Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Pelakor


Naqi terus masuk lebih dalam, ia mengamati ruanganya yang berubah menjadi gudang. Semakin masuk Naqi semakin dibuat tidak bisa berkata-kata oleh kelakuan adiknya yang super jorok dan tidak rapih.


Naqi lalu mencari Qari di ruangan Alzam, dan ternyata di sana pun sudah kosong, Mirna juga sudah pergi istirahat. Namun yang bikin Naqi kaget adalah di ruangan Alzam justru hanya terdapat satu meja dan itu amat rapih. Berbeda dengan ruanganya yang terkesan berantakan.


Karena Naqi yang memang serius ingin mencari tahu informasi mengenai mantan istrinya sehingga ia memutuskan menunggu di ruanganya, sekalian ia yang badanya sangat lelah karena mengemudi sepanjang malam dan satu minggu tidur di rumah sakit menjaga kakak tirinya. Kini Naqi pun memutuskan akan istirahat sejenak di ruangannya sembari nunggu Qari pulang makan siang.


****


Sementara itu di rumah sakit sentra internasional Rania yang baru sampai dan papih sebelumnya sudah membuat janji dengan dokter Adam untuk melanjutkan pengobatan Rania yang sempat di hentikan.


Adam sangat kaget ketika ada keluarga pasien yang ingin membuat janji dengan dirinya dan setelah di cek bernaman Rania. "Rania, apa dia Rania yang meninggalkan calon tunanganya dan memilih pergi dengan suami orang," gumam Adam, dengan rasa penasaran tinggi. Yah, Adam sudah tahu semua apa yang terjadi dengan Rania dan Naqi di mana Adam mendapatkan informasi penuhnya dari Sam. Sehingga Adam tentu sudah tahu apa yang Rania lakukan dengan suami orang, dan orang-orang sering menyebutnya 'pelakor' yah itu yang pantas di sandangkan ke Rania.


Namun Adam belum tahu bahwa Naqi dan Rania adalah kakak dan adik tiri. Setelah menunggu, akhirnya ruangan Adam pun di ketuk. Suster membawa satu pasien yang sudah sangat Adam kenal. Yah Rania yang membuat janji dengan dia adalah Rania mantan tunanganya. Di mana Rania datang dengan kondisi yang sudah lumayan jelek, jelek di di sini menggambarkan kondisi sakitnya yang sudah memburuk.


Sebenarnya Adam masih kesal dengan Rania dan semua keputusanya tetapi dia tidak bisa mementingkan urusan pribadinya. Bagai manapun kesalahan Rania dia harus sembuh. Setidaknya kalo sembuh dia bisa tobat dan memperbaiki kesalahanya. Karena sebaik-baiknya orang ialah yang mau mengakui kesalahanya, dan memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.


Orang Hebat adalah bukan mereka yang tidak pernah berbuat salah atau dosa. Melainkan mereka yang apabila berbuat salah dan dosa , mereka mengakui kesalahanya. Segera bertobat dengan sepenuh hati dan berjanji tidak akan mengulangi kembali.


"Maaf dok, ini ibu Rania yang dulu pasien Anda mau melanjutkan pengobatanya," kata Suster menyampaikan apa yang papih katakan dari awal.


Adam hanya menjawab dengan anggukan, dan tanpa bertanya lagi Adam meminta suster mempersiapkan semua keperluan untuk melakukan pemeriksaan Rania dan akan di adakan Rontgen untuk mengetahui seberapa parah sakit yang Rania derita, dan ada atau tidak sakit yang lain. Agar bisa lebih tepat pengobatanya. Tidak hanya itu Rania juga untuk pemeriksaan pertama harus mulai dari awal lagi seperti test lab dan lain sebagainya. Sepanjang yang di lakukan, Adam tidak banyak berinteraksi dengan Rania dan Luson semua yang terjadi seolah mereka memang tidak kenal.


Luson tentu tahu bahwa antara Adam dan Rania memang tengah ada permasalahan yang mungkin sajah semuanya karena hubungan kasmaran atau entahlah, tetapi cukup jelas di antara Adam dan Rania mereka kalo ngobrol ketika Adam bertanya seperti keluhan, warna urine dan lain sebagainya. Adam dan Rania baru terlibat obrolan.


Rania dalam hatinya sebenarnya tidak mau berobat dengan Adam lagi, tetapi papih ngotot dan mengatakan bahwa setidaknya Adam bisa mendektesi sakit Rania karena sudah mengatasinya sejak lama.


"Pasti Adam sedang menertawakan aku sekarang ini," batin Rania yang mencuri pandang ke arah Adam yang sibuk membaca hasil pemeriksaanya barusan.


"Jadi gini Pak, sakit ibu Rania memang sudah semakin buruk, dengan maksud sel tumur yang di tahap awal kemarin sudah di bersihkan dan sudah hilang. Kini tumbuh kembali dan bentuknya semakin besar dan masih di sekitaran Rahim, itu sebabnya Ibu Rania kalo untuk berjalan ada nyeri di perutnya, sehingga sekarang memakai kursi roda. Untuk sakit yang lain, Alhamdulillah tidak ada sehingga sakit ibu Rania memang masih sekitaran sakit yang dulu yaitu tumor di Rahimnya." Dokter Adam berusaha menjelaskan hasil dari pemeriksaan Rania.


Tes... air mata Rania jatuh dan dia pun menunduk dengan lesu. Tanpa Adam jelaskan selanjutnya Rania sudah tahu apa yang akan Adam katakan lagi. Pasti akan meminta untuk mengangkat Rahimnya. Tapi buat apa dia hidup ia tidak punya rahim, sedangkan andai berpasrah dan menerima sakit ini juga sangat berat. Sakit ini cukup menyiksa Rania sehingga ia tidak bisa merasakan nikmatnya makanan dan berjalan-jalan santai. Belum ia harus merepotkan orang lain. Ingin bunuh diri juga ia tidak berani. Di takutkan justru ia tidak langsung meninggal pasti malu dan lain sebagainya.


Papih menggenggam jemari tangan Rania dengan kencang seola memberikan kekuatan. Sementara Adam yang memang belum tahu hubungan Papih dan anak ini sontak mengira bahwa papih dan Rania adalah pasangan kekasih. Terlebih papih yang memanggil Rania dengan panggilan 'SAYANG', sehingga Adam sangat yakin bahwa Rania memiliki hubungan khusus antara keduanya.


"Ya Tuhan, Rania ini sebenarnya wanita seperti apa sih. Apa jangan-jangan pria ini pria beristri juga," batin Adam, yang mengira bahwa Luson adalah kekasih baru Rania.


"Lalu jalan terbaik untuk Rania apa dok?" tanya Luson, agar Rania segera mendapatkan penanganan.


"Operasi, sebelum selnya menyebar kemana-kemana jalan terbaiknya kembali menjalani operasi pengangkatan sel kangker. Tetapi setelah oprasi bukan berati udah sembuh. Tetap harus ada rangkaian pengobatan lagi contohnya kemoterapi dan lain sebagainya agar sel kangker yang kemungkinan masih ada tersisa bisa mati. dan tidak menjadi tumor lagi. Sama selalu berdoa pada Allah perbaiki diri, karena semua sakit itu sebenaranya sembuhnya atas izin Allah. Maka dari itu dekatkan diri ke Sang Pencipta rayu Dia dengan kebaikan dan minta untuk kesembuhan kamu Rania. Sekeras apapun team medis bekerja dan berusaha memberikan yang terbaik kalo Allah tidak mengizikan kita sembuh semuanya akan sia-sia. Jadi mulailah perbaiki diri. Terutama jangan sakiti orang lain lagi." Biarpun Adam membenci Rania tetapi ia juga tetap berusaha menasihati Rania, karena Adam tahu bahwa Rania itu tipe anak yang nurut sebenarnya. Hanya karena kurang perhatian dan iman yang lemah sehingga ia seolah hilang akal.


Baik Rania maupun Luson tidak langsung memberikan jawaban terlebih luson yang memang ia baru mengurus hal semacam ini. Ia ingin menelepon Naqi, keputusana apa yang harus ia ambil karena Luson tidak mengerti langkan apa yang seharusnya di ambil untuk kesembuhan Rania. Apakah mengikuti saran dokter atau bagai mana. Luson tampak memijit pelipisnya yang mulai berdenyut.


"Kalo tidak dioprasi kenapa dok?" tanya Luson.


"Kasian Rania, dia akan terus merasakan sakit. Dan kemungkinan terburuk sel'nya makin menyebar ke organ fital lainya dan Rania bisa tidak tertolong. Apa kamu tidak ingin memperbaiki hubungan baik kamu dengan orang-orang yang kamu kecewakan? Setidaknya berjuang untuk kesembuhan dan perbaiki kelakuan dan perbaiki hubungan dengan orang-orang yang pernah kamu sakiti, mungkin ini cara Allah untuk mebuat kamu menjadi Rania yang lebih baik lagi," lirih Adam agar Rania berubah kelakuanya.


Masih banyak di luaran sana nasibnya yang lebih parah dari Rania tetapi dia tidak sampai merusak rumah tangga orang lain. Tidak sampai meninggalkan dan melupakan Tuhanya. Justru seharusnya Rania memanfaatkan kesempatan ini untuk tetap bertahan hidup untuk memperbaiki kesalahanya.


"Kalo gitu Oprasi sajah Dok. Lakukan apapun asal Rania sembuh," ucap Luson tanpa pikir panjang. Dia tidak mau kehilangan putrinya seperti ia kehilangan Nasila.