
Afifah yang kaget ketika ternyata yang memanggilnya Niko, jiwa keibuan dan alam bawah sadarnya langsung memegang pergelangan tangan Mesy dengan kencang dan dia juga langsung mengeratkan pelukanya, karena takut bahwa mantan suaminya itu akan mengambil anaknya. Dalam batin Meta justru sangat menyayangkan perbuatan Fifah yang tanpa sadar terlalu menonjolkan bahaya. Padahal seharusnya Fifah tetap santai dan jangan menunjukan bahaya yang terlalu berlebih sehingga nanti akan membuat Niko curiga.
"Kamu apa kabar? Ini anak kamu?" tanya Niko dengan suara yang justru lembut berbeda dari yang dulu, selalu arogan dan merendahkan Fifah maupun Meta.
Plak... Fifah menggelepak tangan Niko yang di ulurkan kedepan hendak memegang Mesy. "Jangan sentuh anaku," bentak Fifah. Niko yang merasa heran dengan sifat Fifah pun mengernyitkan dahinya dan heran dengan mantan istrinya itu. Benar yang di takutkan oleh Meta dengan sikap Fifah yang seperti ini justru memancing kecurigaan Niko, dengan anak yang di gendong Meta. Anak lucu yang cantik dan tentunya ada kemiripan dengan dirinya.
Meta meringis ia seolah merasakan bahwa Niko tengah mengamati wajah bayi yang sedang di gendongnya. Tangan Meta tidak henti-hentinya mengusap pundak istrinya itu agar tidak emosi lagi. Ingin Meta membisikan sesuatu di telinga Fifah tentang cara menghadapi Niko agar laki-laki itu tidak curiga dengan apa yang Fifah lakukan. tetapi tentu itu tidak mungkin terjadi, jarak mereka sangat dekat sehingga apabila Meta membisikan sesuatu kemungkinan akan di dengar oleh Niko. Dan bukan tidak mungkin Niko justru semakin curiga.
"Kalian ada urusan apa pagi-pagi kerumah sakit ini?" tanya Niko lagi, nada bicaranya tetap terlihat santai dan seolah tidak ada kejadia barusan yang sedikit menegang dari Fifah.
"Mau coba cek ke dokter kandungan, karena istri aku sudah telat datang bulan," jawab Meta dengan percaya diri dengan niat menyombongkan diri pada Niko, tentu maksudnya tidak lain dan tidak bukan agar Niko iri dengan kehebatanya. Istri yang dulu ia hina mandul, sekarang sudah hampir memiliki dua anak, seperti itu kira-kira yang ada dalam fikiran Meta.
"Wah aku iri dengan kalian, yang sudah punya anak yang cantik dan lucu, tetapi sekarang kalian bahkan sudah akan memiliki satu anak lagi. Ngomong-ngomong rahasianya apa? Tapi kalian sejak kapan menikah? Kenapa anak kalian sudah besar saja, sedang aku dan Fifah baru bercer...(Niko tidak melanjutkan ucapanya karena Fifah yang kembali membungkam mulutnnya)
"Cukup!! Kapan pun aku dan Mas Wawan menikah, itu semua bukan urusan kamu, jadi kamu jangan berfikir yang tidak-tidak karena yang ada di dalam fikiranmu, aku sudah bisa tebak. Dan itu semua tidak benar," bentak Fifah selanjutnya Fifah menarik tangan Meta agar meninggalkan Niko yang sedang berusaha memprofokasi agar mungkin dia bisa mendapar informasi dari ucapan-ucapan sepintas Meta maupun Fifah, Niko bakal menemukan jawaban yang ia cari. Karena ia tahu betul jika bertanya langsung tidak akan mendapatkan jawabanya, sehingga Niko tengah menggali dengan cara memancing dan berharap baik Fifah atau pun Meta akan keceplosan dengan info penting yang dia maksud.
Meta dan Fifah sudah berjalan beberapa langkah dari Niko, tetapi laki-laki itu justru memanggil Meta lagi.
"Tunggu Met!" ujar Niko, dan berjalan mendekat ke arah Meta yang memang berhenti ketika Niko memintanya berhenti.
"Niko mendekat kearah Meta, tetapi lagi-lagi tangan Fifah menghalangi Niko agar tidak menyentuh Mesy. Namun tangan Niko tetap menjulur ke belakang ke pala Mesy. "Ada semut di belakang ke pala anak kalian, takut masuk ke dalam telinga nanti bahaya," ujar Niko sembari menunjukan satu ekor semut berwarna hitam yang ada di rambut Mesy.
Fifah pun bernafas lega. Ternyata Niko hanya mengambil semut di atas kepala anaknya. "Semut buat kamu ajah," jawab Fifah ketus.
"Terima kasih yah Niko," ucap Meta yang justru lebih bisa menerima niat baik Niko. Fifah dan Meta pun kembali meninggalkan Niko menuju ruangan dokter kandungan yang sudah janjian dengan Meta tadi lewat telepon. "Hah... akhirnya Niko tidak tanya macam-macam." ucap Fifah sembari mengelus dadanya dan membuang nafasnya kasar.
"Kamu jangan terlalu mencolok banget kalo mau melindungi Mesy sayang, karena kayaknya Niko curiga juga deh kalo cara kamu melindungi Mesy seperti itu," ujar Meta dengan tujuan menasihati apa yang dia maksud dengan pelan agar Fifah yang sepertinya tengah sensitif tidak terbawa dengan perasaanya.
"Aku hanya takut dia menyadari bahwa Mesy adalah hasil perbuatanya," jawab Fifah dengan suara yang masih lemah, mungkin ia memang sangat merasa ketakutan ketika melihat Niko bahkan sepertinya Fifah tengah melihat Syetan sajah.
Meta dan Fifah pun langsung masuk ke ruangan dokter, bahkan di depan ruangnganya yang biasanya pasien ngantri selalu banyak, pagi ini masih kosong. Karena memang sebenarnya jadwal praktik belum di mulai, tetapi karena lagi-lagi sang sultan tengah menunjukan uangnya sehingga semuanya bisa mendapatkan solusinya dan sang dokter tetap bisa memeriksa Fifah tanpa menunggu jam praktik.
"Iya ibu, Ibu Afifah hamil lagi. Selamat yah Mesy mau jadi kakak," ucap sang dokter dengan senyum bahagia di wajahnya.
"Yes... yes... yes... aku hebat, bisa hamilin istriku," pekik Meta dengan berjingkrak bahkan bahagianya melebihi orang dapat lotre puluhan juta. Dan Mesy anaknya yang ada di gendonganya itu sampai tercengang Heran melihat tingkah Daddynya. Hal yang berbeda terlihat di Fifah, entah kenapa mamihnya Mesy justru menangis terus, padahal Meta udah bilang berapa kali kalo dia akan tanggung jawab dengan perbuatanya, tetapi seolah Fifah tetap tidak percaya dengan apa yang Meta katakan.
"Udah dong sayang jangan nangis terus, kan tadi dokter sudah bilang. Enggak akan apa-apa kalo kamu hamil lagi, toh memang udah di kasih rezeki lagi, engak boleh di tolak, kasian anak kita kalo mamihnya nangis terus," bujuk Meta suaranya yang teduh sedikit mengurangi isakan Fifah.
Setelah memastikan bahwa Afifah tidak menangis lagi, Meta dan Fifah pun keluar dari ruangan dokter, tentunya setelah mengucapkan terima kasih dan sedikit uang bagi-bagi kebahagiaan. Yah sang sultan tengah berbahagia sehingga dia memberi hadiah buat sang dokter yang sudah menjadi dokter langganan Afifah sejak hamil Mesy.
Ehemz... ehemz... Suara deheman mengagetkan Meta dan Fifah, ternyata Niko menunggu pasangan yang tengah bahagia itu.
Meta pun di buat heran dengan tuh laki apa tidak kerja ngikutin dia dan istrinya terus. "Ada apa lagi? Mau tahu hasil dari pemeriksaanya juga nih (Meta menunjukan satu lembar kertas dari hasil pemeriksaan Fifah di mana di sana tertulis Fifah HAMIL) Istriku hamil. Udah sana pergi! Kayak enggak ada kerjaan ajah," dengus Meta yang gayangnya dibikin sesombong mungkin karena berhasil membuat Fifah hamil.
Sementara Afifah sejak tadi diam saja berbeda ketika berangkat, pulangnya Fifah menjadi orang yang sangat murung.
"Tidak ingin tahu hasil dari pemeriksaan istrimu itu, gue hanya mau tanya baik-baik siapa Mesy? Atau benda ini yang akan menjawab semuanya(Niko menunjukan beberapa helai rambut yang tersimpan dalam plastik klip bening)," ucap Niko yang mana dia secara tidak langsung tengah mengancam Meta dan Fifah.
Tanpa harus di sebutkan lagi Meta dan Fifah tentu tahu guna rambut yang Niko tunjukan itu. "Jadi kamu tadi bukan mengambil semut, melainkan rambut Mesy?" tanya Meta geram, pantas sajah wajah Mesy ketika Niko mengambil semut sedikit berubah, mungkin rambut yang Niko ambil terlalu banyak sehingga terasa sedikit sakit.
"Kamu memang pintar Met, eh sorry kayaknya ayah tiri yah," ucap Niko dengan gaya yang di bikin tertawa mengejek. Meta pengin menghajar Niko tetapi di gendonganya ada Mesy.
#Kira-kira Niko enaknya di bikin masuk UGD apa liang kubur?
...****************...
Sambil nunggu Meta kasih bonus buat bambang Niko, yuk mampir ke novel bestie othor, yuk mampir yuk...