyra, seperti permintaan Cyra tadi pagi. Jujur Naqi sedikit kasian dan iba melihat Cyra yang ia manfaakan terus, bahkan demi melindunginya dia rela melakukan kebohongan, walaupun dia mengaku melakukan kebohongan alasan lain.


"Ya udah mudan-mudahan yang dikatakan kamu benar. rumah tangga kalian baik-baik sajah," ujar Kakek dengan serius.


"Amin Kek." Naqi pun pada akhirnya mengikuti langka Cyra. Ia berpamitan untuk berangkat kerja lebih dulu.


*****


Balik maning aring Cyra....


Di dalam mobil Cyra merenung, sampai saat ini dia belum tau arah tujuan hidupnya kemana. Meskipun Cyra saat ini sudah sangat bersyukur dengan kehidupannya saat ini. Banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan lewat keluarga Naqi. Namun, Cyra juga merasa hambar di tengah-tengah keluarga yang harmonis itu.


Cyra memejamkan matanya, ia berfikir untuk mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Salah satunya bercerai. "Aku harus punya rumah, setidaknya tempat tinggal sendiri untuk berteduh, tidak harus mewah, biar sederhana yang penting ia tenang di dalamnya. Dan yang terpenting Cyra membutuhkan teman untuk curhat. Bebanya sangat berat sehingga ia butuh seseorang untuk ia percaya dan ia akan meminta solusi dari hidupnya yang rumit itu.


"Meta, kira-kira meta ember nggak yah?" gumam Cyra. Aku akan coba deh curhat sama Meta mana tau Meta bisa ngasih solusi.


Tidak butuh lama, kini Cyra sudah sampai di tempat janjian dirinya dengan Mete.


"Hai cin, apa kabar? I'm kangen banget sama you!" ucap Meta ketika baru sajah Cyra menyembulkan tubuhnya keluar dari dalam mobil.


"Hai Met! Aku juga kangen banget sama Metaku yang cantik," balas Cyra tak kalah gemulai dari Meta. Mereka pun berpelukan dan cepika cepiki.


"Kamu mah bisa ajah cin, ngomong-ngomong you siap-siap yah setelah acara ini I'm yakin you pasti banyak job," ucap Meta sembari menoel dagunya.


Bersambung....