Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Permintaan Zoya


Satu minggu paska pernikahan Fifah telah berlalu, dan Niko setiap malam tidur di rumah Fifah. Niko pun belum berkata terus terang dengan setatusnya yang memiliki dua istri. Setiap malam Niko menaburkan benih-benihnya di rahim Fifah. Sekarang bahkan Fifa sudah menjelma menjadi istri yang sangat pandai memberikan servis di atas ranjang.


Pagi ini seperti biasa Niko berangkat lebih awal pukul lima ia sudah mulai bangun, dan membiarkan Fifah tetap tidur, hal itu Niko lakukan karena ia harus mengunjungi dulu Zoya. Istri pertamanya.


Zoya akan mendapatkan nafkah batin di pagi dan sore hari. Jadi sebelum berangkat kerja Niko akan mengunjungi Zoya untuk memberikan nafkah batinya, dan setelah pulang kerja Niko juga akan mengampiri Zoya lagi.


Niko sudah sampai di rumah Zoya dan langsung masuk. "Bi, Zoya belum bangun?" tanya Niko, pada salah satu asisten rumah tangga di rumah istri tuanya. Padahal, biasanya Zoya akan menyambut kedatangan suaminya dan sibuk dengan masakanya. Sebab Niko sangat menyukai makanan yang diolah oleh Zoya. Berbeda dengan Fifah yang tidak bisa memasak. Zoya adalah wanita yang pandai mengolah semua jenis makanan.


Niko membuka perlahan pintu kamar Zoya, dan langsung merangsak masuk ke dalam kamar, terlihat Zoya masih meringkuk di balik selimutnya.


"Sayang kamu kenapa? Apa kamu sakit? Kenapa di jam segini kamu masih tidur, apa kamu tidak ingin menyambut suamimu?" Niko mendekat kearah Zoya dan memegang pelipisnya, tidak panas!


Zoya bukan tidur, hanya pura-pura tidur. Pada kenyataanya ia tidak sekuat para istri yang dimadu. Awalnya ia yakin akan bisa menahanya, tetapi semakin hari rasa sakitnya semakin kuat berpura-pura kuat dan ikhlas ternyata sangat menyakitkan. Setiap malam ia hanya bisa membayagkan suaminya bercinta dengan istri lain. Terlebih apabila pagi datang, dan Niko memberikan kewajibanya. Hati Zoya semakin sakit manakala melihat banyak tanda bekas bercinta suaminya dengan istri mudanya.


Walaupun Niko tidak pernah menbandingkan dirinya dan Fifah, tetapi Zoya sangat tahun bahwa Niko sangat menikmati penyatuanya dengan istri mudanya.


Apalagi sampai saat ini Niko masih merahasiakan pernikahan mereka. Padahal Zoya berfikir apabila Niko berterus terang secepatnya. Setidaknya Fifah akan mau membagi jatah malamnya. Seminggu Niko di rumah Fifah dan satu minggu lagi di rumah Zoya. Bukan datang setiap pagi untuk menyirami ladangnya setelah itu pergi bekerja, dan akan pulang hanya beberapa jam sajah, lalu pergi lagi ke rumah istri mudanya. Rasanya Zoya tidak mendapatkan keadilan.


Niko tau Zoya hanya pura-pura tidur. Ia pun membawa Zoya dalam pelukanya.


"Hal apa yang membuatmu murung begini? Kita sudah berjanji akan saling bercerita lalu kenapa kamu justru memendam semuanya. Mas tau kamu sedang tidak baik-baik sajah, bicaralah!" Niko dengan lembut memancing agar Zoya bercerita.


Zoya mulai terisak, rasanya ia sangat kangen dekapan hangat seperti ini dari suaminya.


"Kapan Mas akan menceritakan setatus kita pada istri baru Mas?" Zoya tidak bisa lagi menahan semuanya. Niko harus tahu bahwa ia pun ingin tidur dalam pelukanya lagi.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?" Niko awalnya mengira bahwa Zoya tidak keberatan setatusnya disembunyikan.


"Zoya juga pengin kalo malam hari tidur dipelukan Mas. Bukan hanya Mas datang ketika memberikan nafkah batin dan sarapan. Setelah itu pergi lagi." Sembari terisak akhirnya Zoya bisa menceritakan kegundahan yang mengganjal hatinya. "Coba Mas mulai jujur pada Fifah, dan mas bisa memperlakukan kami secara adil. Agar kami bisa merasakan rasa yang sama tanpa merasa diistimewakan dan di telantarkan." Zoya masih melanjutkan suara hatinya.


"Apa selama ini Mas tidak adil?" tanya Niko. Pasalnya ia merasa sudah berbuat seadil mungkin.


"Zoya merasa seperti itu. Seharusnya Mas bisa menggilir kami, tanpa berat sebelah. Misalkan Mas seminggu di rumah Fifah, dan seminggu kemudian di rumah ini. Zoya rasa itu baru adil. Karena Zoya juga pengin tidur dipelukan Mas. Bukan sekedar nafkah batin terpenuhi setiap pagi." Akhirnya kegundahan Zoya tersalurkan juga. Rasanya lega setelah berhasil meluapkan semua sesak di dadanya.


******


Semenjak semalam fikiran Alzam dipenuhi rasa takut. Takut apabila umurnya tidak panjang. Lalu siapa yang akan menjaga Tantri. Dia masih terlalu kecil untuk hidup seorang diri. Meskipun Alzam meninggalkan tabungan yang cukup untuk adiknya tapi tetap sajah Tantri akan ketakutan menjalani hidup ini, tanpa satupun seorang keluarga. Hidup sebatang kara pasti sangat menyakitkan.


Alzam teringat perkataan Dokter, beberapa bulan lalu bahwa pengobatan kemoterapi hanya bisa menghambat tidak menghilangkan, berati ada kemungkinan sel kangkernya akan menyebar dan memperluas ke jaringan yang lainya. Dokter menyarankan alternatif lain yang kemungkinan untuk sembuhnya lebih besar terlebih setadium kangker sarcoma yang Alzam derita masih di angka satu. Di mana Sel kangker berlum menyebar. Jadi untuk memutus penyebaranya dokter menyarankan amputasi.


Sarcoma yang Alzam derita di kaki kiri dan terletak ditulang kering. Alzam menimbang-nimbang nasihat dokter. Apalagi dokter berkata bahwa, kangker Sarcoma adalah jenis kangker yang penyebaranya cepat. Sehingga sebelum sel kangker meluas, dokter menyarankan untuk memotong jaringan yang sudah rusak.


Pagi ini Alzam melakukan kegiatanya seperti biasa akan mengantarkan Tantri kesekolah setelahnya akan berangkat kerja.


"Kamu belajar yang pinter yah, nggak boleh nakal, dan selalu jadi anak yang baik!" Alzam selalu memberikan nasihat pada adiknya.


"Baik Bang. Abang juga hati-hati di jalan. Jangan makan sembarangan dan jangan terlalu cape, jaga kesehatan dan pikiran!" Tantri tak mau kalah membemberi nasihat pada Abangnya, bahkan ia lebih bawel, dan selalu menasihati Abangnya seputar kesehatannya.


"Iya Tuan Putri." Alzam pun meninggal kan Tantri untuk segera berangkat ke kantor dan Tantri juga segera masuk ke dalam kelasnya.


Yah, sejak sekarang Alzam sudah memutuskan bahwa ia akan mengikuti saran dokter. Ia akan setuju bahwa kakinya diamputasi. Hanya itu peluang terbesar untuk sembuh. Meskipun tidak 100% kesembuhanya, pasalnya bukan tidak mungkin akan ada sel kangker yang tumbuh di tempat lain. Namun setidaknya dokter mengatakan 60% ia bisa sembuh dengan cara amputasi. Asalkan ia tetap rutin berobat dan menjaga kesehatanya, kemungkinan untuk tumbuh juga kecil.


Alzam akan melakukan apa pun agar bisa sembuh dan menjaga Tantri. Setidaknya andai pernyakit itu datang lagi usia Tantri sudah semakin besar dan bisa melindungi dirinya sendiri.


"Wey ngelamun ajah loe." Qari tiba-tiba mengagetkan Alzam yang memang tengah melamun.


"Ah tidak, lagi mikirin kerjaan ajah. Pengin ambil cuti, tapi Nona Qari belum bisa menggantikan pekerjaan saya. Nona Qari belajar yang seriuz yah, agar saya bisa mengambil cuti dalam waktu dekat ini." Alzam berjanji apabila Qari sudah bisa dilepas dengan laporan kantor ia akan mengambil cuti dan menjalankan oprasi itu. Makin cepat makin baik.


"Emang loe mau ngapain, cupu? Segala cuti segala, kaya orang mau kawin ajah," ledek Qari.


"Tidak kenapa-napa Nona, hanya ada urusan keluarga dan aku di minta hadir." Alzam mencoba mencari alasan, yah biarpun alasanya sangat tidak masuk akal.


Alzam sudah memutuskan dengan yakin. Mengambil jalan ini, meskipun Tantri tidak setuju. Dia sudah menguatkan mentalnya, apabila banyak yang menatapnya dengan aneh berjalan dengan satu kaki dan menggunakan alat bantu, itu tidak mengapa asal. Yang terpenting masih bisa menjadi pelindung buat adiknya, dari pada membiarkan adiknya hidup seorang diri, itu lebih menyakitkan buatnya. Membanyakanya sajah Alzam akan sesak dadanya. Apalagi sampai terjadi gimana kehidupan Tantri kelak.