
lima bulan telah berlalu semua semakin membaik dan hubungan Cyra dan Naqi pun semakin lengket.
Pacaran setelah menikah memang sangat indah, tidak ada batasan dalam melakukan apa pun itu, karena semuanya sudah halal dan akan menjadi pahala ketika dilakukanya.
Di sebuah tempat yang berbeda dengan Naqi dan Cyra...
"Sayang kamu sudah siap kan ketemu dengan Umi dan Abi aku?" tanya Adam pada Rania yang memang selama lima bulan ini hubungan mereka semakin serius.
Berawal dari dokter yang selalu mengingatkan pasienya, kini Adam ingin menjadikan Rania pasangan hidupnya. Hari ini rencananya Adam akan memperkenalkan Rania pada keluarganya sebelum berlanjut ketahap yang lebih serius, Adam ingin Rania mengenal keluarganya dan juga keluarga Adam, agar tau dan kenal dengan wanita yang akan menemani hidupnya.
"Aku kok deg-degan yah, bagaimana kalo nanti Umi dan Abi kamu tidak setuju karena keluargaku yang tidak jelas dan sakit aku yang kemungkinan tidak bisa memiliki keturunan belum penampilan aku yang tidak sesuai dengan keluarga kamu yang sepertinya sangat paham dengan agama?" Rania sebelum mengunjungi kediaman calon mertuanya, sudah mencurahkan kehawatiranya dengan reaksi keluarga Adam.
Hahahah... Adam justru terkekeh dan mengelus rambut Rania dengan lembut.
"Sayangku, Umi dan Abi aku tidak pernah mengatur aku mau berhubungan dengan siapa pun, mereka akan ikut dengan keputusanku. Karena mereka tahu kebahagiaanku yang menentukan adalah aku." Adam mencoba menenagkan Rania. Walaupun Adam tidak yakin bagaimana reaksi Abi dan Uminya nanti ketika melihat Rania. Sejauh ini orang tuanya memang tidak pernah ikut campur dengan calon jodohnya, meskipun berkali-kali gagal dalam menjalin hubungan karena Adam yang salah memilih calon istri. Namun mantan-mantan Adam adalah wanita solehah yang selalu berpenampilan menurup aurat bahkan bakaianya syari. Bukan seperti Rania yang masih perlu banyak belajar tentang agama. Tetapi sejauh ini Rania adalah gadis yang gampang untuk dinasihati dan tidak banyak berdebat. Ia akan mengikuti nasihat itu selama tidak bertentangan dengan hatinya.
Rania pun sedikit lega ketika Adam berbicara seperti itu dan ia kini yakin bahwa keluarga Adam setidaknya akan menerima dirinya apa adanya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama karena memang keluarga Adam yang tidak tinggal satu kota dengan mereka membuat peejalanan lumayan memakan waktu.
Rania sangat menikmati perjalanan menuju tempat tinggal keluarga Adam yang masih sangat asri. Ia jadi ingat kampung halamanya dan ingin mengunjungi makam ibunya. Nanti Rania akan memperkenalkan Adam pada ibunya bergantian setelah dirinya mengunjungi keluarga Adam.
Rania tercengang ketika sampai di lingkungan rumah Adam yang mana itu adalam tempat pesantren, di sana orang-orang berpakaian tertutup semua.
"Sayang kenapa kamu tidak bilang sama aku kalo keluarga kamu adalah pemilik pesantren, setidaknya aku bisa berpakaian tertutup menyesuaikan orang-orang disini. Kalo kaya gini jatohnya aku salah kostum," rutuk Rania pada Adam yang justru Adam terlihat santai dan mengembangkan senyumnya.
"Aku nggak mau kamu itu melakukan apa-apa karena terpaksa sayang. Aku mau kalo kamu ingin berhijab dan menutup auratmu itu karena Allah, perintah Allah bukan karena manusia apa lagi hanya untuk sesaat setelah itu di buka lagi. Lagian nggak apa-apa kamu berpenampilan seperti ini nanti lambat laun belajar memperbaiki diri, tapi jangan di paksa karena manusia yah. Jalani semua karena Allah." Adam menasihati Rania agar dia tidak minder dengan penampilanya.
Rania pun menghirup nafas dalam dam membuangnya pelan-pelan, agar ia rileks dan tidak tegang. Adam hanya tersenyum melihat tingkah Rania yang baginya sangat lucu. Namun Adam sangat senang pada Rania yang bagi dia itu watafnya unik manja tapi apabila dinasihati ia akan nurut, mungkin karena selama ini ia tinggal sendiri dan kurang perhatian. Mendapatkan Adam yang memang orangnya sangat ngemong sehingga Rania sangat patuh dan tidak banyak protes apabila Adam menasihatinya. Termasuk untuk meninggalkan Naqi dan menjalin hubungan denganya. Terbukti Rania mau sedikit-sedikit mengganti nama Naqi dengan dirinya.
Setelah Rania siap kini mereka pun turum dari mobil dan menemui Abi dan Uminya yang memang tengah menunggu kedatangan Adam. Karena Adam sebelumnya juga sudah mengabari dirinya yang akan datang dan sudah mengabarkan pula bahwa Adam pulang akan membawa calon isttri.
"Assalamualaikum..." Adam mengucapkan salam dan keluarganya sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Waalaikumsallam..." balas keluarga Adam. Mamang di dalam sanah tidak banyak orang hanya keluarga inti yaitu Abi, Umi adik serta kakaknya yang sudah berumah tangga.
Rania merasa bahwa keluarga Adam menatap dirinya dengan tatapan yang aneh. Namun Rania tidak mau membuat Adam malu atau kecewa. Rania duduk di samping Adam.
Sebelumnya Rani di minta Adam untuk berkenalan dengan anggota keluarganya. Rania pun menurut saja, tetapi ketika Rania mau bersalaman dengan Abi dan Abang Adam salamnya ditolak dan mereka mengatupkan tanganya di depan dada. Rania merasa sangat malu. Rania merasa salah berada di tengah-tengah keluarga Adam.
Menit demi menit berlalu dan kini obrolan dengan keluarga Adam sudah memasuki hitungan Jam. Namun selama itu mereka mengobrol dan bercengkerama tidak sedikit pun Rania di libatkan, sehingga Rania merasa sangat kurang diterima oleh keluarga Adam.
Rania menarik tangan Adam.
"Iya ada apa?" tanya Adam berbisik.
"Adam pun, meminta adik bungsunya untuk mengantar Rania ke kamar mandi. Setelah berpamitan Rania langsung diantar ke kamar mandi oleh Aminah. Lagi, dalam perjalanan ke kamar mandi Rania dan Aminah tidak ada obrolan apapun. Hanya kebisuan yang terjadi diantar mereka.
Rania semakin yakin bahwa keluarga Adam tidak menyukainya.
Rania pun hendak masuk keamar mandi.
"Kak, Aminah tinggal yah soalnya mau kembali bergabung dengan yang lain." Aminah memberitahukan Rania bahwa ia tidak bisa menemani Rania untuk berlama-lama di kamar mandi sana.
Rania pun mengangguk dan mencoba mengembangkan senyumnya. Ia masuk kedalam kamar mandi. Rania benar-benar pengin menangis di situasi seperti ini. Namun ia mencoba menahanya walaupun dadanya sudah sangat sesak. Andai tidak malu mungkin Rania akan menangis sekencang-kencangnya.
Rania memutuskan bergegas kembali ia akan beralasan pada Adam bahwa ia ada meeting dengan klien sehingga ia akan kembali ke Jakarta.
Rania melangkahkan kakinya dengan lebar. Namun bergitu sampai di belakang pintu ruang tamu, Rania menghentikan langkahnya. Ia berhenti secara tiba-tiba ketika namanya disebut sebut.
"Kamu yakin Adam mau menikahi gadis seperti dia, bahkan silsilah keluarganya saja tidak jelas. Dia sendiri tidak tahu ayahnya. Berati dia anak di luar pernikahan. Kamu lihat saja cara berpakaianya saja sangat tidak pantas. Mau datang ke rumah calon mertua ko nggak ada sopan-sopanya. Belum nanti kalo kamu nikah dia punya sakit tumor di rahimnya bagai mana kalo dia tidak bisa memberikan keturunan. Apa kamu mau nikah tidak punya keturunan. Di mana-mana menikah untuk mendapatkan keturunan Adam. Kamu lebih baik cari lagi calon istri yang jelas bibit bebet dan bobotnya." Abi yang tengah menasihati Adam tidak sadar bahwa Rania mendengat semua nasihat itu.
Kelopak mata Rania seketika memanas. Butiran bening itu seketika jatuh bak air hujan yang sangat deras. Hatinya terasa panas. Rania tidak ingin berlama-lama disana ia langsung meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan pada Adam. Rania menyusup dari pintu samping agar tidak ada yang tahu dirinya telah pergi dari rumah itu.
Rania berjalan dengan setengah berlari dengan air mata yang tidak bisa dibendungnya. Ia memutuskan menaik ojek pulang ke rumahnya. perjalanan dua jam ia tempuh dengan ojek setelah itu ia lanjutkan dengan taxi.
Rania pulang ke rumahnya untuk mengambil barang berharganya setelah itu ia akan pergi dari kehidupan Adam. Ia tidak mau lagi melihat Adam dan keluarganya.
Di dalam hotel Rania masih meratapi nasibnya. "Kenapa sangat malang yah nasib aku. Selalu dipandang rendah oleh keluarga laki-laki. Baik keluarga Naqi maupun Adam tidak suka dengan aku. Apa sebegitu salahnya aku yang lahir tanpa seorang Ayah," lirih Rania ia mengambil foto ibunya yang masih tersimpan.
Tiba-tiba Rania merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa di area perut bagian bawahnya.
"Ah... kenapa sakit sekali yah. Biasanya kalo sakit begini mau datang bulan, tapi perasaan baru minggu lalu aku datang bulan." Rania hanya bisa menahan semua itu seorang diri.
****
Sementara itu di rumah Adam...
Adam berusaha menjelaskan keputusanya yang lebih memilih Rania sebagai calon istrinya. Adam tidak mau orang tuanya salah memandang Rania karena bagi Adam Rania adalah anak yang baik. Baik buruknya seseorang tidak bisa dinilai dari cara berpakaian dan silsilah keluarganya. Tanpa Rania tahu Adam terus membela Rania di hadapan orang tuanya. Sampai Adam lupa bahwa Rania sudah berjam-jam belum kembali dari kamar mandi.
Adam yang mulai sadar bahwa Rania belum kembali sedangkan hari sudah beranjak sore ia langsung mencari Rania. "Kemana Rania apa jangan-jangan dia mendengar obrolan aku dan Abi. Sial." Adam mengacak-acak rambutnya ia segera merogoh ponselnya, dan menekan nomor Rania. "Tidak Aktif" Adam langsung mengambil konci mobilnya dan akan mencari Rania. Karena Adam yakin bahwa Rania sudah pergi dari rumahnya. Setelah semua orang mencari Rania tapi tidak ada. Sepanjang perjalanan Adam tidak fokus menyetir karena melihat-lihat mungkin saja Rania masih ada disekitar lingkunganya.
Adam sangat merasa bersalah dengan Rania.
"Sayang kamu di mana? Maafkan aku kalo aku justru membuat kamu jadi seperti ini." Adam bergumam, dia teringat kondisi Rania yang memang akhir-akhir ini sakitnya sering kambuh. Adam memukul setir mobilnya berkali-kali.
"Sial... sial... sial..." Aku justru membuat kesalahan lagi. Apa aku akan merasakan kekecewa lagi, padahal aku sudah sangat sayang dengan kamu, Rania. Aku akan membuktikan pada kamu bahwa aku layak menjadi pendamping kamu."