Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Keseruan Bersama Mamih


Tidak lama Cyra turun dengan gamis sederhananya, dan juga hijab sederhana. Yah, hanya itu yang ia punya, tanpa make up dan hiasan lainya.


"Ayo Mih, Cyra udah siap," ujar Cyra dengan senyum terkembang di wajahnya.


"Dengan penampilan kaya gini?" tanya Mamih heran. Mamih Qanita yang super perfeksionis dalam penampilan, tentu menilai Cyra anak yang tidak menghargai penampilan bahkan bisa mempermalukan Naqi sebagai suaminya.


"Iya, kenapa Mih?" tanya Cyra polos tidak tau kenapa mamih seolah bingung dengan penampilan Cyra.


"Apa kamu nggak meiliki pakaian yang lebih pantas untuk dipakai, dan juga kamu tidak mengunakan make up sama sekali, muka kamu terlihat pucat tanpa make up, Cyra." ujar mamih dengan ketus.


"Maaf Mih, kalo Cyra mempermalukan Mamih, tetapi hanya baju ini yang menurut Cyra pantas untuk dipakai, yang lain warnanya sudah pudar. Kalo soal make up Cyra tidak memilikinya dan kalo pun punya juga tidak bisa menggunakanya ." papar Cyra dengan menundukan wajahnya, ia tau mamih kecewa dengan penampilanya, sama seperti Naqi kemarin ketika melihat penampilan Cyra untuk pertama kalinya, norak dan kampungan, mungkin itu yang mamih liat.


"Kamu itu gimana sih masa jadi cewek nggak bisa merawat badan dan penampilan sendiri." sungut mamih kesal dengan jawaban Cyra, mamih tidak tau dengan fakta mengenai Cyra sehingga ia menyangka kalo Cyra memang anaknya selengean. " Ya udah ayo jalan, percuma memberi tau kamu." sungut mamih meninggalkan Cyra yang masih mematung.


"Mih nanti kalo ada petugas CCTV yang datang, tetapi kita tidak ada dirumah gimana?" tanya Cyra polos.


"Astagah Cyra kan mereka bisa hubungi Mamih dulu, kalo tidak nanti sopir Mamih yang bakal kontrol mereka, kenapa kamu kolot sekali pemikiranya." omel mamih, lagi-lagi tidak suka dengan sikap Cyra.


Padahal Cyra melakukan itu karena memang ia tidak mengetahuinya, tetapi mamih yang tidak tau apa yang terjadi dengan Cyra, menganggap bahwa Cyra gadis yang bodoh.


Setelah memastikan bahwa semuanya aman, Cyra menyusul mamih kedalam mobilnya.


"Lama banget kemana sajah?" tanya Mamih dengan ketus.


"E.... itu Mih, ngecek semua dapur dan bekas cucian, takut masih ada yang menyala." jawab Cyra dengan lembut, ia sudah biasa mendapatkan perlakuan jutek dari mamah dan kakaknya jadi ketika mamih juga tidak menyukainya Cyra masih bisa bersikap manis.


Mamih pun melajukan mobilnya ia menuju ke supermarket yang dekat dengan rumahnya. Cyra untuk kali ini mencoba tidak terlalu menunjukan kegugupanya. Meskipun tanpa ia sadari ada yang membuat mamih infil melihat kelakuan Cyra.


Mereka kini telah sampai di supermarket dan mamih langsung masuk diikuti Cyra dibelakangnya.


"Kamu pilih sajah bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kue dan cemilan lainya." ujar mamih sampil menunjuk kerak yang berjejer rapih di sana.


"Baik Mih," balas Cyra singkat, Cyra dengan telaten memilih bahan apa sajah yang dibutuhkan untuk membuat kue dan puding.


Mamih dibelakang memperhatikan menantunya memilih belanjaan.


"Sudah Mih," ucap Cyra ketika semua bahan sudah didapatnya.


"Okeh kalo gitu, ayo kita bayar." balas mamih sembari membantu mendorong belanjaan yang lumayan banyak.


****


Kini mereka sudah berada di rumah, Cyra dengan telaten memindahkan belanjaan dari bagasi ke rumah. Setelah semua belanjaan dipindahkan kedalam rumah. Cyra langsung menyiapkan semua bahan untuk membuat brownis.


"Kalo Mamih, lebih suka brownis panggang atau kukus?" tanya Cyra pada mamih yang sedari tadi fokus memperhatikan Cyra menyiapkan semua bahan dan peralatan yang akan digunakan untuk membuat kue pesanan mamih yaitu brownis.


"Kalo Mamih lagi pengin brownis panggang, tapi terserah kamu mau buat yang apa ajah, Mamih pasti memakanya." ucap mamih tidak lagi sejutek tadi menjawabnya.


"Gimana kalo kita bikin dua macam panggang dan kukus. Kebetulan sekarang kan bakal ada tukang yang memasang CCTV, nanti kita bisa bagi-bagi kemereka." saran Cyra dengan tersenyum, meminta persetujuan mamih.


"Terserah kamu sajah, Mamih hanya siap makan, karena tidak bisa membikinya." ujar mamih pasrah.


"Mamih tidak bisa membuat kue." balas mamih dengan mengibas-ngibaskan tanganya.


"Nggak apa-apa nanti Cyra ajarin. Katanya tadi pengin belajar membuat kue, ini Cyra mau ajarin." ucap Cyra dengan ramah.


"Baik lah, kebetulan Mamih pengin mencoba juga membuat kue sendiri, tapi kamu jangan lepasin begitu sajah yah." pinta mamih dengan serius.


"Iya Mih, Lagian mana berani Cyra lepasin begitu sajah." kekeh Cyra.


Kini keduanya makin akrab, bahkan mamih sudah tidak sejutek tadi pada Cyra. Justru sekarang mamih lebih banyak bercanda dengan menantunya itu.


Empat loyang kue brownis sudah berhasil dibuat, dua loyang brownis panggang dan dua lagi brownia kukus.


Dua loyang Cyra potong-potong dan dibagikan buat petugas yang memasang CCTV dan sopir mamih. Sementara satu loyang brownis panggang dan satu lagi kukus buat dinikmatin oleh mamih dan sebagian buat Naqi nanti apabila sudah pulang kerja.


"Gimana Mih?" tanya Cyra was-was ketika mamih menyicipi brownis yang barusan dibuatnya.


Cukup lama mamih tidak menjawab, dia hanya mengunyah dengan pelan menikmati setiap gigitanya. "Enak, enak banget coklatnya berasa dan manisnya pas, sehingga tidak enek." ucap mamih sembari mengacungkan jempolnya.


"Alhamdulillah." jawab Cyra sembari mengusapkan kedua telapak tanganya kemuka, bersyukur karena ternyata mamih menyukai kue buatanya.


Tidak terasa kini hari sudah beranjak sore. Mamih memutuskan untuk pulang, tetapi tiba-tiba Sam datang, bertepatan dengan mamih membuka pintu.


"Loh Sam, kenapa kemari?" tanya mamih kaget ketika melihat dokter pribadi keluarganya datang mengunjungi rumah anaknya.


"Iya Tante, hari ini jadwal ganti perban Cyra Tan." jawab Sam apa adanya.


"Perban, emang Cyra kenapa?" tanya mamih dengan curiga sembari menatap Cyra, sedangkan Cyra menunduk tidak berenti menatap mamih.


"Tante jangan pulang dulu, ayo temenin Sam dan Cyra di dalam, barusan Naqi bilang begitu, agar Tante mengawasi kami. Agar tidak ada fitnah," ujar Sam meminta mamih kembali masuk kedalam rumahnya.


Mamih pun pasrah mengikuti Sam masuk kembali ke rumah putranya.


"Gimana sekarang udah ada perubahan." tanya Sam pada Cyra yang sedari tadi hanya diam sajah.


"Sudah Dok," jawab Cyra singkat.


"Saya cek dulu yah lukanya." tanya Sam kemudian mengangkat baju Cyra dan mengecek lukanya.


Mamih yang penasaran pun mendekat ke menantunya yang tengah duduk menunduk menunjukan punggunya yang penuh luka.


"Astaghfirullahaladzim." pekik mamih ketika melihat punggung Cyra luka menganga yang setengah mengering dan juga luka bekas cambukan terlihat jelas menambah punggung yang penuh luka. "Ini kenapa San?" tanya mamih kaget.


#Bersambung


...****************...


# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Beauty cloads" ceritanya nggak kalah seru loh...❤