Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Rencana Rahasia


Qari yang sudah berjalan beberapa langkah meninggalkan meja makan tersentak kaget, dan berhenti melangkahkan kakinya secara tiba-tiba. Badanya di putar seratus delapan puluh derajat. Tatapan matanya mengandung kebingungan. "Maksud Mamih apa? Siapa yang sebenarnya akan menikah? Apa ini ke jutan untu Ab...(Ucapan Qari langsung terhenti, manakala mamih meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya)


Yah, tanpa mamih jawab dengan ucapan, Qari sudah paham arti dari gerakan tubuh ibu kandungnya. Kedua mata Qari seolah hendak berlomba akan loncat, mulut mengaganga mendakan bahwa dia terkejut dengan berita yang mamih bawa. "Mamih, apa ini seriuz?" tanya Qari, sembari berjalan kembali ketempat mamihnya duduk. Seolah dia justru yang merasa mendapat kejutan manis itu, kedua matanya memerah mungkin dia akan menangis haru atas kejutan yang mamih dan kakek rencanakan. Yah, kalau mau berterima kasih ataupun kesal, sama mamih saja, karena Qanitalah yang memiliki ide gila ini. Dia sebagai menantu kesayangan Tuan Latif memiliki ide ini dan menyampeikanya pada mertuanya dan ternyata permintaanya saat itu juga langsung disetujui oleh tertua di rumah ini. Sehingga dalam satu malam keduanya merencanakan kejutan untuk anaknya yang bandel.


"Tapi ini tetap menjadi rahasia antara kita, kamu juga jangan kasih tau sama Abang kamu, kalau bisa kamu malah bikin dia uring-urunga terus sampai hari H besok," bisik Mamih ketika Qari sekarang posisinya sudah dekat kembali dengan dirinya.


"Siap Mih, kalau soal itu serahkan sama Qari. Rahasia pasti beres, Abang enggak akan tahu kalau soal rencanan kakek dan Mamih, dan itu juga readers yang udah tahu kejutan ini, jangan bisikin ke Naqi yah," ujar Qari dengan senyum jahilnya. Otaknya yang memang lebih di khususkan untuk membuat orang lain kesalpun langsung memutar ide, dan saling berlomba memberikan usulan kejahilan seperti apa yang akan dia gunakan untuk mengerjai Abangnya.


"Kamu emang anak Mamih yang paling bisa diandalkan," puji Qanita, dia bangga memiliki anak sejahil Qari. Sementara Qari wajahnya sudah berseri bahagian, setidaknya ia bisa melupakan dengan masalahnya sendiri walaupun hanya sedikit. Pikiranya tidak sekacau kemarin hal itu karena otak jahilnya bisa menyalurkan kebiasaanya di mana hanya itu hiburanya saat ini, dan yang membuat Qari tambah bersemangat adalah sasaran kejahilanya abangnya sendiri. Serta disetujui oleh mamihnya. Sehingga nanti tidak ada kata mamih marah, karena justru baginda ratu yang meminta anaknya untuk mejahili abangnya.


Qari pun berpamitan berangkat kerja dengan mamih tercintanya, tentu rencana awal sudah ia susun untuk membuat hari abangnya super kelabu.


*****


"Abang, tadi kakek sudah pulang dan memberikan baju seragam yang akan di pakai besok untuk kita datang ke acara pernikahan Rania. Aduh aku jadi tidak sabar pengin buru-buru hari esok. Pengin lihat pengantinya pasti cantik dan ganteng banget. Belum pasti acaranya meriah banget kira-kira ada berapa tamu undangan yang kakek undang yah?" Qari datang-datang ke ruangan abangnya, dan langsung mengompori Naqi.


Kedua mata Naqi langsung melotot dan terlihat sangat kesal. "Apaan sih loe, datang-datang bikin orang tambah BT ajah, jangan sampai gue yang belum makan, lama-lama makan daging loe buat sarapan," sungut Naqi, membuat Qari di dalam hatinya memekik gembira. Karena berhasil membuat hati abangnya BT, tinggal tambah bensin dikit-dikit, nanti juga meledak. Qari tentu juga harus hati-hati abangnya kalo marah juga kadang-kadang nyeremin.


"Ya gimana Bang, aku lagi seneng banget karena ternyata kakek membuat acara Rania sangat meriah, pantas sajah kakek rela tidak pulang-pulang kerumah sampai beberapa hari, karena acara yang di buat untuk pernikahan cucunya itu sangat meriah. Malahan katanya ada rekan bisnis kakek yang sengaja diundang dari luar negri," Qari semakin menunjukan taring kepiawayanya membuat orang bertanduk, dengan gayangnya yang dibikin antusias tambah membuat Naqi muak.


Brrrakkk... Naqi menggebrak meja. hingga buku dan Map yang ada di atas meja sebagian ada yang berserakan jatuh. Qari jantungnya sebenarnya akan loncat juga, tetapi sedetik kemudian malah dalam hatinya ia kembali memekik bahagia, dan tengah tertawa renya. Bahkan seolah ia baru saja mendapatkan permainan baru.


"Loe kalo niatnya untuk manas-masin gue, loe udah berhasil. Sekarng pergi! Jangan sampai ini kemarahan gue sampai ubun-ubun dan loe gue lempar dari atas gedung ini," bentak Naqi dengan wajah merah padam.


"Qari... bisa diam kan mulut loe itu. Apa mau gue diamkan secara paksa. Perggi!! Keluar dari ruangan gue!!!" bentak Naqi, bakan Qari belum selesai ngomong juga Naqi sudah mengusirnya.


"iIsh... padahal cuma mau kasih tau ajah tapi sang tuan muda udah marah-marah saja." Qari berbalik arah dan menghentakan kakinya seolah ia anak kecil yang tengah ngambek, pergi meninggalkan Naqi yang sudah memerah wajahnya menahan marahnya.


Namun begitu ia hendak menutup pintunya. Lagi, wajah dia melongok dari sela-sela pintu yang tertutup rapat. "Tapi ingat luh Bang, besok loe harus datang dan pake baj..." Brak... belum selesai mengingatkan lagi, ternyata Naqi sudah melempar benda yang berada di atas mejanya, dan Qari yang melihat ada bahaya itu pun langsung menutup pintunya. Sehingga menimbulkan efek kegaduhan.


"Yes... Yes... kesal part satu sudah di mulai nanti di susul part selanjutnya Abangku sayang," pekik Qari sembari berjingkrak heboh di depan ruangan Naqi, yah moodnya langsung bangkit ketika di minta membuat hari-hari Abangnya kelabu. Baru part satu sajah ruangan Naqi sudah kayak kapal pecah, gimana kalau misinya Qari hari ini berhasil bikin part selanjutnya bisa-bisa Naqi langsung menguhubungi dinas kependudukan, meminta segera memindahkan dia ke Mars.


*****


"Heran gue, hari apa sih ini, enggak Cyra yang alasan syuting, bahkan vitamin cium firtual ajah enggak ada. Mamih dan Kakek yang lebih mentingin Rania, dan ini si jaelangkung datang malah bikin kompor meledak ajah," gerutu Naqi sembari mengacak-acak rambutnya


Pagi ini laki-laki yang besok mau menikah sangat tidak selera untuk kerja, ingin dia pergi dari rutinitas yang membuatnya tambah setres. "Apa gue kabur ajah yah, lagian udah ada Qari, bisa kali gue kabur kerumah Cyra siapa tau dia ada di rumahnya," batin Naqi sembari senyumny mengembang.


Dia pun menyambar jasnya dan menyampirkan di lengan tanganya. Meninggalkan ruangan yang kacau itu.


"Mau ke mana Abangku tercinta? Wah jangan dibiarkan dia pergi sendiri, biasa-bisa hatinya kembali baik nanti. Gagal dong misi gue," batin Qari sambil terus mengawasi Naqi dari dalam ruangan kerjanya kebetulan ruangan Naqi dan Qari bisa melihat satu sama lain dengan bayang-bayangnya.


"Abang..." pekik Qari begitu Naqi sudah keluar dari ruanganya.


"Ya salam... Kenapa nasib gue mendung banget yah punya adek, baru sehari adik gue kerja, sehari di rumah udah bikin kesal. Tau gitu kemarin bodo amat dah enggak pulang-pulang di hotel juga," batin Naqi dengan malas menatap Qari, mau kabur juga percuma pasti adiknya mengikuti terus.