
Naqi, Qnita dan Qari serta beberapa asisten rumah tangga berangkat ke gedung di mana akan diadakanya acara pernikahan Rania dan Adam. Wajah Naqi terlihat sangat murung, dia memang sebenarnya tidak ingin ikut keacara pernikahan Rania dan Adam, tetapi mamih dan Qari yang selalu menyeretnya, tapi sebenarnya ancaman Cyra yang mematikan itu sih yang membuat Naqi tetap datang keacara itu.
Pukul tujuh Naqi dan rombongan sudah sampai di gedung yang mewah terlihat banyak karyawan dari WO sekaligus Catering yang berlalu lalang menyiapkan acara, yang memang sepertinya akan diadakan sangat mewah. Bahkan untuk masuk gedung harus membawa karu undangan yang mana sudah bisa di pastikan bahwa tamu undanganyang datang memang bukan dari rakyat biasa. Yah, Naqi sudah bisa menebak bahwa Tuan Latif mengundang semua rekan bisnisnya. "Apa kalau aku dan Cyra menikah akan diadakan semeriah ini juga," batin Naqi sembari mengamati dekor gedung yang mewah dan juga gedung yang di gunakan luas yang mana pasti tamu undangan yang di perkirakan akan datang otomatis akan banyak juga. "Adam rekan bisnisnya banyak juga." imbuh Naqi.
Wajah Naqi berubah seketika, begitu melihat Tuan Latif dengan ramah menyambut para tamu yang akan menyaksikan akad. Laki-laki matang itu terlihat sangat bahagia, yah terlihat dari wajahnya berseri, bahagia terpancar secara natural. "Bahkan cucunya ada di sini saja tidak di tegor," batin Naqi lagi, sangat kesal dengan kakeknya sendiri. Naqi memilih duduk di kursi yang di sediakan untuk tamu undangan, dia meraih ponsel untuk sekedar menghilangkan kejenuhanya dan juga kedua bola matanya sekali-kali ia edarkan kesekeliling ruangan, ia mencari Cyra tentunya.
"Kemana Cyra? Kenapa jam segini belum datang," batin Naqi sembari matanya melihat jam yang ada di pergelagan tanganya. Dia merasa asing di acara ini, di mana semakin banyak tamu yang datang, tetapi sepertinya ia tidak mengenalnya. "Yah wajar sih kalo aku tidak mengenal mungkin orang-orang yang ada di gedung ini adalah keluarga Adam," batin Naqi lagi.
"Bahkan mamih dan Qari juga menghilang." Naqi mengedarkan pandanganya kembali mencari sosok yng mungkin bisa ia ajah ngobrol, tetapi lagi-lagi tidak ada yang ia kenal, sedangkan tamu makin banyak lagi yang ingin menyaksikan acara ijab kabul Rania dan Adam nantinya. Naqi tidak sedikit pun ingin beranjak dari tempat duduknya.
Sedangkan acara satu persatu sudah di mulai danĀ dari sambutan-sambutan pernikahan dan nasihat-nasihat pernikahan dan Adam juga sudah nampak duduk di depan meja penghulu. Orang yang tadi tercerai-berai berada di beberapa tempat kali ini sudah duduk rapih akan menyaksika ijab kabul Rania dan Adam. Rania di tuntun mamih dan mungkin keluarga dari Adam datang untuk duduk di samping Adam. Namun lagi-lagi Naqi tidak melihat Cyra, Meta, Fifah atau yang lainya
"Kemana Cyra dan keluarganya, kenapa tidak ada yang terlihat. Apa dia enggak jadi datang." Naqi perasaanya sudah tidak karuan terlebih nomor ponsel Cyra masih tidak aktif dan tidak bisa di hubungi. Begitupun nomor Meta.
Selanjutnya Naqi pindah duduk ke tempat yang lebih sepi, di mana tempat duduk yang tadi ia duduki sudah mulai rame dengan tamu undangan yang ingin menyaksikan pernikahan Adam.
Perasaan Naqi semakin panik ketika ia tahu nomor Meta dan Afifah tidak aktif. "Kenapa mereka juga jadi ikut-ikutan enggak aktif," gerundel Naqi, keringat dingin dan pikiran buruk menguasai batinya. Setelah memastikan acara ini tanpa kehadiran Cyra dan orang-orang yang ia kenal tidak ada. Untuk membuktikan fikiranya yang buruk tidak jadi kenyataan Naqi pun kembali meletakan ponsel mahalnya kedalam kantong jasnya lalu ia beranjak kembali dari duduknya.
Kakinya ia ayunkan sedikit tergesa menuju pintu dan hendak pergi kerumah Cyra untuk memastikan bahwa Cyra baik-baik saja.
"Kenapa bisa aneh sekali peraturan kalian, terlalu mengada-ada. Aku bakal balik lagi ke acara ini kalau aku sudah memastikan Cyra baik-baik saja," bentak Naqi, ia murka ketika hendak keluar tetapi di halau oleh penjaga keamanan agar Naqi tidak keluar. Bahkan penjaga keamanan berjumlah enam yang menghadang Naqi di depan pintu. Naqi yang tidak ingin membuat keributan pun akhirnya duduk mengalah ketika beberapa kali sudah ia lakukan untuk melawan security dan meyakinkanya bahwa Naqi akan kembali lagi. Ia akan kembali ketika sudah memastikan bahwa Cyra dan keluarganya baik-baik saja.
Namun Naqi masih sadar masih bisa menahan diri agar tidak membuat acara Adam dan Rania yang di siapkan secara sepesial oleh bos besar tempatnya mengais rizki gagal dan berantakan, oleh dia yang nantinya di cap tidak ada atitut.
Duduk dengan perasaan cemas dan tidak karuan membuat Naqi bakin tidak tenang. "Kalau dari pintu depan aku tidak bisa kabur, mungkin dari pintu belakang aku bisa." Naqi kembali memindai setiap ruangan yang mungkin saja ada pintu lain yang bisa ia gunakan. Pandanganya tertuju pada pintu kaca yang sepertinya menghubung ke kamar hotel. Namun lagi-lagi penjaga dengan badan tegap dan muka garang siap menghalau siappun yang akan keluar. Naqi semakin di buat heran.
"Pernikahan jenis apa ini? Kenapa aku melihatnya seperti pernikahan anak *******," gumam Naqi cukup kencang tetapi sepertinya tidak ada yang mendengarnya orang-orang sedang sibuk menyaksikan pernikahan Rania tidak hanya itu orang-orang juga pada sibuk dengan gawainya yang entah tengah mengabadikan memori itu dengan vidio atau jepretan kamera saja. Hanya sedikit orang yang fokus dengan acara ijab kabul yang sedang berlangsung itu.
Naqi hanya mengamati sejenak orang yang tengah menyaksikan pernikahan Rania selebihnya Naqi lebih terfokus dengan pelaminan yang sangat mewah dan megah. Layaknya anak pejabat yang menikah dan juga deko rasi ruangan yang sudah di pastikan tidak merogoh uang yang sedikit.
"Kakek benar-benar memanjakan cucu kesayanganya," batin Naqi, hatinya sakit luar biasa ketika membayangkan betapa pilih kasihnya kakek dengan dia dan Rania.
"SAH!!" Suara para saksi yang menyaksikan acara ijab kabul Rania dan Adam. Terdengar juga suara tepuk tangan yang meriah serta ucapan hamdalah dan lain sebagainya. Setelahnya suara sorak-soray. Mungkin ada kejadian yang lucu.
Suara doa terlantun untuk mendoakan pasangan pengantin baru yang baru saja sah menjadi suami istri.
Selanjutnya, sesi foto-foto pengantin baru. Dilanjut para tamu saling mengucapkan selamat pada Rania dan Adam. Naqi tidak beranjak tetapi dari tadi mengamati.
"Naqi... sinih!!" Kakek mengeluarkan suara emasnya.
Naqi mendengus kasar, dan membuang pandanganya. Sudah sangat muak dengan kakeknya sehingga ia mengabaikan pangilan tertua di rumahnya.