Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kabar Buruk


Di rumah mewah nan megah bak sebuah istana dengan penjagaan yang super ketat...


"Berita apa ini! (Tuan Kifayat menggebrak meja dihadapanya dengan kasar) Kalian kalo kerja yang benar. Gila sajah, satu bulan juga belum batuan Tuan Latif datang dan perusahaan kembali normal, tapi kenapa sekarang perusahaan bisa kembali kacau balau begini hah..." Tuan Kifayat lempar laporan perusahaan yang sudah morat marit kesembarang arah.


Orang-orang kepercayaan Tuan Kifayat pun mulai ketakutan, kedatanganya ke rumah itu untuk memberikan laporan perusahaan yang kacau. Mereka terpaksa mendatangi rumah bosnya itu karena sudah beberapa hari bosnya tidak masuk kerja. Beliau sibuk mempersiapkan pernikahana putri kesayanganya yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi.


"Kenapa aku baru tidak masuk tiga hari tapi perusahaan langsung kacau balau begini. Kerja kalian apa hah...!" Lagi, Tuan Kifayat menyalahkan semua kekacauan yang terjadi diperusahaanya kepada anak buahnya.


"Maaf Tuan, saya menyela perkataan Anda, sebenarnya kekacauan ini sudah terjadi semenjak satu minggu terakhir. Berati semenjak Anda masih masuk kerja kekacauan ini suadah mulai terjadi. Namun baru akhir-akhir ini bukti kekacauan semuanya kami dapat," ucap salah satu orang kepercayaan Tuan Kifayat.


"Omong kosong, ini cuma akal-akalan kalian sajah, agar aku tidak menyalahkan kalian. Pergi dari sini dan selesaikan kekacauan itu semua secepatnya!! Aku nggak mau tau perusahaanku harus kembali berjaya." Dengan percaya diri Tuan Kifayat berkata demi kian, tanpa dia sadari saham berusahaan sudah nyungsep di bawah jurang. Menukik terjun bebas kelembah terdalam.


Orang-orang kepercayaan Tuan Kifayat tidak lantas beranjak pergi, tetapi mereka justru saling berbisik seolah ingin menentang perintah bosnya.


"Kenapa kalian bukanya pergi dan kerjakan perintahku, tetapi malah asik berbisik," ucap Tuan Kifayat dengan arogan.


"Kami sudah sepakat bahwa kami akan mengundurkan diri Tuan, sebelumnya kami sudah mencari ide terbaik, tetapi rupanya perusahaan Anda memang sudah susah untuk kembali normal. Maka dari pada kami terlalu lama bekerja dan belum tentu kami digajih maka dari itu kami mengundurkan diri," ucap mereka secara bersamaan.


Hal itu menambah kemarahan Tuan Kifayat. Bagai api yang disiram bensin. Beliau langsung mencak-mencak, memaki dan sumpah serapah dikeluarkan dari mulutnya.


Namun Tak satu pun yang bisa membuat orang-orang kepercayaan diperusahaanya kembali mau bekerja denganya. Pendirian mereka sudah sangat yakin bahwa mereka akan resign.


Dengan mata merah yang masih menyala bak kobaran api, nafas yang semakin tersenggal dan juga suara yang bergetar tubuh lemas bagai tidak ada tenaga lagi. Akhirnya Tuan Kifayat jatuh pingsan...


#Ciah cemen banget gitu ajah langsung pingsan. Contoh tuh Cyra loe pukul, loe siram pake air panas masih kuat berdiri tegar. Loe baru dapat kabar gituan langsung melenyot... Lemah!!!!!


Tuan... terdengar kepanikan di ruangan tamu yang megah itu. Dari dalam keluar wanita setengah baya menghampiri kekacauan itu. Yah, beliau adalah Nyonyan Daima istri Tuan Kifayat.


"Ada apa ini?" tanya Nyonya Daima dengan panik dan wajah pucat.


"E... itu Nyonyah, Tuan Kifayat pingsa! Salah satu menyingkir dan terlihatlah bahwa suaminya tengah tergeletak di atas ubin rumahnya.


"Kenapa kalian diam sajah, ayo angkat suami saya dan panggil Ambulance. Biar dibawa ke rumah sakit dan suami saya segera mendapatkan pertolongan," ucap Nyonyah Daiman dengan suara bergetah menahan kepanikan dan kecemasan yang berlebih, takut apabila terjadi sesuatu yang fatal dengan kondisi kesehatan suaminya.


"Pah... Papah bangun yah, sebentar lagi hari pernikahan anak kita, kalo Papah sakit begini gimana nasih Fifah, Pah." Mamah Daima menangis di samping suaminya yang terkulai lemas menunggu pertolongan dari team kesehatan.


Tidak menunggu lama sebuah ambulance datang beserta team medis yang profesional untuk memberikan pertolongan pertama pada Papah Cyra. Tuan Kifayat pun di bawa kerumah sakit terbesar dan terkenal akan fasilitas yang lengkap, dan perlayanan terbaik. Mungkin Mamah Daima belum tahu bahwa suaminya sudah bangkrut sehingga memilih rumah sakit dengan tarif sultan.


Tahap demi tahap Tuan Kifayat menjalani pemeriksaan dan dokter menyimpukan bahwa Tuan Kifayat mengalami serangan jantung koroner, yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi dan kolestrol yang tinggi serta panik yang berlebih sehingga memacu terjadinya serangan jantung ini.


Dokter akan melakukan oprasi untuk membuka pembuluh darah yang tersumbat supaya Tuan Kifayat tidak sampai kehilangan nyawa. Mamah Daima pun menyetujui apapun itu, yang penting suaminya tetap hidup dan kembali sehat. Karena Tuan Kifayatlah sumber kekuatan mereka (Mamah Daima dan Afifah) tidak untuk Cyra.


Mamah Diama pun menghubungi Afifah yang kini tengah di luar rumah karena anaknya yang masih kuliah, dan hari ini ia kuliah terakhir sebelum besok ia sudah mulai ambil cuti karena akan menikah. Semua keperluan pernikahan sudah siap tinggal menunggu hari H yang tinggal tiga hari lagi.


[Halloh Mah, ada apa?] tanya Fifah dari sebrang telpon.


[Fah, kamu segera datang kerumah sakit International hospital yah, Papah terkena serangan jantung, dan saat ini dokter akan melakukan oprasi pada Papah. Mamah disini sendirian takut kalo hal buruk terjadi pada Papah.] lirih Mamah Daima dari sebrang telpon masih dengan isakan.


[Hah... ko bisa sih Mah, mana pernikahan Fifah tinggal sebentar lagi kenapa Papah malah sakit?] tanya Fifah kaget campur tidak percaya sama kenyataan takdirnya.


[Mamah juga nggak tau Fah, pas Mamah keluar udah ada keributan di ruang tamu ternyata Papah kamu sudah pingsan, dan ini barusan hasil pemeriksaanya keluar. Mamah diminta tanda tangan untuk menjalankan proses oprasi Papah. Mamah takut Fah.] Tangis Mamah Daima semakin menjadi.


[Ya udah Mah, Fifah kesana sekarang. Mamah tolong tenang yah, semuanya akan baik-baik sajah!] Fifah memberikan semangat pada Mamahnya sebelum memutus sambungan teleponya. Kemudian dia segera bergegas menuju rumah sakit tempat papahnya dirawat.


"Ya Tuhan lindungilah Papah Tuhan, jangan engkau ambil Papah dari kami." Doa Fifah sepanjang perjalananya.


Tidak memerlukan waktu yang lama kini Fifah sudah sampai di International Hospital. Setelah memalkirkan mobilnya, Fifah langsung melesat menemui Mamahnya yang kini tengah menunggu Papanya di depan ruang oprasi.


"Mah..." Afifah mendekat kearah Mamah Daima dan Mamahnya langsung menghambur kepelukan anaknya.


"Fah Papah kena serangan jantung, dan sekarang di dalam sanah tengah berjuang antara hidup dan mati. Mamah takut kalo sampai Papah pergi kita gimana Fah." Mamah Daima tidak bisa menyembunyikan kesedihanya lagi. Dengan anaknya ia kini bisa berbagi kesedihan dan penderitaan.


"Mamah yang sabar yah, kita harus percaya kalo Papah bisa sembuh dan kita akan berkumpul terus selamanya. Papah itu laki-laki kuat, hebat dan baik, jadi Tuhan pasti melindunginya," ucap Fifah menguatkan Mamahnya. Walaupun Fifah tidak yakin bahwa omonganya benar dan akan terkabul.


#Andai terkabul itu bukan karena kebaikan Papahmu Fah, tapi itu tandanya Othor kasih kesembuhan agar Papah kamu tobat....