Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Memutan Masa Lalu


Kakek menghirup nafanya dalam. "Kakek tau apa yang kamu rasakan, maka dari itu Kakek melakukan ini semua. Kakek mencari keberadaan kalian hampir dua puluh tahun Cyra. Kakek akui perjodohan kamu dan Naqi ada maksud lain yang Kakek rencanakan. Dan salah satunya misi penyelamatan Ibu kamu Ezah. Yang Kifayat kurung di dalam rumahnya. Lalu kamu tanya kenapa Kakek sudah tahu kebenaranya, tetapi merahasiakan dari kamu? Itu semua karena kondisi Ibu kamu belum layak kamu temui, yang ada hanya membuat pikiran kamu terbebani. Sekarang ajah kondisi kamu sudah kacau bagai mana kalo kamu tahu semuanya? Apa kamu bisa jamin kalo kamu akan kuat menghadapinya?" Kakek bukan marah pada Cyra hanya kakek terlalu kasihan dengan gadis yang dipaksa dewasa padahal dia masih sangat kecil untuk menghadapi masalah yang rumit ini.


Cyra nampak sangat loyo, mungkin andai ia tidak dalam keadaan duduk ia akan jatuh terkulai, di atas lantai. "Siapa yang harus Cyra percaya?" lirih Cyra.


"Bagian mana yang kamu tidak percaya dengan omongan Kakek?" tanya Tuan Latif dengan nada lebih rendah.


"Entah, tapi Cyra merasa bahwa Kakek itu terlalu memaksakan semua mengikuti kemauan Kakek. Yang bisa juga Kakek membuat ini semua seolah ini kesalah Papah sementara bisa jadi Kakek terlibat di dalamnya. Kakek punya semuanya uang untuk membeli kekuasaan bahkan hukum pun bisa Kakek lakukan. Itu yang mebuat Cyra ragu." Cyra mengungkapkan semua perasaan yang meragukan ucapan Tuan Latif.


Tuan Latif tentu tahu keraguan Cyra. Memang mengungkapkan semua tidak mudah. Terlebih menyangkut orang yang disayang. Pasti ada keraguan.


"Baiklah Kakek akan bercerita dari awal mungkin saja kamu akan mengerti kenapa Kakek melakukan ini semua. Kalo setengah-setengah tentu kamu akan menganggap Kakek bohong dan mengada-ngada. Karena tidak semua kebaikan bisa diungkapkan dengan sangat lancar. Pasti ada rasa keraguan. Dan sekarang itu yang tengah kamu alami. Kakek ngerti berada diposisi kamu nggak gampang. Maka dari itu, Tuhan memilih kamu yang menerima semua cobaan ini. Itu semua karena kamu memiliki bahu yang kokoh." Kakek tidak memuji Cyra melainkan mengatakan yang sesungguhnya.


Cyra hanya menunduk mencoba memasang telinganya dengan seksama, agar tidak ada satu kata pun yang terlewat. Ia benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya. Cyra juga ingin tahu siapa sebenarnya yang salah.


"Kakek itu sebenarnya tidak mau mengungkit hal yang sudah lama terjadi, tapi karena kamu yang penasaran maka Kakek akan meceritakan semuanya. Siapa kamu, apa hubungan kamu sama keluarga Kakek. Kenapa Kakek mau cape-cape membuang waktu hampir dua puluh tahun untuk mencari kamu? Tentu karena kamu dan Ibumu termasuk orang penting untuk Kakek."


Cyra yang mendengar kali ini tidak lagi menggebu untuk menyelanya ia bener-bener menepati janjinya bahwa ia menjadi pendengar yang handal.


"Kakek kamu dan Kakek adalah sepupu jauh yang tinggal di negara yang berbeda. Sebelum Kakek kamu meninggal beliau menitipkan Darya pada Kakek tetapi karena negara kami yang berbeda maka Kakek kehilangan banyak informasi mengenai Darya, Papah kamu. terakhir Kekek dengar Darya menikah dengan Ezah, ibu kamu. Di mana Ezah adalah wanita yang memiliki kelainan genetik sama seperti kamu. Dan juga pekerjaan Ezah juga sama dengan kamu di mana ia adalah model terkenal. Masalah berawal ketiak Darya dan Ezah memutuskan berbulan madu ke negri ini. Di mana di negri ini Darya juga memiliki banyak aset kekayaanya. Di perjalanan ke negri ini, tiga harinya kabar buruk menimpa mereka yang mana Papah dan Ibu kamu dikabarkan kecelakaan. Namu....


"Cukup!!! Cukup Kek." Cyra menutup kedua telinganya. Ia tidak ingin lagi mendengar cerita mengenai keluarganya. Bukan Cyra mengira kakek bohong atau apa hanya sajah ia tidak kuat untuk mendengarnya lagi.


Cyra terisak sangat kencang bahkan Cyra sudah tidak duduk di kursi putar depan Kakek. Melainkan ia sudah duduk di atas lantai.


Kakek yang tahu kesedihan Cyra pun menghikuti kemauan Cyra. Kakek menghentikan ceritanya.


"Jadi Papah aku sudah meninggal?" isak Cyra tidak bisa membayangkan kesedihan ibunya selama ini disekap di tempat orang yang ia anggap keluarga. Pantas ia sering memimpikan wanita yang mirip dirinya ternyata ia adalah ibunya yang mungkin ingin meminta bantuan pada dirinya.


Kakek menjawab dengan anggukan. "Jasadnya sudah ditemuka dan dimakamkan. Namun jasad ibumu saat itu dikabarkan hanyud di sungai. Sampai Kakek curiga kenapa harta kekayaan milik Kelurgamu satu persatu berpindah tangan. Otomatis harus ada tanda tangan dari orang yang bersangkutan memiliki aset itu sebelumnya untuk memindahkan sebuah aset tersebut. Kakek curiga dengan para pekerja yang saat itu ikut berlibur Kakek telusuri satu persatu. Sampe Kakek curiga pada Kifayat yang mana ia adalah adik dari salah satu karyawan kepercayaan keluarga kamu. Sangat sulit menelusuri semua harta orang tua kamu. Karena sepertinya mereka bagi-bagi lagi kedalam bagian yang kecil untuk dibagi-bagi kesemua orang yang memuluskan kasus ini." Kakek hanya ingin mengatakan bahwa Kifayat sangat jahat, tidak memiliki belas kasih tidak memiliki rasa prikemanusiaan bahkan membiarkan Ezah sakit sampai buta dan makan seadanya sehari hanya sekali.


Beruntung ia diberikan umur panjang dan juga kekuatan untuk menjalani setengah hidupnya dengan penuh prnderitaan.


"Jadi semua ini ulah Tuan Kifayat? Apa Nyonyah Daima tahu masalah ini dan Kak Fifah juga tahu masalah ini?" tanya Cyra dirinya masih menyimak dengan serius.


"Untuk Daima mungkin tahu, hanya saja dibawah ancaman Kifayat ia akhirnya memilik tutup mulut. Dan untuk Fifah dia ngak tau apa-apa. Yang ia tahu Papahnya orang baik." Kakek dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan Cyra dengan jawaban yang detail.


Terlihat Cyra mengepalkan kedua tanganya. Ia sangat marah dengan Kifayat. Ia tidak menyangka bahwa orang yang ia anggap papah adalah orang paling jahat.


"Apa menurut Kakek Tuan Kifayat pembunuh papah kandung Cyra juga?" tanya Cyra dengan sangat memohon ada jawaban yang memuaskan dari Kakek.


Tuan Latif nampak mengirup nafas dalam dan membuangnya dengan perlahan. "Kalo dari penilaian Kakek yang menyelidiki kasus ini dari awal. Kifayat bukan pembunuh Papah kamu. Dia hanya orang yang merebut harta kamu. Pembunuh sesungguhnya adalah para pekerja dan Kakak dari Kifayat yang mana pelakunya sudah meninggal, kemungkinan terjadi perbutan harta di keluarga mereka sehingga Kifayat memutuskan sabotasi kematian pada Kakanya sendiri dan mengambil alih harta kelurga kamu dari tangan Kakanya. Itu yang Kakek temukan dalam kasus ini." Kakek menceritakan dengan detail dan sangat pelan sehingga Cyra nampak mengerti. Cyra diam membisu di pikiranya ia akan membalas semua pelakuan tuan Kifayat. Cyra tidak peduli kalo ada yang menilainya jahat. Yang terpenting ia akan membalaskan sakit dan penderitaan Ibunya.


Bukankah orang jahat lahir karena orang baik yang di abaikan. Mungkin gambaran itu kan tersemat pada Cyra.


"Lalu di mana ibuku bagaimana kondisinya?" tanya Cyra kali ini tidak menangis tetapi matanya yang penuh dengan dendam menatap lurus kedepan, bak anak panah yang beracun mematikan, siap digunakan untuk membekap lawan.