
Sementara Cyra dan mamih tengah asik berberlanja, senyum bahagia mengembang dari wajah Cyra. Ini kali pertamanya hatinya sebahagia ini. Dia mendapatkan kebahagiaan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan sama sekali. Sosok ibu yang baik, ada pada diri mamih, dan juga semua fasilitas telah ia dapatkan dari suaminya, Naqi.
Dari kejauhan sepasang mata menatap iri pada kebahagiaan keduanya. Dialah Rania.
"Itu pasti Cyra, dari yang Naqi bilang ciri-cirinya merujuk pada Cyra, istri Naqi," gumam Rania. Memperhatikan setiap perhatian yang Cyra dan mamih lakukan. "Enak sekali dia, mamih sangat wellcome padanya sedang padaku mamih tidak begitu perlakuanya." Rania masih mengerutu sendiri. Ia tentu takut kalo Naqi malah meninggalkan dia dan tetap menikahi Cyra.
"Sam, ia Sam bukankah kemarin Naqi bilang bahwa Sam menyimpan rasa pada Cyra. Aku harus menemui Sam biar kita kerja sama untuk memisahkan Cyra dan Naqi." Rania terlalu takut apabila Naqi benar-benar jatuh cinta dengan Cyra. Meskipun Naqi kekeh bilang tidak akan mencintai Cyra, dan mengatakan Cyra memiliki kekurangan, Rania tetap tidak seratus persen percaya. Dia tidak akan bisa tenang untuk membiarkan Naqi tetap bersama Cyra. Apalagi keluarga Naqi kelihatanya sangat menyayangi Cyra.
Tujuan Rania adalah ia akan menemui Sam, mungkin sajah Sam bisa membantunya untuk tetap bisa mengawasi Naqi dan Cyra.
***
"Mih, memang masih lama yah? Masih banyak yang harus di beli?" tanya Cyra dengan muka pucat, ia terlalu cape mengikuti kemana mamih melangkahkan kakinya.
"Kamu cape yah, kalo gitu kita cari makan dulu yuk." Mamih mengajak Cyra makan siang, yang sudah jelas-jelas terlewat. Saking asiknya berbelanja kini jam menunjukan pukul tiga sore, tapi mereka belum makan siang sama sekali.
Mereka memasuki lestoran tekenal di mall itu. Tentu mamih yang memilihkan menu untuk makan mereka. Cyra hanya mengikuti sajah sudah pasti yang mamih pilihkan adalah makanan yang sudah terkenal kelezatanya. Secara mamih adalah orang yang sangat pemilih terhadap semua jenis makanan.
Mereka menikmati makanan, dengan tenang. Setelah makanan habis wajah Cyra pun sudah tidak lagi pucat seperti pertama tadi. Yah, tadi Cyra pucat karena menahan lapar. Namun, ia malu apabila mengatakan pada mamih, sehingga ia lebih baik menahanya.
"Kamu tadi kelaparan yah? Wajah kamu sampai pucat sayang," ujar mamih dengan terkekeh kecil.
"Hehe... iya Mih, Cyra sangat lapar," balas Cyra sedikit malu.
"I... iya Mih, lain kali Cyra tidak akan melakukanya lagi." Cyra menunduk, ia pikir mamih marah sehingga ia sedikit merasa bersalah.
"Kenapa kamu itu sepeeti orang ketakutan sih, setiap berhadapan sama Mamih atau yang lainnya? Apa kamu mengira kami itu orang jahat, sehingga kamu merasa takut?" tanya mamih yang mulai curiga pada Cyra, tentu yang dibicarakan Naqi ada benarnya Cyra seperti memiliki trauma yang mendalam, sehingga ia mengira orang-orang disekitarnya itu jahat.
Cyra menggeleng lemah, "Engga ko Mih, Cyra hanya takut sajah Mamih marah pada Cyra, dan Cyra hanya menyusahkan Mamih sajah," balas Cyra, agar mamih tidak mengintrogasinya terus.
"Ya udah kalo itu yang kamu takutkan, lain kalo kalo kamu merasakan sesuatu bilang sajah." Mamih pasti nggak akan diam sajah.
Lagi, Cyra hanya membalas dengan anggukan lemah sebagai jawabanya.
"Ya udah, kamu nggak ada yang diinginkan lagi kan? Kalo masih ada kita bisa cari lagi, tapi kalo nggak ada kita bisa pulang buat beristirahat. Badan Mamih sedikit pegal. Besok kita lanjutakan kesalaon." Mamih rupanya sudah menjadwal semua kegiatanya dengan rapih.
"Enggak Mih, ini semua juga sudah lebih dari cukup," balas Cyra.
Mereka pun mutuskan untuk pulang, agar bisa beristirahat. Sedangkan di tempat lain Rania memutuskan untuk menemuai Sam.
...****************...
Jangan lupa mampir juga ke novel othor yang satunya yah. # Beauty Cloads# ceritanya nggak kalah seru loh.