
Cyra yang lama-lama malas ngobrol dengan Mr Kim pun ia akhirnya memilih diam, dan cukup melihat ke jalan sajah melihat jalanan yang tentu sangat jauh dari kondisi negara tercinta. Namun kalo boleh memilih Cyra lebih enak tinggal di Jakarta, selain karena banyak temanya di kota berpenduduk 118 kali lipat lebih padat dari angka rata-rata nasional. Ia juga sudah banyak mengenal tempat-tempatnya dan yang utama pasti bahasanya. Yah di negri ini Cyra tidak tahu bahasanya tidak hanya itu dia juga kalo mau kemana-mana bingung tidak tau bagai mana caranya yang ada nanti Cyra nyasar. Tentu yang bikin Cyra tidak betah lagi adalah disini tidak ada cilok. Makanan kesukaanya adalah cilok. Makanan yang dibuat dari tepung sagu dan tepung terigu dan di siram dengan bumbu kacang mengalahkan jejeran makanan mewah yang akhir-akhir ini ia nikmati.
Jastru dengan makanan yang ia makan akhir-akhir ini perutnya merasakan yang tidak enak bahkan rasa bual sering kali menyerang disaat ia menikmati makanan itu. Payah, yah dia payah dengan makanan di negri tempatnya tinggal sekarang.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang yaitu tiga puluh menit. Cyra dan Mr Kim sudah berada di depan rumah sakit yang sangat besar dan keamananya benar-benar ketat. Cyra memngekor Mr Kim dengan perasaan yang tidak menentu, membayangkan bagai mana sosok orang yang telah melahirkanya.
Sampai tibalah Cyra di sebuah ruangan yang entah berada di lantai berapa, yang jelas ia tadi sempat menaiki lift dan kembali berjalan melewati lorong yang sepi.
Cyra benar-benar harus berterima kasih pada Tuan Latif pasalnya berkat bantuan brliau kini Momynya sudah membaik dan bahkan badanya tidak kurus seperti dulu lagi. Yah, itu yang kemarin Mr Kim katakan dengan Cyra mengenai kondisi Mommy'nya. Hanya tinggal menjalani oprasi mata semuanya akan selesai dan Cyra bisa merawat mommy'nya dan tinggal bersama. Bahkan mereka bisa jalan-jalan bersama.
Dada Cyra bergemuruh jantungnya memompa darah lebih cepat, ini adalah kali pertama dia bertemu dengan orang yang telah melahirkanya, hampir selama sembilan belas tahun Cyra tidak tahu bagaimana wajah ibunya yang Tuan Latif katakan sama dengan dirinya. Menurut penuturan beliau Cyra adalah sosok momy waktu masih muda.
Begitu Cyra masuk orang pertama yang ia lihat adalah mommy'nya yang tengah terbaring dengan alat-alat medis menempel di tubuh lemahnya. Cyra mematung dan air matanya tentu sudah banjir sejak tadi melihat kondisi momynya. Lagi-lagi benar yang dikatakan Tuan Latif bahwa andai Cyra lihat kondisi mommy dulu mungkin Cyra akan meraung dan sedihnya lebih dari saat ini. Hanya membayangkan sajah Cyra sudah sakit, dan sesak hatinya.
Cyra berjalan perlahan kearah momyhnya dan duduk di kursi samping bed pasien, ia tidak mengucapkan sepatah katapun Cyra bingung mau memulai obrolan dengan apa terlebih dahulu. Tertiba juga bibirnya kaku berada di samping mommynya.
Yah, Cyra nervous di samping momy sehingga ia hanya diam meperhatikan wajah momynya yang masih muda dan wajahnya juga memang sangat mirip dengan dirinya terlebih mommy terlihat masih seperti ABG mungkin karena selama hampir dua puluh tahun ia dikurung sehingga tubuh dan kulitnya seolah tidak terkena sinar matahari putih seperti susu hanya mommy memang sedikit kurus.
"Siapa yang datang, Kim? Kenapa diam saja?" tanya Momy dengan suara yang lemah dan halus. Tentu Momy tahu bahwa ada yang berjalan kearahnya dan duduk dikursi biasa Mr Kim menunggu dirinya. Walaupun Mommy tidak bisa melihat tetapi ia bisa mendengar dengan jelas setiap ada langkah dan gerak yang berada disekitarnya. Bahkan dari aroma parfum yang dipakai mommy bisa mengenali siapa yang datang. Sehingga lagi lagi Cyra menangis kali ini ia tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Ia kembali di buat sedih dan menangis terharu. Begitu ia tahu suara momynya.
Cyra menggenggam tangan Momy yang sudah sangat lemah dan terlihat urat-urat yang menonjol menandakan betapa jahatnya Kifayat menyiksa momynya, sehingga kurus seperti itu.
Momy kembali bertanya pasalnya pertanyaan pertama tidak ada yang menjawab. Yah, Cyra masih kaku untuk menjawab pertanyan dari momynya bibirnya seolah sangat berat untuk berucap itu sebabnya ia diam sajah dan lebih senang melihat wajah momynya yang cantik alami.
"Momy, ini aku Cyra, anak Momy." lirih Cyra dengan mengangkat tangan momynya agar menyetuh wajahnya. Cyra ingin Momy tahu bagaimana wajah putrinya yang selama sembilan belas tahun ia tidak melihat wajah putri kandungnya.
Momy pun langsung nenggerakan jari-jarinya menyusuri wajah Cyra dan juga tentu ia juga menyusuri kepala Cyra yang memang sama dengan dirinya tidak berambut. Setelah memastikan bahwa yang dikatakan oleh wanita dengan suara kecil itu benar mamih melepas tanganya dan menutup mulutnya kaget dan tentu sedih campur bahagia. Penantianya selama sembilan belas tahun ternyata tidak sia-sia dia bisa bertemu putri kandungnya yang ternyata masih hidup.
"Ka...kamu masih hidup?" tanya momy dengan terbata antara bahagia dan heran. Pasalnya yang di katakan Kifayat adalah anaknya sudah meninggal setelah dilahirkanya, sehingga Mmomy tidak tahu bahwa putrinya masih hidup dan bahkan tumbuh cantik dan pandai.
Cyra mengernyitkan dahinya, maksudnya apa yang di katakan momynya, jelas lah dia masih hidup buktinya bisa menemui momynya, yang sekarang tengah kebingungan dengan semua pertanyaanya.
"Ma-maksud momy apa? Cyra masih hidup makanya Cyra datang untuk menemani momy menjaga dan merawat momy sampai sembuh. Lalu kita akan jalan-jalan bersama, pasti semua yang melihat kita tidak akan percaya kalo kita anak dan momy. Mereka akan menyangka bahwa mommy adalah kakak Cyra. Itu semua karena wajah mommy yang sangat terlihat masih muda. Jauh dari umur yang Momy miliki," oceh Cyra supaya momynya tidak syok dan tidak berfikir yang tidak-tidak.
"Berati yang di katakan Kifaya sama aku bohong? Dia bilang anak aku sudah meninggal, tapi kenyataanya kamu masih hidup sayang," lirih Momy dengan mata yang berkaca-kaca.
"Momy jangan sedih karena, Cyra selama ini baik-baik sajah bahkan Kifayat sekali pun tidak pernah menyakiti Cyra, dia sebenarnya baik, hanya harta yang membutakan hati nuraninya." Cyra tidak ingin Momynya tahu apa yang dialami dirinya selama tinggal dengan laki-laki breng-s*k itu karena andai Cyra menceritakanya sudah pasti makin membuat mommy sedih. Biarlah kenangan buruk semasa ia tinggal dengan Kifayat dia tutup dan menjadi kenangan di ingatanya saja. Toh Kifayat sudah mendapatkan karmanya, dan hubungan dirinya dengan Fifah juga sudah baik begitu pun dengan mamah Daima yang sudah saling sapa kembali.
Cyra akan mengatakan yang baik-baik saja hal itu biar momynya juga memiliki semangat untuk sembuh dan mereka akan bersama memperbaiki waktu yang sembilan belas tahun terlewatkan tanpa bersama. Cyra berjanji mulai saat ini ia akan memperhatikan kesehatan momynya dan akan selalu berusaha membuat momy bahagia.