Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Syarat Pernikahan dari Niko


Cukup lama Naqi memeluk Cyra untuk menenangkan perasaanya, dan kini Cyra pun sudah mulai tenang dan Naqi melepaskan pelukanya.


"Apa kamu sekarang sudah lebih tenang?" tanya Naqi dengan sangat lembut


Cyra mengangguk, "Iya Mas, aku sudah lebih tenang," lirih Cyra.


"Apa kamu sebelumnya sering bermimpi seperti itu?" tanya naqi penasaran.


"Akhir-akhir ini enggak, bahkan bisa dibilang sudah lama aku tidak bermimpi itu lagi. Terakhir bermimpi dulu, dulu sekali tepatnya umur berapa aku lupa. Kalo dulu aku sering bermimpi seperti itu, tetapi tidak selalu sama persisnya, hanya aku tetap melihat wanita cantik yang seperti aku dan dia dikurung di suatu tempat, dan ketika aku akan menolongnya. Saat itu juga aku selalu ketahuan dan berakhir aku dihukum dan wanita itu juga dihukum sama seperti itu." Cyra bercerita apa yang ia mimpikan.


Naqi makin yakin bahwa ada sesuatu yang Tuan Kifayat sembunyikan.


"Apa mungkin wanita itu ibu kamu Cyra?" tanya Naqi, menduga-duga arti dari mimpi Cyra. Rasanya terlalu mustahil apabila Cyra bermimpi berulang kali tanpa mengandung arti apa-apa. Sebagian orang menganggap mimpi itu bunga tidur, tetapi ada juga mimpi yang mengandung arti tersendiri, mungkin sajah seperti mimpi Cyra saat ini, tebak Naqi semakin dihantui rasa penasaran yang tinggi.


"Saya tidak tau Mas, lalu andai wanita itu ibu kandung aku, lalu Mamah Daima siapa aku? Selama ini yang aku tau bahwa ibu kandungku yaitu Mamah Daima." Cyra berkarta dalam kebingunganya.


"Justru itu kita harus cari tau ini semua, dan kamu harus cepat sembuh agar kita bisa cari tau ini sama-sama," ucap Naqi memberikan semangat pada istrinya.


"Ya Mas, Cyra janji akan cepat sembuh, dan nurut apa yang dikatakan dokter Sam, Cyra nggak akan banyak gerak dulu biar lukanya cepat kering," ujar Cyra dengan penuh semangat.


"Nah gitu kamu harus semangat buat kesembuhanmu sendiri, nggak ada orang lain yang bisa membuatmu sembuh, kalo kamu sendiri tidak semangat." Naqi tak henti-hentinya memberikan semangat pada Cyra.


Kini mereka kembali tidur karena hari masih malam, dan saat ini Naqi pindah tempat tidurnya untuk memastikan ketenangan pada Cyra.


Di tempat lain Tuan Kifayat dan Niko melakukan perjanjian tanpa sepengetahuan istrinya, Daima dan anak kesayanganya Afifah.


"Gimana dengan perjanjian yang saya tawarkan Tuan Kifayat?" Niko memulai obrolan. Sebelumnya Niko telah memberikan surat perjanjian yang harus Tuan Kifayat tanda tangani.


Di dalam perjanjian itu Niko bersedia memberika mas kawin sebesar sepuluh miliar dan juga saham perusahaan sama seperti Naqi memberika mas kawin pada Cyra. Tentu semua Afifah yang menginginkanya, sementara awalnya Niko menolak dan akan mundur dari perjodohan ini. Namun karena Tuan Kifayat sudah terlanjur berjanji akhirnya Niko menerima tawaran Tuan Kifayat dengan syarat. Afifah dia nikahi sebagai istri kedua dan juga sebatas nikah karena menginginkan dikaruniai anak. Apabila Afifah tak kunjung hamil selama satu tahun, maka Niko akan menceraikan Fifah dan uang mas kawin dikembalikan.


Tuan Kifayat seolah mendapatkan pukulan yang besar, andai ia mundur maka Fifah, anak kesayanganya beserta istrinya pasti akan marah besar, sementara tanggal pernikahan dan semua kebutuhan pernikahan sudah didepan mata.


"Itu sudah paling ringan syarat yang kami ajukan, bukankah apabila anak Anda bisa memberikan keturunan berarti anak Anda akan jadi istri saya seutuhnya dan cucu Anda akan menjadi pewaris tunggal perusahaan saya," jawab Niko dengan santai.


Tuan Kifayat kembali termenung, kini ia yang seperti mendapatkan kesialan keputusanya menikahkan Afifah denga Niko, yang diharapkan bisa memberikan suntikan dana seperti keluarga Naqi, nyatanya Niko lebih susah untuk dirayu. Niko justru lebih terkesan memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadinya. Serta tidak segan-segan mengancam untuk membatalkan pernikahan dengan anaknya. Hal yang sudah pasti membuat Tuan Kifayat tidak bisa berkutik.


"Ya sudah saya terima syarat dari kamu Niko, tetapi saya meminta satu hal sama kamu. Kamu tidak boleh bilang sama keluarga saya atau sama Fifah bahwa kamu sudah memiliki istri. Aku takut mereka akan marah padaku," bisik Tuan Kifayat, nyaris tidak terdengar suaranya karena takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Baik lah Tuan Kifayat, permintaan Anda akan kami sanggupi. Saya tidak akan memeperkenalkan istri pertama saya. Namun, Anda perlu tahu bahwa saya sangat mencintai istri pertama saya, dan karena permintaan istri pertama saya pula akhirnya saya menerima pinangan Anda untuk menjadi suami dari anak Anda, Afifah," balas Niko, justru dia berkata santai seolah masa bodo ada orang yang mendengarnya juga.


"Itu urusan kamu dengan istrimu, andai anak saya tidak terlanjur jatuh cinta denganmu pun aku sebenarnya malas menikahkan kamu dengan putriku," sungut Tuan Kifayat, dengan membuang pandangan kelain arah.


"Anda tenang sajah Tuan, anak Anda akan aman dengan saya. Saya tipe orang yang amanah terutama janji dengan Tuhan, pasti saya tidak akan ingkar janji saya selama anak Anda pun demikian." Niko selalu punya cara untuk membalas gertakan dari Tuan Kifayat, sehingga dari pertemuan ini mereka seolah tengah bersitegang. "Satu lagi Tuan Kifayat, saya minta, apabila anak Anda sudah sah menjadi istri saya, Anda dan istri Anda jangan terlalu ikut campur dengan rumah tangga kami," ujar Niko dengan penekanan disetiap katanya, seolah memberikan ancaman pada Tuan Kifayat.


"Terserah padamu sajah, yang jelas jaga putriku jangan sampai kamu sakiti dia. Dia putri kesayangan kami, jadi kamu tau kan kosekuensinya apabila kamu membuatnya bersedih." Tuan Kifayat bergantian memberikan ancaman pada Niko agar tidak menyakiti Afifah.


"Tenang sajah Tuan, saya sudah berpengalaman dalam rumah tangga cukup lama, jadi saya tau gimana cara memperlakukan istri dengan sebaik mungkin." Niko tetap santai dengan jawabanya.


Setelah berdebat cukup sengit akhirnya Tuan Kifayat menandatangani perjanjian yang Niko ajukan, dan Niko pun sama memberika tanda tangan agar surat perjanjian lebih kuat setatus hukumnya.


Mereka pun kembali pulang kerumah masing-masing. Niko kembali dengan perasaan lega dan gembira, sementara Tuan kifayat kembali kerumahnya dengan murung dan emosi karena Niko berhasil menekanya.


"Be rengsek anak itu berhasil membuat ku tidak berkutik. Aku menikahkah Afifah agar dia bahagia malah justru akan masuk kerumah tangga yang rumit," gerutu Tuan Kifayat. "Gimana kabarnya Cyra, si anak sialan itu? Apa suaminya sudah berhasil membuatnya menderita karena telah kami bohongi. Semoga sajah dia mendapatkan neraka dalam pernikahanya. Sehingga dia cepat-cepat menyusul ibunya yang murahan itu ke alam baka, tanpa harus aku mengotori tangaku untuk melenyapkanya. Hahahaha..... hahahaha..." Tuan kifayat tertawa bahagia setiap membayangkan Cyra diperlakukan kasar oleh keluarga Naqi.


Tujuanya ia menjodohkan Cyra dengan keluarga Naqi adalah agar Cyra dibikin sengsara oleh keluarga itu karena keluarga Naqi pun terkenal begis dalam hal berbisnis dan terutama kake Naqi dikenal sebagai orang yang sangat kejam dalam dunia bisnis, sehingga Tuan Kifayat berfikir apabila Cyra masuk keluarga itu pasti akan mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dan Tuan Kifayat pun berharap bahwa Cyra lenyap dari muka bumi ini tanpa harus ia yang mengotori tanganya.


Bersambung....


...****************...