
Cyra menundukan wajahnya, dan menyembunyikan tawanya, agar Naqi tidak mengetahuinya bahwa ia tengah menertawakanya...Tapi....
"Kamu ngetawain aku yah, sengaja ngerjain aku!" runtuk Naqi dengan muka memerah karena hendak memuntahkan obat yang terakhir ia coba minum.
Cyra mencoba menahan tawanya, dan kembali mengangkat wajahnya. "Apaan sih Mas, mana berani Cyra menertawakan Mas. Apalagi ngerjain Mas. Takut Mas, takut dikutuk lah," elak Cyra, dengan wajah yang sudah kembali normal.
"Kalo kaya gini caranya, bisa-bisa bukanya sembuh malah makin menderita aku," ujar Naqi dengan lesu.
"Jangan nyerah gitu dong. Masa laki-laki sejati, gentle, seorang Bos besar, CEO, kalah sama obat yang kecil," ejek Cyra, agar Naqi kembali mencoba membiasakan minum obat.
"Kamu nggak tau Ra, rasanya itu susah setiap mau ditelen tuh obat, seolah obatnya mental lagi jadi keluar-keluar terus dari tenggorokan." Naqi menjabarkan gimana perjuangan dirinya meminum obat.
"Terus Mas Naqi kalo minum obat gimana? Masa iya selama ini nggak pernah minum obat." tanya Cyra dengan penasaran.
"Ya minum lah Ra, aku kan manusia biasa juga, bisa sakit dan kalo sakit ya minum obat," jawan Naqi cepat.
"Lah, terus minum obatnya gimana tuh?" tanya Cyra semakin dibuat penasaran.
"Kalo itu, biasanya Mamih tumbuk jadi halus gitu obatnya, baru deh diminum dicampur madu sedikit agat tidak terlalu pait," jawab Naqi dengan jujur.
Uhuk...
Uhuk...
Kini Cyra yang terbatuk, ini bukan batuk beneran tapi batuk karena menahan tawa, karena pengakuan seorang Naqi, si bos besar yang ternyata tidak bisa minum obat butiran.
"Ya Tuhan kenapa kasih suami yang unik begini sih Tuhan. Memang yah Tuhan itu maha adil, ganteng, kaya, pemimpin perusahaan besar, tapi masih ajah ada kekuranganya, yaitu kalah sama obat," gumam Cyra di dalam hatinya, sembari tetawa samar. Lalu Cyra meninggalkan Naqi, debat terus sampe pagi nggak ada habisnya nanti bikin laper lagi yah Ra.
"Eh kamu mau ke mana, malah nyelonong ajah. Belum selesai protes nih aku," ucap Naqi yang keberatan Cyra meninggalkan dia. Padahal dia masih ingin protes.
"Mau mandi, ngademin tubuh dan otak, ngurusin Mas Naqi yang sakit, bikin darah naik ke ubun-ubun." Cyra membalas masih dengan menyiapkan pakaian tidurnya yang hendak ia kenakan. Yah, Cyra masih terbiasa memakai pakaianya langsung di kamar mandi. Berbeda dengan Naqi yang seolah tidak memiliki malu di mana sajah dia memakai pakaianya. Bahkan di depan Cyra juga cuek. Kan bikin otak bocil ternodai.
"Wah... wah... wah... bener-bener kamu ngejek aku itu namanya," ujar Naqi tidak terima dengan omongan Cyra. "Ra sinih!!! Sini nggak!!" Naqi tak henti-hentinya memanggil Cyra.
Tentu Naqi tidak menyia-nyiakan ledekan Cyra. "Boleh deh Ra, kayaknya kalo mandi bareng enak. Siapa tau aku langsung sembuh," goda Naqi hendak bangun dari kasur empuknya.
"Mas!!!! Berani bangun dan jalan kesini, awas sajah. Nih!!!" Cyra menunjukan kepalan tanganya dari balik pintu. "Masih sakit ajah, bertingkah macam-macam. Awas ajah kalo malam-malam ngerengek, kaya anak kecil," dumel Cyra, sembari menutup pintu kamar mandi. Mending memang mandi udah cara paling bener. Apalagi berendam otak yang negebul bisa langsung adem.
Di atas ranjang, Naqi tertawa terpingkal-pingkal. "Bocil makin kesini makin galak ternyata, jadi seneng buat ngeledeknya. Dulu mah pertama jadi istri, pemalunya minta ampun, mana kaya anak ayam kehilangan iduknya, ketakutan terus bawaanya. Sekarang malah kebalikanya, udah bisa nakut-nakutin." Naqi kembali tertawa ngakak ketika mengingat kelakuan unik Cyra.
#Baek-baek Bang, bini denger nanti di seleding....
****
Di dalam ruangan kerjanya, kakek semenjak pulang dari acara di kantornya, belum juga beranjak dari ruang kerjanya. Hal itu membuat mamih cemas takut terjadi sesuatu dengan mertuanya. Tidak seperti biasanya mertuanya melakukan hal itu. Dengan segala pertimbangan akhirnya mamih mengetuk ruangan kerja mertuanya, yang sudah ia anggap orang tua sendiri, dan sebaliknya Tuan Latif pun kelihatanya lebih menyayangi menantunya dari pada anak sendiri yang selalu membuat masalah.
Tok... tok... tok... suara pintu ruangan kerja kakek yang mamih ketuk.
"Ada apa Nita?" Terdengar sahutan dari dalam sanah. Mamih bisa sedikit lebih lega, setidaknya mertuanya masih bernafas.
"Udah malam Pah, Papah baiknya makan malam dulu, nanti sakit kalo telat makan malam," balas Mamih dengan suara lembutnya yang selalu perhatian pada setiap anggota keluarganya kecuali pada suaminya, Luson. Ia tidak pernah perduli lagi dengan laki-laki yang pernah singgah di hatinya dulu.
"Kamu makan duluan sajah Ta! Papah masih ada sedikit kerjaan. Nanti kalo sudah selesai Papah langsung keluar," jawab Tuan Latif masih dari dalam ruanganya, tanpa mau sedikit pun beranjak dari tempat duduknya yang empuk dan sangat nyaman.
"Baik lah kalo gitu Anita makan malam lebih dulu, tapi Papah jangan maksain diri untuk mengerjakan semuanya. Kalau sudah lelah istirahat yah." Lalu Mamih kembali ke meja makan untuk menikmati makan malam seorang diri. Anak dan menantunya sudah lebih dulu makan di dalam kamarnya karena Naqi yang sakit. Mertuanya masih sibuk dengan kerjaanya. Sedangkan suaminya? Entah lah, mungkin sedang enak-enak dengan perempuan bayaranya. Mamih Qanita menutup telinga mengenai kabar-kabar yang menyangkut suaminya.
Back to Grandpa...
[Pokoknya kamu buat perusahaanya bangkrut!! sebangkrut-bangkrutnya kalau perlu dia yang datang kepadaku untuk meminta bantuan lagi. Disaat itu terjadi akan aku sadarkan bahwa perjanjian yang pernah kita sepakati bahwa ketika perusahaanya hancur ia harus mengganti kerugian dan mengembalikan uang pinanganku yang seratus milliar itu. Bujuk terus agar Kifayat mau melepaskan rumahnya. Perusahaanya sudah pasti akan aku ambil alih. Kamu tinggal memastikan rumahnya bisa kita beli. Kasih penawatan yang tinggi agar dia mau menjual rumah itu.] Tuan Latif memerintahkan asisten pribadi sekaligus orang kepercayaanya untuk melaksanakan tugas-tugasnya.
Setelah Tuan Latif mempercayakan semua kerjaanya pada asistenya kini ia bisa bernafas lega. "Aku sudah mengawasimu dari jauh-jauh hari. Bahkan aku mengawasimu dari beberapa tahun yang lalu. Perusahaanmu, aset-asetmu terlalu janggal untuk kamu miliki. Anak itu sudah aku amankan di rumah ini, sekarang aku akan mencari bukti lain di rumahmu aku yakin kamu meyembunyikan rahasia besar di rumah itu. Sampai kamu harus benar-benar menutup akses dari dunia luar dan sebaliknya orang-orangmu tidak bisa sembarangan keluar masuk dari istana megahmu." gumam Kakek seorang diri. "Aku yang akan maju secara langsung untuk memastikan bahwa anak itu masih hidup, hampir dua puluh tahun aku mencari informasi mengenai anak itu dan semuanya menuju ke kamu Kifayat. Andai kamu yang telah mensabotase kematianya. Aku sendiri yang akan mencekik kamu," lirih Tuan Latif dengan mengeratkan giginya dan kedua tanganya mengepal dengan kuat...
#Nah loh kira-kira misteri apa yang tuang Latif akan bongkar dari Tuan Kifayat! Maju Kek aku kasih dukungan dari belakang...