Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Pertemuan Cyra dan Rania


"Auwww... ," pekik Cyra ketika ia terjatuh dan punggungnya membentur pinggiran meja yang memang keras. Karena panik  Naqi yang terus mendekat padanya sehingga ia tanpa sadar tersandung karpet dan tejatuh kebelakang dan punggungnya membentur meja.


Cyra memejamkan matanya dan  meringis ia merasakan sakit dibekas lukanya.


Tentu sajah Naqi langsung bangun dan panik ketika melihat Cyra yang terus meringis sembari memegangi punggungnya. Tanpa pikir panjang Naqi bangun dan membopong Cyra dan ia rebahkan di kasur.


"Maafkan aku Cyra, aku nggak sengaja membuatmu sakit," ucap Naqi, sembari bergetar tentu ia bingung mau berbuat apa, ia terlalu takut untuk melihat luka Cyra bayangan luka yang dulu sajah masih terrekan dengan jelas di memory ingatannya.


"Ga apa-apa Mas, ini cuma kebentur ajah ko jadi nanti juga sembuh." Cyra berpura-pura tidak terlalu menunjukan rasa sakitnya. Namun Naqi yang terlanjur panik segera  mengambil ponselnya dan segera menghubungi Sam.


Di lain tempat Sam yang tengah makan malam dan mengobrol ringan dengan Rania, tiba-tiba sajah ponselnya bergetar menandakan bahwa ada yang memanggilnya. Sam mengambil ponsel dan melihat siapa yang menelefon. Ia tidak langsung mengangkat telponnya melainkan justru menatap Rania, sehingga Rania pun penasaran.


"Siapa Sam," tanya Rania.


Sam menunjukan layar ponselnya yang menampilkan nama Naqi disana.


"Angkat sajah siapa tau ada yang penting," balas Rania dengan suara sedikit dikecilkan. Sam pun mengikuti saran Rania.


"Hallo Sam, buruan loe kerumah Mamih gue sekarang, penting!!!! titah Naqi.


"Tunggu dulu, gue nggak bakal kesana kalo loe nggak bilang tujuanan manggil gue," ujar Sam, tentu dia penasaran kenapa Naqi tiba-tiba sajah menyuruh ia datang dengan nada bicara yang panik


"Cyra, luka di punggungnya  kayaknya berdarah lagi, sekarang dia masih merasa kesakitan," cerocos Naqi.


"Loh ko bisa, kemarin lukanya udah bagus ko, udah hampir kering sempurna. Loe apain lagi emang ko bisa berdarah lagi," cecar Sam dengan nada meninggi.


"Itu dia tadi gue nggak sengaja ngedorong dia sehingga dia jatuh dan membentur meja," jelas Naqi.


"Gila loe yah, loe mau membunuh dia apa gimana? Kenapa kebiasaan sekali tangan loe kasar," runtuk Sam kesal. Sam pun mematikan sambungan telefonya, tidak mau lagi mendengarkan penjelasan dari sahabatnya itu. Bagi Sam Naqi hanya melakukan pembelaan sajah. Ia bergegas membayar semua tagihan makan dan akan langsung menuju rumah Naqi. Sam tentu sangat khawatir dengan kondisi Cyra.


"Kenapa Sam?" Rania memegang tangan Sam dan menatapnya dengan penuh penasaran.


"Cyra punggungnya berdarah lagi, itu semua karena ulah kekasih loe," ucap Sam, masih dengan nada emosi.


"Loh memangnya Naqi ngapain Cyra?" Tentu Rania juga penasaran kenapa Sam bisa menuduh Naqi menyakiti Cyra.


"Astagah." Rania  menutup mulutnya dengan kedua telapak tanganya. Dia syok kenapa Naqi bisa melakukan itu. "Kalo gitu gue ikut ke rumah Naqi, gue pengin tau kondisi Cyra," ujar Rania, sembari memegang pergelangan tangan Sam untuk menahanya supaya tidak buru-buru pergi.


"Kamu yakin, nanti kalo orang tua Naqi tau kamu datang kesana gimana?" tanya Sam, memastikan Rania.


"Kita bisa mencari alasan untuk mengelabuhi mereka. Misalnya kita mengaku sedang PDKT atau pura-pura mengaku berpacaran," usul Rania.


"Baiklah kalo kamu benaran mau ikut." Sam pun pada akhirnya mengiyakan kemauan Rania.


Setelah membayar tagihan makan, mereka pun bergegas menuju rumah Naqi. Tidak memakan waktu lama Sam dan Rania sudah berada di depan rumah keluarga Naqi. Sam memencet bel beberapa kali sampai akhirnya seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk mereka.


"Naqi di mana Bi?" tanya Sam pada ART itu yang memang sudah Sam kenal.


"Oh den Naqi kayaknya sudah masuk ke kamarnya dok," jawab bibi. Semantara Rania bersembunyi di balik punggung Sam.


"Ya udah saya masuk ke kamarnya yah Bi, tadi Naqi sudah meminta saya langsung masuk sajah kekamarnya," ucap Sam, tentu Bibi juga mengiyakan sajah. Mempersilahkan Sam untuk naik kelantai dua menuju kamar Naqi.


"Ko tumben rumah pada sepi," bisik Rania. Tentu sebenarnya ia belum siap ketemu mamih dan kakek Naqi, ia takut mereka menuduhnya yang engga-engga. Memang pada kenyataanya mamih dan kakek Naqi tidak terlalu setuju kalo Naqi menjalin kasih dengan Rania.


"Mungkin sudah pada istirahat," balas Sam tak kalah dengan suara  berbisik.


Sam mengetuk pintu kamar Naqi.


Sementara Naqi sedari tadi sudah bolak balik cemas melihat Cyra yang belum juga membaik. Naqi mendengar pintu kamarnya diketuk, ia langsung bergegas membukakan pintu kamarnya, sudah tentu Naqi yakin bawa yang datang adalah Sam.


Naqi mematung kaget ketika ia melihat Rania dan Sam datang bersamaan.


"Rania," lirih Naqi, ketika melihat kekasihnya bersembunyi di balik punggung Sam.


                                                    *******************************


# Terima kasih buat yang sudah berkenan mapir di novel othor\, jangan lupa tinggalkan jejak yah ketik fav\, like dan komen....


Mampir juga di novel othor yang satu lagi judulnya ' Beauty Cloads' ceritanya juga nggak kalah seru loh!