
Cyra yang sangat senang bertemu dengan mommynya pun berjanji mulai saat ini tidak akan meninggalkan mommynya, ia akan menjaga dan merawat momynya sampai sembuh ia tidak akan membiarkan momynya sendiri lagi melewati masa-masa tuanya. Eh... tapi mommy Cyra belum tua kok, terlebih wajah mommy yang mungkin saja kalo dilihat masih seperti wanita umur dua puluh tahunan jauh lebih muda dengan wanita seumuran dengan mommynya.
Cyra dan mommy menghabiskan pertemuan pertama mereka dengan bercerita terutama bercerita dengan yang happy-happy di mana Cyra mendominasi bercerita. Yah, Cyra bercerita perjalananya meniti karir menjadi artis sampai sekarang ia menjadi selebgram dengan jutaan followers yang baik-baik dan ramah-ramah, bahkan mungkin dia salah satu selebgram yang tidak memiliki heters. Hampir semua yang mengfollow dirinya karena kagum dengan rasa pecaya diri Cyra yang tampil dengan percaya diri padahal dia adalah manusia yang dilahirkan dengan perbedaan yang masih sangat jarang orang bisa menerimanya.
Mommy yang mendengar kisah Cyra pun bangga, mommy bisa membayangkan bagaimana cantiknya wajah putrinya itu. Sehingga mommy ingin segera bisa melihat bagaimana cantik wajah putri yang ia lahirkan itu.
Yah, Cyra memang bertekad bahwa ia tidak akan mengungkit kenangan buruk mommynya selama di sekap oleh Tuan Kifayat. selain menghindari kesedihan mommy yang lalu teringat kembali. Cyra juga tidak tahu segimana mommynya traumanya menjalani kehidupan yang penuh penderitaan itu.
Sama seperti dirinya yang memutuskan menyembunyikan kisah sedihnya selama delapan belas tahun hidup bersama Kifayat. Cyra juga akan menutup kisah sedih yang mengenai mommynya, tetapi apabila suatu saat mommynya akan bercerita pengalamanya selama menjalani sembilan belas tahun tersekap di ruangan yang pengap dan mungkin sangat mengerikan, Cyra akan merusaha tegar dan siap untuk mendengarkanya.
Cukup lama Cyra bercerita dengan mommynya sampai di jam di mana mommy harus kembali beristirahat, dan Cyra pun meninggalkan mommy yang hendak beristirahat. Cyra melihat mommynya yang tidur dengan wajah damai, dan tersenyum. Mungkin ini adalah gambaran mommy yang bahagia bertemu dengan putri kandungnya, yang selama ini ia kira telah meninggal. Cyra menghampiri Mr Kim yang sejak tadi tidak mau keluar dan meninggalkan momynya padahal sudah di bilang oleh Cyra bahwa ia akan menjaga mommynya dengan baik tetapi dasarnya Mr Kim malah tetap ada di sana memperhatikan sejak tadi Cyra bercerita. Mungkin dia tertawa dalam hatinya ketika mendengar cerita Cyra barusan.
"Kenapa Anda masih di sini padahal saya sudah meminta Anda keluar, Mr Kim?" tanya Cyra sembari berbisik agar mommynya tidak dengar dengan ucapan Cyra. Sebelumnya memang Cyra meminta Mr Kim keluar dengan mengirimkan pesan singkat ke nomor ponsel Mr Kim.
"Saya tidak akan dengan mudah mempercayakan penjagaan Nyoyah Ezah pada Anda Nona, sekali pun Anda adalah putri dari Nyonyah Ezah," jawab Mr Kim dengan santai bahkan padangan matanya tidak lepas dari layar ponselnya. Entah dia tengah bertukar kabar dengan siapa sehingga hal itu membuat Cyra semakin kesal dibuat oleh kelakuan Mr Kim, orang kepercayaan kakek untuk menjaga mommynya. Rasanya Cyra ingin merampas ponselnya, dan menenggelamkanya di bak mandi, biar mati sekalian ponselnya.
"Kakek itu kenapa sih milih manusia jenis kulkas kaya gini buat jaga mommy. Apa kakek tidak tahu bagaimana menyebalkanya nih manusia kulkas. Udah begitu dia selalu ada di mana pun aku dan momynya berada sehingga untuk curhat Cyra merasa tidak nyaman," batin Cyra yang mana ia merasa Mr Kim di dalam hatinya menertawakan dirinya yang tengah dengan antusias dan cerewet bercerita untuk menghibur mommynya, padahal mungkin cerita Cyra nggak menarik dan nggak lucu, tapi mommy dengan bangga dan bahagia tertawa lepas.
*****
Kita tinggal dulu Cyra dan mommynya yang tengah bahagia karena pertemuan antar ibu dan anak itu. Kita kembali ke tanah air tercinta di mana Naqi masih saja mencari ide untuk menemukan istrinya. Setelah ia mengulang memmory dirinya dengan istrinya ketika di dalam kamarnya, kini Naqi bersiap mencari Cyra. Naqi memutuskan akan mencari istrinya ke tempat kerjanya, atau paling tidak ia akan bertanya pada Meta. Mungkin saja Meta tahu di mana keberadaan Cyra.
Naqi menuruni anak tangga dengan tergesa dan rasanya sudah tidak sabar ia bertemu dengan Cyra. Naqi masih sangat-sangat yakin bahwa Cyra masih ada di sekitaran Ibukota dan juga Cyra juga pasti masih menekuni pekerjaanya. Dari mana lagi ia bisa mendapatkan uang kalo tidak menjadi model, itu yang ada di fikiran Naqi.
Bertepatan dengan itu Luson pun keluar dari kamar Rania, Luson yang saat itu akan menemui Naqi pun memanggil Naqi.
"Ada apa lagi sih," batin Naqi dengan malas, pasalnya ia saja tengah buru-buru mau mencari istrinya kenapa papihnya malah memanggilnya sehingga ia harus menunda lagi niatnya mencari Cyra.
"Kenapa Pih?" tanya Naqi dengan malas.
"Papih mau ngobrol sama kamu, mengenai kaka kamu. Ayo kamu masuk ke kamar kakamu!" Luson kembali masuk ke kamar Rania.
Naqi sebenarnya sangat malas dengan apa yang akan Luson bahas. Biarpun Rania adalah kakak tirinya tetapi seharusnya yang lebih bisa mengambil keputusan adalah Luson selaku orang tuanya bukan Naqi yang setatusnya hanya adik tiri. Itu yang sekiranya ada di fikiran Naqi.
Naqi dengan sangat malas akhirnya mengikuti Luson, ia menunda untuk mencari istrinya dan mengikuti kemauan Luson. Naqi membuaka pintu kamar Rania. Di sana Rania tengah berbaring dengan meringkuk. Sementara Luson duduk di pinggir ranjang Rania.
"Kenapa lagi?" tanya Naqi dengan dingin.
"Ini Naqi, Kakak kamu itu badanya semakin lemah, kita harus gimana?" tanya balik Luson yang sekaligus memberikan jawaban atas pertanyaan Naqi.
Naqi mengeratkan gigi-giginya, Naqi sangat kesal dengan Luson kenapa masalah kaya gini ajah harus bertanya pada Naqi. Seharusnya ia bisa segera mengambil keputusan apalagi masalah sangat genting.
"Papih, kamu jadi orang tua itu bagai mana sih, kenapa mengambil keputusan yang sangat gampang seperti ini saja Kamu tidak bisa apa peran kamu sebagai orang tua?" bentak Naqi, yang kesal ia membuat waktunya untuk urusan yang tidak benting seperti ini.
"Papih bingung Naqi, ini kali pertama Papih harus mengurus Kaka kamu yang lagi sakit," balas Papih dengan tanpa dosa.
Tentu saja Naqi semakin dibuat mendidih darahnya, dengan jawaban Luson. "Makanya kamu jangan cuma bisa bikin, setelah itu tinggal kemana pun sesuka kamu, tanpa kamu tahu bagai mana cara merawatnya. Baru kamu di minta ngurus anak satu dan itu pun belum satu hari kamu sudah ngeluh dan bingung harus apa? Lalu bagai mana dengan Mamih yang dari kami kecil merawat kami sampai sebesar ini tanpa suport dari kamu suaminya. Justru kamu terus saja menyakiti hati mamih. Sumpah Andai darah kamu tidak mengalir di dalam tubuhku mungkin aku nggak akan sudi bertemu kamu lagi." Naqi justru memanfaatkan momen ini untuk meluapkan kekesalanya pada luson, papihnya yang selalu membuat mamihnya bersedih, tetapi itu dulu sekarang justru mamihnya hatinya sudah berubah menjadi batu sehingga mungkin Luson mati saja mamih tidak akan merasa kehilangan.
"Ayo lah Naqi kamu jangan seperti ini, setiap orang pasti pernah melakukan kesalah begitu pun papih. Kamu harus sudah memaafkan papih, dann sekarang ayo bersama sama merawat kakamu biat cepat pulih lagi," ucap Luson tanpa rasa bersalah sedikit pun.